Kamis, 19 Mei 2016

Aneh,dianjurkan imam sholat jahr berhenti tanpa dalil?

Syubhat:
mungkin membaca Al-Fatihah dalam keadaan Imam berhenti sebentar sebelum membaca surat.Walaupun tidak ada dalil yang kuat Imam mesti berhenti sebentar, akan tetapi jika kebetulan kita bermakmum pada imam yang seperti ini ,maka kita lebih lagi wajib membacanya
Dalam kitab Al-Inshaf fi ma’rifati Ar-rajih Minal Khilaf disebutkan demikian :”Dianjurkan membaca Al-Fatihah disaat imam berhenti membaca.Inilah pendapat yang dipilih dalam manhaj dan juga merupakan pendapat jumhur ulama.Bahkan ada yang mengatakan wajib membaca Al-Fatihah tatkala imam berhenti membaca”

Jawab:
Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata :
 ليس هناك دليل صريح صحيح يدل على شرعية سكوت الإمام حتى يقرأ المأموم الفاتحة في الصلاة الجهرية
" Tidak ada dalil yang jelas dan shahih yang menunjukkan disyariatkan diamnya imam hingga makmum bisa membaca Al Fatihah didalam shalat jahriyyah." ( Majmu Fatawa Syaikh Ibn Baaz 11/235 )
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
ولا يستحب للإمام السكوت ليقرأ المأموم عند جماهير العلماء، وهذا مذهب أبي حنيفة ومالك وأحمد بن حنبل وغيرهم. وحجتهم في ذلك أن النبي صلى الله عليه وسلم لم يكن يسكت ليقرأ المأمومون, ولا نقل هذا أحد عنه, بل ثبت عنه في الصحيح سكوته بعد التكبير للاستفتاح, وفي السنن: ( أنه كان له سكتتان سكتة. في أول القراءة، وسكتة بعد الفراغ من القراءة ). وهي سكتة لطيفة للفصل لا تتسع لقراءة الفاتحة
" Tidak disukai bagi imam untuk diam memberikan kesempatan kepada makmum untuk membaca ( Al Fatihah - pent ) disisi jumhur ulama, dan ini adalah madzhab Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hambal dan selain mereka. Diantara hujjah mereka adalah bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wa sallam tidaklah diam untuk memberikan kesempatan kepada makmum agar membaca Al Fatihah, dan tidak dinukil perkara ini dari salah seorang diantara mereka ( shahabat radhiallahu anhum - pent ), bahkan telah tetap dari beliau shalallahu alaihi wa salam didalam shahih beliau diam setelah takbiratul ( ihram - pent ) untuk membaca istiftaah dan didalam sunnan ( Abu Daud - pent ) : " Bahwa beliau diam dalam dua kali kesempatan - diawal membaca ( Al Fatihah - pent ) dan setelah selesai membaca." Diam ini adalah diam yang ringan untuk memisahkan antara perbuatan bukan untuk memberikan kesempatan membaca Al Fatihah." ( Majmu Fatawa 3/362 )

Dalam kesempatan yang lain Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
 ولم ينقل أحد من الصحابة أنهم كانوا في السكتة الثانية يقرؤون الفاتحة مع أن ذلك لو كان شرعا لكان الصحابة أحق الناس بعلمه فعلم أنه بدعة
" Tidak dinukil dari seorangpun shahabat bahwa mereka ketika diam dikesempatan yang kedua membaca Al Fatihah, bersamaan dengan itu andaikata hal tersebut disyariatkan niscaya shahabat adalah manusia yang paling mengetahui ilmunya, maka bisa diketahui perkara tersebut adalah bid'ah." ( Majmu Fatawa 2/147 )

Tidak ada komentar: