Selasa, 31 Mei 2016

Ibnul qayyim meyakini neraka tidak kekal?


Imam Ibnul Qayyim membawakan berbagai alasan yang dianggap sebagai dalil dalam masalah tersebut. Kecondongan Imam Ibnul Qayyim kepada pendapat neraka tidak kekal tersebut, beliau tulis di dalam beberapa kitabnya, yaitu:

- Hadil Arwah Ila Biladil Afrah 2/167-228.
- Ash Shawa-iqul Mursalah ‘Alal Jahmiyyah Wal Mu’aththillah, di dalam ringkasannya, halaman 218-239, penerbit Maktabul Islami, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Al Maushuli.
- Syifa’ul ‘Alil, halaman 252-264.

Kemudian dari sinilah Dr. Yusuf Qardhawi menyimpulkan pendapat Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tentang ketidak kekalan neraka, dan meringkaskan dalil-dalil Ibnul Qayyim rahimahullah tentang masalah ini.

Namun yang perlu disayangkan, bahwa Dr. Yusuf Qardhawi tidak memberikan komentar tentang dalil-dalil yang dibawakan Ibnul Qayyim tersebut, sehingga tentu akan membuat kebingungan bayak orang dalam masalah ini. Padahal dalil-dalil itu telah dibantah oleh banyak ulama Ahlus Sunnah, sebagaimana yang akan kami jelaskan, insya Allah. Demikian juga Dr. Yusuf Qardhawi tidak menyebutkan adanya pendapat lain dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah yang sesuai dengan Ahlus Sunnah, yaitu kekalnya neraka. Bahkan inilah pendapat akhir beliau, insya Allah, sebagaimana yang akan kami jelaskan.
Ringkasnya, bahwa dalam masalah kekalnya neraka, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memilki beberapa pendapat, sebagaimmana diketahui dari kitab-kitab beliau.
perkataan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah yang menyatakan kekalnya neraka:

Beliau berkata, “Karena manusia itu berada pada tiga tingkatan: baik, tidak diperburuk oleh kebusukan; busuk, tidak ada kebaikan padanya; dan yang lain, pada mereka terdapat kebusukan dan kebaikan. Jadilah tempat tinggal mereka ada tiga: tempat tinggal baik murni (yaitu surga, Red.) dan tempat tinggal busuk murni (yaitu neraka, Red.), dan kedua tempat tinggal ini tidak akan binasa. Dan tempat tinggal (neraka) bagi orang yang memiliki kebusukan dan kebaikan, inilah tempat tinggal yang akan binasa. Ini adalah tempat tinggal orang-orang yang berbuat maksiat. Karena sesungguhnya tidak seorangpun dari orang-orang yang bertauhid yang berbuat maksiat akan kekal di dalam Jahannam. Sesungguhnya setelah mereka disiksa sesuai dengan balasan mereka, (maka) mereka dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Sehingga tidaklah tinggal, kecuali tempat tinggal baik murni (yaitu surga, Red.) dan tempat tinggal busuk murni (yaitu neraka, Red.).” [Al Wabilush Shayyib, halaman 25]

Beliau juga berkata di dalam Al Kafiyah Asy Syafiyah, sebuah qasidah yang berisikan aqidah beliau:

“Delapan (makhluk) yang terkena hukum kekal,
Adapun selainnya berada pada daerah kebinasaan,
Semua (delapan makhluk) itu adalah: Al Arsy, Al Kursi, neraka, surga, pangkal tulang ekor manusia, ruh, Demikian juga Al Lauh dan Al Qalam”. [Taudhihul Maqashid Wa Tash-hihul Qawaid Fi Syarhi Qashidatil Imam Ibnil Qayyim, 1/97, karya Ahmad bin Ibrahim bin Isa. Dinukil dari Raf’ul Astar, halaman 18, karya Ash Shan’ani, tahqiq Al Albani]

Oleh karena itu, sepantasnya kita berbaik sangka kepada kedua imam besar Ahlus Sunnah di atas, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, bahwa pendapat kekalnya neraka itulah pendapat terakhir mereka. Sebagaimana hal itu dikatakan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah : Adapun kami, maka husnuzhan (berbaik sangka) yang diperintahkan (agama) kepada kita, mengharuskan kita untuk mengatakan, semoga hal itu (pendapat kekalnya neraka) merupakan pendapat terakhir (Ibnu Taimiyah), karena hal itu sesuai dengan ijma’ yang beliau nukilkan sendiri. Terlebih (penukilan ijma’) dari yang lain sebagaimana telah berlalu. Dan itu diperkuat, bahwa Ibnul Qayyim juga menukilkan (pendapat kekalnya neraka) dalam qasidah beliau, Al Kafiyah Asy Syafiyah. Dan yang nampak, bahwa Ibnul Qayyim wafat di atas (aqidah) itu. Karena qasidah itu dibacakan kepada beliau pada akhir kehidupan beliau. Al Hafidz Ibnu Rajab Al Hanbali (seorang murid Ibnul Qayyim) menyebutkan biografi Ibnul Qayyim dalam kitab Thabaqat, karyanya, dan menyebutkan di akhirnya apa yang mengesankan kita tentang hal itu. Ibnu Rajab berkata,“Aku selalu menghadiri majlis-majlis beliau (Ibnul Qayyim) sebelum wafatnya lebih dari setahun. Dan aku mendengar (dibacakan) kepadanya qasidahnya An Nuniyah yang panjang dalam tahun itu, dan beberapa dari karya-karyanya, dan lainnya.” [Ath Thabaqat 2/448, karya Ibnu Rajab]

Tidak ada komentar: