Rabu, 30 April 2014

syubhat pengkhususan puasa rojab

dalil mereka :
Hadits riwayat Usamah Bin Zaid
قال قلت : يارسول الله لم أرك تصوم شهرا من الشهور ماتصوم من شعبان قال ذلك شهر غفل الناس عنه بين رجب ورمضان وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين وأحب أن يرفع عملي وأناصائم. رواه النسائي 4/201
“Aku berkata kepada Rosulullah : Yaa Rosulullah aku tidak pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Rosulullah SAW menjawab : Bulan sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rojab dan Ramadhan, dan bulan sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201.
Imam Syaukani menjelaskan
ظاهر قوله فيحديث أسامة: إن شعبان شهريغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب ; لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم كما يعظمون رمضان ورجب ابه . نيل الأوطار 4/291
Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rosulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rojab dan Ramadhan” ini menunjukkan bahwa puasa Rojab adalah sunnah sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rojab dengan berpuasa”. Naylul Author juz 4 hal 291
JAWAB :
disunnahkan puasa rojab ya,tapi tidak dikhususkan seperti disangka,namun karena puasa rojab termasuk bulan2 haram,itu akan terlihat gamblang saat kita nukil lebih lengkap.
ظاهر قوله في حديث أسامة إن شعبان شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان أنه يستحب صوم رجب، لأن الظاهر أن المراد أنهم يغفلون عن تعظيم شعبان بالصوم، كما يعظمون رمضان ورجباً به، ويحتمل أن المراد غفلتهم عن تعظيم شعبان بصومه، كما يعظمون رجباً بنحر النحائر فيه، فإنه كان يعظم بذلك عند الجاهلية، وينحرون فيه العتيرة، كما ثبت في الحديث، والظاهر الأول. والمراد بالناس الصحابة، فإن الشارع قد كان إذ ذاك محا آثار الجاهلية، ولكن غايته التقرير لهم على صومه، وهو لا يفيد زيادة على الجواز، وقد ورد ما يدل على مشروعية صومه على العموم والخصوص.
أما العموم، فالأحاديث الواردة في الترغيب في صوم الأشهر الحرم، وهو منها بالإجماع، وكذلك الأحاديث الواردة في مشروعية مطلق الصوم، ثم ذكر أحاديث في فضل صيام رجب أخرجها الطبراني والبيهقي وأبو نعيم وابن عساكر ثم قال:( وحكى ابن السبكي عن محمد بن منصور السمعاني أنه قال لم يرد في استحباب صوم رجب على الخصوص سنة ثابتة، والأحاديث التي تروى فيه واهية لا يفرح بها عالم، وأخرج ابن أبي شيبة في مصنفه أن عمر كان يضرب أكف الناس في رجب حتى يضعوها في الجفان، ويقول: كلوا، فإنما هو شهر كان تعظمه الجاهلية
artinya : menurut dhohir hadits usamah Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rojab dan Ramadhan” sesungguhnya disunnahkan puasa pada bulan rojab.sebab dhohir nya yang dimaksud mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa seperti halnya mereka mengagungkan ramadhan dan Rojab dengan berpuasa.dan kemungkinan lain juga yg dimaksud adalah mereka lalai dari mengagungkan sya’ban dengan berpuasa seperti halnya mereka mengagungkan rojab dengan penyembelihan di dalamnya seperti yg mereka lakukan saat jahiliyyah mereka menyembelih ngatiiroh,seperti dalam hadits,dan yang awal lebih tepat.dan yg dimaksuk manusia adalah sahabat nabi,maka sungguh alloh telah menghapus peninggalan jahiliyyah akan tetapi tujuannya adalah penetapan atas puasanya,AKAN TETAPI MEMBERI FAIDAH HUKUM TIDAK LEBIH DARI JAWAZ/BOLEH.dan telah ada dali pensyariatannya puasa rojab ada dalil umum dan khusus.
adapun yang umum yaitu hadits2 tentang puasa bulan haram,itu sudah ijma' dan juga dalil puasa secara muthlak,kemudian disebutkan hadits2 keutamaan puasa rojab dikeluarkan thobroni dan baihaqi,abu na'im dan ibnu 'asakir kemudian berkata: dan diceritakan ibnu assyubki dari muhammad ibn manshur assam'ani sungguh beliau berkata :TIDAK ADA DALIL PENSUNNAHAN PUASA ROJAB SECARA KHUSUS DARI SUNNAH /HADITS SHOHIH,YANG ADA HADITS2NYA LEMAH YANG ORANG 'ALIM TIDAK AKAN SENANG DENGAN DALIL ITU,JUSTRU DIRIWAYATKAN IBNU ABI SYAIBAH DALAM MUSHONNAFNYA :‘Umar memukul telapak tangan orang-orang di bulan Rajab hingga ia meletakkannya di mangkok besar (makanan). ‘Umar berkata : “Makanlah, karena ia (Rajab) adalah bulan yang dulu diagungkan orang-orang Jaahiliyyah” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 3/102; shahih li-ghairihi]
jadi jelas imam syaukani sekedar mengatakan sunnah bukan mengkhususkan.
Asy-Syaukaaniy rahimahullah berkata :
لم يرد في رجب على الخصوص سنة صحيحية ولا حسنة ولا ضعيفة ضعفا خفيفا بل جميع ما روى فيه على الخصوص أما موضوع مكذوب أو ضعيف شديد الضعف
“Tidak ada keutamaan (puasa) Rajab secara khusus dari hadits-hadits shahih, hasan, ataupun lemah (dla’if) dengan kelemahan yang ringan. Bahkan, seluruh hadits yang diriwayatkan tentang pengkhususan (puasa Rajab) adalah palsu lagi dusta atau lemah dengan kelemahan yang sangat parah” [As-Sailul-Jaraar, 1/297; Daar Ibni Hazm, Cet. 1].
demikian pula ulama' syafi'iyyah memasukkan puasa rojab kedalam puasa 2 bulan haram
 Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Al-Majmu’ (Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab) juz 6 hal. 439 :
قال أصحابنا: ومن الصوم المستحب صوم الأشهرالحرم , وهي ذوالقعدة وذوالحجة والمحرم ورجب, وأفضلهاالمحرم. اهـ
“Berkata Ulama’ kami : Dan dari puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharrom dan Rojab sedangkan yang paling utama adalah Muharrom”

An-Nawawiy rahimahullah berkata :
ولم يثبت في صوم رجب نهي ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه. وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها والله أعلم
“Tidak tsabit adanya larangan ataupun anjuran puasa khusus di bulan Rajab. Akan tetapi asal berpuasa di bulan tersebut adalah dianjurkan. Dalam Sunan Abi Daawud menyebutkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berpuasa di bulan-bulan Haram, sedangkan Rajab salah satu di antaranya. Wallaahu a’lam” [Syarh Shahih Muslim].

عن بن جريج عن عطاء قال كان بن عباس ينهى عن صيام رجب كله لأن لا يتخذ عيدا
Dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa’, ia berkata : “Ibnu ‘Abbaas melarang puasa Rajab secara penuh (dalam satu bulan) agar (bulan tersebut) tidak dijadikan sebagai ‘Ied” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7854; shahih]

Senin, 28 April 2014

pembagian tauhid bid'ah ???

 
Ibnu Baththah rahimahullah mempunyai perkataan yang bagus dalam hal ketauhidan. Ia berkata :
وَذَلِكَ أَنَّ أَصْلَ الإِيمَانِ بِاللَّهِ الَّذِي يَجِبُ عَلَى الْخَلْقِ اعْتِقَادُهُ فِي إِثْبَاتِ الإِيمَانِ بِهِ ثَلاثَةُ أَشْيَاءَ:
أَحَدُهَا: أَنْ يَعْتَقِدَ الْعَبْدُ آنِيَّتَهُ لِيَكُونَ بِذَلِكَ مُبَايِنًا لِمَذْهَبِ أَهْلِ التَّعْطِيلِ الَّذِينَ لا يُثْبِتُونَ صَانِعًا،
وَالثَّانِي: أَنْ يَعْتَقِدَ وَحْدَانِيَّتَهُ، لِيَكُونَ مُبَايِنًا بِذَلِكَ مَذَاهِبَ أَهْلِ الشِّرْكِ الَّذِينَ أَقَرُّوا بِالصَّانِعِ، وَأَشْرَكُوا مَعَهُ فِي الْعِبَادَةِ غَيْرَهُ.
وَالثَّالِثُ: أَنْ يَعْتَقِدَهُ مَوْصُوفًا بِالصِّفَاتِ الَّتِي لا يَحُوزُ إِلا أَنْ يَكُونَ مَوْصُوفًا بِهَا مِنَ الْعِلْمِ، وَالْقُدْرَةِ، وَالْحِكْمَةِ، وَسَائِرِ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ، إِذْ قَدْ عَلِمْنَا أَنَّ كَثِيرًا مِمَّنْ يُقَرِّبُهُ، وَيُوَحِّدُهُ بِالْقَوْلِ الْمُطْلَقِ قَدْ يُلْحِدُ فِي صِفَاتِهِ، فَيَكُونُ إِلْحَادُهُ فِي صِفَاتِهِ قَادِحًا فِي تَوْحِيدِهِ ؛
وَلأَنَّا نَجِدُ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ خَاطَبَ عِبَادَهُ بِدُعَائِهِمْ إِلَى اعْتِقَادِ كُلِّ وَاحِدَةٍ فِي هَذِهِ الثَّلاثِ وَالإِيمَانِ بِهَا، .......
“Hal itu disebabkan karena pokok keimanan kepada Allah yang diwajibkan kepada makhluknya untuk meyakininya dalam menetapkan keimanan kepada-Nya mencakup tiga hal :
1.     Agar seorang hamba meyakini keberadaan/wujud Allah ta’ala agar dapat menjadi pemisah dengan madzhab ahluth-ta’thiil (mu’aththilah) yang tidak menetapkan adanya Pencipta.
2.     Agar (seorang hamba) meyakini keesaan-Nya (wahdaniyyah) agar dapat menjadi pemisah dengan madzhab orang-orang musyrik yang mengakui adanya Pencipta, akan tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam peribadahan dengan selain-Nya.
3.     Agar (seorang hamba) meyakini-Nya mempunyai sifat-sifat yang memang harus dimiliki oleh-Nya berupa ilmu, kekuasaan (qudrah), hikmah, dan seluruh yang telah Allah sifatkan bagi diri-Nya dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an). Karena kita mengetahui bahwa kebanyakan orang yang mendekatkan diri dan mengesakan-Nya dengan perkataan yang mutlak, namun ternyata menyimpang dalam masalah sifat-sifat-Nya dimana penyimpangannya dalam masalah sifat-sifat Allah tersebut merusak ketauhidannya.
Selain itu kita juga mendapatkan bahwa Allah ta’ala telah berbicara kepada hamba-Nya dengan menyeru mereka untuk meyakini ketiga hal di atas dan sekaligus mengimaninya…..” [Al-Ibaanah ‘an Syarii’atil-Firqatin-Naajiyyah (Ar-Radd ‘alal-Jahmiyyah), 2/172-173, tahqiq : Dr. Yuusuf Al-Waabil; Daarur-Raayah, Cet. 1/1415 H].
 Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah adalah ulama Ahlus-Sunnah kenamaan di masanya. Nama aslinya adalah Abu ‘Abdillah ‘Ubaidullah bin Muhammad bin Muhammad bin Hamdaan bin ‘Umar bin ‘Iisaa bin Ibraahiim bin Sa’d bin ‘Itbah bin Farqad Al-‘Ukbariy Al-Hanbaliy. Ia lahir pada tahun 304 H dan wafat tahun 387 H. Adz-Dzahabiy berkata : “Ia seorang imam dalam sunnah dan fiqh[1]” [Miizaanul-I’tidaal, 3/15 no. 5394].

Meskipun Ibnu Baththah tidak mengatakannya secara eksplisit, namun sangat dapat dipahami bahwa keyakinan yang dituntut pada hal yang pertama adalah tauhid Rububiyyah, kedua adalah tauhid Uluhiyyah, dan ketiga adalah tauhid Al-Asmaa’ wash-Shifaat. Inilah pembagian tauhid menurut Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Hal yang sama dikatakan oleh imam-imam yang lain, diantaranya
Abu Bakr Al-Thurthuusiy rahimahullah (w. 520 H) berkata :
وأشهد له بالربوبيَّة والوحدانية، وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى والصفات العلى والنعوت الأوفى
“Dan aku bersaksi kepada Allah dengan Rubuubiyyah, Wahdniyyah, dan dengan segala sesuatu yang Allah persaksikan bagi diri-Nya dari nama-nama yang paling baik serta sifat-sifat yang tinggi lagi sempurna” [Siraajul-Muluuk, hal. 7, tahqiq : Muhammad Fathiy Abu Bakr; Ad-Daarul-Mishriyyah, Cet. 1/1414 H].
Mereka semua hidup jauh sebelum Ibnu Taimiyyah, apalagi Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah. Adakah kita pernah berpikir bahwa pembagian tauhid ini bukan ciptaan ulama Wahabiy ?.

Sabtu, 26 April 2014

apakah bawah dagu aurat



harus dirinci jika yang dimaksud itu bawah dagu yang biasa ditumbuhi rambut pada laki-laki,maka itu bukanlah aurot
( حديث أنس : " أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا توضأ أخذ كفا من ماء فأدخله تحت حنكه فخلل به لحيته وقال هكذا أمرني ربي عز وجل " . رواه أبو داوود ) ص 28 . صحيح
hadits dari anas bahwa nabi ketika wudhu air seteapak tangan lalu memasukkannya ke bawah dagu kemudian menyela2 jenggot dan berkata demikianlah memerintahkanku tuhanku HSR.abu dawud
Al hafiz Al Imam Ibnu Hajar al Asqalani yg dikatakan (dimaksudkan) dengan sampai kawasan muka adalah sampai kebawah dagu itu. Maka dagu juga dikatakan adalah sebahagian kawasan muka. Oleh itu kain kudung berada di bawah dagu masih dibolehkan. (Fathul Bari: 11/ 312).
jika yang dimaksud yg dibawah bagian biasa jenggot maka itu aurot yg harus ditutupi wanita.
Fatawa Syabakah Islamiyah, ketika membahas batas aurat untuk bawah dagu,

وبهذا كله يتبين أن أسفل الذقن ليس من الوجه، ولا يجوزُ للمرأة كشفه في الصلاة، لأنه ليس مما تحصلُ به المواجهة

“Berdasarkan keterangan di atas, bawah dagu bukan termasuk wajah. Tidak boleh bagi wanita untuk membukanya (secara sengaja) dalam shalat. Karena bagian ini, bukan anggota badan yang digunakan untuk berhadap-hadapan.” (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 121534)

SYUBHAT PARA MUSUH ALBANI


mereka berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

(ما من أحد يمربقبر أخيه المؤمن كان يعرفه في الدنيا فيسلم عليه إلا عَرَفَهُ ورد عليه السلام)

“Tidak seorang pun melewati kuburan saudaranya yang mukmin yang dia kenal selama hidup di dunia, lalu orang yang lewat itu mengucapkan salam untuknya, kecuali dia mengetahuinya dan menjawab salamnya itu.” (Hadis Shahih riwayat Ibnu Abdul Bar dari Ibnu Abbas di dalam kitab Al-Istidzkar dan At-Tamhid).
Didalam kitab al-Dha'ifah no 4493 karya al-bani,hadist diatas didhaifkan.
Jadi,,bagi orng yg mengucap salam bagi penghuni kubur,akan terkena BID'AH ala al bani,
Namunnnn..... Pendiri aliran wahabi Muhammad bin abdl whb didlm kitabnya "Ahkam Tamanni al-Maut hal 63,malah dishahihkan.
Bahkan Murid Ibn taimiyyah Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali didlm kitabnya "Ahwal wa kubur wa akhwal ahliha Ila al-Nusyur",juga menshahihkan.
Ulama sekelas Ibnu abdil Bar pun menshahihkan didlm kitabnya "al-Istidzkar dan al-Tamhid.
Bahkan Abu Muhammad Abdul haqq Al-Isybili menganggap hadist ini shahih dan diamini oleh imam Al-Suyuthi dalam kitabnya "Syahus-sudhur Fi Ahkam al-Mauta Wal-Kubur.
Jadiii... Kapasitas al-bani mendhaifkan hadist tersebut dgn menentang BOS nya sendiri,,mksdnya apa??
JAWAB : sebatas itulah pendapat para muqollid,pengekor hawa nafsu.tidak ada nilai ilmiahnya sama sekali.
padahal jika kita ilmiah jelas memang itu lemah.
karena ada perawi fatimah binti al hasan dia perawi majhul hal.
قال الحافظ ابن رجب في أهوال القبور (ق83 /2)(( قال عبد الحق الإشبيلي : إسناده صحيح . يشير إلى أن رواته كلهم ثقات ، وهو كذلك ، إلا أنه غريب ، بل منكر ))
berkata ibnu rojab dalam ahwalil kubur juz 2 hal 83:(berkata abdul haq al isybili berkata: sanadnya shohih,beliau mengisyaratkan bahwa semua perawi tsiqot dan demikianlah akan tetapi itu asing bahkan munkar )

SYUBHAT PENDENGKI ALBANI


mereka berkata : Hadist ini dalam sunan nasa-i nmr 24,
أخبرنا عبيد الله بن سعيد قال أنبأنا معاذ بن هشام قال حدثني أبي عن قتادة عن عبد الله بن سرجس أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال : لا يبولن أحدكم في جحر قالو لقتادة : وما يكره من البول في الجحر قال : يقال إنها مساكن الجن حكم الألباني ضعيف
Menurutku hadist ini termasuk HASAN, bukan dhoif seperti yang dikatakan Albani,
Jikalau dhoif itu dsebabkan karena ada MU’AZD BIN HISYAM yang sebagian peneliti hadist mengatakan beliau ada wahm, maka itu salah besar, karena Beliau adalah termasuk tsiqoh, sebabnya karena Beliau adalah anak Hisyam seorang Amirul Mu’minin fil hadist, tentu buah itu jatuh tak jauh dari pohon nya, karena kata arab AL WALAD SIRRU ABIHI,

Jadi Albani telah salah dalam menghukum hadist dsni,a pa masih bisa dipegang toh,hehe..
JAWAB : 1) memang status haditsnya diperselisihkan ulama',namun bukan berarti menjadi jalan menghujat yg melemahkannya selagi masih melalui jalur ilmiah apalagi kalau yg menghujat tidak melalui jalur ilmiah,itu namanya fitnah
2) setau saya tidak ada yg menghukumi perawi tsiqoh karena bapaknya tsiqoh,karena itu memang bukan suatu kelaziman,jika ada silahkan tunjukkan siapa ulama jarh wa ta'dil tersebut???
3) dia berkata :peneliti hadist mengatakan beliau ada wahm, maka itu salah
besar
maka kita jawab : siapa anda berani menyalahkan para pakar hadits???
tahukah anda siapa yg anda salahkan?dia ibnu hajar
قال في التقريب : صدوق ربما وهم
beliau berkata dalam at taqrib : perawi shoduq terkadang wahm

Jumat, 25 April 2014

DALIL RUWATAN DAN TINGKEPAN


DALIL MEREKA :
1) Hadits riwayat Imam Rafi’i :
لِكُلِّ شَيْءٍ زَكَاةٌ، وَزَكَاةُ الدَّارِ بَيْتُ الضِّيَافَةِ. رواه الرافعي عن ثابت (الجامع الصغير ص: 264)
Artinya :
“Setiap sesuatu itu ada alat pencucinya, pencuci untuk rumah/tempat tinggal adalah menjamu para tamu”. (HR. Imam Rafi’i).
JAWAB :
yang benar diriwayatkan oleh imam al khotib dalam kitab al jami' li akhlaqir rowi wa adabis sami' hadits no.1541,imam al khotib dan imam daruqutni berkata :
sanadnya lemah karena ada ibrohim ibn baqiroh dia perawi lemah

2) Hadits riwayat Imam Thabrani :
الصَّدَقَةُ تَسُدُّ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ السُّوْءِ. رواه الطبراني
Artinya :
“Besedekah itu bisa menutup tujuh puluh macam pintu keburukan”. (HR. Imam Thabrani).
jawab : sanadnya lemah karena ada jubaroh ibn mughollis dia perawi tertuduh pemalsu hadits

3) Hadits riwayat imam Khatib :
الصَّدَقَةُ تَمْنَعُ سَبْعِيْنَ نَوْعًا مِنَ الْبَلاَءِ. رواه الخطيب
Artinya :
“Bersedekah itu bisa menolak tujuh puluh macam mala petaka/bala’”. (HR. Imam Khatib)
JAWAB:
sanadnya lemah karena ada harits ibn nu'man dia perawi yang lemah

DALIL SHOLAWATAN DAN DHIBAAN


DALIL MEREKA :
Sabda Nabi SAW. :
زينوا مجالسكم بالصلاة علي، فإن صلاتكم علي نور لكم يوم القيامة.
Artinya:
“Hiasilah tempat-tempat pertemuanmu dengan bacaan shalawat untukku, karena sesungguhnya bacaan shalwat untukku itu menjadi cahaya bagimu pada hari kiamat”.
JAWAB :
IMAM AL FATANI dalam kitab tadzkirotul maudhu'at hadits no.601 berkata sanadnya lemah
begitu juga imam as syaukani dalam al fawaid almajmu'ah hadits no.855 berkata sanadnya lemah

Rabu, 23 April 2014

syubhat pemuja kubur nabi



dalil mereka :

“مَنْ زَارَ قَبْرِيْ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِيْ” (رَوَاهُ الدَّارَ قُطْنِيّ)

Maknanya: “Barangsiapa berziarah ke makamku maka pasti akan memperoleh syafa’atku“. (H.R. ad-Daraquthni, dan adz-Dzahabi berkomentar: “Hadits ini menjadi kuat dengan adanya jalur sanad yang berbeda-beda”, lihat: Manahil ash-Shafa fi Takhrij Ahadits asy-Syifa karya as-Suyuthi, hlm. 308).
jawab : sungguh aneh berdalil komen adz-dzahabi dari kitab as-suyuti.

yang be
nar adalah Diriwayatkan oleh Abus Syaikh dan Ibnu Abid Dunya dari Ibnu ‘Umar. Hadits ini terdapat dalam Shohih Ibnu Khuzaimah dan beliau telah mengisyaratkan akan kelemahan hadits tersebut [Al Maqoshidul Hasanah nomor 112], beliau berkata :

“Aku merasa di dalam sanad hadits ini terdapat suatu (cacat), namun aku belum mengetahuinya secara pasti”. [Lihat At Talkhisul Khabir 2/367, Lisanul Mizan 6/135].

Aku (Syaikh Hammad-pent) berkata : Dalam sanad hadits ini terdapat 2 rawi yang majhul, yaitu

1. Abdulloh Ibnu Umar al Umary. Abu Hatim berkata : “Dia majhul“

2. Musa ibnu Hilal Al Bashriy Al ‘Abdiy. Abu Hatim berkata : ‘Dia majhul‘. [Al Jarh wat Ta’dil 8/166].

Al Uqailiy berkata : “Haditsnya tidak shahih dan tidak bisa dikuatkan”. [Adl Dlu’afa 4/170].

Adz Dzahabi berkata : “Riwayat termungkar yang dia riwayatkan adalah hadits dari Abdulloh ibn umar (al Umariy) dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu …”. Kemudian beliau menyebutkan hadits tersebut. [Mizanul I’tidal 4/226].

Minggu, 20 April 2014

kelemahan sifat sholat NU


wanita mereka ketika sujud merapatkan siku mereka , dg dalil
عن يزيد بن أبى حبيب إن رسول الله صلى الله عليه وسلم مر على امرأتين تصليان فقال : إذا سجدتما فضما بعض اللحم إلى الأرض فإن المرأة ليست في ذلك كالرجل.
Dari yazid bin Abi Habib sesungguhnya Rasulullah melewati atas dua orang wanita yang keduanya sedang melaksanakan sholat, lalu beliau bersabda : “Apabila kalian berdua sujud, maka kumpulkanlah sebagian daging ke bumi, karena sesungguhnya wanita tidaklah di dalam hal itu seperti lelaki”.
JAWAB : RIWAYAT LEMAH
إسناد ضعيف لأن به موضع إرسال ، وباقي رجاله ثقات وصدوقيين عدا محمد بن محمد الأديب وهو مقبول
sanad dhoif karena MURSAL,sedang sisa perowinya terpercaya kecuali muhammad ibn muhammad al adib dia perawi diterima

 Imam Ibrahim An-Nakhai -seorang tabiin- mengatakan,
تفعل المرأة في الصلاة كما يفعل الرجل
“Seorang wanita mengerjakan shalat sebagaimana yang dilakukan oleh laki-laki” (HR. Bukhari secara muallaq dan disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanadnya dalam Al-Mushannaf).
 Sementara riwayat dalam Masail Imam Ahmad, dari Ibnu Umar, bahwa Ibnu Umar memerintahkan para istrinya untuk duduk bersila ketika salat adalah riwayat yang sanadnya tidak sahih, karena dalam sandanya terdapat Abdullah Al-Waqidi, dia perawi yang dhaif.
  Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanad yang sahih dalam kitab At-Tarikh as-Shaghir, dari Ummu Darda,
أنها كانت تجلس في صلاتها جلسة الرجل ، وكانت فقيهة
“Ummu Darda duduk ketika shalat sebagaimana duduknya lelaki. Padahal ia adalah seorang ulama wanita”

Sabtu, 19 April 2014

syubhat mbah idrus pecinta kijing wali



dalil mereka : وَقَالَ خَارِجَةُ بْنُ زَيْدٍ رَأَيْتُنِي وَنَحْنُ شُبَّانٌ فِي زَمَنِ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَإِنَّ أَشَدَّنَا وَثْبَةً الَّذِي يَثِبُ قَبْرَ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ حَتَّى يُجَاوِزَهُ

“Kharijah bin Zaid berkata: “Aku melihat diriku, ketika kami masih muda pada masa Utsman radhiyallahu ‘anhu, bahwa orang yang paling kuat lompatannya di antara kami, adalah dia yang mampu melompat makamnya Utsman bin Mahz’un, hingga melewatinya.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya [1360]).
JAWAB :
1)dari segi sanad :
ada perawi ibnu ishaq yg dikatakan oleh adzdzahabi di al mizan :yang nampak bagiku hasanul hadits,sholihul hal,shoduq,tapi jika bersendirian maka didalamnya ada nakaroh,dan dalam hafalannya ada sesuatu,para imam berhujjah dengannya(mizanul i'tidal 3/475,al bajawi)sedang dia bersendirian.
dan juga يحيى بن عبد الله الأنصاري perawi majhul,seperti disebutkan al bukhori dalam attarikh al kabir (8/284) dan ibnu abi hatim dalam kitab jarh wa ta'dil (9/162) adapun penyebutan ibnu hibban dalam atstsiqqoot bukanlah tautsiq yg mu'tabar karena beliau banyak menyebut perowi majhul didalamnya.
adapun penyebutan oleh bukhori dalam shohihnya secara mu'allaq tidaklah serta merta menjadi shohih seperti yg sudah ma'ruf dikalangan ahli hadits.
adapun perkataan ibnu hajar : وَصَلَهُ الْمُصَنِّف فِي " التَّارِيخ الصَّغِير " مِنْ طَرِيق اِبْن إِسْحَاق
kalau kita kita perhatikan tidak tashih kepada riwayat ini.
2) kalau kita baca sejarah hidup khorijah dalam tahdzibut tahdzib :
berkata ibnu namir dan amru ibn ali bahwa khorijah wafat 99 H,berkata ibnu madini: beliau wafat 100 H (tahdzibut tahdzib 3/75)
katakanlah beliau wafat akhir 99 H,dalam tarikh ibn 'asakir disebutkan ketika wafat umur beliau 70 tahun, seperti itu juga disebutkan ibnu kholkan (5/202)
jadi beliau lahir 29 H.
sedangkan utsman meninggal 7 dzulhijjah 35 H,maka umur khorijah saat itu adalah 6 tahun,jadi sangat janggal kalau dikatakan dalam riwayat شُبَّانٌ
para pemuda
wal hasil riwayat ini lemah
kalaupun benar misalkan.maka tidak ada indikasi sama sekali bahwa diatas kuburnya ada bangunannya kemudian dilompati,tapi yang nampak adalah melompati batu nisan beliau saja atau karena lebarnya.seperti yang jelas dalam riwayat lain yg shohih,apalagi beliau termasuk fuqoha' sab'ah mana mungkin kuburan dibuat lompat2an justru ketika muda beliau sibuk dengan ilmu.

عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ الْمَدَنِىِّ عَنِ الْمُطَّلِبِ قَالَ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ أَمَرَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ – قَالَ كَثِيرٌ قَالَ الْمُطَّلِبُ قَالَ الَّذِى يُخْبِرُنِى ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ – كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَىْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ « أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِى وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِى ».



“Dari Katsir bin Zaid al-Madani, dari al-Muththalib berkata: “Ketika Utsman bin Mzh’un meninggal, jenazahnya dikeluarkan, lalu dimakamkan, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh seorang laki-laki membawakan sebuah batu besar. Ternyata laki-laki tersebut tidak mampu mengangkatnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi batu tersebut, lalu membuka kedua lengannya. Katsir berkata: “Al-Muththalib berkata: “Telah berkata orang yang mengabarkan hal itu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Seakan-akan aku melihat putihnya kedua lengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika membuka keduanya, kemudian membawa batu itu, lalu menaruhnya di kepala kuburan itu dan beliau bersabda: “Aku tandai dengan batu itu, kuburan saudaraku, dan aku akan menguburkan keluargaku yang meninggal ke situ.” (HR. Abu Dawud [1641], Ibnu Majah [1651], Ibnu Abi Syaibah (3/334) dan al-Baihaqi (3/412).


Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu berkata :
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang kubur untuk dikapur, diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim no. 970, Abu Daawud no. 3225, At-Tirmidziy no. 1052, An-Nasaa’iy no. 2027-2028
jadi pendalilan memakai atsar khorijah adalah pembenaran yg dipaksakan semata

syubhat pecinta doa bersama


dalil mereka :
1)
عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ يَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني في الكبير و الحاكم في المستدرك

“Dari Habib bin Maslamah al-Fihri RA –beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”
jawab : hadits ini dhoif lemah
إسناد ضعيف فيه عبد الله بن لهيعة الحضرمي وهو ضعيف الحديث
sanadnya lemah karena ada abdulloh ibn luhai'ah al hadromy,dia perowi lemah
abu isa at-tirmidzi berkata :
ذكره في الصحيح الجامع وقال : ضعيف عند أهل الحديث ضعفه يحيى بن سعيد من قبل حفظه
menyebutkannya dalam kitab as-shohih al jami' dan beliau berkata :dia perawi lemah menurut para ahli hadits,telah melemahkannya yahya ibn sa'id dari segi hafalannya
abu zur'ah berkata :
ضعيف ، وأمره مضطرب يكتب حديثه على الاعتبار
perawi lemah dan perkaranya muthtorib guncang,ditulis haditsnya hanya untuk i'tibar saja
ibnu hajar berkata :
قال في التقريب : صدوق ، خلط بعد احتراق كتبه
beliau berkata dalam kitab at-taqrib : dia shoduq,ikhtilat setelah terbakar kitabnya
adz-dzahabi :
ذكره في الكاشف ، وقال : العمل على تضعيف حديثه
menyebutkannya di kitab al kasyif dan beliau berkata :yang di amalkan adalah melemahkan haditsnya
selain itu syekh albani berkata :
إنه لم يدرك حبيب
ابن مسلمة ؛ فإنه ولد سنة ( 41 ) سنة الجماعة ، وبعدها بسنة مات ابن مسلمة ، فالإسناد منقطع ، فلعله لذلك سكت عنه الحاكم والذهبي ، والله أعلم
sesungguhnya ibnu luhai'ah tidak jumpa habib ibn maslamah karena dia di lahirkan tahun 41 H,dan setahun setelahnya ibn maslamah wafat,maka sanadnya terputus,mungkin karena inilah adzdzahabi dan al hakim mendiamkannya (silsilah hadits as-shohihah juz 12 hal 940)
2) عَنْ يَعْلَى بْنِ شَدَّادٍ قَالَ: حَدَّثَنِيْ أَبِيْ وَعُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ حَاضِرٌ يُصَدِّقُهُ قَالَ: كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: هَلْ فِيْكُمْ غَرِيْبٌ؟ يَعْنِيْ أَهْلَ الْكِتَابِ، فَقُلْنَا: لاَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَأَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ: اِرْفَعُوْا أَيْدِيَكُمْ وَقُوْلُوْا لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، فَرَفَعْنَا أَيْدِيَنَا سَاعَةً، ثُمَّ قَالَ: اَللّهُمَّ أَنْتَ بَعَثْتَنِيْ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهَا الْجَنَّةَ وَأَنْتَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ، ثُمَّ قَالَ: أَبْشِرُوْا فَقَدْ غُفِرَ لَكُمْ. رواه الإمام أحمد بسند حسنه الحافظ المنذري، والطبراني في الكبير وغيرهما.

“Ya’la bin Syaddad berkata: “Ayahku bercerita kepadaku, sedangkan Ubadah bin al-Shamit hadir membenarkannya: “Suatu ketika kami bersama Nabi SAW. Beliau berkata: “Apakah di antara kamu ada orang asing? (Maksudnya ahlul-kitab).” Kami menjawab: “Tidak ada, ya Rasulullah.” Lalu Rasul SAW memerintahkan agar mengunci pintu. Kemudian bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan ucapkan la ilaha illlallah.” Maka kami mengangkat tangan kami beberapa saat. Kemudian Rasul SAW berkata: “Ya Allah, Engkau telah mengutus aku membawa kalimat ini, dan Engkau janjukan surga padaku dengan kalimat tersebut, sedangkan Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian Rasul SAW bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah mengampuni kalian.” (HR. al-Imam Ahmad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Mundziri, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan lain-lain.

jawab : hadits inipun lemah
إسناد ضعيف فيه راشد بن داود البرسمي وهو ضعيف الحديث
sanadnya lemah karena ada rosyid ibn daud perawi hadits yg lemah
ibnu hajar :
قال في التقريب : صدوق له أوهام
berkata dalam kitab taqrib : shoduq tapi banyak auham keraguan
imam daruqutni berkata :
ضعيف لا يعتبر به
perawi lemah tidak dijadikan i'tibar
dilemahkan syekh albani dalam dhoif targhib wa tarhib juz 1 hal 232
3) Allah SWT berfirman tentang kisah Nabi Musa :
قَالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيمَا. (يونس : ٨٩).

“Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus : 89).

Dalam ayat di atas, al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa dan Nabi Harun. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa, sedangkan Nabi Harun hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir.
jawab : memang sebagian ahli tafsir menyatakan nabi harun mengaminkan,tapi tidak ada yg menjadikannya dalil doa rutin berjamaah.bahkan sebagian ahli tafsir berkata :
لذلك فلا يوجد ما يمنع أن هارون ساعة سمع أخاه داعياً بمثل هذا الدعاء ، قد دعا هو أيضاً بالدعاء نفسه ، أو أنه أي : هارون قد دعا بهذا الدعاء سِرّاً
oleh karenanya tidak menutup kemungkinan bahwa nabi harun saat mendengar saudaranya berdoa seperti doanya ini,sedang dia sendiri berdoa dg doa itu juga atau beliau berdoa secara pelan(sir)(tafsir asysya'rowi juz 1 hal 4063 )
katakanlah benar nabi harun mengaminkannya,namun itu dalam syariat islam
diperinci :
Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti di dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), dan Qunut.

Kedua: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini boleh jika dilakukan kadang-kadang dan tanpa kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:
يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟
“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dengan mengangkat tangan?”
Maka beliau mengatakan:
ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا
“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)
Berkata Al-Marwazy:
وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به
“Dan makna “jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).
Beliau Syekh Ibnu Baz juga ditanya, ”Apa hukumnya berdoa secara jama’i (bersama-sama) di kuburan?"
Beliau menjawab, “Tidak mengapa, kalau salah seorang berdoa sementara lainnya mengamini, hal itu tidak mengapa, jika hal itu tidak direncanakan, akan tetapi ada sebagian mereka mendengarkan orang berdoa, lalu mereka mengamininya. Hal itu tidak dinamakan jama’i karena hal itu tidak direncanakan.” (Fatawa Syekh Ibn Baz, 13/340)
Tanya: Saya menyaksikan sebagian orang-orang yang shalat berjamaah seusai mereka shalat, mereka berdoa dengan bersama-sama, setiap kali mereka selesai shalat, apa hal ini dibolehkan? Berilah kami fatwa semoga Anda mendapat balasan di sisi-Nya.
Jawab: Berdoa setelah shalat, tidak mengapa. Akan tetapi setiap orang berdoa sendiri-sendiri. Berdoa untuk dirinya dan saudaranya sesama ummat Islam. Berdoa untuk kebaikan agama dan dunianya, sendiri-sendiri bukan bersama-sama.
Adapun berdoa bersama-sama setelah shalat, ini adalah bid’ah. Karena tidak ada keterangannya dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tidak dari shahabatnya dan tidak dari kurun-kurun yang utama bahwa dahulu mereka berdoa secara bersama-sama, dimana sang imam mengangkat kedua tangannya, kemudian para makmum mengangkat tangan-tangan mereka, sang imam berdoa dan para makmum juga berdoa bersama-sama dengan imam. Ini termasuk perkara bid’ah.
Adapun setiap orang berdoa tanpa mengeraskan suara atau membuat kebisingan hal ini tidaklah mengapa, apakah sesudah shalat wajib atau sunnah.

Sumber :
Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Shalih Al Fauzan (2/680)(1417)

4) 
Hadits Zaid bin Tsabit radhiyallaahu ‘anhu

عن قيس المدني أن رجلا جاء زيد بن ثابت فسأل عن شيء فقال له زيد : عليك بأبي هريرة فبينا أنا وأبو هريرة وفلان في المسجد ندعو ونذكر ربنا عز و جل إذ خرج إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم حتى جلس إلينا فسكتنا فقال : " عودوا للذي كنتم فيه " . فقال زيد : فدعوت أنا وصاحبي قبل أبي هريرة وجعل النبي صلى الله عليه و سلم يؤمن على دعائنا ثم دعا أبو هريرة فقال : اللهم إني سائلك بمثل ما سألك صاحباي وأسألك علما لا ينسى . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم آمين فقلنا يا رسول الله ونحن نسأل الله علما لا ينسى فقال سبقكما بها الدوسي رواه والنسائي في الكبرى والطبراني في الأوسط وصححه الحاكم

“Dari Qais al-Madani, bahwa seorang laki-laki mendatangi Zaid bin Tsabit, lalu menanyakan tentang suatu. Lalu Zaid berkata: “Kamu bertanya kepada Abu Hurairah saja. Karena ketika kami, Abu Hurairah dan si fulan di Masjid, kami berdoa dan berdzikir kepada Allah ‘azza wajalla, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar kepada kami, sehingga duduk bersama kami, lalu kami diam. Maka beliau bersabda: “Kembalilah pada apa yang kalian lakukan.” Zaid berkata: “Lalu aku dan temanku berdoa sebelum Abu Hurairah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca amin atas doa kami. Kemudian Abu Hurairah berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seperti yang dimohonkan oleh kedua temanku. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Amin.” Lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah, kami juga memohon ilmu pengetahuan yang tidak akan dilupakan.” Lalu beliau berkata: “Kalian telah didahului oleh laki-laki suku Daus (Abu Hurairah) itu”. (HR. al-Nasa’i dalam al-Kubra [5839], al-Thabarani dalam al-Ausath [1228]. Al-Hakim berkata dalam al-Mustadrak [6158]: “Sanadnya shahih, tetapi al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya”.)

hadits ini lemah 
karena hammad ibn syu'aib perawi lemah kata yahya ibn ma'in,munkarul hadits kata imam bukhori

Jumat, 18 April 2014

I'ROB ALBAQOROH 62 DAN ALMAIDAH 50



إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62)
I’rob nya :
«إِنَّ» حرف مشبه بالفعل. «الَّذِينَ» اسم موصول في محل نصب اسمها. «آمَنُوا» فعل ماض وفاعل
و الجملة صلة الموصول. «وَالَّذِينَ» معطوف على الذين الأولى. «هادُوا» مثل آمنوا. «وَالنَّصارى وَالصَّابِئِينَ» معطوفان على الذين. «مَنْ» اسم موصول مبني على السكون في محل نصب بدل من اسم إن ، ويجوز إعرابها شرطية مبتدأ. «آمَنَ» فعل ماض والفاعل هو والجملة صلة الموصول. «بِاللَّهِ» متعلقان بالفعل. «وَالْيَوْمِ» معطوف على اللّه. «الْآخِرِ» صفة اليوم. «وَعَمِلَ» الجملة معطوفة على أمن.
«صالِحاً» مفعول به. «فَلَهُمْ» الفاء رابطة لجواب الشرط في المعنى ولهم متعلقان بالخبر المحذوف.
«أَجْرُهُمْ» مبتدأ والجملة خبر إن ، أو جواب الشرط. «عِنْدَ» ظرف مكان متعلق بالمصدر أجر أو بحال محذوفة تقديرها محفوظا عند ربهم. «رَبِّهِمْ» مضاف إليه. «وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ» لا نافية لا عمل لها لأنها تكررت. وهذه الجملة سبق إعرابها مع الآية «38».
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (69)
I’robnya :
ونصب الصابئين على أنها معطوفة على ما قبلها أما الرفع فعلى أنها مبتدأ وخبره محذوف والتقدير : إن الذين آمنوا والذين هادوا .. كلهم كذا والصابئون كذلك ... والجملة الاسمية معطوفة على جملة إن الذين آمنوا الاستئنافية. «مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ» من اسم موصول مبني على السكون في محل نصب بدل من الذين والجملة صلة الموصول لا محل لها «فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ» الفاء رابطة لأن في الموصول رائحة الشرط والتقدير من آمن من اليهود والنصارى فلا خوف عليهم ، لا نافية ، خوف مبتدأ ، عليهم خبره. «وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ» جملة يحزنون خبر المبتدأ هم والجملة الاسمية ولا هم معطوفة.
Di surat al baqoroh الصابئين karena ma’tuf ke sebelumnya,adapun rof’ yakni الصابئون karena sebagai mubtada’ yang khobarnya mahdzuf atau dibuang atau tidak terlihat
Kalau diperlihatkan jadinya : إن الذين آمنوا والذين هادوا .. كلهم كذا والصابئون كذلك ..
Seperti dalam tafsir jalalain juz 1 hal 150 :
{ إن الذين آمنوا والذين هادوا } هم اليهود , مبتدأ { والصابئون } فرقة منهم { والنصارى } ويبدل من المبتدأ

Syubhat pendengki dakwah tauhid


Mereka berkata : Abdul wahhab bin Abdirrahman bin Rustum di sebut Wahbiyyah Rustumiyyah (bukan Wahhabiyyah Rustumiyyah), bahkan dalam kitab yang tersebut di atas (rujukan dalam dongeng) sangat jelas bahwa Al-Lakhmi di tanyakan tentang kaum Wahbiyyah, bukan tentang Wahhabiyyah, tetapi dalam dongeng disebutkan bahwa Al-Lakhmi ditanyakan tentang Wahhabiyyah, ini jelas-jelas tipuan dan pembodohan, simak penjelasan berikut ini :
Dalam kitab Tarikh Ibnu Khaldun juzuk II halaman 98, beliau berkata :
وكان يزيد قد أذل الخوارج ومهد البلاد فكانت ساكنة أيام روح ورغب في موادعة عبد الوهاب بن رستم وكان من الوهبية فوادعه
Perhatikan dari teks di atas : (ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻫﺒﻴﺔ)
dan adalah Abdul Wahhab bin Rustum sebagian dari “Wahbiyyah”
Maksudnya, Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum adalah pengikut Wahbiyyah bukan Wahhabiyyah, dan juga bukan pendiri Wahbiyyah sehingga ada anggapan bahwa ajaran nya bernama Wahhabiyyah nisbah kepada nama nya Abdul Wahhab, sunnguh anggapan yang sangat keliru
JAWAB :1) tidak semua min(مِنَ) berarti sebagian seperti :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا ﴿٨٢﴾
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. [Q.S. Al-Israa':82]
“dari Al-Qur`an.” Kata min (مِنَ) dalam ayat ini, menurut pendapat yang rajih (kuat), menjelaskan jenis dan spesifikasi yang dimiliki Al-Qur`an. Kata min di sini tidak bermakna “sebagian”, yang mengesankan bahwa di antara ayat-ayat Al-Qur`an ada yang tidak termasuk syifa` (penawar), sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnul Qayyim t. Kata min pada ayat ini seperti halnya yang terdapat dalam firman-Nya:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (An-Nur: 55)
Kata min dalam lafadz tidaklah bermakna sebagian, sebab mereka seluruhnya adalah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 10/316, Fathul Qadir, 3/253, dan At-Thibb An-Nabawi, Ibnul Qayyim, hal. 138)
2) مِنَ juga tidak hanya untuk pengikut saja tapi juga sangat mungkin untuk pemimpin
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ
Al Kahfi 18:50. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam , maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin,
Sahabat mufassir ibnu abbas menjelaskan :
{ فسجدوا إِلاَّ إِبْلِيسَ } رئيسهم { كَانَ مِنَ الجن } من قبيلة الجن
sujudlah mereka kecuali Iblis yaitu PEMIMPIN MEREKA, Dia adalah dari golongan jin(tafsir ibnu abbas juz 1 hal 248)
وقال الحسن: كان من الجن ولم يكن من الملائكة فهو أصل الجن كما أن آدم أصل الإنس
Dan berkata al hasan : iblis dari jin dan tidak termasuk malaikat maka dia adalah asal muasal (nenek moyang) jin sebagaimana adam adalah nenek moyang manusia (tafsir baghowi juz 5 hal 178)
3) sekarang tinggal syubhat fatwa,mari kita teks aslinya :
Lihat kembali perkataan imam Al Lakhmi tentang “Wahhabiyah” yang mana beliau sudah wafat rastusan tahun lamanya sebelum syaikh Abdul Wahhab lahir,Al Lakhmi wafat pada tahu 478 H dan syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab wafat pada tahun 1115 H :
سئل اللخمي : عن أهل بلد بنى عندهم الوهابيون مسجداً ، ما حكم الصلاة فيه ؟
Imam Al Lakmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang “Wahabiyyun” membangun sebuah masjid, Bagaimana hukum shalat didalamnya?
Maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab:
خارجية ضالة كافرة ، قطع الله دابرها من الأرض ، يجب هدم المسجد ، وإبعادهم عن ديار المسلمين
“Firqoh Wahabiyyah adalah firqoh khawarij yang sesat,semoga Allah menghancurkan mereka, masjidnya wajib untuk dihancurkan dan wajib untuk mengusir mereka dari negeri-negeri kaum muslimin” [Fatwa Al Lakhmi ini disebutkan oleh Al Winsyarisi dalam kitabnya Al Mi’yar Al Mu’rib Fi Fatawa Ahli Al Maghrib pada jilid 11 Hal. 168]
4) tentang penisbatan
mereka juga kerap kali menyatakan bahwa penisbatan istilah "Wahhabiyyah" kepada Muhammad bin Abdul Wahhab adalah salah kaprah. Bahkan, ada ulama Wahhabi yang berbohong dan mengatakan bahwa penamaan Wahabi adalah disandarkan kepada nama al Wahhab, salah satu dari nama-nama Allah. Seperti yang dikatakan oleh ulama Wahhabi bernama Muhammad bin Jamil Zainu dalam bukunya Quthuf Min asy Syama’il al Muhammadiyyah
وهابي نسبة إلى الوهاب وهو اسم من أسماء الله
"Nama Wahabi adalah disandarkan kepada nama al Wahhab, dan dia itu (al Wahhab) adalah salah satu dari nama-nama Allah”.
Jelas, mereka tidak paham bahwa penisbatan itu tidak harus disandarkan pada nama pendirinya (pengasasnya), bisa juga disandarkan kepada nama ayahnya, kakeknya, kakek dari kakeknya dan seterusnya. Didalam bahasa arab, penisbatan juga seringkali dipakai dengan disandarkan kepada Mudlaf Ilaih-nya. Seperti kata Abdul Qais, maka nisbahnya menjadi Qaisy.
Sanggahan:
Lihat kelucuan sang penulis, mereka menyatakan penisbatan tidak harus disandarkan kepada pendirinya, akan tetapi bisa dinisbatkan kepada ayah, kakek, dan kakek dari kakeknya dan seterusnya.
Maka kami sanggah: Seseorang dapat dinisbatkan kepada ayahnya karena memang nasabnya berasal dari ayahnya. Seperti dia misal Muhammad Abdir Rahman bin Yani bin Amir bin Yahya, maka dia adalah Al Amiry karena menisbatkan kepada kakeknya. Akan tetapi menisbatkan pekerjaan (fi’il) kepada ayahnya maka tidak boleh.
Seperti: Terdapat seseorang bernama Adam Ibni Manshur, ternyata Adam ini adalah seorang pencuri dan dia telah tersingkap kemarin malam bahwasanya ia telah mencuri emas. Jika ditanyakan: Siapa pencuri emas kemarin malam? Apakah mungkin pencuri dinisbatkan kepada ayahnya, sehingga pencuri adalah Mashur ?? Sehingga bapaknya lah yang salah dan tertuduh ?? Jelas pencuri nya dinamakan Adam Bukan nya Manshur.

Senin, 07 April 2014

hukum doa bersama


Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani Rahimahullahu Ta’ala mengatakan, “Pada asalnya, do’a untuk menghilangkan wabah tidaklah terlarang. Namun, berkumpul untuk berdo’a bersama seperti pada shalat Istisqa‘ maka ini termasuk bid’ah (perkara baru) dalam agama … Seandainya hal itu disyari’atkan, tentu tidaklah samar bagi salaf dan bagi para ulama sepanjang zaman, sedangkan tidak dinukil dari mereka hadits atau atsar satu pun.(Badzlul Ma’un: 328–330 secara ringkas)

tipu daya mbah idrus

si mbah berkata : Menentukan amal shaleh dengan hari-hari tertentu, hukumnya jelas boleh dan tidak dilarang berdasarkan hadits shahih berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَفْعَلُهُ

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi Masjid Quba’ setiap hari Sabru dengan berjalan kaki dan menaiki kendaraan.” Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu juga selalu melakukannya.” (HR al-Bukhari).

Berdasarkan hadits tersebut, al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:

وفي هذا الحديث على اختلاف طرقه دلالة على جواز تخصيص بعض الأيام ببعض الأعمال الصالحه والمداومه على ذلك

“Hadits ini dengan jalur-jalurnya yang berbeda-beda menjadi dalil bolehnya menentukan sebagian hari-hari dengan sebagian amal shaleh dan melakukannya secara rutin.” (Al-Hafizh Ibnu Hajar, Fathul-Bariy juz 3 hal. 69).

JAWAB : orang awam yg gak belajar ushul tentu dg mudah tertipu artikel potongan seperti itu.
tentu semua itu ada asbabul wurudnya mbah,ada latar belakang syar'i bukan sengaja mengkhususkan tanpa alasan syar'i.
al-hafidz ibnu hajar berkata :
إنما كان لمواصلة الأنصار وتفقد حالهم وحال من تأخر منهم عن حضور الجمعة معه وهذا هو السر في تخصيص ذلك بالسبت
artinya : sesungguhnya itu dilakukan karena untuk menyambung hubungan dengan kaum anshor,karena merasa kehilangan dari kabar keadaan mereka dan orang islam setelah mereka dari menghadiri sholat jum'ah bersama beliau dan inilah rahasia didalam pengkhususan nabi hari sabtu (fathul bariy juz 3 hal 69)
sekarang bandingkan,apakah mereka mengkhususkan hari ke-7,40 dst itu ada alasan syar'inya atauuu hanyalah karangan hawa nafsu mereka ???

adu logika mbah idrus vs awam seputar kenduri

awam : kenduri boleh gak mbah ?
mbah : boleh,gak percaya ?lihat tu fatwa bin baz
“Hukum menghadiri majliz ta’ziyah dan duduk-duduk di sana.
Soal: Bolehkah menghadiri majlis ta’ziyah (tahlilan) dan duduk-duduk bersama mereka?
Jawab: Apabila seorang Muslim menghadiri majliz ta’ziyah dan menghibur keluarga mayit maka hal itu disunnahkan, karena dapat menghibur dan memotivasi kesabaran kepada mereka. Apabila minum secangkir kopi, teh atau memakai minyak wangi (pemberian keluarga mayit), maka hukumnya tidak apa-apa, sebagaimana kebiasaan masyarakat terhadap para pengunjungnya.” (Syaikh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 13 hal. 371).

Nah jelas kan, Syaikh Ibnu Baz membolehkan hidangan seperti dalam acara Tahlilan???
awam : itukan sekedarnya aja mbah,emang kenduri cukup sekedar secangkir kopi atau aqua mbah ?
mbah : “Kamu perhatikan, Ibnu Baz membolehkan secangkir kopi, teh dan parfum, karena alasan tradisi. Di sini tradisinya, memang makan nasi tumpeng. Jadi beda donk.
awam : he..
emang tradisi,tapi tradisi menjamu tamu mbah,emang tradisi arab minum kopi mbah saat malam kematian?.emang tiap ada tamu pasti bikin nasi tumpeng gitu mbah,tradisinya jawa?ataukah hanya sekedarnya.emang mbah udah tanya bin baz begitu pemahamannya yg benar ?
mbah : ngapain dia kan wahabi,ya gak harus,tapi kalo ada hajatan itu mah biasa kan di daerah kita ?
awam :he..kalo wahabi kok dijadikan dalil mbah,kalau gak biasa berarti ya bukan tradisi,tapi tradisi hajatan alias acara waah gitu mbah ?
mbah idrus: ente kayak wahabi aja dikit2 dalil,kayak ngerti sunnah wae..
awam : emang kenduri itu apa ada sunnahnya ?
mbah : emang kalau gak ada sunnahnya gak boleh ya ? gak harus sunnah,yg penting mubah/boleh udah cukup kan
awam : lho,jenengan itu ahlussunnah atau ahlul mubah sih mbah,,he
mbah : ora ahli sunnah yo rapopo bagiku...,daripada digebukin massa.sing penting urip mati ikut kyai

awam : takut
meninggalkan sesuatu karena orang kan syirik to mbah..he