Senin, 14 Oktober 2013

Bendera Tanda Kematian bolehkah ?


Apakah hukumnya memberi tanda kain putih/bendera kuning jika ada orang yang meninggal?

Fungsi bendera dalam Islam adalah untuk jihad fi sabilillah, dipegang oleh panglima atau pimpinan mujahidin yang ditunjuk. Bendera untuk jenazah tidak ada contohnya, dan bila ada keyakinan tertentu bisa saja terjatuh dalam bid’ah. Waffaqakumullah.

hukum kulit hewan kurban yang dijadikan bedug?


Jelas tidak boleh, karena:

1. Hewan kurban beserta kulitnya harus dibagikan kepada fakir miskin dan mustahiq lainnya.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُسْلِمٍ، وَعَبْدُ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيُّ، أَنَّ مُجَاهِدًا أَخْبَرَهُمَا، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى أَخْبَرَهُ، أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخْبَرَهُ، " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالَهَا، وَلَا يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا شَيْئًا "
Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa, dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Al-Hasan bin Muslim dan ‘Abdul-Kariim Al-Jazariy : Bahwasannya Mujaahid telah mengkhabarkan kepada mereka berdua : Bahwasannya ‘Abdurrahmaan bin Abi Lailaa telah mengkhabarkan kepadanya : Bahwasannya ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu telah mengkhabarkan kepadanya : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya agar dia mengurusi budn beliau (yaitu : onta-onta hadyu), dan memerintahkannya agar membagi semua bagian dari hewan kurban tersebut, baik dagingnya, kulitnya, maupun jilaal-nya. Dan agar ia (‘Aliy) tidak memberikan upah sesuatupun (dari kurban itu) kepada tukang jagalnya [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1717].
2. Bedug tidak ada sunnahnya, justru termasuk bid’ah yang dimasukkan ke dalam masjid
Sebagian sekte Hindu beranggapan bahwa dhak (beduk) itu semula dibawa Dewa-dewa dari Swarga. Di kuil Iswara di Helebeid Maisur India yang dibangun Raja Narasingha (1136-1171) dilukiskan para Dewa membawa beduk. Dewa Surya menghentikan keretanya tepat tengah hari, sehingga segala pekerjaan harus dihentikan sebab akan keluar Dewa-dewa jahat. Untuk tanda meninggalkan pekerjaan, sejak itu dipukullah dhak (beduk). Dalam Surya Deul (pura hitam) di Konara Orissa, dipatungkan kereta Surya tengah berhenti.

Ketika Islam tersebar di Asia Tenggara dan sekitarnya, banyak kuil-kuil berbeduk yang dijadikan masjid. Beduk dalam kuil tersebut tidak disingkirkan tetapi dimanfaatkan, hanya cara dan waktu menabuh beduk itu disesuaikan dengan shalat lima waktu.

Dalam tarikh dan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam, ketika turun perintah shalat lima waktu, timbullah gagasan mencari alat penyeru pada shalat itu. Ada yang mengusulkan mempergunakan lonceng. Rasulullah menolak dengan tegas, karena lonceng itu dipergunakan orang Nasrani. Ada yang mengusulkan dengan terompet, Rasulullah pun menolak dengan keras, karena dipergunakan oleh orang Yahudi. Lalu ada yang mengusulkan menggunakan api, itupun ditolak karena menyerupai peribadatan Majusi. Dan ditetapkanlah panggilan shalat itu dengan adzan.

Sesungguhnya beduk telah dipergunakan dalam agama "Yang". Beduk dalam agama Yang dipergunakan untuk memanggil arwah atau mengusirnya. Misalnya di Klenteng Kong Hu Cu dan Shinto. Jika alat-alat yang dipergunakan oleh mereka ditolak Nabi, maka bagaimanakah kiranya jika mempergunakan beduk yang berasal dari Hindu dan Klenteng itu ? Dalam Islam, meniru peribadatan agama orang lain adalah tasyabbuh dan bid'ah.

ROBOHNYA DALIL TAWASUL MAYIT ALA UTSMAN IBN HUNAIF MAUQUF



حَدَّثَنَا طَاهِرُ بْنُ عِيسَى بْنِ قَيْرَسَ الْمُقْرِئُ الْمِصْرِيُّ التَّمِيمِيُّ، حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بْنُ الْفَرَجِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، عَنْ شَبِيبِ بْنِ سَعِيدٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ رَوْحِ بْنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْخَطْمِيِّ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ، عَنْ عَمِّهِ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ، أَنَّ رَجُلا كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فِي حَاجَةٍ لَهُ، فَكَانَ عُثْمَانُ لا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ وَلا يَنْظُرُ فِي حَاجَتِهِ، فَلَقِيَ عُثْمَانَ بْنَ حَنِيفٍ، فَشَكَا ذَلِكَ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ حَنِيفٍ " ائْتِ الْمِيضَأَةَ فَتَوَضَّأْ، ثُمَّ ائْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ قُلِ: اللَّهُمَّ، إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقْضِي لِي حَاجَتِي، وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ، وَرُحْ إِلَيَّ حَتَّى أَرُوحَ مَعَكَ "، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ، فَصَنَعَ مَا قَالَ لَهُ عُثْمَانُ، ثُمَّ أَتَى بَابَ عُثْمَانَ، فَجَاءَ الْبَوَّابُ حَتَّى أَخَذَ بِيَدِهِ، فَأَدْخَلَهُ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ، فَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى الطِّنْفِسَةِ، وَقَالَ: حَاجَتُكَ؟ فَذَكَرَ حَاجَتَهُ فَقَضَاهَا لَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: مَا ذَكَرْتَ حَاجَتَكَ حَتَّى كَانَتْ هَذِهِ السَّاعَةُ، وَقَالَ: مَا كَانَتْ لَكَ مِنْ حَاجَةٍ فَأْتِنَا، ثُمَّ إِنَّ الرَّجُلَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهِ، فَلَقِيَ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ، فَقَالَ لَهُ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا، مَا كَانَ يَنْظُرُ فِي حَاجَتِي، وَلا يَلْتَفِتُ إِلَيَّ حَتَّى كَلَّمْتَهُ فِي، فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ: وَاللَّهِ، مَا كَلَّمْتُهُ وَلَكِنْ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَتَاهُ ضَرِيرٌ، فَشَكَا عَلَيْهِ ذَهَابَ بَصَرِهِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: أَفَتَصْبِرُ؟، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ، وَقَدْ شَقَّ عَلَيَّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ائْتِ الْمِيضَأَةَ، فَتَوَضَّأْ، ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ ادْعُ بِهَذِهِ الدَّعَوَاتِ، قَالَ عُثْمَانُ: فَوَاللَّهِ مَا تَفَرَّقْنَا وَطَالَ بِنَا الْحَدِيثُ، حَتَّى دَخَلَ عَلَيْنَا الرَّجُلُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ قَطُّ "

Telah menceritakan kepada kami Thaahir bin ‘Iisaa bin Qairas Al-Muqri’ Al-Mishriy At-Tamiimiy : Telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Al-Faraj : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb, dari Syabiib bin Sa’iid Al-Makkiy, dari Rauh bin Al-Qaasim, dari Abu Ja’far Al-Khathmiy Al-Madaniy, dari Abu Umaamah bin Sahl bin Hunaif, dari pamannya (yaitu) ‘Utsmaan bin Hunaif : Bahwasannya ada seorang laki-laki berkali-kali datang kepada ‘Utsman bin ‘Affaan radliyallaahu ‘anhu untuk suatu keperluan, akan tetapi Utsman tidak menanggapinya dan tidak memperhatikan keperluannya. Kemudian orang tersebut menemui ‘Utsmaan bin Hunaif dan mengeluhkan hal itu. Maka ‘Utsmaan bin Hunaif berkata : “Pergilah ke tempat wudlu dan berwudlulah, kemudian masuklah ke masjid mengerjakan shalat dua raka’at, lalu berdoalah : ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad, aku menghadap denganmu kepada Rabbmu ‘azza wa jalla agar memenuhi keperluanku’. Kemudian sebutkanlah hajat atau keperluanmu, berangkatlah dan aku dapat pergi bersamamu”. Maka orang itu pun pergi dan melakukan apa yang dikatakan ‘Utsmaan (bin Hunaif). Setelah itu, ia datang menghadap ‘Utsmaan. Ketika sampai di pintu ‘Utsmaan, penjaga pintu ‘Utsmaan memegang tangannya dan membawanya masuk kepada ‘Utsmaan bin ‘Affaan. Ia dipersilakan duduk di samping ‘Utsmaan. ‘Utsmaan berkata : “Apa keperluanmu”. Lalu ia menyebutkan keperluannya dan ‘Utsmaan segera memenuhinya. ‘Utsmaan berkata : “Aku tidak ingat engkau menyebutkan keperluanmu sampai saat ini”. Lalu ‘Utsmaan berkata : “Kapan saja engkau memiliki keperluan, segera sampaikan”. Kemudian orang tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menemui ‘Utsmaan bin Hunaif. Ia berkata : “Semoga Allah ta'ala membalas kebaikanmu. Ia awalnya tidak memperhatikan keperluanku dan tidak mempedulikan kedatanganku sampai engkau berbicara kepadanya tentangku”. ‘Utsmaan bin Hunaif berkata : “Demi Allah, aku tidak berbicara kepadanya. Hanya saja aku pernah menyaksikan seorang buta menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengeluhkan kehilangan penglihatannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : ‘Bersabarlah’. Ia berkata : ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki penuntun yang dapat membantuku dan itu sungguh sangat menyulitkanku’. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : ‘Pergilah ke tempat wudlu, lalu berwudlulah. Setelah itu, shalatlah dua rakaat, lalu berdoalah’ - yaitu doa ini”. ‘Utsmaan bin Hunaif berkata : “Demi Allah, kami tidaklah berpisah dan berbicara lama hingga ia datang kepada kami dalam keadaan seolah-olah ia tidak pernah kehilangan penglihatan sebelumnya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Ash-Shaghiir (Ar-Raudlud-Daaniy) 1/306-307 no. 508 & dalam Al-Kabiir 9/17-18 no. 8311 & dalam Ad-Du’aa’ hal. 1287-1289 no. 1050 – dan darinya Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 58/375 dan Dliyaauddiin Al-Maqdisiy dalam Al-‘Uddah no. 29].
Diriwayatkan juga oleh Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush-Shahaabah no. 4946 : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin ‘Iisaa : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb,... dan seterusnya seperti hadits di atas.
Riwayat Ibnu Wahb dari Syabiib adalah munkar sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil [5/47 no. 891].
Ibnu Wahb mempunyai mutaba’ah dari :
1. Ismaa’iil bin Syabiib sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Dalaailun-Nubuwwah 6/167-168.
Riwayat ini lemah karena Ismaa’iil bin Syabiib tidak ditemukan biografinya di kitab-kitab rijaal. Akan tetapi ada kemungkinan penyebutan Ismaa’iil ini keliru, dan yang benar adalah Ahmad bin Syabiib, karena perawi yang meriwayatkan darinya adalah Abu ‘Aruubah, dari ‘Abbaas bin Al-Faraj – sama seperti riwayat yang dibawakan Ibnus-Sunniy di bawah.
2. Ahmad bin Syabiib sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdul-Ghaniy Al-Maqdisiy dalam At-Targhiib fid-Du’aa’ no. 61.
Dhahir riwayat ini shahih, akan tetapi terdapat perselisihan.
Diriwayatkan oleh Ibnus-Sunniy dalam ‘Amalul-Yaum wal-Lailah hal. 296 no. 628 : Telah mengkhabarkan kepadaku Abu ‘Aruubah : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Farah Ar-Riyaasyiy dan Al-Husain bin Yahyaa Ats-Tsauriy, mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syabiib bin Sa’iid, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku (Syabiib)..... dst. dengan hanya menyebutkan riwayat marfuu’ shahih tanpa riwayat mauquuf di atas (yang ditulis tebal).
Sebagaimana disinggung sebelumnya, sanad riwayat ini sama dengan sanad yang dibawakan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah 6/167-168.
Diriwayatkan juga oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/526 dan darinya Al-Baihaqiy dalam Ad-Dalaail 6/167 : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdirrahmaan bin Sahl Ad-Dabbaas di Makkah dari ashl kitabnya : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Aliy bin Zaid Ash-Shaaigh : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syabiib bin Sa’iid Al-Habathiy : Telah menceritakan kepadaku ayahku.....dst. tanpa menyebutkan riwayat mauquuf.
Sanadnya lemah, karena Abu Muhammad ‘Abdul-‘Aziiz bin ‘Abdirrahmaan bin Sahl Ad-Dabbaas seorang yang majhuul.
Selain itu, Syabiib dalam periwayatan marfuu’ tanpa mauquuf mempunyai mutaba’ah dari ‘Aun bin ‘Umaarah Al-Bashriy sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/526 dan Ibnu Hibbaan dalam Al-Majruuhiin 2/197.
Sanadnya lemah, karena ‘Aun bin ‘Umaarah Al-Bashriy. Meskipun begitu, haditsnya tetap ditulis dan bisa dijadikan penguat. Apalagi riwayat ‘Aun ini mencocoki jalur periwayatan lain yang shahih dari ‘Utsmaan bin Hunaif yang akan disebutkan di akhir.
Oleh karenanya dapat dipahami bahwa ziyaadah riwayat mauquuf ini berasal dari Syabiib. Kadang Ahmad bin Syabiib meriwayatkan darinya dengan tambahan, kadang tanpa tambahan.
‘Aliy bin Al-Madiiniy rahimahullah berkata :
شبيب بن سعيد بصري ثقة كان من أصحاب يونس كان يختلف في تجارة الى مصر وكتابه كتاب صحيح قال علي وقد كتبها عن ابنه أحمد بن شبيب
“Syabiib bin Sa’iid, orang Bashrah. Tsiqah. Ia termasuk ashhaab Yuunus (bin Yaziid Al-Ailiy). Ia bolak-balik berdagang ke Mesir. Kitabnya adalah kitab yang shahiih. Aku telah menulisnya dari anaknya yang bernama Ahmad bin Syabiib” [Al-Kaamil, 5/47].
Ibnu ‘Adiy rahimahullah berkata :
ولشبيب بن سعيد نسخة الزهري عنده عن يونس عن الزهري وهي أحاديث مستقيمة وحدث عنه بن وهب بأحاديث مناكير ...... وكان شبيب إذا روى عنه ابنه أحمد بن شبيب نسخة يونس عن الزهري إذ هي أحاديث مستقيمة ليس هو شبيب بن سعيد الذي يحدث عنه بن وهب بالمناكير الذي يرويها عنه ولعل شبيب بمصر في تجارته إليها كتب عنه بن وهب من حفظه فيغلط ويهم وأرجو ان لا يتعمد شبيب هذا الكذب
“Syabiib bin Sa’iid mempunyai catatan riwayat/hadits Az-Zuhriy yang berasal dari Yuunus, dari Az-Zuhriy. Hadits-hadits dalam catatan tersebut lurus (shahih). Dan telah menceritakan darinya Ibnu Wahb berupa hadits-hadits munkar...... Apabila anaknya yang bernama Ahmad bin Syabiib meriwayatkan darinya (Syabiib) catatan riwayat Yuunus dari Az-Zuhriy, maka hadits-hadits tersebut lurus. Riwayat itu bukanlah (seperti) riwayat Syaabiib bin Sa’iid yang telah meriwayatkan darinya Ibnu Wahb, berupa hadits-hadits munkar. Dan kemungkinan Syabiib ketika di Mesir dalam aktifitas dagangnya di sana, Ibnu Wahb menulis riwayat Syabiib dari hapalannya sehingga ia (Syabiib) mengalami kekeliruan dan keraguan. Dan aku berharap Syabiib tidak menyengaja kedustaan ini” [idem, 5/49].
Adz-Dzahabiy rahimahullah membuat kesimpulan dari perkataan Ibnu ‘Adiy sebagai berikut :
كان شبيب لعله يغلط ويهم إذا حدث من حفظه، وأرجو أنه لا يتعمد. فإذا حدث عنه ابنه أحمد بأحاديث يونس، فكأنه شبيب آخر - يعنى يجود
“Ibnu ‘Adiy berkata : ‘Kemungkinan Syabiib mengalami kekeliruan dan keraguan apabila meriwayatkan dari hapalannya, dan aku harap ia tidak menyengajanya. Apabila yang meriwayatkan darinya adalah anaknya yang bernama Ahmad, yaitu berupa hadits-hadits Yuunus, maka sepertinya ia Syabiib yang lain – yaitu membuatnya baik” [Miizaanul-I’tidaal, 2/262 no. 3658. Lihat juga Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy oleh Ibnu Rajab, 2/763].
Ibnu Hajar rahimahullah berkata saat membantah orang-orang yang mengkritik perawi dalam Shahiih Al-Bukhaariy dengan menggunakan perincian Ibnu ‘Adiy di atas :
وروى عنه بن وهب أحاديث مناكير فكأنه لما قدم مصر حدث من حفظه فغلط وإذا حدث عنه ابنه أحمد فكأنه شبيب آخر لأنه يجود عنه قلت أخرج البخاري من رواية ابنه عن يونس أحاديث ولم يخرج من روايته عن غير يونس ولا من رواية بن وهب عنه شيئا
“Dan telah meriwayatkan darinya Ibnu Wahb berupa hadits-hadits munkar. Dan sepertinya ketika ia tiba di Mesir, ia meriwayatkan berdasarkan hapalannya, lalu mengalami kekeliruan. Dan apabila yang meriwayatkan darinya adalah anaknya yang bernama Ahmad, maka seakan-akan ia adalah Syabiib yang lain, karena membuatnya baik. Aku (Ibnu Hajar) berkata : Al-Bukhaariy meriwayatkan hadits-hadits yang berasal dari anaknya, dari Yuunus. Al-Bukhaariy tidak meriwayatkan hadits-haditsnya (Syabiib) yang berasal dari selain Yuunus. Tidak pula dari riwayat Ibnu Wahb darinya sedikitpun” [Hadyus-Saariy, hal. 409].
قال في التقريب : لا بأس بحديثه من رواية ابنه أحمد عنه لا من رواية ابن وهب
Berkata pula dalam at-taqrib : tidak apa2 hadisnya dari riwayat anaknya ahmad,tidak dari riwayat ibn wahb
Dari perincian penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa riwayat Syabiib itu shahih jika berasal dari kitab/catatannya - dan catatannya itu, sebagaimana dijelaskan para ulama, berupa catatan riwayat Yuunus bin Yaziid Al-Ailiy - ; yang berasal dari periwayatan anaknya (Ahmad bin Syabiib) darinya.
Atau dapat diringkas : Syabiib tsiqah dan riwayatnya shahih jika :
a. Diriwayatkan oleh anaknya yang bernama Ahmad, dari Syabiib.
b. Riwayatnya itu berasal dari Yuunus bin Yaziid, karena ia (Syabiib) meriwayatkan dari Yunus dengan perantaraan kitab (bukan dengan hapalan).
Dikarenakan ziyaadah riwayat mauquf tersebut tidak memenuhi dua persyaratan ini, maka statusnya adalah lemah, bahkan munkar.
Ziyaadah ini termasuk bagian riwayat-riwayat ghariib yang dimiliki oleh Syabiib, yang berasal dari hapalannya, bukan dari catatannya.
Yang shahih adalah riwayat yang hanya menyebutkan riwayat marfuu’ saja. Dan itu mencocoki jalur periwayatan shahih lain dari ‘Utsmaan bin Hunaif, di antaranya :
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ، أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي، قَالَ: " إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ "، قَالَ: فَادْعُهْ، قَالَ: فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِيَ، اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ ".
Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Ghailaan : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ja’far, dari ‘Umaarah bin Khuzaimah bin Tsaabit, dari ‘Utsmaan bin Hunaif : Bahwasannya ada seorang laki-laki buta mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam, lalu berkata : “Berdoalah kepada Allah agar menyembuhkanku”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila engkau berkehendak, maka bersabarlah, dan itu lebih baik untukmu”. Ia berkata : “Berdoalah”. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya berwudlu dan membaguskan wudlunya, lalu berdoa dengan doa ini : “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan perantaraan nabi-Mu, Muhammad, nabi rahmat. Sesungguhnya aku menghadap denganmu menghadap Rabbku untuk hajatku ini agar dapat terpenuhi. Ya Allah, berikanlah syafa’at kepadanya untukku” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 3578, dan ia berkata : “Hadits hasan shahih ghariib”].

Kamis, 10 Oktober 2013

NU AWWAM VS ULAMA NU HUKUM MUSIK


KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M

21. Alat-alat Orkes untuk Hiburan

Soal : Bagaimana hukum alat-alat orkes (mazammirul-lahwi) yang dipergunakan untuk bersenang-senang (hiburan)? Apabila haram, apakah termasuk juga terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala dan seruling permainan anak-anak (damenan, Jawa)?

Jawab : Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan dipergunakan hiburan.

Keterangan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din:

فَبِهَذِهِ الْمَعَانِي يَحْرُمُ الْمِزْمَارُ الْعِرَقِيُّ وَ الْأَوْتَارُ كُلُّهَا كَالْعُوْدِ وَ الضَّبْحِ وَ الرَّبَّابِ وَ الْبَرِيْطِ وَ غَيْرِهَا وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَلَيْسَ فِي مَعْنَاهَا كَشَاهِيْنٍ الرُّعَاةِ وَ الْحَجِيْجِ وَ شَاهِيْنٍ الطَّبَالِيْنَ.

“Dengan pengertian ini maka haramlah seruling Irak dan seluruh peralatan musik yang menggunakan senar seperti ‘ud (potongan kayu), al-dhabh, rabbab dan barith (nama-nama peralatan musik Arab). Sedangkan yang selain itu maka tidak termasuk dalam pengertian yang diharamkan seperti bunyi suara (menyerupai) burung elang yang dilakukan para penggembala, jama’ah haji, dan suara gendering”.

Sumber :

Buku "Masalah Keagamaan" Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni.

Hasil scan KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M

Soal : Sebagaian ulama/kiai yang mengatakan kepada masyarakat awam bahwa orang mendengarkan gending-gending Jawa seperti: gong, ludruk, wayang, dan sebagainya itu haram. Benarkah kata pak Kiai tersebut?

1. Sampai sejauh mana keharaman mendengarkan gending-gending tersebut? Mohon penjelasan dengan dalil-dalil al-Quran/al-Hadist.

2. Bagaimana dengan mendengarkan suara-suara musik: dangdut, band, keroncong, samroh, dan sebagainya? Karena itu juga menjadi tambahan ilmu bagi kami. Dan semoga kami dipahamkan oleh Allah. Amin.

Jawaban:

1. Kata Pak Kyai tersebut benar, berdasar:

Dasar pengambilan hukum:

1. Tafsir Ibnu Katsir juz 3, halaman 442:

وَقَالَ الحَسَن البَصْرِى: نَوَلَتْ هَذِهِ الأيَةِ (وَمِنَ النَاسِ مَنْ يَشْتَرِى لَهْوَ الحَدِيْثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذُهَا هُزُوا ، أولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِيْنٌ) فِى الغِنَاءِ وَالمَزَامِير.

"Imam Hasan al-Bashri berkata: "telah turun ayat ini (dan diantara manusia ada yang mempergunakan perkataaan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperolah azab yang menghinakan) mengenai nyanyian dan macam-macam seruling."

2. Dalam kitab Al-Mu’jamul Mufahras juz 2 halaman 342 disebutkan sebuah hadits riwayat an-Nasa’i sebagai berikut:

"Pekerjaanmu membunyikan suara jenis-jenis kecapi dan jenis-jenis seruling adalah bid’ah dalam Islam."

Gending dan alat musik tersebut dapat menimbulkan kemunafikan dalam hati. Gending dan alat musik tersebut mengalihkan perhatian orang dari ceramah-ceramah agama Islam seperti sekarang ini. Gending dan alat musik tersebut menjadikan ayat al-Qur’an dan hadits, sebagai olok-olokan, seperti ayat-ayat dan hadits-hadits yang diterjemahkan kemudian dijadikan nyanyian. Gending dan alat musik itu dapat merangsang nafsu seksual, perbuatan durhaka dan lain sebagainya.

Dasar pengambilan hukum:

1. Surat Luqman ayat 6 seperti tersebut diatas.
2. Hadits riwayat Abu Dawud dari Ibnu Mas’ud sebagai berikut:
"Sesungguhnya nyanyian itu dapat menaburkan kemunafikan dalam hati."
3. Kitab Kulfur Ru’a juz 1 halaman 306:

"Orang yang menceritakan keharaman alat-alat musik tersebut seluruhnya adalah Abu al-Abbas al-Qurthubi. Beliau adalah orang yang terpercaya dan adil. Sesungguhnya beliau telah berpendapat sebagaimana yang telah beliau kutip dan para imam kita dan para imam tersebut, membenarkannya: "Adapun macam-macam seruling, macam-macam gitar (alat-alat petik) dan gendang, maka tidak diperselisihkan) dan keharaman mendengarkannya. Dan saya tidak mendengar dari seseorang yang pendapatnya dapat dijadikan pegangan dari ulama salaf dan para imam khalaf, orang yang membolehkan mendengarkan hal tersebut. Dan bagaimana tidak haram, sedangkan alat tersebut adalah syi’ar dari pemabuk, tukang melakukan pelanggaran agama, menimbulkan pelanggaran agama, menimbulkan nafsu sahwat, kerusakan dan lawak. Dan apa yang demikian halnya, maka tidak diragukan lagi kefasikan dan kedosaan pelakunya."

Asalkan dapat menimbulkan hal-hal seperti tersebut di atas, maka hukumnya juga haram!

Selengkapnya,silahkan klik dan baca link ini !:

http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/masail/aula/tahun_1995/01.single?seemore=y

DALIL JAHMIYAH MODERN




كان الله ولا شيء معه، وهو الآن على ما عليه كان

dulu alloh ada dan tiada sesuatupun bersamanya dan DIA sekarang seperti keadaannya seperti dahulu kala

pembahasan:
adapun penggalan pertama''dulu alloh ada dan tiada sesuatupun bersamanya"ini benar seperti riwayat bukhori:
وهذا الحديث أخرجه البخاري رحمه الله في كتاب بدء الخلق (ص286 ج6) بلفظ: "كان الله ولم يكن شيء غيره، وكان عرشه على الماء
dalam bab awal penciptaan hal 286 juz 6 dengan lafadz: dulu alloh ada dan tidak ada sesuatu selainnya dan dulu arsyinya diatas air.
adapun penggalan yang kedua''dan DIA sekarang seperti keadaannya seperti dahulu kala" adalah tambahan yang batil.tidak ada yg meriwayatkan,baik itu sanad shohih atau yang lemah sekalipun,tidak ada di kitab hadis manapu. di gembar gemborkan oleh ahli kalam jahmiyah modern,dengan kalimat ini mereka ingin menafikkan sifat2 alloh yg alloh sifatkan atas dirinya seperti istiwa'nya alloh,turunnya alloh ke langit dunia,dsb
مجموع الفتاوى (2/272)