Rabu, 20 April 2016

Ijma' kesepakatan ulama': musik itu haram

Kholifah Umar bin Abdul  Aziz رحمه الله telah menyatakan ijma’ tentang bid’ahnya musik. Imam an-Nasa’i رحمه الله  meriwayatkan:
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا مَحْبُوبٌ يَعْنِي ابْنَ مُوسَى قَالَ: أَنْبَأَنَا أَبُو إِسْحَاقَ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ، عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ قَالَ: كَتَبَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْوَلِيدِ كِتَابًا فِيهِ: «….، وَإِظْهَارُكَ الْمَعَازِفَ، وَالْمِزْمَارَ بِدْعَةٌ فِي الْإِسْلَامِ، وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَبْعَثَ إِلَيْكَ مَنْ يَجُزُّ جُمَّتَكَ جُمَّةَ السُّوءِ»
“Telah mengabarkan kepadaku ‘Amr bin Yahya, ia berkata,’telah menceritakan kepadaku Mahbub yaitu putra Musa, ia berkata,’telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq al-Fazari, dari al-Auza’i, ia berkata,’Umar bin Abdul Aziz telah menulis surat kepada Umar bin al-Walid,’ tertulis,’…dan perbuatanmu menampilkan musik dan seruling adalah bid’ah dalam Islam, sungguh aku berkeinginan mengutus orang yang akan mencukur rambutmu  sebagai  balasan orang yang berbuat kejelekan.”(Sunan An-Nasai no. 4135, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani  dalam  Tahrim Alat at-Thorby hal. 120)
Kholifah Umar bin Abdul Aziz (W. 101 H) menyatakan bid’ahnya permainan musik dalam Islam, ini menunjukkan bahwa pada zaman beliau dan zaman sebelum beliau yaitu zaman para sahabat dan zaman Rosulullah ﷺ tidak pernah nampak permainan musik. Karena istilah bid’ah adalah perkara yang dibuat-buat setelah Nabi dan dianggap sebagai agama. Jika ada musik pasti diingkari karena itu termasuk kemungkaran sebagaimana yang beliau lakukan terhadap orang yang menampakkan musik, beliau akan mencukur rambut kepalanya sebagai bagi balasan orang yang melakukan keburukan..
Apa yang disampaikan oleh sang kholifah ini disaksikan oleh imam al-Auza’i, ulama’  negeri Syam, ahli  hadist dan ahli  fiqihnya. Disaksikan pula oleh Imam Abu Ishaq al-Fazari, seorang Imam ahlus Sunnah dan ahli hadist. Keduanya tidak mengingkari ucapan Umar bin Abdul Aziz bahwa menampakkan musik adalah bid’ah, ini menunjukkan kesepakatan atau ijma’ para sahabat dan Tabi’in bahwa musik adalah kemungkaran yang harus diingkari.
Banyak para Ulama’ yang menyatakan ijma’ keharaman musik, salah satunya adalah  imam Abu Bakar al-Ajuri (w. 280 H), beliau رحمه الله berkata:
فَإِنْ سَائِلًا سَأَلَ عَنْ هَذِهِ الْمَلَاهِي الَّتِي يَلْهُو بِهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ وَيَلْعَبُوا بِهَا , مِثْلُ: النَّرْدِ وَالشِّطْرَنَجِ وَالزُّمَّارَةِ وَالصُّفَّارَةِ وَالصَّنْجِ وَالطَّبْلِ وَالْعُودِ وَالطُّنْبُورِ , وَأَشْبَاهِ ذَلِكَ مِنَ الْقِمَارِ مِمَّا قَدِ افْتَتَنَ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ , فَقَالَ لَهُ السَّائِلُ: هَلْ فِي شَيْءٍ مِمَّا ذَكَرْتُ رُخْصَةً لِمَنِ اسْتَمَعَ إِلَيْهِ وَلِمَنْ لَعِبَ بِهِ؟ وَهَلْ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَمِعَ الْغِنَى مِنْ مُغَنٍ أَوْ من جَارِيَةٍ أَوْ مِنِ امْرَأَةٍ حُرَّةٍ؟ . أَحَبَّ السَّائِلُ أَنْ يَعْلَمَ الْجَوَابَ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ. الْجَوَابُ وَبِاللَّهِ التَّوْفِيقُ: جَمِيعُ مَا سَأَلَ عَنْهُ السَّائِلُ وَالْعَمَلُ بَاطِلٌ وَحَرَامٌ الْعَمَلُ , وَحَرَامٌ اسْتِمَاعُهُ بِدَلِيلٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , وَسُنَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَقَوْلِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ , وَقَوْلِ الْكَثِيرِ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ
“Maka jika seseorang menanyakan tentang alat-alat hiburan yang membuat kebanyakan manusia lalai dan bersenda gurau, seperti permainan dadu, catur, seruling, terompet, canang, gendang, kecapi, gitar dan jenis-jenis perjudian yang membuat banyak orang terfitnah, dia bertanya,’Apakah barang-barang yang telah saya sebutkan ada rukhshoh (keringanan) bagi orang yang mendengarkannya dan memainkannya? dan bolehkah seseorang mendengarkan nyanyian dari penyanyi, budak wanita atau dari wanita yang merdeka?’ Penanya menginginkan jawabannya semuanya. Wabillahi at-taufiq,  jawabnya,’Semua yang ditanyakan penanya adalah haram dan batil mempraktekkannya, haram juga mendengarkannya dengan dalil dari kitab Allah عَزَّ وَجَلَّ, dan sunnah-sunah Rosulullah ﷺ, ucapan para sahabat dan banyak perkataan dari para ulama’” (Tahriim an-Nardi hal. 94-95)
Imam Ibnu Rojab رحمه الله mengabarkan tentang pendapat al-Ajuri, beliau berkata:
أن يقع على وجه اللعب واللهو فأكثر العلماء على تحريم ذلك أعني سماع الغناء وسماع آلآت الملاهي كلها وكل منها محرم بانفراده وقد حكى أبو بكر الآجري وغيره إجماع العلماء على ذلك
“Jika dilakukan dengan cara bernain-main dan bersenda  gurau maka kebanyakan ulama’ mengharamkannya yaitu mendengarkan nyanyian dan alat-alat musik, semuanya haram. Abu Bakar al-Ajuri telah menyatakan ijma’ ulama’ tentang hal itu.”(Nuzhatul Asma’ hal. 25)

Tidak ada komentar: