Selasa, 26 April 2016

Buya yahya VS idrus ramli soal bid'ah

https://m.youtube.com/watch?v=ftG5YeKgl70&itct=CCcQpDAYAiITCJ31lt_erMwCFdONfgodZrIJBFIQYnV5YSB5YWh5YSBiaWRhaA%3D%3D&gl=ID&hl=id&client=mv-google

Pertama: Buya yahya dalam video ini mengakui perkataan umar ni'matul bid'ah hadzihi adalah bid'ah secara bahasa.
Sedangkan idrus ramli tidak mengakui.
Lihatlah perkataannya dalam artikelnya:

Sunni: “Bid’ah hasanah ada, berdasarkan perkataan Khalifah Umar, dalam riwayat al-Bukhari tentang shalat Tarawih, “Sebaik-baik bid’ah adalah shalat Tarawih ini.”
Wahabi: “Maksud perkataan Khalifah Umar, adalah bid’ah secara lughawi atau bahasa, bukan bid’ah secara syar’i.”
Sunni: “Anda mengarahkan perkataan Khalifah Umar terhadap bid’ah lughawi, apakah ada riwayat dari Khalifah Umar tentang maksud tersebut, atau itu murni penafsiran Anda?”
Wahabi: “Riwayat dari Khalifah Umar sih tidak ada. Itu penafsiran para ulama kami seperti Syaikh Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, al-Albani, al-Fauzan, al-Jibrin dan lain-lain.”
Sunni: “Apakah nama-nama ulama yang anda sebutkan tadi juru bicara resmi Khalifah Umar yang dapat menjelaskan maksud perkataan beliau?”
Wahabi: “Bukan Jubir beliau, tetapi para ulama yang kami ikuti. Mereka sangat menguasai maksud-maksud al-Qur’an dan Hadits seperti yang dipahami oleh ulama Salaf semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.’
Sunni: “Maaf, sepertinya para ulama yang anda sebutkan berbeda dengan Syaikh Ibnu Taimiyah. Dalam Majmu’ Fatawa-nya Ibnu Taimiyah tidak menafsirkan perkataan Khalifah Umar dengan makna lughawi, akan tetapi makna syar’i. dan Ibnu Taimiyah juga mengakui adanya bid’ah hasanah.”
Setelah si Sunni menunjukkan data dari kitab Ibnu Taimiyah, si Wahabi tidak bisa menjawab. Lalu Sunni bertanya: “Menurut anda, Khalifah Umar menjelaskan kebid’ahan gagasan beliau tentang shalat Tarawih tersebut, apakah dalam kapasitas beliau sebagai ahli bahasa Arab, atau dalam kapasitas beliau sebagai Khalifah dan pemimpin umat Islam yang syar’i dan harus ditaati?”
Sekali lagi, di sini si Wahabi tidak bisa menjawab. Kemudian si Sunni, melanjutkan perkataannya secara bijak: “Seandainya Khalifah Umar bermaksud dengan perkataan tersebut terhadap bid’ah secara lughawi, tentu tidak masuk akal. Beliau seorang Khalifah yang rasyid, mendapat petunjuk, selalu berkata tegas. Masak dalam persoalan agama seperti shalat Tarawih beliau akan melontarkan perkataan hanya untuk main-main saja, bukan bertujuan serius. Nah dari sini, harus kita pahami bahwa maksud perkataan beliau adalah bid’ah secara syar’i, bukan lughawi. 

Yg kedua,Buya yahya jelas menyatakan pembagian bid'ah menjadi lima adalah pembagian bid'ah secara bahasa,bukan secara istilah syar'i.
Namun lagi2 idrus ramli keras kepala itu bukan pembagian bid'ah secara bahasa.
Baca baik2:
WAHABI: “Maaf, sebagian ustadz-ustadz kami yang pakar hadits dan punya situs di internet, berpendapat bahwa pernyataan para ulama seperti al-Imam Izzuddin bin Abdussalam, al-Imam an-Nawawi dan lain-lain yang membagi bid’ah menjadi dua dan lima, itu bid’ah secara bahasa/lughawi, bukan bid’ah secara syar’iy. Bagaimana jawaban Anda?”

SUNNI: “Itu sudah kami jawab dalam posting sebelumnya. Saya pikir ustadz-ustadz Anda yang Wahabi itu sedang di alam mimpi, bukan di alam sadar. Beliau mungkin sedang bermimpi bahwa Imam ‘Izzuddin dan Imam an-Nawawi berbicara bid’ah dalam kapasitas sebagai dosen bahasa di universitas wahabi. Itu namanya ya alam mimpi. Perlu Anda sadari (jangan bermimpi), bahwa beliau berdua menjelaskan bid’ah dalam kapasitas sebagai ulama fiqih atau syari’at, dan dalam kitab fiqih dan syari’at, bukan kitab kamus. Karena itu pembagian bid’ah oleh mereka, jelas bid’ah secara syari’at, bukan bahasa. 
Memang ciri2 pemahaman rusak itu akan banyak kontradiksi.
Memang beda alumni yaman dg alumni sidogiri,jauuh.

Tidak ada komentar: