Sabtu, 23 April 2016

Mu'awiyah suka mencela ali?

BENARKAH MU’AWIYAH RADHIYALLAHU ANHU MELAKNAT ALI BIN ABI THALIB RADHIYALLAHU ANHU?
Memang ada beberapa riwayat di dalam buku-buku tarikh (sejarah) yang menyebutkan Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela Ali Radhiyallahu anhu , tetapi riwayat-riwayat itu tidak shahîh, bahkan dusta. Adapun riwayat shahîh yang dianggap sebagai dalil Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela Ali Radhiyallahu anhu , maka hal itu karena kesalahpahaman terhadapnya. Oleh karena itu, banyak ulama Ahlus-Sunnah yang mengingkari berita-berita yang menyebutkan Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela Ali Radhiyallahu anhu .

Mu’awiyah Radhiyallahu anhu bersih dari tuduhan mencela Ali Radhiyallahu anhu , karena telah terbukti ia sebagai sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memiliki berbagai keutamaan, baik secara umum maupun khusus. Sebagaimana ia Radhiyallahu anhu terpuji riwayat hidupnya, sehingga dipuji pula oleh para sahabat dan tokoh-tokoh tabi’in. Mereka memuji Mu’awiyah dengan kebaikan beragama, pemahaman agama yang baik, keadilan, kelapangan dada, dan lain-lain dalam hal sifat-sifat kebaikan.

Jika benar Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela Ali Radhiyallahu anhu , menceritakan celaan dan laknat itu di mimbar-mimbar, berarti pujian para sahabat dan tokoh-tokoh tabi’in serta orang-orang setelahnya yang memujinya telah bersekongkol dan bersepakat di atas kesesatan, maka hal ini tentu sangat mustahil, karena umat Islam tidak pernah bersatu di atas kesesatan.

Di antara ulama Ahlus-Sunnah yang mengingkari berita-berita yang menyebutkan Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela Ali Radhiyallahu anhu adalah sebagai berikut:[3] 

Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Jauh (yaitu mustahil) Mu’awiyah menyatakan laknat dan celaan terhadapnya (Ali Radhiyallahu anhu ), karena Mu’awiyah memilki sifat berakal, beragama, santun, dan akhlak yang baik. Adapun yang diriwayatkan darinya tentang hal itu (celaaan dan laknat terhadap sahabat Ali Radhiyallahu anhu ), kebanyakan adalah dusat, tidak shahîh”.[Al-Mufhim, 6/278].

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ini tidak shahîh dari mereka, semoga Allah meridhai mereka”. [Lihat dalam al-Bidayah wan-Nihayah, 10/576].

Di antara hadits shahih yang dianggap sebagai bukti Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela Ali Radhiyallahu anhu ialah hadits berikut ini:

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِى وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِى سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ فَقَالَ أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلاَثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَلَنْ أَسُبَّهُ لأَنْ تَكُونَ لِى وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ 

Dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqaash, dari bapaknya, ia berkata: “Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintahkan Sa’ad, lalu dia berkata,'Apa yang menghalangimu mencela Abu Turab (Ali Radhiyallahu anhu )?' Sa’ad menjawab,'Adapun yang aku ingat ada tiga perkara yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh, satu saja dari ketiganya itu untukku lebih aku sukai daripada onta merah. Maka aku tidak akan mencelanya'." (HR Muslim). Kemudian Sa’ad menyebutkan tiga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu.

Akan tetapi sesungguhnya tidak ada dalil yang nyata dalam hadits ini bahwa Mu’awiyah Radhiyallahu anhu mencela atau memerintahkan mencela Ali Radhiyallahu anhu . Hal ini dikatakan oleh para ulama, seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi rahimahullah , “Di dalam perkataan Mu’awiyah ini tidak ada pernyataan jelas bahwa dia memerintahkan Sa’ad untuk mencelanya (Ali Radhiyallahu anhu ). Namun dia hanya bertanya kepadanya tentang sebab yang menghalanginya mencela (Ali Radhiyallahu anhu). Seolah-olah dia bertanya, “Apakah engkau tidak melakukan karena kehati-hatian, atau takut, atau lainnya? Jika karena kehati-hatian dan karena mengagungkannya sehingga tidak mencela, maka engkau benar dan telah berbuat baik. Jika karena lainnya, maka jawabannya lain. Kemungkinan waktu itu Sa’ad berada di sekelompok orang yang mencela (Ali Radhiyallahu anhu), tetapi dia tidak mencela bersama mereka, namun tidak mampu mengingkari, atau dia telah mengingkari, sehingga Mu’awiyah bertanya kepadanya dengan pertanyaan ini. Mereka (ulama) juga berkata, “Kemungkinan (pertanyaan Mu’awiyah Radhiyallahu anhu di atas) memiliki makna lain, yang intinya, apa yang menghalangimu menyalahkan pandapat dan ijtihadnya (Ali Radhiyallahu anhu ), dan menampakkan kepada masyarakat kebaikan pendapat dan ijtihad kami, dan dia (Ali Radhiyallahu anhu ) telah berbuat salah?” [Syarah Shahîh Muslim, 15/175].

Perlu diketahui, Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu termasuk sahabat yang beruzlah (menyendiri). Yaitu tidak bergabung dengan Ali Radhiyallahu anhu atau dengan lainnya saat terjadi peperangan antar sahabat. Bahkan diriwayatkan beliau mendoakan celaka terhadap orang yang mencela Ali Radhiyallahu anhu , maka tidak mungkin Mu’awiyah memerintahkan Sa’ad Radhiyallahu anhu untuk mencela Ali Radhiyallahu anhu .

Kemudian seandainya benar-benar terjadi Mu’awiyah melakukan laknat terhadap Ali Radhiyallahu anhu , maka marilah kita dengarkan bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah kepada Ibnu Muthahhar ar-Rafidhi: “Adapun yang dia (Ibnu Muthahhar) sebutkan tentang laknat kepada Ali Radhiyallahu anhu , maka sesungguhnya perbuatan melaknat terjadi dari dua golongan, sebagaimana terjadi peperangan (dari dua golongan). Ini semua bisa jadi merupakan dosa, atau ijtihad yang salah, atau (ijtihad) yang benar, maka ampunan Allah dan rahmat-Nya untuk semuanya dengan sebab taubat, kebaikan-kebaikan yang menghapuskan dosa, musibah-musibah yang menggugurkan dosa, dan selainnya”. [Mihajus-Sunnah, 4/368].

Tidak ada komentar: