Sabtu, 01 Oktober 2016

Sunnahkah/ shohihkah jawaban : wa antum fa jazaakumullohu khoiron?


حَدَّثَنَا مَسْرُوقُ بْنُ الْمَرْزُبَانِ، نا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، نا حُصَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنِ ابْنِ شَفِيعٍ، حَدَّثَنِي أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: " فَقُلْتُ: صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَجَزَاكَ اللَّهُ عَنَّا خَيْرًا، فَقَالَ: وَأَنْتُمْ فَجَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا، فَإِنَّكُمْ مَا عَلِمْتُ أَعِفَّةٌ صُبُرٌ "
Telah menceritakan kepada kami Masruuq bin Al-Marzubaan : Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Zakariyyaa bin Abi Zaaidah : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaaq : Telah menceritakan kepada kami Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Mahmuud bin Labiid, dari Ibnu Syafii’ : Telah menceritakan kepadaku Usaid bin Hudlair radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku pernah berkata : “Semoga Allah memberikan barakah dan rahmat kepadamu wahai Rasulullah, dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Dan demikian juga engkau, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sesungguhnya engkau, tidaklah aku ketahui melainkan orang yang menjaga kehormatan lagi penyabar”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Aahaadu wal-Matsaaniy no. 1770].
Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy dalam At-Taariikh Al-Kabiir 8/439, Abu Ya’laa no. 945, Ibnu Hibbaan 16/268-269 no. 7279, dan Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 1/208-209 no. 568; semuanya dari jalan Yahyaa bin Abi Zaaidah : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Hushain bin ‘Abdirrahmaan, dari Mahmuud bin Mabiid, dari Ibnu Syafii’, dari Usaid bin Hudlair secara marfuu’ – yang padanya terdapat kisah lebih panjang.
Semua perawinya adalah tsiqah atau shaduuq, kecuali Ibnu Syafii’. Ibnu Abi Haatim berkata : “Ia meriwayatkan dari Usaid bin Hudlair, dan telah meriwayatkan darinya Ibnu Labiid. Aku mendengar ayahku mengatakannya” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 9/321 no. 1397].
Oleh karena itu, status Ibnu Syafii’ ini majhuul ‘ain. Asy-Syaikh Al-Albaaniy mendla’ifkan sanad riwayat ini dalam At-Ta’liqaatul-Hisaan 10/319-320 no. 7235.
Ibnu Syafii’ mempunyai syaahid dari Anas bin Maalik radliyallaahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy dalam Al-Kubraa no. 8287 dan dalam Fadlaailush-Shahaabah hal. 71 no. 240, Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil 6/417, Ibnu Hibbaan 16/265-266 no. 7277, Al-Haakim 4/74, Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 8712, Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 64/239, dan Al-Mizziy dalam Tahdziibul-Kamaal 13/493-495; semua dari jalan ‘Aashim bin Suwaid, dari Yahyaa bin Sa’iid, dari Anas bin Maalik secara marfuu’ :
جَاءَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ الأَشْهَلِيُّ النَّقِيبُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ كَانَ قَسَمَ طَعَامًا، فَذُكِرَ لَهُ أَهْلُ بَيْتٍ مِنْ بَنِي ظَفَرٍ مِنَ الأَنْصَارِ فِيهِمْ حَاجَةٌ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أُسَيْدُ، تَرَكْتَنَا حَتَّى إِذَا ذَهَبَ مَا فِي أَيْدِينَا، فَإِذَا سَمِعْتَ بِشَيْءٍ قَدْ جَاءَنَا، فَاذْكُرْ لِي أَهْلَ ذَلِكَ الْبَيْتِ، قَالَ: فَجَاءَهُ بَعْدَ ذَلِكَ طَعَامٌ مِنْ خَيْبَرَ: شَعِيرٌ، وَتَمْرٌ، قَالَ: فَقَسَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ، وَقَسَمَ فِي الأَنْصَارِ فَأَجْزَلَ، وَقَسَمَ فِي أَهْلِ ذَلِكَ الْبَيْتِ، فَقَالَ لَهُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ: جَزَاكَ اللَّهُ أَيْ نَبِيَّ اللَّهِ أَطْيَبَ الْجَزَاءِ، أَوْ قَالَ: خَيْرًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَأَنْتُمْ مَعْشَرَ الأَنْصَارِ، فَجَزَاكُمُ اللَّهُ أَطْيَبَ الْجَزَاءِ، أَوْ قَالَ: خَيْرًا، فَإِنَّكُمْ مَا عَلِمْتُ أَعِفَّةٌ صُبُرٌ، وَسَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً فِي الأَمْرِ والْقَسْمِ، وَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ "
“Usaid bin Hudlair Al-Asyhaliy An-Naqiib mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang waktu itu beliau sedang membagi-bagi makanan. Lalu disebutkan kepada beliau tentang satu keluarga Bani Dhafar dari kalangan Anshaar, yang mempunyai kebutuhan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Usaid : “Engkau meninggalkan kami hingga habis makanan yang ada di tangan kami. Apabila engkau mendengar sesuatu, datangilah kami lalu ingatkanlah aku tentang keluarga tersebut”. Lalu datanglah kepada beliau setelah itu makanan dari negeri Khaibar berupa gandum dan kurma. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membagi-bagikan makanan tersebut kepada orang-orang. Beliau membagikan kepada orang-orang Anshaar, lalu makanan itu pun bertambah banyak. Beliau pun membagikan kepada keluarga tersebut. Lalu Usaid bin Hudlair berkata kepada beliau : “Semoga Allah membalasmu, Nabiyullah, dengan sebaik-baik balasan – atau ia berkata : “dengan kebaikan”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Dan  begitu juga kalian wahai kaum Anshaar, semoga Allah membalas kalian dengan sebaik-baik balasan – atau beliau bersabda : dengan kebaikan - . Sesungguhnya kalian, tidaklah aku ketahui melainkan orang yang menjaga kehormatan dan kesabaran. Dan kalian akan melihat sepeninggalku nanti atsarah (orang yang sewenang-wenang) dalam perintah dan pembagian. Bersabarlah kalian hingga bertemu denganku di Haudl” [lafadh milik An-Nasaa’iy].
Dhahir sanad ini hasan, akan tetapi ‘Aashim bin Suwaid diselesihi oleh Sufyaan bin ‘Uyainah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3794 dan Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 2192 yang meriwayatkan tanpa menyebutkan kisah pembagian makanan tersebut (berikut jawaban Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : wa antum fajazaakumullahu khairan). Kedudukan Sufyaan bin ‘Uyainah dalam ketsiqahan, jauh lebih tinggi dibandingkan ‘Aashim bin Suwaid.
‘Aashim bin Suwaid, namanya adalah : ‘Aashim bin Suwaid bin ‘Aamir bin Yaziid bin Jaariyyah Al-Anshaariy Al-Ausiy, Al-Madaniy Al-Qubaaiy; seorang yang maqbuul. Termasuk thabaqah ke-7 dan dipakai oleh An-Nasaa’iy [Taqriibut-Tahdziib, hal. 472 no. 3078].
Berikut perincian komentar para ulama tentangnya :
Ibnu Zubaalah menyebutkannya dalam ulama penduduk Madiinah. Abu Haatim berkata : “Syaikh, tempatnya kejujuran. Ia meriwayatkan dua hadits yang munkar”. Ibnu Hibbaan menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu Ma’iin berkata : “Aku tidak mengetahuinya”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia (Ibnu Ma’iin) tidak mengetahuinya karena ‘Aashim hanya mempunyai riwayat yang sangat sedikit. Barangkali ia tidak meriwayatkan kecuali hanya lima hadits saja” [Al-Jarh wat-Ta’diil 6/344 no. 1903, Al-Kaamil 6/417 no. 1387, Ats-Tsiqaat 7/259, dan Tahdziibul-Kamaal, 13/491-495 no. 3009].
Adz-Dzahabiy berkata saat menyitir perkataan Ibnu ‘Adiy tentangnya :
وقال ابن عدي: هو قليل الرواية جدا. قلت: وساق له حديثا منكرا.
“Ibnu ‘Adiy berkata : ‘Ia mempunyai riwayat yang sangat sedikit’. Aku (Adz-Dzahabiy) berkata : ‘Dan ia (Ibnu ‘Adiy) membawakan satu hadits munkar miliknya” [Miizaanul-I’tidaal, 2/352 no. 4048].
Jika kita membuka kitab Al-Kaamil milik Ibnu ‘Adiy, maka hadits munkar yang dimaksudkan Adz-Dzahabiy adalah hadits di atas. Besar kemungkinan hadits munkar yang dimaksudkan oleh Abu Haatim juga hadits di atas. Oleh karena itu, tambahan kisah yang dibawakan ‘Aashim adalah munkar, wallaahu a’lam.
Kisah tersebut juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Ma’rifatus-Sunan wal-Atsar no. 47 : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ishaaq Ibraahiim bin Muhammad, ia berkata : telah mengkhabarkan kepada kami Abun-Nadlr, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ja’far bin Salaamah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Muzanniy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaafi’iy, ia berkata : Aku mendengar ‘Abdul-Wahhaab menceritakan dari Yahyaa bin Sa’iid, dari Muhammad bin Ibraahiim At-Tamiimiy : Bahwasannya datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kurma dan gandum yang dikirim dari sebagian kota…… dst. (yang di dalamnya terdapat ucapan jawaban Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘wa antum, fajazaakumullahu khairan’)”.
Semua perawinya tsiqaat, namun sanadnya terputus (munqathi’)karena Muhammad bin Ibraahiim seorang taabi’iy (yang tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).
Jika diringkas, jalan periwayatan hadits adalah sebagian berikut:
a.Ibnu Syafii’ : lemah, atau bahkan sangat lemah, karena ia majhuul ‘ain.
b.Anas bin Maalik : munkar.
c.Muhammad bin Ibraahiim At-Tamiimiy : lemah karena terputus sanadnya.
Walhaasil, hadits tersebut lemah dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah dalam permasalahan ini.

Tidak ada komentar: