Sabtu, 03 Mei 2014

syubhat tawassul NU ala arab badui


mereka berdalil :
Kisah Al ‘Utbiy

Al Imam Al Hafidh Ibnu Katsir ketika menjelaskan firman Alloh :
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64)

Beliau menuturkan kisah seorang A’robi sebagai berikut :
عنالعُتْبي، قال: كُنْتُ جَالِساً عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ أَعْرَابِيّ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وَقَدْ جِئْتُكَ مُسْتَغْفِراً لِذَنْبِي مُسْتَشْفِعًا بِكَ إِلَى رَبِّي ثُمَّ أَنْشَأَ يَقُوْلُ:

Al ‘Utbi (seorang sahabat) bercerita : Suatu ketika saya sedang duduk di samping kuburan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Lalu datanglah seorang A’robi (penduduk pedalaman Arab) kepadanya, kemudian A’robi tersebut berkata : “Assalamu’alaika, wahai Rosulalloh, saya telah mendengar Allah berfirman : “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64)

Dan saya datang kepadamu seraya memohon ampun atas dosaku dan memohon syafaat denganmu kepada Tuhanku.”

Selanjutnya A’robi tersebut mengumandangkan bait-bait syair :

يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ … فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ …

نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ … فِيْهِ الْعَفَافُ وَفِيْهِ الْجُوْدُ وَاْلكَرَمُ …

ثُمَّ انْصَرَفَ الْأَعْرَابِيُّ فَغَلَبَتْنِي عَيْنِي، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ فَقَالَ: يَا عُتْبِى، اِلْحَقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللهَ قَدْ غَفَرَ لَهُ

Wahai orang yang tulang belulangnya dikubur di tanah datar…

Berkat keharumannya, tanah rata dan bukit semerbak mewangi…

Diriku jadi tebusan untuk kuburan yang engkau tinggal di dalamnya…

Di dalam kuburmu terdapat sifat bersih dan kedermawanan…

Kemudian A’robi tadi pergi. Setelah kepergiannya saya (Al ‘Utbi) tertidur dan bermimpi bertemu Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Kejarlah si A’robi dan berilah kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, vol. 2, hal. 347)

Kisah ini dituturkan pula oleh :

- Al Hafizh An Nawawi dalam kitabnya yang populer Al Adzkaar, hal. 206. Juga dalam Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, vol. 8 hal, 274.

- Syaikh Abu Muhammad Ibnu Qudamah juga meriwayatkannya dalam kitabnya Al Mughni vol III hlm. 556.

- Syaikh Abul Faroj ibnu Qudamah dalam kitabnya As Syarhul Kabir vol. 3 hlm. 495

- Syaikh Manshur ibn Yunus Al Bahuti dalam kitabnya yang dikenal dengan nama Kasysyaaful Qinaa’ yang notabene salah satu kitab paling populer dalam madzhab Hanbali vol. V hlm. 30 juga mengutip kisah dalam hadits di atas.
Kisah dengan tema serupa juga dituturkan oleh Imam Al Qurthubi -yang merupakan pilar para Mufassirin (para ulama ahli tafsir)- sebagai berikut :
رَوَى أَبُو صَادِقٍ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَدِمَ عَلَيْنَا أَعْرَابِيٌّ بَعْدَ مَا دَفَنَّا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، فَرَمَى بِنَفْسِهِ عَلَى قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحْثًا عَلَى رَأْسِهِ مِنْ تُرَابِهِ؛ فَقَالَ: قُلْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَسَمِعْنَا قَوْلَكَ، وَوَعَيْتُ عَنِ اللهِ فَوَعَيْنَا عَنْكَ، وَكَانَ فِيْمَا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْكَ {وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ} اَلْآيَةَ، وَقَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَجِئْتُكَتَسْتَغْفِرَ لِي. فَنُوْدِيَ مِنَ الْقَبْرِ أَنَّهُ قَدْ غُفِرَ لَكَ.

Abu Shodiq meriwayatkan dari Ali, ia berkata: “Tiga hari setelah kami mengubur Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, datang kepadaku seorang a’robi. Ia merebahkan tubuhnya pada kuburan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- dan menabur-naburkan tanah kuburan di atas kepalanya sambil berkata: “Engkau mengatakan, wahai Rosululloh!, maka kami mendengar sabdamu dan hafal apa yang dari Alloh dan darimu. Dan salah satu ayat yang turun kepadamu adalah: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya, datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Alloh, dan Rosulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Alloh Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS, An Nisaa : 64) Saya telah berbuat dzolim kepada diriku sendiri dan saya datang kepadamu untuk memohonkan ampunan untukku.” Kemudian dari arah kubur muncul suara : “Sesungguhnya engkau telah mendapat ampunan.” (Tafsir Al Qurthubi vol.V hlm. 265)
JAWAB :
Pemahaman ini tidak benar, ditinjau dari empat
segi:

Segi pertama, yaitu dari segi bahasa. Allah tidak mengatakan seperti dugaan mereka, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَّلَمُواْ

Dalam bahasa Arab, “إِذْ” berfungsi untuk menerangkan waktu lampau saja, bukan menunjukkan waktu yang akan datang. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengatakan “إِذَا ظَّلَمُواْ” tetapi mengatakan “إِذْ ظَّلَمُواْ”.

Jadi, ayat ini berbicara tentang realita yang telah terjadi pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, sedangkan permintaan agar beliau memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setelah meninggal dunia adalah perkara yang mustahil.
Syekh Abdurrahman as-Sa’di dalam tafsirnya, hlm. 149, berkata, “Kedatangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini hanya ketika beliau masih hidup, sebab konteks kalimat menunjukkan demikian. Permintaan ampunan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mungkin dilakukan, kecuali pada masa hidupnya. Adapun setelah meninggal dunia, maka tidak boleh meminta sesuatu pun kepadanya sebab ini termasuk perbuatan syirik.”
dalam tafsir thobari juga disebutkan :
"جاؤوك"، يا محمد، حين فعلو ما فعلوا من مصيرهم إلى الطاغوت راضين بحكمه دون حكمك
mereka datang kepadamu wahai muhammad ketika itu mereka TELAH MELAKUKAN APA YANG TELAH MEREKA LAKUKAN yaitu perginya mereka ridho berhukum dg thogut tidak dg hukummu(juz 8 hal 517)
Segi kedua, pemahaman ini menyelisihi pemahaman para sahabat.
Tidak ada seorang sahabat pun yang meminta-minta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. Bahkan, tatkala kemarau panjang pada zaman Umar, mereka tidak meminta kepada Nabi untuk istisqa` (minta hujan), tetapi mereka meminta kepada Abbad bin Abdul Muthalib dengan doanya, dan Abbad bin Abdul Muthalib hadir bersama para sahabat.

Kalau ada yang berkata, “Bukankah para Nabi hidup di dalam kuburan mereka, sebagaimana para syuhada juga?” Kami jawab, “Benar, tapi kehidupan mereka adalah kehidupan di alam barzah, bukan di alam dunia.”

Ada seorang tokoh agama yang berdalil bahwa para wali itu memiliki kemampuan di kuburnya sehingga dimintai doa. Dia berdalil dengan ayat,

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi tuhannya dengan mendapat rezeki.” (Qs. Ali Imran: 169)

maka kita jawab, “Kalau memang bacaannya adalah “yarzuqun” (mereka memberi rezeki), maka itu benar. Akan tetapi, kalau tidak, maka ayat itu malah membantah dirimu sendiri karena ayatnya berbunyi yurzaquun(DIBERI rizki).”


segi ketiga, kisah ini pun tidak shahih, baik secara sanad
Kisah ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman: 2880, Ibnu Najjar dalam ad-Durrah ats-Tsaminah fi Tarikh Madinah, hlm. 147, dan lain-lain, dengan sanadnya kepala Muhammad bin Rauh dari Muhammad bin Harb al-Hilali.

Sanad kisah ini gelap dan lemah. Sanad ilmu Najjar dikatakan oleh Syekh Hammad al-Anshari, ahli hadits Madinah, “Para perawinya tidak dikenal, mulai dari gurunya hingga Muhammad bin Harb al-Hilali.”

Adapun sanad al-Baihaqi dikatakan oleh al-Albani, “Sanad ini lemah dan gelap, saya tidak mengenal Abu Ayyub al-Hilali dan ke bawahnya.” Lanjutnya, “Kisah ini sangat nyata munkar.” Cukuplah kiranya karena kisah ini bermuara kepada seorang badui yang tak dikenal.

Imam Ibnu Abdil Hadi mengatakan, “Adapun kisah al-‘Utbi disebutkan oleh sebagian ahli fikih dan ahli hadits, tetapi kisah ini tidak shahih kepada al-‘Utbi, diriwayatkan dari jalur lain dengan sanad yang gelap.
 

segi keempat,Mengkritisi Matan Kisah

Kisah ini adalah kisah yang mungkar dan batil karena menyelisihi al-Quran dan hadits. Oleh karena itu, para ahli bid’ah sering menukilnya untuk membolehkan istighasah (meminta pertolongan) kepada Nabi dan meminta syafa’at kepada beliau setelah wafat. Sungguh, hal ini merupakan kebatilan yang amat nyata, sebagaimana dimaklumi bersama.
Ini hanyalah mimpi yang tidak bisa dijadikan landasan hukum syar’i. Sungguh sangat mengherankan! Para ahli bid’ah berpegang kepada kisah seorang Arab badui dan meninggalkan para ulama salaf. Apakah mereka berkeyakinan bahwa orang Arab Badui ini lebih berilmu tentang agama daripada Abu Bakar, Umar, dan seluruh para sahabat yang tidak melakukan perbuatan ini? Kalau demikian, kenapa orang yang berdalil dengan kisah ini tidak kencing saja di Mesjid Nabawi, karena telah shahih dalam Bukhari-Muslim bahwa ada seorang Arab badui pernah kencing di mesjid!

Cukuplah bagi kita tawassul yang disyariatkan seperti tawassul dengan nama dan sifat Allah Ta’ala, amal shalih, serta taat dan mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah tawassul yang disyariatkan.

Adapun tawassul-tawassul yang tidak disyariatkan, seperti berdoa atau meminta tolong kepada orang yang telah mati, atau tawassul dengan jah (tuah) Nabi, maka jauh dari petunjuk nabi.

Tidak ada komentar: