Kamis, 01 Mei 2014

ada saatnya bangga dg sebutan wahhabi


pertanyaan buat orang yang menggunakan istilah wahhabi untuk menyebut orang yang menyalahi tradisinya –meski tradisi itu menyalahi agama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Bukankah kata wahhabi itu nisbat kepada Al-Wahhab (Allah Yang Maha memberi, menganugerahi? seperti rahmani nisbat kepada Al-Rahman, Rabbani nisbat kepada al-Rabb, ilahi nisbat kepada al-Ilah? Bolehkah kata rahmani, rabbani, ilahi dan wahhabi untuk gelar cacian dan celaan, atau untuk menjadi julukan bagi kelompok sesat? Kalau tidak boleh, kenapa diteruskan, diwariskan dan dilestarikan?!
Kalau madzhab yang dinisbatkan kepada nama para imam saja (seperti madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i dll) mendapatkan tempat dan terpuji, lalu madzhab yang dinisbatkan kepada Al-Wahhab (wahhabi) atau nisbat kepada Nabi Muhammad (muhammadi) ditolak dan dicela? Jika nama imam digunakan untuk makna positif, lalu kenapa nama Allah atau Muhammad digunakan untuk makna negatif? Apakah kita umat Islam ridha terhadap istilah yang rancu ini?
Jika Anda inshaf (adil), lebih bagus mana nisbat kepada Allah: ilahi, rahmani, rabbani, wahhabi ataukah nisbat kepada kain wol (shuf), yaitu shufi?
Jika yang Anda anggap sesat itu Muhammad Putra Syaikh Abdul Wahhab, lalu kenapa Allah (al-Wahhab) yang dicela? Bukankah seharusnya kelompoknya disebut muhammadi atau muhammadiyyah? Kenapa itu tidak dilakukan?
Jika yang salah itu anaknya yang bernama Muhammad, lalu kenapa hujatan itu menggunakan nama bapaknya yang bernama Abdul Wahhab? Sementara bapaknya tidak ikut-ikutan, bahkan menurut Syaikh Ahmad Zaini Dahlan tadi ayahnya itu adalah seorang ahli ilmu yang juga memvonis sesat putranya? Kenapa justru nama bapaknya dijadikan simbol kesesatan itu?!
Jadi, istilah wahhabi kalau digunakan untuk menghujat syaikh Muhammad maka larinya justru kepada Allah dan kepada ayahnya, sementara beliau selamat dari celaan itu. Maka apakah kalian mencela Allah al-Wahhab atau ayah syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab?
Kalau kenyataannya rancu seperti ini, lalu siapa yang pertama kali membuat istilah celaan itu? Apakah ahli ilmu ahlussunnah? Ataukah musuh sunnah? Ataukah orang jahil? Wallahu a’lam.
Maksud saya kalau mau mencela ajaran Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab jangan menggunakan wahhabi, tapi gunakanlah istilah lain, agar kita tidak mewarisi kebodohan.

Tetapi kalau kata wahhabi digunakan untuk makna positif, untuk menyebut pengikut sunnah Nabi Muhammad r yang memberantas bid’ah maka aku katakan seperti yang diucapkan Mulla Imran seorang penyair syi’ah yang sudah taubat kepada sunnah:
إِنْ كاَنَ تَابِعُ أَحْمَدَ مُتَوَهِّبًا****فَأَنَا الْمُقِرُّ بِأَنَّنِيْ وَهَّابِي “Jika pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disebut wahhabi, maka aku akui bahwa aku adalah wahhabi.”

Ini seperti ucapan Imam Syafi’i rahimahullah yang seumur-umur tidak ada kaitannya dengan rafidhah majusiyyah kok dituduh rafidhi –oleh Khawarij, menurut Imam Baihaqi- maka beliau berkata:

“Jika rafdh (rifdh) itu adalah cinta keluarga Muhammad, maka silakan jin dan manusia bersaksi bahwa aku adalahh rafidhi.”[ Ibn Hajar al-Hatami, al-Shawa’iq al-Muhriqah ‘ala ahlirrafdhi wad-dhalalti waz-zandaqah, 2/388; Ibn Asakir, Tabyin kidzbil Mufatri, 1/363.]

Juga sama dengan ibn Taimiyyah yang dituduh nashibi (karena mencintai sahabat Nabi), beliau membantah mereka:
إن كان نصباً حب صحب محمدٍ * * * فاليشهد الثقلان أني ناصبي

“Jika nashb adalah cinta para sahabat Nabi Muhammad maka silakan disaksikan oleh jin dan manusia bahwa aku adalah nashibi.”[Dar` Ta’arudh al-’Aql wan-Naql, 1/133; Ibnul Qayyim, Madarijussalikin, 1/88]

Keempat : untuk meyakinkan orang awam kalau Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab (pelopor dakwah pembaharuan, pemurnian tauhid dan penghidupan sunnah) itu sesat, dan fahamnya yang mereka sebut secara salah “faham wahhabi” itu sesat, maka para musuh beliau itu tidak segan-segan membuat tuduhan yang kejam misalnya:- Syaikh Muhammad membenci Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan melarang orang mencintai Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Syaikh Muhammad membenci shalawat, melarang orang bershalawat.
Syaikh Muhammad mencela para wali, menghina dan merendahkan para wali serta tidak beriman dengan karamah wali.
Syaikh mencela para ulama yang terdahulu maupun yang sezaman dengannya, termasuk imam madzhab empat.
Syaikh mengkafirkan kaum muslimin di masanya.
Syaikh membuat agama baru.
Syaikh menghidupkan pikiran Khawarij
dan sebagainya.

Maka perlu bertanya kembali: Siapa yang membuat istilah wahhabi untuk beliau dan pengikutnya? siapa yang memusuhi beliau? Apa tujuan mereka? Saya serahkan kepada Anda semua.

Marilah kita mengingat ucapan Amirul Mukminin Ali Radhiallahu ‘Anhu yang sangat berharga:

الحق لا يعرف بالرجال اعرف الحق تعرف أهله:

“Kebenaran tidak diukur dengan orang, kenalilah kebenaran maka kamu akan tahu orangnya

Tidak ada komentar: