Masak sih, nyalakan lampu saja tidak boleh, "wahabi kali nih".
Imam Ibnu Hajar Al Haitamy As Syafii berkata: Dosa besar ke-93, 94, 95, 96, 97 dan 98 adalah : menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat sholat), MENYALAKAN LAMPU DI ATASNYA, menjadikannya sebagai berhala, berthawaf mengelilinginya, MENGUSAP-USAPNYA, mendirikan shalat menghadap kepadannya." (Az Zawajir 'an Iqtiraf Al Kaba'ir )
Pernyatataan Imam Ibnu Hajar Al Haitamy di atas tentu bukan abal abal atau hasil comot dari kaum wahabi, namun dilandasi oleh dalil yang valid dan benar, diantaranya ialah hadits berikut:
عَن ِابْن ِعَباس قالَ:«لعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زُوّارَاتِ القبوْرِ، وَالمتَّخِذِينَ عَليْهَا المسَاجِدَ وَالسُّرُج»
Sahabat Ibnu Abbas berkata : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat para wanita yang banyak meziarahi kuburan dan orang-orang yang menjadikan tanah di atas kuburan-kuburan sebagai masjid-masjid (tempat sujud) dan menyalakan lampu-lampu di atasnya” ( Ahmad , Abu dawud , At-Thirmidzi , An-Nasaai, Ibnu Maajah , dan lainnya.
Ini menurut mazhab syafii lo ya, bukan wahabi, kecuali bila menurut anda Imam Ibnu Hajar Al haitamy yang wafat pada tahun 974 H, juga sudah terkontaminasi oleh "wahaby" yang menyebar pada abad ke 11 H, gara gara beliau tinggal di kota Makkah.
Selamat merenung kalau perlu sampai bingung, atau semoga anda benar benar tercerahkan.
Copas dari ust arifin badri
قال مالك: لا، والله حتى يصيب الحق، ما الحق إلا واحد، قولان مختلفان يكونان صوابًا جميعًا؟ ما الحق والصواب إلا واحد. Imam Malik berkata “Tidak,demi Allah, hingga ia mengambil yang benar. Kebenaran itu hanya satu. Dua pendapat yang berbeda tidak mungkin keduanya benar, sekali lagi kebenaran itu hanya satu
Jumat, 31 Januari 2020
Rabu, 29 Januari 2020
4 TIPS LANCAR REJEKI
👤 Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
.
وأربعة تجلب الرزق: قيام الليل ,وكثرة الإستغفار بالأسحار , وتعاهد الصدقة , والذكر أول النهار وآخره.
.
Ada 4 hal yang bisa mendatangkan rejeki :.
1⃣ Qiyamullail (shalat malam)
2⃣ Memperbanyak istighfar di waktu sahur.
3⃣ Membiasakan sedekah.
4⃣ Berdzikir di awal pagi dan sore hari.
.
__________________
.
📚 Zaadul Maad 4/378
Hukum sholawat Badar
Lafadz shalawat ini sebagai berikut:
shalatullah salamullah ‘ala thoha rosulillah
shalatullah salamullah ‘ala yaasiin habibillah
tawasalnaa bibismillah wa bil hadi rosulillah
wa kulli majahid fillah
bi ahlil badri ya Allah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah
Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
1. Penyebutan Nabi dengan habibillah
2. Bertawassul dengan Nabi
3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr
Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.
Pada point kedua,
tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “BERTAWASSULLAH KALIAN DENGAN KEDUDUKANKU karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka HADITS INI TERMASUK HADITS MAUDHU’ (PALSU) SEBAGAIMANA DIJELASKAN OLEH IBNU TAIMIYYAH DAN ASY-SYAIKH AL-ALBANI.
Adapun point ketiga,
tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam saja tidak diperbolehkan. Yang DIBOLEHKAN ADALAH BERTAWASSUL DENGAN NAMA ALLAH di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَ للهِ الأَسْمآءُ الْحُسْنَ فَادْعُوْهُ بِهاَ
“Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, MAKA BERMOHONLAH KEPADA-NYA DENGAN MENYEBUT ASMAUL HUSNA ITU.” (Al-A’raf: 180)
Demikian pula di antara do’a Nabi:
“YA ALLAH, AKU MOHON KEPADA-MU DENGAN SEGALA NAMA YANG ENGKAU MILIKI yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.” (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan lainnya, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 199)
Bertawassul dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga DIPERBOLEHKAN ADALAH DENGAN AMAL SHALIH DAN DENGAN DOA ORANG SHALIH YANG MASIH HIDUP (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.
JENIS-JENIS SHALAWAT DI ATAS BANYAK DIJUMPAI DI KALANGAN SUFIYAH. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan di antara para tarekat sufi.
BERAPA BANYAK ORANG YANG BERPALING DARI AL QUR’AN dan mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan BERAPA BANYAK DARI MEREKA YANG SUDAH TIDAK PEDULI LAGI UNTUK MENGHIDUPKAN SUNNAH-SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda.
Wallahu A'lam....
MADZHAB SYAFII MENGHARAMKAN KENDURI SETELAH KEMATIAN
MADZHAB SYAFII MENGHARAMKAN KENDURI SETELAH KEMATIAN
Ibnu Shobagh : Adapun keluarga mayyit membuatkan makanan dan menghidangkannya, hal tersebut tidak pernah dinukil satu dalilpun, ia termasuk bid'ah dan tidak disunnahkan"
[Al-Bayan Fi Madzhabil Imam Syafii hal. 126]
Ibnu Shobagh : Adapun keluarga mayyit membuatkan makanan dan menghidangkannya, hal tersebut tidak pernah dinukil satu dalilpun, ia termasuk bid'ah dan tidak disunnahkan"
[Al-Bayan Fi Madzhabil Imam Syafii hal. 126]
Debat atheis vs aswaja(sufi)
Afwan, ana tidak bermaksud menghina, tetapi ana sangat tertarik dengan cara pandang orang Atheis ini.
Kalau Aswaja biasanya MENDAHULUKAN AKAL DALAM MEMAHAMI AGAMA, maka orang Atheislah yang paling terdepan MEMATAHKAN AKAL ORANG-ORANG ASWAJA !!!
Ana hanya mengCopy, bukan buatan sendiri, 😂😂
Dialog Atheis vs Aswaja
Aswaja: Apa alasanmu bilang Allah tidak wujud ??
Atheis: Pokoknya kagak wujud, titik !!!!
Jika Allah itu memang ADA, Dimana Dia ??!!
Aswaja: Dia tidak bertempat dimanapun jua !!!
Athes: 😂😂😂😂😂 (tertawa). Apa bedanya aqidah kami dengan anda ??!!
Aswaja: La... ya bedalah !!!
Allah itu Wujud cuman tidak ADA dimanapun jua !!!
Atheis: 😂😂😂😂😂 (tertawa lepas). Kalau Aqidah kami Atheis langsung ke POIN yaitu, Tidak Ada Allah !!!
Aqidah anda aswaja sebenarnya sama saja, tapi muter-muter dulu baru ke POIN, yaitu :
1- Allah tidak wujud di Arsy
2- Allah tidak wujud di langit
3- Allah tidak wujud di bumi
4- Tidak dekat dan tidak jauh
5- Allah tidak wujud di atas dan di bawah
6- Allah tidak wujud di depan dan di belakang
7- Allah tidak wujud di kanan dan di kiri
8- Allah tidak wujud di dalam dan di luar
9- Allah tidak wujud di tengah dan di tepi
10- Allah tidak wujud di dunia dan di akhirat
11- Allah tidak wujud di neraka dan di surga.
Bukankah Arsy, langit bumi, jauh dekat, atas bawah, depan belakang, kanan kiri, dalam luar, tengah tepi, dunia akhirat, surga neraka itu TEMPAT ??!!
Berarti 11 poin diatas semuanya #TEMPAT !!!!
Gimana ???? (ejek Atheis)
Aswaja: @#¥÷%&%€|~$? ..... Hmmm... aaaa... itu anuuu... apaaan aaaaak (garuk-garuk kepada)
Udah !!!! (sanggah Atheis). Gini aja sodara-sodara aswaja, bagaimana kalau kita bergabung saja dalam satu agama yaitu agama tanpa Allah ????
Aswaja: ..........???????? (saling pandang antara satu lain sabil mengemas kitab yg bertimbun didepannya yang di ajinya selama 30 tahun)
Atheis: Oya..... (sambung Atheis) anda suka banget nyembah kubur mengapa ???
Aswaja: anda salah faham !!!!
Sama sekali kami tidak menyembah kuburan !!!!
Lihat Al-Quran ini !!!!
" مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى"
"kami tdk menyembah kuburan, cuman prantara saja ke Allah".
Atheis: 😂😂😂😂😂 (tertawa lagi) itu kan ayat yang oleh Allah ditujukan ke orang kafir, apa anda kafir seperti musyrikin jahiliyah ??!!
Aswaja: ..........?????? (lagi-lagi bingung saling, berpandangan antara satu sama lain nya)
Atheis: Lagian !!! (sambung Atheis), kalau begitu Allah itu bertempat dong, cuma orang mati yang tau tempat-Nya ??!!
Aswaja: kok bisa.....???!!
Atheis: ya bisalah !!!!
Bukankah PERANTARA itu orang tengah untuk sampai kepada orang yg ketiga ???
Orang mati perantara ke Allah untuk mengantarkan segala hajat Aswaja ???
Aswaja: berbisik-bisik antara satu sama lain.
Atheis: Lagian kemana Wali anda mengantar HAJAT anda kalau Allah kagak punya tempat/alamat...??!! ntar sesak nafas muter nyari alamat Allah di ALAM kubur ??!!
Aswaja: ........???????? (pada mengerut dahi dan wajah kecewa sambil bingkas keluar dewan diskusi tampa pamet. Mereka tersengeh-sengah pamer gigi sampai putih berkilau) kasian aswaja... 😁😁
#hanya_simulasi sembari tersenyum dan mengajak mereka berpikir.
Wassalam...
Kalau Aswaja biasanya MENDAHULUKAN AKAL DALAM MEMAHAMI AGAMA, maka orang Atheislah yang paling terdepan MEMATAHKAN AKAL ORANG-ORANG ASWAJA !!!
Ana hanya mengCopy, bukan buatan sendiri, 😂😂
Dialog Atheis vs Aswaja
Aswaja: Apa alasanmu bilang Allah tidak wujud ??
Atheis: Pokoknya kagak wujud, titik !!!!
Jika Allah itu memang ADA, Dimana Dia ??!!
Aswaja: Dia tidak bertempat dimanapun jua !!!
Athes: 😂😂😂😂😂 (tertawa). Apa bedanya aqidah kami dengan anda ??!!
Aswaja: La... ya bedalah !!!
Allah itu Wujud cuman tidak ADA dimanapun jua !!!
Atheis: 😂😂😂😂😂 (tertawa lepas). Kalau Aqidah kami Atheis langsung ke POIN yaitu, Tidak Ada Allah !!!
Aqidah anda aswaja sebenarnya sama saja, tapi muter-muter dulu baru ke POIN, yaitu :
1- Allah tidak wujud di Arsy
2- Allah tidak wujud di langit
3- Allah tidak wujud di bumi
4- Tidak dekat dan tidak jauh
5- Allah tidak wujud di atas dan di bawah
6- Allah tidak wujud di depan dan di belakang
7- Allah tidak wujud di kanan dan di kiri
8- Allah tidak wujud di dalam dan di luar
9- Allah tidak wujud di tengah dan di tepi
10- Allah tidak wujud di dunia dan di akhirat
11- Allah tidak wujud di neraka dan di surga.
Bukankah Arsy, langit bumi, jauh dekat, atas bawah, depan belakang, kanan kiri, dalam luar, tengah tepi, dunia akhirat, surga neraka itu TEMPAT ??!!
Berarti 11 poin diatas semuanya #TEMPAT !!!!
Gimana ???? (ejek Atheis)
Aswaja: @#¥÷%&%€|~$? ..... Hmmm... aaaa... itu anuuu... apaaan aaaaak (garuk-garuk kepada)
Udah !!!! (sanggah Atheis). Gini aja sodara-sodara aswaja, bagaimana kalau kita bergabung saja dalam satu agama yaitu agama tanpa Allah ????
Aswaja: ..........???????? (saling pandang antara satu lain sabil mengemas kitab yg bertimbun didepannya yang di ajinya selama 30 tahun)
Atheis: Oya..... (sambung Atheis) anda suka banget nyembah kubur mengapa ???
Aswaja: anda salah faham !!!!
Sama sekali kami tidak menyembah kuburan !!!!
Lihat Al-Quran ini !!!!
" مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى"
"kami tdk menyembah kuburan, cuman prantara saja ke Allah".
Atheis: 😂😂😂😂😂 (tertawa lagi) itu kan ayat yang oleh Allah ditujukan ke orang kafir, apa anda kafir seperti musyrikin jahiliyah ??!!
Aswaja: ..........?????? (lagi-lagi bingung saling, berpandangan antara satu sama lain nya)
Atheis: Lagian !!! (sambung Atheis), kalau begitu Allah itu bertempat dong, cuma orang mati yang tau tempat-Nya ??!!
Aswaja: kok bisa.....???!!
Atheis: ya bisalah !!!!
Bukankah PERANTARA itu orang tengah untuk sampai kepada orang yg ketiga ???
Orang mati perantara ke Allah untuk mengantarkan segala hajat Aswaja ???
Aswaja: berbisik-bisik antara satu sama lain.
Atheis: Lagian kemana Wali anda mengantar HAJAT anda kalau Allah kagak punya tempat/alamat...??!! ntar sesak nafas muter nyari alamat Allah di ALAM kubur ??!!
Aswaja: ........???????? (pada mengerut dahi dan wajah kecewa sambil bingkas keluar dewan diskusi tampa pamet. Mereka tersengeh-sengah pamer gigi sampai putih berkilau) kasian aswaja... 😁😁
#hanya_simulasi sembari tersenyum dan mengajak mereka berpikir.
Wassalam...
Sabtu, 25 Januari 2020
membenci satu perintah nabi saja dia murtad
Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah berkata:
وكذلك وجوب الإيمان والتصديق بجميع ما جاءت به الرسل من عند الله، وبجميع ما قاله الله عز وجل فهو حقٌّ لازمٌ، فلو أن رجلاً آمن بجميع ما جاءت به الرسل إلا شيئاً واحداً، كان بردّ ذلك الشيء كافراً عند جميع العلماء
“Dan begitu pula kewajiban beriman dan membenarkan seluruh apa yang dibawa Rasul ﷺ dari sisi Allah ﷻ, dan beriman dengan seluruh yang Alah ﷻ firmankan; maka ini adalah kewajiban yang tetap. Seandainya ada seseorang yang beriman dengan seluruh syari’at yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, kecuali satu perkara (yang ia tolak), maka dengan penolakannya terhadap satu perkara tersebut menyebabkan dirinya kafir menurut (kesepakatan) seluruh ulama” [Asy-Syarh wal-Ibaanah ‘alaa Ushuulis-Sunnah wal-Diyaanah hal. 232-233].
Perkataan jilbab tidak wajib pernyataan jahil, ajakan menuju budaya jahiliyyah
Sebelum era Islam, masyarakat Arab jahiliyyah tidak mempunyai budaya menutup aurat. Bahkan, mereka thawaf mengelilingi Ka’bah dengan telanjang.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ. ح وحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ وَاللَّفْظُ لَهُ، حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: " كَانَتِ الْمَرْأَةُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَهِيَ عُرْيَانَةٌ، فَتَقُولُ: مَنْ يُعِيرُنِي تِطْوَافًا تَجْعَلُهُ عَلَى فَرْجِهَا، وَتَقُولُ:.
الْيَوْمَ يَبْدُو بَعْضُهُ أَوْ كُلُّهُ فَمَا بَدَا مِنْهُ فَلَا أُحِلُّهُ "
" فَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyaar : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far (ح). Dan telah menceritakan kepadaku Abu Bakr bin Naafi’ - dan lafadh hadits ini adalah miliknya - : Telah menceritakan kepada kami Ghundar : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Muslim Al-Bathiin, dari Sa’iid bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Dulu para wanita melakukan thawaf di Baitullah dengan telanjang seraya berkata : ‘Siapakah yang mau meminjamiku baju untuk thawaf yang digunakan menutupi kemaluan?’. Dan wanita itu berkata : ‘‘Pada hari nampak sebagian atau seluruhnya…. Dan apa yang telah nampak darinya, aku tidak menghalalkannya’. Maka turunlah ayat ini : ‘Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid’ (QS. Al-A’raaf : 31)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 3028].
وحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: " كَانَتِ الْعَرَبُ تَطُوفُ بِالْبَيْتِ عُرَاةً إِلَّا الْحُمْسَ وَالْحُمْسُ قُرَيْشٌ، وَمَا وَلَدَتْ كَانُوا يَطُوفُونَ عُرَاةً إِلَّا أَنْ تُعْطِيَهُمُ الْحُمْسُ ثِيَابًا، فَيُعْطِي الرِّجَالُ الرِّجَالَ وَالنِّسَاءُ النِّسَاءَ
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib : Telah menceritakan kepada kami Abu Usaamah : Telah menceritakan kepada kami Hisyaah, dari ayahnya (‘Urwah bin Jubair), ia berkata : “Dulu orang Arab melakukan thawaf di Baitullah dengan telanjang, kecuali humus, dan humus adalah orang Quraisy dan keturunannya. Mereka (orang-orang Arab jahiliyyah) melakukan thawaf sambil telanjang, kecuali apabila diberi pakaian oleh humus. Laki-laki memberi pakaian kepada laki-laki, dan wanita memberi pakaian kepada wanita….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1219. Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhaariy no. 1665].
حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ: كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ عُرَاةً، يَقُولُونَ: نَطُوفُ فِي ثِيَابِنَا الَّتِي نُصَلِّي فِيهَا فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَطُوفُ عُرْيَانَةً وَتَقُولُ:
الْيَوْمُ يَبْدُو بَعْضُهُ أَوْ كُلُّهُ وَمَا بَدَا مِنْهُ فَلا أُحِلُّهُ
Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Zaid : Telah menceritakan kepada kami Ayyuub, dari Sa’iid bin Jubair, ia berkata : “Dulu orang-orang Jahiliyyah melakukan thawaf di Baitullah dengan telanjang. Mereka berkata : ‘Kami thawaf dengan pakaian-pakaian kami yang kami shalat dengannya. Wanita melakukan thawaf dengan telanjang seraya berkata : ‘Pada hari nampak sebagian atau seluruhnya…. Dan apa yang telah nampak darinya, aku tidak menghalalkannya’ [Diriwayatkan oleh ‘Affaan bin Muslim dalam Ahaadiits-nya no. 83; shahih].
Membatasi hijab hanya papan kayu adalah pemahaman sempit liberal
Kata hijab sebagai penutup aurat wanita sudah biasa di lisan ulama ahlussunnah
Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan perkataannya:
فأمر النساء بالحجاب، ثُمَّ أمرن عند الخروج أن يدنين عليهن من جلابيبهن، وهو القناع، وهو عِنْدَ جماعة العلماء في الحرائر دون الإماء، وفيه أيضا أن ذوي المحارم من النسب والرضاع لا يحتجب منهم، ولا يستتر عنهم إلا العورات، والمرأة في ما عدا وجهها وكفيها عورة بدليل أنها لا يجوز لها كشفه في الصلاة
“Nabi ﷺ memerintahkan para wanita untuk berhijab, lalu memerintahkan mereka ketika keluar rumah untuk mengulurkan jilbab-jilbab mereka, yaitu qinaa’ (kerudung yang menutupi kepala, termasuk wajah). Perintah tersebut menurut sekelompok ulama berlaku untuk wanita merdeka saja, tidak termasuk budak. Pada perintah itu, bagi orang yang mempunyai hubungan mahram dengan sebab nasab dan persusuan, tidak wajib berhijab dan menutup dari mereka kecuali yang termasuk aurat. Bagi wanita, selain wajah dan kedua telapak tangannya adalah aurat dengan dalil ia tidak boleh menyingkapnya ketika shalat” [At-Tamhiid, 9/236].
Rabu, 25 Desember 2019
Tidak ada pengembaraan dalam islam
Pertanyaan
Sejauh mana keshahihan hadits ‘Tidak ada wisata dalam Islam’?
Teks Jawaban
Alhamdulillah
Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam kitab Mushonnaf-nya dari Laits, dari Thawus, dia berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “... Dan tidak ada wisata, tidak ada kebiri (agar tidak menikah) dan tidak ada kependetaan (hanya beribadah saja) dalam Islam.” Al-Albany berkata dalam Kitab Dhaif Al-Jami, (hadits) ini lemah, no. 6287.
Yang shahih adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya hadits dari Abu Umamah, sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Wisata umatku adalah berjihad di jalan Allah.” Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Al-Jami’ no. 2093. Sedangkan makna kata (سائحات) dalam firman Allah,
مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا (سورة التحريم: 5)
"…Dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (QS. At-Tahrim: 5)
adalah orang-orang yang berpuasa. Jadi wisata bermakna jihad dan puasa dalam nash agama.
Selasa, 24 Desember 2019
Imam malik membenci membaca yasin saat sekarat
وذهب الإمام مالك رحمه الله إلى كراهة قراءة سورة يس أو غيرها عند المحتضر ، لضعف الحديث الوارد في ذلك ، ولأنه ليس من عمل الناس .
Imam malik berpendapat dibencinya bacaan yasin atau selainnya saat sakarotul maut karena lemahnya hadits yg datang ttg itu dan itu bukan amalan manusia
انظر : الفواكه الدواني" (1/284) ، "شرح مختصر خليل" (2/137) .
Rabu, 20 November 2019
Kisah dhoif surat khalifah umar kepada sungai nil
Kisah surat khalifah Umar bin khathab kepada sungai nil ini adalah suatu kisah yang sangat masyhur , sehingga kisah ini
banyak dibawakan oleh para ulama dalam
kitab-kitab mereka. Begitu juga di zaman
sekarang , kisah tersebut sering di
bawakan para ustadz maupun para da'i
penceramah di mesjid-mesjid maupun
dalam kajiannya.
Akan tetapi jika diteliti lagi atsar dari kisah
tersebut, ternyata adalah tidak benar disandarkan kepada khalifah Umar bin Khatab radiallahuanhum.
Berikut ini adalah atsar yang sering dibawakan tersebut :
أنا محمد بن أبي بكر قال : ثنا محمد بم مخلد قال :
ثنا محمد بن إسحاق قال : ثنا عبدالله بن صالح
حدثني ابن لهيعة عن قيس حجاج عمن حدثه قال :
لما فتحت مصر اتى أهلها إلى عمرو بن العاص حين
دخل بؤونة من أشهر العجم فقالوا : أيها الأمير إن لنيل
زهذا سنة لا يجري الا بها ، فقال : وما ذاك ؟ قالوا :
إذاكان ثنتا عشرة ليلة خلون من هذا الشهر عمدنا إلى
جارية بكر من أبويها فأرضينا أبويها وجعلنا عليها من
الحلى والثياب أفضل ما يكون ثم ثم ألقينا ها قي هذا
النيل ، فقال لهم عمرو : إن هذا مما لا يكون في
الإسلام إن الإسلام يهدم ما قبله...................
فلما رأى ذلك عمرو كتب بذلك إلى عمر بن الخطاب
فكتب : إنك قد أصبت بالذي فعلت وإنالإسلام
يهدم ما قبله وإني قد بعث اليك ببطاقة داخل
كتابي هذا فألقها في النيل. فلما قدم كتاب عمر
إلى عمرو أخذ البطاقة ففتحها فإذ فيها :
"من عبدالله عمر أمير المؤمنين إلى نيل مصر،
أما بعد فأن كنت إنما تجري من قبلك فلا تجر ،
وإن كان الله الواحد القهار هوالذي يجريك،
فئسأالله الواحد القهار أن يحريك......
Menceritakan pada kami Muhamad bin
Abi Bakr berkata : menceritakan pada
kami Muhamad bin Makhlad berkata :
menceritakan pada kami Muhamad bin
Ishaq berkata : menceritakan pada kami
Abdullah bin Shooleh menceritakan
padaku Ibnu Lahi'ah dari qais bin Hajaj
dari seseorang yang menceritakan ia
berkata : Ketika Amru bin 'Ash
menaklukkan mesir maka penduduk
mesir mendatanginya ketika telah
memasuki bulan kesepuluh dari
penanggalan mesir, kemudian mereka
berkata : wahai Amir, sungguh kami
memiliki tradisi dengan sungai nil
kami ini, dan sungai nil tidak akan
mengalir kecuali dengan melakukan
tradisi tersebut. Amru bi Ash bertanya ;
Apa tradisi tersebut ? mereka menjawab:
Jika telah berlalu 12 bulan dari bulan ini
Kami akan mengambil seorang gadis
perawan dari kedua orang tuanya, setelah
sebelumnya kami membuat kedua orang
tuanya menjadi rela ( mengorbankan anak
gadisnya ).Kami mempercantik gadis
tersebut dengan perhiasan dan pakaian
yang terbaik, lalu kami melemparkannya
ke sungai nil ini , sehingga sungai nil
kembali mengalir. Amru bin Ash
berkata : perbuatan tersebut tidak
diperbolehkan dan sungguh islam
datang untuk menghancurkan ajaran
yang ada sebelumnya................dst.
Ketika Amru bin Ash melihat hal tersebut
maka ia menulis surat kepada khalifah
Umar bin Al khathab, maka khalifah
umar membalas surat tersebut : kamu
telah bertindak benar, sungguh islam
itu datang untuk menghancurkan ajaran
yang ada sebelumnya, Aku lampirkan
sehelai surat dalam surat balasanku ini,
jika surat ini telah engkau terima maka
lemparkanlah surat tersebut ke sungai nil.
Setelah surat Khalifah umar diterima
Amru nin Ash Ia pun membuka isi dari
surat tersebut :
Dari hamba Allah Umar amirul mu'minin
kepada sungai nil mesir, amma ba'du :
Jika engkau mengalir karena
kehendakmu maka janganlah engkau
mengalir.
Jika engkau mengalir itu karena Allah
Al wahidil qohhar, maka aku memohon
kepada Allah Al Wahidil Qohhar untuk
mengalirkanmu.........................dst.
( Al laalikaiy : Karomatil Aulia Allah
Hal.119. no.66 )
Atsar ini diriwayatkan juga oleh :
⏩Ibnu Asaakir dalam tarikh dimsyiq
44/336.
⏩Abu Asy-syaikh : al uzmah :4/1424.
⏩Ibnu Abdul hakim ; futuh mesir:1/150
Semuanya dari jalan ibnu lahi'ah.
Atsar ini juga dinukil oleh :
-↔ibnu katsir dalam Al bidayah: 3/27
↔Abu Rabi'al kula'i: al iktifa': 2/354
↔muhibbudin Ath thobari : riyadhun
Nadhirah : 3/323
↔As subkiy : thobaqat syafi'iyah:2/326
↔As suyuthiy: tarikh khulafa' : 1/ 102-103
Atsar ini dhoif dengan dua sebab :
⭕ Abdullah bin lahi'ah bin uqbah
Abu abdurrahman al bashriy
Mengenai perawi ibnu lahi'ah ini maka jumhur muhaditsin mendhoifkannya ,seperti:
Waki'bin Jarrah, ibnu qathan, ibnu ma'in
abu zur'ah, abu haatim, ibnu hanbal ,ibnu
sa'ad, Al jauzaniy, An Nasaaiy, ibnu hibban,
Al hakim dll.
akan tetapi para ahli hadist berbeda
pendapat dalam menyingkapi riwayat
Abdullah bin Lahi'ah ini.
Pertama :♻ Mereka yang menolak secara
mutlak periwayatan ibnu lahi'ah ini, baik
sebelum kitab-kitabnya terbakar maupun
setelah kitab-kitabnya terbakar, semua
periwayatannya lemah.
Kedua :♻ Mereka mendhoifkan riwayat
ibnu lahi'ah ini jika perawi yang menerima
hadist darinya itu setelah kitabnya
terbakar. Akan tetapi jika perawi
mengambil riwayat dari ibnu lahi'ah
sebelum kitabnya terbakar maka mereka
menerima riwayatnya hanya sebagai
I'tibar dan ulama yang lain menerima
secara mutlak akan tetapi dengan Syarat :
🔵 jika yang meriwayatkan dari beliau
Orang-orang seperti : Ibnu mubarak
Ibnu wahb , abdullah bin yazid al muqri
Abdullah bin maslamah al qa'nabiy
Yahya bin ishaaq, abdurrahman bin
mahdi, ishaq bin isa, al laits bin sa'ad
dan Bisyr bin bakr.
Maka selain orang-orang diatas maka
riwayat ibnu lahi'ah semuanya Dhoif.
Riwayat ibnu lahi'ah diatas adalah dari
perawi Abdullah bin shaaleh yang tidak
termasuk dalam jajaran orang yang
diterima riwayatnya dari ibnu lahi'ah.
Disamping itu juga ibnu lahi'ah ini
adalah seorang mudallis seperti yang
dikatakan oleh ibnu hibban dalam
Al Majruhin.
Ibnu hajar rahimahullah memasukkan
ibnu lahi'ah dalam thobaqat mudalisin
pada tingkatan yang ke-5.
Artinya , riwayatnya tidak diterima
walaupun ia telah menceritakan dengan
lafadz tahdist penyimakan hadist.
⭕. Mubham-nya perawi yang diriwayatkan
Oleh Qais bin Hajaaj.
Mubham adalah seorang perawi yang
tidak disebutkan namanya atau hanya
disebutkan kunyah dan laqabnya saja
ini adalah sebuah indikasi akan
kedhoifan suatu hadist.
Oleh karena itu walaupun kisah ini
masyhur di kalangan ulama tidak lantas
menjadi kisah yang shahih yang
disandarkan kepada khalifah amirul
mu'minin Umar bin khathab
radiallahuanhu.
banyak dibawakan oleh para ulama dalam
kitab-kitab mereka. Begitu juga di zaman
sekarang , kisah tersebut sering di
bawakan para ustadz maupun para da'i
penceramah di mesjid-mesjid maupun
dalam kajiannya.
Akan tetapi jika diteliti lagi atsar dari kisah
tersebut, ternyata adalah tidak benar disandarkan kepada khalifah Umar bin Khatab radiallahuanhum.
Berikut ini adalah atsar yang sering dibawakan tersebut :
أنا محمد بن أبي بكر قال : ثنا محمد بم مخلد قال :
ثنا محمد بن إسحاق قال : ثنا عبدالله بن صالح
حدثني ابن لهيعة عن قيس حجاج عمن حدثه قال :
لما فتحت مصر اتى أهلها إلى عمرو بن العاص حين
دخل بؤونة من أشهر العجم فقالوا : أيها الأمير إن لنيل
زهذا سنة لا يجري الا بها ، فقال : وما ذاك ؟ قالوا :
إذاكان ثنتا عشرة ليلة خلون من هذا الشهر عمدنا إلى
جارية بكر من أبويها فأرضينا أبويها وجعلنا عليها من
الحلى والثياب أفضل ما يكون ثم ثم ألقينا ها قي هذا
النيل ، فقال لهم عمرو : إن هذا مما لا يكون في
الإسلام إن الإسلام يهدم ما قبله...................
فلما رأى ذلك عمرو كتب بذلك إلى عمر بن الخطاب
فكتب : إنك قد أصبت بالذي فعلت وإنالإسلام
يهدم ما قبله وإني قد بعث اليك ببطاقة داخل
كتابي هذا فألقها في النيل. فلما قدم كتاب عمر
إلى عمرو أخذ البطاقة ففتحها فإذ فيها :
"من عبدالله عمر أمير المؤمنين إلى نيل مصر،
أما بعد فأن كنت إنما تجري من قبلك فلا تجر ،
وإن كان الله الواحد القهار هوالذي يجريك،
فئسأالله الواحد القهار أن يحريك......
Menceritakan pada kami Muhamad bin
Abi Bakr berkata : menceritakan pada
kami Muhamad bin Makhlad berkata :
menceritakan pada kami Muhamad bin
Ishaq berkata : menceritakan pada kami
Abdullah bin Shooleh menceritakan
padaku Ibnu Lahi'ah dari qais bin Hajaj
dari seseorang yang menceritakan ia
berkata : Ketika Amru bin 'Ash
menaklukkan mesir maka penduduk
mesir mendatanginya ketika telah
memasuki bulan kesepuluh dari
penanggalan mesir, kemudian mereka
berkata : wahai Amir, sungguh kami
memiliki tradisi dengan sungai nil
kami ini, dan sungai nil tidak akan
mengalir kecuali dengan melakukan
tradisi tersebut. Amru bi Ash bertanya ;
Apa tradisi tersebut ? mereka menjawab:
Jika telah berlalu 12 bulan dari bulan ini
Kami akan mengambil seorang gadis
perawan dari kedua orang tuanya, setelah
sebelumnya kami membuat kedua orang
tuanya menjadi rela ( mengorbankan anak
gadisnya ).Kami mempercantik gadis
tersebut dengan perhiasan dan pakaian
yang terbaik, lalu kami melemparkannya
ke sungai nil ini , sehingga sungai nil
kembali mengalir. Amru bin Ash
berkata : perbuatan tersebut tidak
diperbolehkan dan sungguh islam
datang untuk menghancurkan ajaran
yang ada sebelumnya................dst.
Ketika Amru bin Ash melihat hal tersebut
maka ia menulis surat kepada khalifah
Umar bin Al khathab, maka khalifah
umar membalas surat tersebut : kamu
telah bertindak benar, sungguh islam
itu datang untuk menghancurkan ajaran
yang ada sebelumnya, Aku lampirkan
sehelai surat dalam surat balasanku ini,
jika surat ini telah engkau terima maka
lemparkanlah surat tersebut ke sungai nil.
Setelah surat Khalifah umar diterima
Amru nin Ash Ia pun membuka isi dari
surat tersebut :
Dari hamba Allah Umar amirul mu'minin
kepada sungai nil mesir, amma ba'du :
Jika engkau mengalir karena
kehendakmu maka janganlah engkau
mengalir.
Jika engkau mengalir itu karena Allah
Al wahidil qohhar, maka aku memohon
kepada Allah Al Wahidil Qohhar untuk
mengalirkanmu.........................dst.
( Al laalikaiy : Karomatil Aulia Allah
Hal.119. no.66 )
Atsar ini diriwayatkan juga oleh :
⏩Ibnu Asaakir dalam tarikh dimsyiq
44/336.
⏩Abu Asy-syaikh : al uzmah :4/1424.
⏩Ibnu Abdul hakim ; futuh mesir:1/150
Semuanya dari jalan ibnu lahi'ah.
Atsar ini juga dinukil oleh :
-↔ibnu katsir dalam Al bidayah: 3/27
↔Abu Rabi'al kula'i: al iktifa': 2/354
↔muhibbudin Ath thobari : riyadhun
Nadhirah : 3/323
↔As subkiy : thobaqat syafi'iyah:2/326
↔As suyuthiy: tarikh khulafa' : 1/ 102-103
Atsar ini dhoif dengan dua sebab :
⭕ Abdullah bin lahi'ah bin uqbah
Abu abdurrahman al bashriy
Mengenai perawi ibnu lahi'ah ini maka jumhur muhaditsin mendhoifkannya ,seperti:
Waki'bin Jarrah, ibnu qathan, ibnu ma'in
abu zur'ah, abu haatim, ibnu hanbal ,ibnu
sa'ad, Al jauzaniy, An Nasaaiy, ibnu hibban,
Al hakim dll.
akan tetapi para ahli hadist berbeda
pendapat dalam menyingkapi riwayat
Abdullah bin Lahi'ah ini.
Pertama :♻ Mereka yang menolak secara
mutlak periwayatan ibnu lahi'ah ini, baik
sebelum kitab-kitabnya terbakar maupun
setelah kitab-kitabnya terbakar, semua
periwayatannya lemah.
Kedua :♻ Mereka mendhoifkan riwayat
ibnu lahi'ah ini jika perawi yang menerima
hadist darinya itu setelah kitabnya
terbakar. Akan tetapi jika perawi
mengambil riwayat dari ibnu lahi'ah
sebelum kitabnya terbakar maka mereka
menerima riwayatnya hanya sebagai
I'tibar dan ulama yang lain menerima
secara mutlak akan tetapi dengan Syarat :
🔵 jika yang meriwayatkan dari beliau
Orang-orang seperti : Ibnu mubarak
Ibnu wahb , abdullah bin yazid al muqri
Abdullah bin maslamah al qa'nabiy
Yahya bin ishaaq, abdurrahman bin
mahdi, ishaq bin isa, al laits bin sa'ad
dan Bisyr bin bakr.
Maka selain orang-orang diatas maka
riwayat ibnu lahi'ah semuanya Dhoif.
Riwayat ibnu lahi'ah diatas adalah dari
perawi Abdullah bin shaaleh yang tidak
termasuk dalam jajaran orang yang
diterima riwayatnya dari ibnu lahi'ah.
Disamping itu juga ibnu lahi'ah ini
adalah seorang mudallis seperti yang
dikatakan oleh ibnu hibban dalam
Al Majruhin.
Ibnu hajar rahimahullah memasukkan
ibnu lahi'ah dalam thobaqat mudalisin
pada tingkatan yang ke-5.
Artinya , riwayatnya tidak diterima
walaupun ia telah menceritakan dengan
lafadz tahdist penyimakan hadist.
⭕. Mubham-nya perawi yang diriwayatkan
Oleh Qais bin Hajaaj.
Mubham adalah seorang perawi yang
tidak disebutkan namanya atau hanya
disebutkan kunyah dan laqabnya saja
ini adalah sebuah indikasi akan
kedhoifan suatu hadist.
Oleh karena itu walaupun kisah ini
masyhur di kalangan ulama tidak lantas
menjadi kisah yang shahih yang
disandarkan kepada khalifah amirul
mu'minin Umar bin khathab
radiallahuanhu.
Rabu, 06 November 2019
Kisah palsu nabi tidur depan pintu
Suatu hari Aisyah dicengkram rasa khawatir. Hingga menjelang shubuh ia tidak menjumpai suaminya tersebut tidur di sebelahnya. Dengan gelisah Aisyah pun mencoba berjalan keluar. Ketika pintu dibuka, Aisyah terbelalak kaget. Rasulullah sedang tidur di depan pintu. "Mengapa Nabi tidur di sini?" "Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu," jawab Nabi.
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/42921/alasan-rasulullah-tidur-di-depan-pintu
Konten adalah milik dan hak cipta www.islam.nu.or.id
Tidak ada riwayat tersebut di semua kitab hadits
lebih lengkap lihat
https://www.islamweb.net/ar/fatwa/307462/
Sabtu, 02 November 2019
wanita jamaah di masjid tidak dilipatgandakan pahalanya
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan,
وفي حديث أبي هريرة رضي الله عنه الذي خرجه البخاري : ( صلاة الرجل في الجماعة تضعف ) وهو يدل على أن صلاة المرأة لا تضعف فِي الجماعة ؛ فإن صلاتها فِي بيتها خير لها وأفضل
Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari, ‘Shalatnya lelaki secara berjamaah itu dilipatkan’ ini menunjukkan bahwa shalat wanita berjamaah di masjid tidak dilipatkan pahalanya. Karena shalat wanita di rumahnya lebih baik dan lebih afdhal. (Fathul Bari, 6/19)
Puasa hari maulid
Terdapat banyak puasa sunah yang dianjurkan dalam Islam. Dan secara umum, puasa sunah dalam islam dibagi menjadi dua:
1. Puasa sunah mutlak
Puasa sunah mutlak adalah puasa sunah yang dikerjakan tanpa dibatasi waktu maupun tempat tertentu. Artinya bisa dikerjakan kapanpun selama tidak bertepatan dengan hari terlarang puasa, seperti hari raya, hari tasyrik, hari Jumat saja, atau hari Sabtu saja.
2. Puasa sunah muqayad
Puasa sunah muqayad adalah puasa sunah yang dikerjakan pada hari tertentu, berdasarkan anjuran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Puasa ini ada yang tahunan, ada yang bulanan, dan ada yang mingguan. Seperti puasa Asyura di setiap tanggal 10 Muharam, puasa Arafah di setiap tanggal 9 Dzulhijjah, puasa Senin-Kamis setiap pekan, puasa hari putih (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan), 6 hari di bulan Syawal, puasa Sya’ban, dst.
Dari sekian banyak puasa sunah muqayad yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada yang namanya puasa hari maulid. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan puasa tahunan. Demikian pula, tidak kita jumpai beliau atau para sahabat melaksanakan puasa di hari maulid. Ini semua menunjukkan bahwa puasa maulid jatuh pada tanggal 12 rabi’ul awal, bukan termasuk puasa yang disyariatkan. Terlebih, para ulama ahli sejarah berbeda pendapat tentang tanggal lahirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kecuali jika tanggal 12 rabiul awal jatuh pada hari kamis, seperti saat ini (24 januari 2013). Kita dianjurkan untuk melaksanakan puasa kamis, bukan karena ini hari maulid, namun karena hari ini adalah hari kamis. Namun satu catatan, tidak boleh kita yakini, puasa hari kami saat ini memiliki nilai lebih atau keutamaan tambahan, karena alasan bertepatan dengan hari maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Banci dosa besar
Dalam Badaa-i’ As-Shonaa-i’ (9/21),
ولا عدالة للمخنث، لأن فعله وعمله كبيرة.
“Orang menyengaja banci, tidak bisa dinilai sholih. Karena perbuatannya, termasuk dosa besar.”
Adakah makhluk sebelum nabi adam ke bumi?
Sebelum Adam, Allah telah menciptakan jin dan meminta mereka untuk memakmurkan bumi. Lalu mereka banyak maksiat dan saling membunuh. Ketika Allah hendak menciptakan manusia, Malaikat meng-qiyaskan makhluk ini dengan makhluk sebelumnya yang sudah pernah berbuat kerusakan di muka bumi.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, dan Muqatil. (Zadul Masir, 1/61)
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
Terkait perkataan malaikat, “Apakah Engkau akan menjadikan makhluk di muka bumi yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?”
يرجِّحُ أنهم خليفة لمن سبقهم ، وأنه كان على الأرض مخلوقات قبل ذلك تسفك الدماء وتفسد فيها ، فسألت الملائكة ربها عزّ وجلّ : ( أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدماء ) كما فعل من قبلهم
Pendapat yang lebih kuat, bahwa mereka adalah pengganti makhluk sebelumnya. Di mana, dulu ada makhluk di bumi sebelum mereka yang menumpahkan darah, dan berbuat kerusakan. Lalu malaikat bertanya kepada Rabnya, “Apakah Engkau akan menjadikan makhluk di muka bumi yang berbuat kerusakan dan menumpahkan darah?” maksudnya, sebagaimana yang pernah dilakukan makhluk sebelumnya. (Tafsir al-Quran al-Karim, al-Baqarah: 30).
Hukum bermakmum dg imam sholat sunnah
Pertanyaan : Jika seseorang sedang sholat sunnah, kemudian datang seseorang bermakmum kepadanya apakah ini dibolehkan ?” pernah diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin :
فأجاب فضيلته بقوله: نعم يجوز ذلك, فإذا دخل معه القادم نوى الجماعة, ولا ينبغي له أن يأبى فيحرم نفسه ويحرم الداخل ثواب الجماعة, وقد ثبت أن النبي صلي الله عليه وسلم قام يصلي من الليل وحده فجاء ابن عباس – رضي الله عنهما – فصلى معه ,وما جاز في النفل جاز في الفرض؛ لأن الأصل تساوي أحكامهما إلا بدليل يدل على الخصوصية
“Maka Syaikh menjawab: Iya hal tersebut dibolehkan, apabila seseorang sholat sunnah sendirian kemudian datang orang lain berniat sholat berjamaah maka tidak sepantasnya ia menghalangi dirinya dan orang yang datang untuk mendapatkan pahala sholat berjamaah, dan telah disebutkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ pernah sholat malam sendirian, maka Ibnu Abbas rhadiyallahu ‘anhuma datang dan bermakmum kepada Nabi ﷺ. Dan apapun yang dibolehkan pada sholat sunnah maka hal yang sama pun dibolehkan pada sholat fardhu, karena pada dasarnya adanya kesamaan hukum antara keduanya kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rosail al-Utsaimin: 15/171).
Senin, 28 Oktober 2019
Syeikh utsaimin menyatakan albani gak berilmu?
Syubhat: al-’Utsaimin sendiri, sangat marah al-Albani, sehingga dalam salah satu kitabnya menyinggung al-Albani dengan sangat keras dan menilainya tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali:
ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم.”
Artinya: “Ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki ilmu agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja!
Artinya: “Ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki ilmu agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja!
Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak di tentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani).
Beliau (Utsman R.A) termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”. Lihat: al-‘Utsaimin, Syarh al-’Aqidah al- Wasîthiyyah (Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) hal 638.)Jawaban:
Kalau kita rujuk ke teks asli kita tidak akan menemukan syeikh utsaimin menyebut syeikh albani sedikitpun.
Itu hanya hayalan mereka.
Karena memang syeikh albani membolehkan adzan jumat kedua dg syarat terpenuhi syaratnya diantaranya waktunya tidak berdekatan sebagaimana adzan utsman.
العلامة الألباني
قال في رسالته " الأجوبة النافعة " :
[لا نرى الاقتداء بما فعله عثمان رضي الله عنه على الإطلاق ودون قيد ، فقد علمنا مما تقدم أنه إنما زاد الأذان الأول لعلة معقولة ، وهي كثرة الناس وتباعد منازلهم عن المسجد النبوي ، فمن صرف النظر عن هذه العلة وتمسك بأذان عثمان مطلقا ، لا يكون مقتديا به رضي الله عنه ، بل هو مخالف له حيث لم ينظر بعين الاعتبار إلى تلك العلة التي لولاها لما كان لعثمان أن يزيد على سنته عليه الصلاة والسلام وسنة الخليفتين من بعده.
متى يشرع الأذان العثماني؟:
فإذن إنما يكون الاقتداء به رضي الله عنه حقا عندما يتحقق السبب الذي من أجله زاد عثمان الأذان الأول وهو "كثرة الناس وتباعد منازلهم عن المسجد" كما تقدم.
Dalil pakai sayyidina
Syubhat:
(حديث ابن عمر: ” أنه كان إذا دعى ليزوج قال: الحمد لله وصلى الله على سيدنا محمد , إن فلانا يخطب إليكم فإن أنكحتموه فالحمد لله وإن رددتموه فسبحان الله ” (2/145) .
* صحيح.
أخرجه البيهقى (7/181)
* صحيح.
أخرجه البيهقى (7/181)
Hadis Ibnu Umar bahwa jika beliau diundang untuk menikahkan, beliau berkata: “Segala puji milik Allah. Rahmat Allah semoga dihaturkan pada JUNJUNGAN kita Muhammad. Sungguh fulan melamar pada kalian. Jika kalian menikahkam maka alhamdulillah. Jika kalian menolak maka subhanallah” (Dikeluarkan oleh al-Baihaqi)
Syaikh Albani: “SAHIH” (Irwa’ al-Ghalil fi Takhrij Manar as-Sabil, 6/221)
Jawaban:sejak kapan ahli bid'ah taqlid kepada syeikh albani.
Kalau ahlussunnah jelas tidak pernah taqlid kepada albani.
Dan beliau syeikh albani telah menjelaskan bahwa di teks aslinya tidak ada kata sayyidina.
Kalau orang itu adil pasti merujuk ke kitab aslinya kalau mau berhujjah dengannya.
(1822) - (حديث ابن عمر: " أنه كان إذا دعى ليزوج قال: الحمد لله وصلى الله على سيدنا محمد , إن فلانا يخطب إليكم فإن أنكحتموه فالحمد لله وإن رددتموه فسبحان الله " (2/145) .
* صحيح.أخرجه البيهقى (7/181) من طريق مالك بن مغول قال: سمعت أبا بكر بن حفص قال: " كان ابن عمر إذا دعى إلى تزويج قال: لا تفضضوا (وفى نسخة: تعضضوا) علينا الناس , الحمد لله , وصلى الله على محمد , إن فلانا خطب إليكم فلانة , إن أنكحتموه ... ".
قلت: وإسناده صحيح , وأبو بكر بن حفص هو عبد الله بن حفص بن عمر
Dalil peringatan haul lemah
Riwayat berikut ini sering dibawakan oleh sebagian orang yang memperingati kematian tokoh agama atau orang shalih secara rutin setiap tahun atau disebut juga dengan ritual haul.
Dikeluarkan oleh Ibnu Syubbah dalamTarikh Al Madinah (350),
قال أبو غسان : حدثني عبد العزيز بن عمران ، عن موسى بن يعقوب الزمعي ، عن عباد بن أبي صالح ، ” أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يأتي قبور الشهداء بأحد على رأس كل حول ، فيقول : سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار (سورة الرعد آية 24) ، قال : وجاءها أبو بكر ، ثم عمر ، ثم عثمان رضي الله عنهم …
“Abu Ghassan menuturkan, Abdul Aziz bin Imran menuturkan kepadaku, dari Musa bin Ya’qub Az Zam’i, dari Abbad bin Abi Shalih, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya mendatangi kuburan para syuhada setiap awal tahun. Kemudian Nabi mengatakan: Assalamu ‘alaikum bimaa shabartum fani’ma ‘uqbad daar (semoga keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian, sungguh bagi kalian sebaik-baik tempat kembali) [QS, Ar Ra’du: 24]. Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu’anhum juga melakukan demikian“.
Riwayat ini munqathi’ atau terputus sanadnya, karena Abbad bin Abi Shalih atau Abbad bin Dzakwan Al Madini ini termasuk tabi’ut tabi’in, murid dari Sa’id bin Jubair. Abbad bin Shalih termasuk perawi thabaqah ke 6 maka tentunya tidak mungkin meriwayatkan hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Bahkan hadits ini mu’dhal karena ada beberapa perawi yang digugurkan dalam sanadnya secara berurutan.
Namun terdapat jalan lain yang bersambung, dikeluarkan Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah (1228),
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ بِبَغْدَادَ , قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ الْقَطَّانُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ الْهَيْثَمِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ الطَّبَّاعِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ عِمْرَانَ ، عَنْ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي الشُّهَدَاءَ ، فَإِذَا أَتَى فُرْضَةَ الشِّعْبِ , يَقُولُ : ” السَّلامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ” ، ثُمَّ كَانَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُهُ ، وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ أَبِي بَكْرٍ يَفْعَلُهُ ، وَكَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ عُمَرَ يَفْعَلُ ذَلِكَ
“Abul Husain bin Al Fadhl Al Qathan di Baghdad mengabarkan kepadaku, ia berkata, Abu Sahl bin Ziyad Al Qathan mengabarkan kepadaku, Abdul Karim bin Al Haitsam menuturkan kepadaku, Muhammad bin Isa bin At Thabba’ menuturkan kepadaku, Ibnu Imranmenuturkan kepadaku, dari Musa bin Ya’qub dari Abbad bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasa mendatangi kuburan para syuhada. Keitka Nabi mendatangi celah antara kuburan beliau mengatakan: Assalamu ‘alaikum bimaa shabartum fani’ma ‘uqbad daar (semoga keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian, sungguh bagi kalian sebaik-baik tempat kembali). Kemudian Abu Bakar radhiallahu’anhu juga melakukan demikian sepeninggal Nabi, Umar radhiallahu’anhu juga melakukan demikian sepeninggal Abu Bakar dan Utsman radhiallahu’anhu juga melakukan demikian sepeninggal Umar“.
Namun riwayat ini sangat lemah karena terdapat Abdul Aziz bin Imran, perawi yang matruk.
- Ibnu Hajar mengatakan: “ia matruk, kitab-kitabnya terbakar lalu ia meriwayatkan hadits dari hafalannya sehingga semakin parah kesalahannya, dan ia pakar dalam bidang nasab”.
- Adz Dzahabi mengatakan: “ulama meninggalkannya”
- Al Bukhari mengatakan: “munkarul hadits, haditsnya tidak ditulis”
- An Nasa’i mengatakan: “matrukul hadits”
- Abu Zur’ah Ar Razi mengatakan: “terlarang mendengarkan hadits darinya, ditinggalkan periwayatan darinya”
Selain itu, dalam riwayat ini tidak ada lafadz على رأس كل حول (pada setiap awal tahun) yang menjadi syahid (alasan inti) dari masalah peringatan kematian tahunan atau haul.
Diriwayatkan dengan jalan lain, dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah (1233),
وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بُطَّةَ , قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْجَهْمِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْفَرَجِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الْوَاقِدِيُّ ، قَالَ : قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهُمْ فِي كُلِّ حَوْلٍ ، وَإِذَا تَفَوَّهَ الشِّعْبَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُولُ : ” سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ” ، ثُمَّ أَبُو بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ ، ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ، ثُمَّ عُثْمَانُ
“Abu Abdillah Al Hafidz mengabarkan kepadaku, ia berkata, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Buthah mengabarkan kepadaku, ia berkata, Al Hasan bin Al Jahm menuturkan kepadaku, ia berkata, Al Husain bin Al Faraj menuturkan kepadaku, ia berkata,Al Waqidi menuturkan kepadaku, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya mendatangi kuburan para syuhada setiap awal tahun. Kemudian Nabi mengatakan: Assalamu ‘alaikum bimaa shabartum fani’ma ‘uqbad daar (semoga keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian, sungguh bagi kalian sebaik-baik tempat kembali) [QS, Ar Ra’du: 24]. Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu’anhum juga melakukan demikian“.
Riwayat ini juga munqathi‘, bahkanmu’dhal. Al Waqidi adalah perawi thabaqah ke-9 yang lahir tahun 130H, tidak mungkin meriwayatkan langsung dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Selain itu Al Waqidi juga perawi yang matruk.
- Imam Al Bukhari mengatakan: “iamatrukul hadits“
- An Nawawi mengatakan: “ia dhaif secara ittifaq (sepakat) diantara para ulama”
- Al Hakim mengatakan: “dzahibul hadits“
- Abu Zur’ah Ar Razi mengatakan: “matrukul hadits”
- Imam Ahmad mengatakan: “ulama meninggalkannya”, beliau juga mengatakan: “ia pendusta”
- Ishaq bin Rahwiyah mengatakan: “menurut saya ia adalah pemalsu hadits”
Juga masalah lainnya, terdapat Al Husain bin Al Faraj yang juga matruk dan Al Hasan bin Al Jahm statusnya majhul hal. Jelaslah dari ini bahwa riwayat ini sangat lemah.
Diriwayatkan dengan jalan lain dalamMushannaf Abdurrazzaq (6545),
عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ ، قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي قُبُورَ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ رَأْسِ الْحَوْلِ ، فَيَقُولُ : ” السَّلامُ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ، فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ ” ، قَالَ : وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ ، وَعُمَرَ ، وَعُثْمَانَ ، يَفْعَلُونَ ذَلِكَ
“Dari seorang lelaki penduduk Madinah, dari Suhail bin Abi Shalih, dariMuhammad bin Ibrahim At Taimi, ia berkata: bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya mendatangi kuburan para syuhada setiap awal tahun. Kemudian Nabi mengatakan: Assalamu ‘alaikum bimaa shabartum fani’ma ‘uqbad daar (semoga keselamatan atas kalian atas kesabaran kalian, sungguh bagi kalian sebaik-baik tempat kembali). Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiallahu’anhum juga melakukan demikian“.
Riwayat ini juga sangat lemah karena:
- Terdapat perawi yang mubham
- Muhammad bin Ibrahim At Taimi adalah seorang tabi’in, yang ia bertemu dengan Sa’ad bin Abi Waqqash. Oleh karena itu riwayat inimursal.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, hadits ini memiliki 4 jalan yang keadaannya:
- Munqathi’ bahkan mu’dhal
- Menyambungkan riwayat 1 yang munqathi’ namun terdapat perawi yang matruk
- Terdapat dua perawi yang matruk
- Mursal
Maka dengan keadaan seperti ini, jalan-jalan yang ada tidak bisa saling menguatkan satu sama lain. Sehingga kesimpulannya hadits inisangat lemah.
Selain itu, andaikan riwayat ini shahih, sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk melegalkan peringatan haul atau semacamnya. Karena:
- Riwayat ini berbicara mengenai ziarah kubur. Disebutkan di sana bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berziarah kubur, beliau tidak membuat acara atau ritual tertentu yang bertujuan memperingati kematian seseorang
- Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berziarah kepada para syuhada secara umum bukan kepada 1 orang syuhada. Berbeda dengan peringatan haul yang khusus ditujukan untuk berziarah atau memperingati kematian satu orang yang dianggap orang shalih.
Maka, orang yang beralasan dengan riwayat ini untuk melegalkan peringatan haul selain berdalil dengan riwayat yang sangat lemah, juga merupakan pendalilan yang terlalu dipaksakan.
Langganan:
Postingan (Atom)