Senin, 10 Maret 2014

KESYIRIKAN DALAM MANAQIB ABDUL QODIR JAELANI

manaqib Syaikh Abdul Qadir yang umum di masyarakat Indonesia yaitu manaqib Lubabul Ma’aniy adalah syirik, sebab dalam manaqib tersebut terdapat nadzoman yang berbunyi :
عباد الله رجال الله آغيثونا لاجل الله # وكونوا عوننا لله ……..الح

artinya : wahai para hamba alloh rijal alloh tolonglah aku karena alloh dan jadilah pertolongan kami karena alloh...
dali mereka ke 1 :

إِذَا ضَلَّ أَحَدُكُمْ شَيْئاً أَوْ أَرَادَ عَوْناً وَهُوَ بِأَرْضٍ لَيْسَ فِيْهَا أَنِيْسٌ فَلْيَقُلْ: يَا عِبَادَ اللهِ أَغِيثُونِي، يَا عِبَادَ اللهِ أَغِيْثُونِي، فَإِنَّ لِلَّهِ عِبَاداً لاَ نَرَاهُمْ

“Jika salah seorang di antara kalian kehilangan sesuatu atau menginginkan pertolongan, sedangkan ia berada di suatu tempat yang tidak ada teman di sana, maka hendaklah dia mengucapkan, ‘Wahai hamba-hamba Allah tolonglah aku, wahai hamba-hamba Allah tolonglah aku’. Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang tidak kita lihat.” (HR Thabrani).
jawab :Al Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Ath Thabrani, dan para perawinya dianggap tsiqah meski sebagiannya memiliki kelemahan, akan tetapi Zaid bin Ali tidak pernah berjumpa dengan ‘Utbah[Lihat: Al Majma’uz Zawa-id 10/133.].

Selain sanad yang terputus tadi, hadits ini memiliki cacat lain karena salah seorang perawinya bernama Abdurrahman bin Syarik. Orang ini dinyatakan oleh Abu Hatim sebagai: ‘Waahil hadiets’ (=haditsnya sangat lemah), sedangkan Ibnu Hibban menyifatinya dengan kata-kata: ‘Rubbama akhtha’ (=terkadang keliru). Kemudian ia meriwayatkan dari ayahnya yang bernama Syarik bin ‘Abdillah Al Qadhi, yang disifati oleh Ibnu Hajar sebagai: ‘Shaduq yukhti’u katsieran, taghayyara hifdhuhu mundhu waliyal qadha’ (=Shaduq, banyak keliru, hafalannya melemah sejak menjabat sebagai Qadhi/hakim). Singkatnya, hadits ini adalah hadits mardud yang tidak boleh dijadikan dalil, apalagi bila menyangkut masalah aqidah seperti ini[ Silsilah Al Ahadiets adh Dha’iefah wal Maudhu’ah 2/109 hadits no 656.] ibnu hajar menyatakan keterputusan sanadnya dalam takhrij al adzkar, kalaupun shohih disitu jelas mahluk yang tidak kelihatan cuma ada dua kemungkinan yaitu jin atau malaikat
sedang dalam hadits yg lain ditegaskan dalam riwayat bazzar adalah malaikat:
"حَدَّثنا موسى بن إسحاق ، قال : حَدَّثنا منجاب بن الحارث ، قال : حَدَّثنا حاتم بن إسماعيل عن أسامة بن زيد عن أَبَان بن صالح عن مجاهدعن ابن عباس ، رَضِي الله عنهما ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إن لله ملائكة في الأرض سوى الحفظة يكتبون ما سقط من ورق الشجر فإذا أصاب أحدكم عرجة بأرض فلاة فليناد : أعينوا عباد الله.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda sesungguhnya Alloh memiliki malaikat di Bumi ini selain malaikat hafadzoh yang mencatat daun-daunan yang rontok, maka tatkala salah satu dari kalian tersesat di gurun, maka panggillah…..tolonglah aku duhai hamba-hamba Alloh.

dalil mereka yang ke 2 :
Di dalam kitab Al Masail Imam Ahmad Bin Hanbal, riwayat dari putranya, Abdulloh Bin Ahmad pada masalah nomor 912 halaman 245 cetakan maktabah Al islami Beirut diterangkan
سمعت أبي يقول حججت خمس حجج منها ثنتين (راكبا) وثلاثة ماشيا او ثنتين ماشيا وثلاثة راكبا فضللت الطربق في حجة وكنت ماشبا فجعلت أقول يا عباد الله دلونا علي الطريق فلم أزل أقول ذلك حتي وقعت علي الطريق

Aku mendengar ayahku (Ahmad Bin Hanbal) berkata, aku pergi haji lima kali, dua kali naik kendaraan dan tiga kali jalan kaki atau dua kali jalan kaki dan tiga kali naik kendaraan, dalam salah satu perjalanan haji aku tersesat sementara aku sedang jalan kaki, maka akupun berkata, Duhai Hamba Alloh, tunjukkanlah aku jalan. Dan aku tidak berhenti mengucapkan hal itu sampai aku menemukan jalan..dan tidak mungkin diartikan rijal ghoib atau ruh orang yg telah mati karena dalam riwayat hadits disebutkan :فإن لله في الأرض حاضراً سيحبسه عليكم" disitu tegas bukan arwah ghoib seperti disangka pengikut hawa nafsu.
silahkan anda cermati..jelas disana imam ahmad memanggil rombongan jamaah haji atau malaikat bukan orang mati.

Tidak ada komentar: