Sabtu, 18 Oktober 2014

BENARKAH IBNU TAIMIYYAH ULAMA PERTAMA YANG MELARANG TAWASSUL ???


terdapat lebih dari satu pendapat para ulama terutama dalam mazhab Hanafi yang melarang hal tersebut.
Al-Allamah Al-Haskafi dalam kitab Ad-Dur Al-Mukhtar, 5/715 berkata, ‘Dalam kitab At-Tatarkhoniyah Ma’ziyyah Al-Muntaqa’, dari Abu Yusuf, dari Abu Hanifah, beliau berkata, ‘Tidak selayaknya seseorang berdoa kepada Allah kecuali dengannya (Nama Allah). Doa yang diizinkan dan diperintahkan dalam masalah ini adalah apa yang berlandaskan firman Allah Ta’ala, "Kepunyaan Allah Nama-nama nan indah, maka berdoalah dengan-Nya." Redaksi yang sama terdapat dalam kitab Al-Muhith Al-Burhani, 5/141.
Al-Allamah Al-Kasani rahimahullah dalam Kitab Badai As-Shanai, 5/126 berkata, ‘Dimakruhkan seseorang mengatakan dalam doanya, ‘Saya memohon kepada-Mu dengan haknya para Nabi-Mu dan para Rasul-Mu dan dengan haknya si fulan. Karena tidak hak seorang pun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Agung urusan-Nya."
Dengan redaksi yang sama terdapat dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, karangan Az-Zaila’i, 6/31, pendapat tersebut dinisbatkan kepada tiga orang, yakni Abu Hanifah dan kedua temannya, yakni Yusuf dan Muhammad bin Hasan. Al-Inayah Syarhu Al-Hidayah karangan Al-Baharti, 10/64. Fathul Qadir karangan Ibnu Humam, 10/64, dan Duror Al-Hukkam, 1/321, Majma Al-Anhar Syarh Multaqa Al-Abhar, 2554.
Sayyid Nukman Khoirudin Al-Alusi Al-Hanafi rahimahullah dalam kitab Jalaul Ainain, 516-517 berkata, "Dalam semua redaksi mereka dinyatakan bahwa perkataan orang yang bertawasul, ‘Dengan hak para Nabi dan para wali, dan dengan hak Baitul Haram dan Masy’aril haram dimakruhkan ke arah yang diharamkan. Pengharaman ini seperti hukum (orang yang bertawasul) dengan api menurut Muhammad. Dan sebabnya adalah karena tidak ada hak untuk makhluk kepada khalik.’
Silahkan lihat apa yang dinukil oleh Sayid Nu'man dari Allamah As-Suwaidy As-Syafi’i, Jalaul Ainain, 505 dan setelahnya.

SYAIKH UTSAIMIN YG KONTRADIKTIF ATAU IDRUS RAMLI YG PENGKHIANAT ?


DIA IDRUS MENUDUH : al-Utsaimin yang begitu muluk-muluk dalam risalah kecil tentang bid’ah yang ditulisnya berjudul al-Ibda’ fi Kamal Syar’i wa Khathar al-Ibtida’ , berikut ini:
قَوْلُهُ (كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ) كُلِّيَّةٌ، عَامَّةٌ، شَامِلَةٌ، مُسَوَّرَةٌ بِأَقْوَى أَدَوَاتِ الشُّمُوْلِ وَالْعُمُوْمِ (كُلٌّ)، أَفَبَعْدَ هَذِهِ الْكُلِّيَّةِ يَصِحُّ أَنْ نُقَسِّمَ الْبِدْعَةَ إِلَى أَقْسَامٍ ثَلاَثَةٍ، أَوْ إِلَى أَقْسَامٍ خَمْسَةٍ؟ أَبَدًا هَذَا لاَ يَصِحُّ. (محمد بن صالح العثيمين، الإِبْدَاع في كَمَال الشَّرْع وخَطَرِ الابتداع، ص/13).
“Hadits semua bid’ah adalah sesat, bersifat global, umum, menyeluruh (tanpa terkecuali) dan dipagari dengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang paling kuat yaitu kata-kata (seluruh)”. Apakah setelah ketetapan menyeluruh ini, kita dibenarkan membagi bid’ah menjadi tiga bagian, atau menjadi lima bagian? Selamanya, ini tidak akan pernah benar.” (Muhammad bin Shalih Utsaimin dalam al-Ibda’ fi Kamal al-Syar’i wa Khathar al-Ibtida’, hal. 13).
Dalam kitabnya yang lain Syeh al ‘Utsaimin berkata :
اَنَّ مِثْلَ هَذَا التَّعْبِيْرِ (كُلُّ شَيْئٍ) عَامٌّ قَدْ يُرَادُ بِهِ الْخَاصُّ, مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى عَنْ مَلَكَةِ سَبَأٍ : (وَأُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْئٍ) وَقَدْ خَرَجَ شَيْئٌ كَثِيْرٌ لَمْ يَدْخُلْ فِي مُلْكِهَا مِنْهُ شَيْئٌ مِثْلُ مُلْكِ سُلَيْمَانَ.
Sesungguhnya redaksi seperti ini “Kullu Syaiin” (segala sesuatau) adalah kalimat general yang terkadang dimaksudkan pada makna terbatas, seperti firman Alloh tentang ratu Saba’; “Ia dikaruniai segala sesuatu”. (QS, An Naml: 23). Sedangkan banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalam kekuasaannya, seperti kerajaan Nabi Sulaiman. (Syeh al ‘Utsaimin, Syarah al Aqidah al Wasithiyyah, hal 336)
JAWAB : INI KARENA 2 HAL YAITU KETIDAKILMIAHAN (KHIANAT) IDRUS DAN KEBODOHANNYA
1) khianat ilmiah karena syeikh utsaimin tidak ngomong seperti itu,banyak potongan2nya,redaksi aslinya : قوله «كل بدعة» كلية عامة شاملة مسورة بأقوى أدوات الشمول والعموم «كل» والذي نطق بهذه الكلية صلوات الله وسلامه عليه يعلم مدلول هذا اللفظ وهو أفصح الخلق، وأنصح الخلق للخلق لا يتلفظ إلا بشيء يقصد معناه. إذن فالنبي صلى الله عليه وسلّم حينما قال: «كل بدعة ضلالة» كان يدري ما يقول، وكان يدري معنى ما يقول، وقد صدر هذا القول منه عن كمال نصح للأمة.
وإذا تم في الكلام هذه الأمور الثلاثة ـ كمال النصح، والإرادة، وكمال البيان والفصاحة وكمال العلم والمعرفة، دل ذلك على أن الكلام يراد به ما يدل عليه من المعنى أفبعد هذه الكلمة يصح أن نقسم البدعة إلى أقسام ثلاثة، أو إلى أقسام خمسة؟ أبداً هذا لا يصح
perhatikan berapa kalimat yg disunatnya,disitu syeikh memberi 3 syarat agar tetap dalam keumumannya.
2) kebodohan idrus sendiri karena para ulama telah membuat rambu2 yg jelas,
"العامُّ الذي يُراد به الخُصوص هو العامُّ الذي صاحبتْه حين النطق به قرينةٌ دالة على أنه مرادٌ به الخصوص لا العموم، مثل خِطابات التكليف العامَّة، فالمراد بالعام فيها خصوصُ مَن هم أهلٌ للتكليف؛ لاقتضاءِ العقل إخراجَ مَن ليسوا مكلَّفين، ومثل: ﴿ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا ﴾ [الأحقاف: 25]، فالمرادُ كل شيء ممَّا يقبل التدمير.
[kitab irsyadul fuhul].
'am yg dikehendaki khususyaitu 'am yg dibarengi indikasi takhsis SAAT pengucapannya tidak umum,seperti pernyataan pembebanan secara umum,maka maksudnya hanya bagi yg di jadikan obyek suatu beban atau pekerjaan saja,karena akal menuntut mengeluarkan yg bukan seharusnya terbebani.seperti dalam ayat ﴿ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا ﴾ maksudnya yg dapat menerima pnghancuran saja.

TERCELANYA GADIS TOMBOY


Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Ifta ditanya : Bolehkah wanita mengenakan celana panjang sebagaimana pria ?
Jawaban
Tidak diperbolehkan bagi wanita untuk mengenakan pakaian sempit yang menampakkan bentuk tubuhnya karena itu akan menjadikan penyebab fitnah. Biasanya celana itu sempit dan menampakkan bentuk tubuh, disamping mengenakannya berarti telah menyerupai pria dalam berpakaian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda telah melaknat para wanita yang menyerupai pria.
[Majalatul Buhuts Al-Islamiyah]
[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq]

ISBAL CELANA BENCONG

Orang yang isbal berarti mereka telah menyerupai wanita dalam berpakaian, dan hal itu terlarang secara tegas, berdasarkan hadits.
Dari Ibnu Abbas ia berkata ; “Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” [Hadits Riwayat Bukhari 5885, Abu Dawud 4097, Tirmidzi 2785, Ibnu Majah 1904]
Imam At-Thobari berkata : “Maknanya tidak boleh bagi laki-laki menyerupai wanita di dalam berpakaian dan perhiasan yang menjadi kekhususan mereka, demikian pula sebaliknya” [Fathul Bari II/521]
Dari Khorsyah bin Hirr berkata : “Aku melihat Umar bin Khaththab, kemudian ada seorang pemuda yang melabuhkan sarungnya lewat di hadapannya. Maka Umar menegurnya seraya berkata : “Apakah kamu orang yang haidh?” pemuda tersebut menjawab : “Wahai amirul mukminin apakah laki-laki itu mengalami haidh?” Umar menjawab ; “Lantas mengapa engkau melabuhkan sarungmu melewati mata kaki?” kemudian Umar minta diambilkan guting lalu memotong bagian sarung yang melebihi kedua mata kakinya”. Kharsyah berkata : “Seakan-akan aku melihat benang-benang di ujung sarung itu” [Hadits Riwayat Ibnu Syaibah 8/393 dengan sanad yang shohih, lihat Al-Isbal Lighoiril Khuyala, hal. 18]

Minggu, 05 Oktober 2014

SYUBHAT ZIARAH KUBUR TIAP JUM'AT ALA IDRUS RAMLI


1) Al-Haakim rahimahullah berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو حُمَيْدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَامِدٍ الْعَدْلُ بِالطَّابرَانِ، ثنا تَمِيمُ بْنُ مُحَمَّدٍ، ثنا أَبُو مُصْعَبٍ الزُّهْرِيُّ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي فُدَيْكٍ، أَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَزُورُ قَبْرَ عَمِّهَا حَمْزَةَ كُلَّ جُمُعَةٍ فَتُصَلِّي وَتَبْكِي عِنْدَهُ.
Telah menceritakan kepada kami Abu Humaid Ahmad bin Muhammad bin Haamid Al-‘Adl di Thabraan : Telah menceritakan kepada kami Abu Mush’ab Az-Zuhriy : Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ismaa’iil bin Abi Fudaik : Telah mengkhabarkan kepadaku Sulaimaan bin Daawud, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Aliy bin Al-Husain, dari ayahnya : “Bahwasannya Faathimah bintu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berziarah ke kubur pamannya, yaitu Hamzah, setiap hari Jum’at, melakukan shalat, dan menangis di sisinya” [Al-Mustadrak, 1/377].
KITA JAWAB : Dalam sanadnya terdapat idlthiraab:Kadang Sulaimaan bin Daawud[Sulaimaan bin Daawud bin Qais Al-Farraa’ Al-Madaniy. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Al-Azdiy mengatakan ia seorang yang diperbincangkan. Abu Haatim mengatakan bahwa ia tidak memahami sebagaimana mestinya [Lisaanul-Miizaan, 4/149 no. 3605].] meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Aliy bin Al-Husain, dari ayahnya (Al-Husain bin ‘Aliy). Kadang ia (Sulaimaan) meriwayatkan dari ayahnya, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Aliy bin Al-Husain, dari ayahnya (Al-Husain bin ‘Aliy). Dan kadang ia meriwayatkan dari ayahnya, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya secara mursal.
selain itu imam baihaqi mencacatnya dengan keterutusan sanad antara ali ibn husain dengan fatimah,dan pendapat itu dikuatkan oleh imam as-shon'ani.lihat as-sunan al kubro(4/78) subulussalam (2/115)
2) Ada jalan riwayat lain yang mursal via Ja’far bin Muhammad sebagai berikut:
عَنِ ابْنِ عُيَيْنَةَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: " كَانَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُ قَبْرَ حَمْزَةَ كُلَّ جُمُعَةٍ "
Dari Ibnu ‘Uyainah, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, ia berkata : “Faathimah bintu Rasulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa menziarahi kubur Hamzah setiap hari Jum’at” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq dalam Al-Mushannaf, 3/572 no. 6713].
Maka terlihat di sini yang mahfuudh adalah riwayat mursal.
Adz-Dzahabiy rahimahullah mengomentari riwayat yang dibawakan Al-Haakim di atas :
هذا منكر جدا وسليمان ضعيف
“Riwayat ini sangat munkar, dan Sulaimaan seorang yang dla’iif” [1/377].
Di lain tempat ia mengatakan:
سليمان مدني تكلم فيه
“Sulaimaan, madaniy (orang Madiinah), seorang yang diperbincangkan” [3/28].
Oleh karena itu, status riwayat ini adalah dla’iif karena mursal, bahkan munkar sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabiy rahimahullah

SYUBHAT Hadits Ziarah Tahunan ALIAS HAUL



عن محمد بن إبراهيم قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يأتي قبور الشهداء على رأس كل حول فيقول:"السلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار"، وأبو بكر وعمر وعثمان
“Muhammad bin Ibrahim berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendatangi makam para syuhada’ setiap tahun, lalu berkata: “Salam sejahtera semoga buat kalian sebab kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Hal ini juga dilakukan oleh Abu Bakar, Umar dan Utsman. (HR. al-Thabari dalam Tafsir-nya [20345], dan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya juz 4 hlm 453).
HADITS DHO'IF/LEMAH.karena mursal alias Muhammad bin Ibrahim tidak bertemu nabi dan didalam sanadnya ada mutsanna dia majhul hal.

BID'AH SEPUTAR KHOTBAH 'ID


ada sebagian orang awam/ikhwan yang masih terbawa kebiasaan dulu sebelum masuk salaf, apalagi jadi DKM sering kita lihat mereka sebelum sholat id/jum'at mereka mengumumkan pengumuman2 dg salam dan pembukaan/muqoddimah dahulu,lalu di tutup dg salam.maka semacam namanya juga khotbah berarti khotbahnya dua kali.ini yang banyak kita terlena.
pengumuman cukup ditempel saja.semoga lebih berhati2 meniti jalan sunnah nabi saja. itu juga pernah disampaikan ust abdul hakim amir abdat dalam kajian sifat sholat jum'at nabi

Jumat, 03 Oktober 2014

SYUBHAT PUASA AROFAH HARUS 9 DZULHIJJAH


1) NABI PUASA AROFAH 9 DZULHIJJAH SEBELUM ADA WUKUF/ HAJI
kita jawab : PENDALILAN YANG LUCU ?
puasa arofah tgl 9 dzulhijjah karena puasa arofah sudah ada sebelum haji???
ya iyalah,kalo blum ada haji belum ada wukuf.kalaupun nabi dulu puasa tgl 9  karena cuma itu patokan yg ada.
tapi pertanyaannya setelah ada wukuf gmn,itu faktanya
Berdasarkan kaedah:
الحكم يدور مع علته وجودا و عدما
“Al-Hukmu Yaduru Ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman.”
“Berlaku tidaknya hokum tergantung dari ada atau tidaknya illat (sebab) diberlakukannya hukum itu berlaku bersama illat (sebab) nya.”
MEREKA BERDALIL :
Dalam sunan Abu Dawud :
عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنِ امْرَأَتِهِ عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.
Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata : "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada 9 Dzulhijjah, hari 'Aasyuroo' (10 Muharraom) dan tiga hari setiap bulan" (HR Abu Dawud no 2439 dan dishahihkan oleh Al-Albani, namun hadits ini diperselihkan akan keshahihannya)
KITA KATAKAN : anda kurang teliti mengartikan تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ
artinya bukan hari ke-9 tapi sembilan hari
2) berdalil dg perkataan ulama'
Al-Khirosyi berkata :
(قَوْلُهُ : وَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ) هَذِهِ الْمَوَاسِمُ الْمُشَارُ بِقَوْلِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَوَاسِمِ ، وَعَاشُورَاءُ وَنِصْفُ شَعْبَانَ مَوْسِمٌ مِنْ حَيْثُ الصَّوْمُ وَغَيْرُهُ مِمَّا يُطْلَبُ فِيهِ، وَالْمَوَاسِمُ جَمْعُ مَوْسِمٍ الزَّمَنُ الْمُتَعَلِّقُ بِهِ الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ وَلَمْ يُرِدْ بِعَرَفَةَ مَوْضِعَ الْوُقُوفِ بَلْ أَرَادَ بِهِ زَمَنَهُ وَهُوَ الْيَوْمُ التَّاسِعُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ
“Hari Arafah dan Asyura -sebagaimana yang disebutkan- adalah salah satu dari musim-musim ibadah. Jika ditinjau dari sisi puasa maka Hari Asyura’ dan Nisfu Sya’ban dan yang lainnya adalah musim ibadah yang dituntut untuk berpuasa pada musim tersebut. Musim adalah waktu yang terkait dengan suatu hukum syariat. Bukanlah yang dimaksud dengan lafal "Arofah" adalah tempat wukuf, akan tetapi yang dimaksud adalah waktunya, yaitu waktu wukufnya yaitu 9 Dzulhijjah" (Syarh Mukhtashor Al-Kholil)
KITA JAWAB :
apakah benar hari 'Arafah itu tanggal 9 secara mutlak ? Bukankah jika jama'ah haji wuquf karena keliru pada tanggal 10 atau 8 Dzulhijjah, maka wuqufnya adalah sah ? Selain itu, telah banyak penjelasan ulama (semisal An-Nawawiy dan yang lainnya) bahwa hari 'Arafah itu bukan hari kesembilan pada bulan Dzulhijjah secara mutlak.COBA PERHATIKAN:
1.puasa ‘Arafah disunnahkan hanya bagi mereka yang tidak melaksanakan wuquf di ‘Arafah. Ini mengandung pengertian bahwa puasa ‘Arafah ini terkait dengan pelaksanaan ibadah haji/wuquf. Jika para hujjaj telah wuquf, maka pada waktu itulah disyari’atkannya melaksanakan puasa ‘Arafah bagi mereka yang tidak melaksanakan haji.
2. Dalam nash-nash tidak pernah disebutkan puasa di hari kesembilan, namun hanya disebutkan puasa ‘Arafah. Berbeda halnya dengan puasa ‘Aasyuura yang disebutkan tanggalnya secara spesifik :
عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما يقول: حين صام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عاشوراء وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول الله ! إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "فإذا كان العام المقبل إن شاء الله، صمنا اليوم التاسع. قال: فلم يأت العام المقبل، حتى توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ;anhumaa, ia berkata : “Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berpuasa di hari ‘Aasyuuraa dan memerintahkannya, para shahabat berkata : ‘Sesungguhnya ia adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani’. Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Tahun depan, insya Allah, kita akan berpuasa di hari kesembilan”. Ibnu ‘Abbas berkata : “Sebelum tiba tahun depan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah wafat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1134].
عن ابن عباس يقول في يوم عاشوراء خالفوا اليهود وصوموا التاسع والعاشر
Dari Ibnu ‘Abbaas ia berkata tentang (puasa) hari ‘Aasyuuraa’ : “Selisihilah orang-orang Yahudi dan berpuasalah di hari kesembilan dan kesepuluh” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 7839 dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 4/287; shahih].
Adapun perintah berpuasa ‘Arafah adalah :
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ، وَ السَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ
“Puasa pada hari ‘Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dengannya) dosa-dosa pada tahun lalu dan tahun yang akan datang”
Jadi jelas perbedaannya bahwa puasa ‘Arafah tidak tergantung pada urutan hari dalam bulan Dzulhijjah, namun pada pelaksanaan wuquf di ‘Arafah.
3. فطركم يوم تفطرون وأضحاكم يوم تضحون وعرفة يوم تعرفون
“Berbuka kalian adalah di hari kalian berbuka, penyembelihan kalian adalah di hari kalian menyembelih, dan ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/230 dan Al-Baihaqiy 5/176; shahih dari ‘Athaa’ secara mursal. Lihat Shahiihul-Jaami’ no. 4224].
يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام وهي أيام أكل وشرب
“Hari ‘Arafah, hari penyembelihan (‘Iedul-Adlhaa), dan hari-hari tasyriiq adalah hari raya kita orang-orang Islam. Ia adalah hari-hari makan dan minum” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 2419 dan At-Tirmidziy no. 773; shahih].
Makna ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah’ adalah mengikuti dan menyesuaiakan pelaksanakaan hari menyembelih dan pelaksanaan wuquf orang-orang yang melaksanakan haji di Makkah.
An-Nawawiy rahimahullah berkata :
قَال أَصْحَابُنَا: وَليْسَ يَوْمُ الفِطْرِ أَوَّل شَوَّالٍ مُطْلقًا وَإِنَّمَا هُوَ اليَوْمُ الذِي يُفْطِرُ فِيهِ النَّاسُ بِدَليل الحَدِيثِ السَّابِقِ، وَكَذَلكَ يَوْمَ النَّحْرِ، وَكَذَا يَوْمَ عَرَفَةَ هُوَ اليَوْمُ الذِي يَظْهَرُ للنَّاسِ أَنَّهُ يَوْمَ عَرَفَةَ، سَوَاءٌ كَانَ التَّاسِعَ أَوْ العَاشِرَ قَال الشَّافِعِيُّ فِي الأُمِّ عَقِبَ هَذَا الحَدِيثِ: فَبِهَذَا نَأْخُذُ
“Telah berkata shahabat-shahabat kami (fuqahaa’ Syafi’iyyah) : Tidaklah hari berbuka (‘Iedul-Fithri) itu (mempunyai pengertian) hari pertama bulan Syawal secara muthlaq. Ia adalah hari dimana orang-orang berbuka padanya dengan dalil hadits sebelumnya (yaitu : ‘Berbuka kalian di hari kalian berbuka’). Begitu pula dengan hari penyembelihan (Yaumun-Nahr/’Iedul-Adlhaa). Begitu pula dengan hari ‘Arafah, ia adalah hari yang nampak bagi orang-orang bahwasannya hari itu adalah hari ‘Arafah. Sama saja apakah itu hari kesembilan atau hari kesepuluh. Asy-Syaafi’iy berkata dalam Al-Umm saat berkomentar tentang hadits ini : Maka dengan inilah kami berpendapat…..” [Al-Majmu’’, 5/26].
Hari yang nampak sebagai hari ‘Arafah adalah hari ketika orang-orang yang melaksanakan ibdah haji wuquf di ‘Arafah.
kalo cuma asal ikut ulama' agama niscaya dibuat main-main
3) MEREKA BERDALIL AKAL(kalo tidak mau dibilang akal2an)
Jika penduduk Sorong harus berpuasa pada hari yang sama -misalnya- maka jika ia berpuasa sejak pagi hari (misalnya jam 6 pagi WIT) maka di Mekah belum wukuf tatkala itu, bahkan masih jam 12 malam. Dan tatkala penduduk Mekah baru mulai wukuf -misalnya jam 12 siang waktu Mekah-, maka di Sorong sudah jam 6 maghrib?. Lantas bagaimana bisa ikut serta menyesuaikan puasanya dengan waktu wukuf??
KITA JAWAB : yang harus sesuai itu bukan waktu mulai wukufnya tapi hari wukufnya(jum'at misalkan),mungkin hari wukuf diarofah kita dapati walau satu jam atau sesaat.sangat mungkin sekali.
sekarang kita balik bertanya :
Adakah nukilan salaf (terutama generasi awal Islam) yang menyatakan bahwa negeri Syaam, Yaman, 'Iraaq, ataupun Mesir berbeda pelaksanaan 'Arafahnya dengan Makkah ? Saya harap antum tidak memakai dalil Ibnu 'Abbaas dalam masalah Syawal.

pendapat kami ini adalah pendapat jumhur mayoritas ulama sekarang, seperti Syaikh Bin Baaz rahimahullah, Al-Lajnah Ad-Daaimah, dan Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad Al-Badr hafizohullah
[Fatwa dari Asy-Syaikh Al-‘Ubailaan hafidhahullah - http://kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=97989].
[Fatwa dari Asy-Syaikh Dr. Muhammad Al-Maghrawiy hafidhahullah - http://www.darcoran.org/?taraf=fatawi&file=displayfatawi&id=119]
4) MEREKA BERDALIL MEMAKAI QIYAS :
mengapakah dikhususkan Arafah kepada penduduk Mekah. Begitu juga untuk ibadah2 lain didalam hadith"فطركم يوم تفطرون وأضحاكم يوم تضحون وعرفة يوم تعرفون
“Berbuka kalian adalah di hari kalian berbuka, penyembelihan kalian adalah di hari kalian menyembelih, dan ‘Arafah kalian adalah di hari kalian melakukan wuquf di ‘Arafah” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaafi’iy dalam Al-Umm 1/230 dan Al-Baihaqiy 5/176; shahih dari ‘Athaa’ secara mursal. Lihat Shahiihul-Jaami’ no. 4224]."? Ini adalah tafreeq ( membeza2kan ) dengan tanpa dalil. Jika penulis ingin mentafsirkan " kamu " dengan ahli Mekah semua ibadah bersamanya mesti ditafsirkan begitu.
KITA JAWAB : YA IYALAH KARENA WUKUF CUMA ADA DAN HANYA BOLEH DILAKUKAN DISONO,BEDA DENGAN ID
ust abdul hakim amir abdat berkata :qiyas yang mereka gunakan merupakan qiyas yang berbeda dengan apa yang di qiyaskan atau qiyas faariq. Tidak dapat disamakan hukumnya antara Ramadhan dan ‘Iedul Fithri tanggal satu Syawwal dengan puasa hari Arafah dan ‘Iedul Adha. Maka sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam , “Puasalah karena melihat ru’yah (Ramadhan), dan berbukalah ketika melihat ru’yah (Syawwal)”. Jelas sekali untuk puasa di bulan Ramadhan dan ‘Iedul Fithri, bahwa masing-masing negeri atau negeri-negeri yang saling berdekatan mempunyai ru’yah masing-masing menurut pendapat sebagian ulama sebagaimana saya telah jelaskan dengan luas di Al-Masaa-il jilid 2 masalah ke 39.
 
Diantara para ulama  yg berpendapat bahwa puasa arofah harus ikut saudi dan lebaran ikut pemerintah setempat karena Rasulullah bersabda,
الأضحى يوم يضحي الناس
Hari Raya Iedul Adha adalah hari dimana para manusia menyembelih kurban".
Diantaranya Prof. Dr. Sa'ad Al-Khotslaan hafizohulloh (anggota kibarul ulama Arab Saudi), sehingga beliau berpendapat bagi negara yg 10 dzul hijjahnya jatuh pada hari ahad -seperti indonesia- maka puasa arofah hari jumat (ikut saudi) dan lebaran hari ahad (ikut pemerintah) sebagaimana beliau sebarkan di twitter beliau.
Pendapat seperti ini juga merupakan fatwa Syaikh Dr. Anis Thohir al-Andunisi (Pengajar di Masjid Nabawi dan Universitas Islam Madinah)

Selasa, 23 September 2014

hinanya penyayi


قال "أبو الفرج بن الجوزي رحمه الله": (وقد قال القفال من أصحابنا: لا تقبل شهادة المغني والرقاص)
berkata abul faraj ibnul jauzi :telah berkata teman kami qoffal :tidak diterima persaksian penyayi dan penari

Senin, 15 September 2014

imam nawawi : musik suara syetan



An-Nawawi berkata tentang makna ‘suara setan’:

قال النووي في الخلاصة المراد به الغناء والمزامير

“Yang dimaksud adalah nyanyian dan seruling.” (Tuhfatul Ahwadzi, 4/75)

Minggu, 14 September 2014

syubhat ramainya kuburan ulama'/walisongo


Imam Ibnu al-Jazari mengatakan :
وَقَبْرُهُ (عَبْدُ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) بِهَيْتٍ مَعْرُوْفٌ يُزَارُ زُرْتُهُ وَتَبَرِّكْتُ بِهِ
“Makam Abdullah bin Mubarak di Hait sudah dikenal dan diziarahi. Saya menziarahinya dan saya bertabarruk dengannya ”[Ghayat an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ : 1/198]
Beliau juga mengatakan :
وَدُفِنَ (قَاسِمُ بْنُ فَيْرَهْ) بِالْقَرَافَةِ بَيْنَ مِصْرَ وَالْقَاهِرَةِ بِمَقْبَرَةِ الْقَاضِي الْفَاضِلِ عَبْدِ الرَّحِيْمِ الْبَيْسَانِي وَقَبْرُهُ مَشْهُوْرٌ مَعْرُوْفٌ يُقصَدُ لِلزِّيَارَةِ وَقَدْ زُرْتُهُ مَرَّاتٍ وَعَرَضَ عَلَيَّ بَعْضُ أَصْحَابِي الشَّاطِبِيَّةِ عِنْدَ قَبْرِهِ وَرَأَيْتُ بَرَكَةَ الدُّعَاءِ عِنْدَ قَبْرِهِ بِالإجَابَةِ رَحِمَهُ اللهُ وَرَضِيَ عَنْهُ
“Qasim bin Fairah dimakamkan di Qarafah, antara Mesir dan Kairo di makam Qadli al-Fadlil Abdurrahim al-Baisani. Makamnya menjadi tujuan ziarah dan saya sudah berziarah berkali-kali. Sebagian pengikut Syatibiyah memperlihatkan kepada saya di dekat makamnya dan saya melihat berkah doa di makam itu terkabul”[Ghayat an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ : 1/1285]
Ibnul Jauzi al-Hanbali mengatakan :
أحمد القزويني كان من الأولياء المحدثين، توفي في رمضان هذه السنة فشهده أمم لا تحصى، وقبره ظاهر يتبرك به في الطريق إلى معروف الكرخي
“Ahmad al-Quzwaini adalah sebagian dari wali yang ahli hadis. Meninggal di bulan Ramadlan, disaksikan oleh umat yang tak terhingga. Makamnya tampak nyata dan dicari berkahnya, di jalan menuju makam Ma’ruf al-Karakhi”[al-Muntadzam : 5/73]
Imam Asy-Syakhawi mengatakan :
عبد الملك بن عبد الحق بن هاشم الحربي المغربي كان صالحاً معتقداً يذكر أن أصله من الينبوع وأنه شريف حسني وقد ولي بمكة مشيخة رباط السيد حسن بن عجلان ومات بها في ليلة السبت ثامن شعبان سنة خمس وأربعين وبنى على رأس قبره نصب بل حوط نعشه وهو مما يزار ويتبرك به
“Abdul Malik bin Abdulhaq orang yang shaleh dan memiliki keyakinan. Ia berasal dari Yanbu’ dan ia adalah syarif dari keturunan Hasan, ia meninggal di Makkah pada tahun 40 H. Makamnya dibangun disisi kepada dan dikelilingi bangunan. ia termasuk yang diziarahi dan dicari berkahnya”[adl-Dlau’ al-Lami’ : 2/470]
Adz-Dzahabi juga mengatakan :
علي بن حُميد بن علي بن محمد بن حُميد بن خالد. أبو الحسن الذُّهلي، إمام جامع همذان ورُكن السنة بها. وتوفي في ثاني عشر جمادى الأولى، وقبره يزار ويُتبرك به
“Ali bin Humaid bin Ali bin Muhammad bin Humaid bin Khalid, Abu Hasan ad-Dahli, Imam di masjid Jami’ Hamdzan dan penopang sunah disana. Wafat pada 12 Jumada al-Ula. Makamnya diziarahi dan dicari berkahnya”[Tarikh al-Islam : 7/182]
Ibnu Hibban bercerita :
وَقَبْرُهُ بِسَنَا بَاذٍ خَارِجَ النَّوْقَانِ مَشْهُوْرٌ يُزَارُ بِجَنْبِ قَبْرِ الرَّشِيْدِ قَدْ زُرْتُهُ مِرَارًا كَثِيْرَةً وَمَا حَلَّتْ بِي شِدَّةٌ فِي وَقْتِ مَقَامِي بِطُوْسٍ فَزُرْتُ قَبْرَ عَلِى بْنِ مُوْسَى الرِّضَا صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى جَدِّهِ وَعَلَيْهِ وَدَعَوْتُ اللهَ إِزَالَتَهَا عَنَىَّ إلاَّ اسْتُجِيْبَ لِي وَزَالَتْ عَنِّى تِلْكَ الشِّدَّةُ وَهَذَا شَئٌ جَرَّبْتُهُ مِرَارًا فَوَجَدْتُهُ كَذَلِكَ أَمَاتَنَا اللهُ عَلَى مَحَبَّةِ الْمُصْطَفَى وَأَهْلِ بَيْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَيْهِمْ أجْمَعِيْنَ
“Makam Ali bin Musa di Sanabadz sebelah luar Nauqan sudah masyhur dan diziarahi di dekat makam ar-Rasyid. Saya sudah sering berkali-kali. Saya tidak mengalami kesulitan ketika saya berada di Thus kemudian saya berziarah ke makam Ali bin Musa, semoga Salawat dari Allah dihaturkan kepada kakeknya (Nabi Muhammad) dan saya berdoa kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan tersebut, kecuali dikabulkan untuk saya dan kesulitan itu pun lenyap dari saya. Ini saya alami berkali-kali, dan saya temukan seperti itu. Semoga Allah mematikan kita untuk cinta kepada Nabi dan keluarganya ”[ats-Tsiqat, Ibnu Hibban : 8/457]

BANTAHAN :
betapa lemahnya pendalilan pecinta mayit seperti jaring laba-laba
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-Ankabut: 41)
karena awam yang baru belajar tauhid pun tahu kalau kuburan atau temat yang banyak di ngalab berkahnya itu bukan hujjah atau bukan bukti kebenarannya,apalagi kalau sang penghuni belum tentu ridho,belum tentu senang di alab berkah kuburnya.
sekarang tunjukkan mana perkataan para ulama penghuni kubur itu yg menyuruh mereka ngalab berkah setelah mereka dikubur!!.bahkan walisongo sekalipun tidak pernah berwasiat supaya kuburnya dialab berkahnya.
kecuali ulama' shufi,gak usah ditanya memang sudah tradisi mereka begitu

Ibnul Hâj, seorang tokoh Sufi menjelaskan mekanisme ziarah kubur versi mereka yang jelas-jelas bertentangan dengan risâlah yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . As-Sya'râni memasukkan nama Ibnul Hâj dalam kitab Thabaqât Shûfiyah al-Kubra dalam al-Madkhal, "(Saat berziarah kubur) hendaknya peziarah mendoakan mayit, juga berdoa di sisi kubur saat muncul persoalan sulit yang menimpa dirinya atau kaum Muslimin. Jika penghuni kubur termasuk orang yang diharapkan keberkahannya, maka peziarah bertawassul kepada Allah Azza wa Jalla dengannya….kemudian bertawasul dengan para penghuni kubur dari kalangan orang-orang shaleh dari mereka untuk menyelesaikan persoalan-persoalannya dan mengampuni dosa-dosanya. Lantas baru berdoa bagi kebaikan dirinya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, kaum kerabat dan keluarga penghuni kubur dan seluruh kaum Muslimin dan seterusnya
Ia meneruskan: "Siapa saja ada keperluan, hendaknya mendatangi mereka dan bertawasul dengan mereka. Sebab mereka adalah perantara antara Allah Azza wa Jalla dan makhluk-Nya.Tentang ziarah kubur para Nabi, ia mengatakan: "Jika peziarah datang mengunjungi mereka, hendaknya bersikap menghinakan diri, merasa membutuhkan, dan menundukkan diri, mengkonsentrasikan hati dan pikirannya kepada mereka dan membayangkan sedang melihat mereka dengan mata hatinya…. memohon kepada mereka, meminta kepada mereka penyelesaian persoalan (yang sedang dihadapi) dan meyakini akan dikabulkan karena keberkahan mereka dan optimis di dalamnya. Sebab mereka adalah pintu Allah Azza wa Jalla yang terbuka. Dan telah menjadi hukum Allah Azza wa Jalla , masalah-masalah tertuntaskan melalui tangan-tangan mereka. Siapa saja yang tidak bisa mengunjungi kuburan mereka, hendaknya mengirimkan salam kepada mereka sambil menyebutkan kepentingannya, permohonan ampun dan penutupan kesalahannya dll…".
"Secara khusus bagi peziarah yang mengunjungi kubur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia harus lebih menghinakan diri dan merasa butuh kepadanya. Karena beliau pemberi syafaat yang sudah memperoleh idzin. Syafaat beliau tidak tertolak. Dan orang yang mendatangi beliau dan meminta tolong kepadanya tidak kembali dengan tangan hampa. Siapa saja yang bertawassul kepadanya, atau mengharapkan beliau menyelesaikan masalah-masalahnya pasti tidak tertolak dan akan sukses". [al-Madkhal hal. 254-258]
Dari keterangan Ibnul Hâj di atas, tampak betapa jauh perbedaan tujuan ziarah kubur yang disyariatkan. Mengenai perkataan Ibnul Hâj berkait tata cara ziarah kubur para nabi yang berbunyi "Jika peziarah datang mengunjungi mereka, hendaknya bersikap menghinakan diri…", Syaikh Ahmad an-Najmi berkomentar: "Ini adalah syirik besar yang menyebabkan pelakunya abadi di neraka. Saya tidak tahu kemana akal mereka di hadapan ayat-ayat al-Qur`ân dan hadits-hadits yang menyatakan kebatilan dan rusaknya keyakinan tersebut serta perbedaannya yang jauh dengan ajaran Islam dan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya bersikap menghinakan diri, merasa membutuhkan, dan menundukkan diri, mengkonsentrasikan hati dan pikirannya kepada mereka dan berdoa, ini semua adalah hal-hal yang mesti dilakukan seorang hamba kepada Rabbnya (Allah Azza wa Jalla ). Siapa saja mengarahkannya kepada malaikat atau nabi (atau manusia-red), sungguh ia telah berbuat syirik besar…

Selanjutnya beliau menambahkan, "Orang ini telah mengadakan tandingan bagi Allah Azza wa Jalla . Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu 'Abbas: "Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah Azza wa Jalla ". Sementara Ibnul Hâj mengatakan: "Mintalah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ". Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: "Minta tolonglah kepada Allah Azza wa Jalla ". berbeda dengan Ibnul Hâj yang mengatakan: "Minta tolonglah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan persembahkan sikap menghinakan, membutuhkan dan kemelaratan kepadanya".
[(Audhahul Isyârah Fir Raddi 'ala Man Ajâzal Mamnû' minaz Ziyârah hal. 203-205)]
contoh lain :
As-Sya'râni mengutip pernyataan Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Farghal (meninggal tahun 850 H), ia mengatakan:
أَنَا مِنَ الْمُتَصَرِّفِيْنَ فَيْ قُبُوْرِهِمْ فَمَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ فَلْيأتِ إِلَيَّ وَيَذْكُرُهَا لَيْ أَقْضِهَا لَهُ
“Saya termasuk orang yang sanggup menangani urusan-urusan saat berada di alam kubur. Siapa saja memiliki kepentingan, hendaknya datang kepada (kubur)ku dan menyampaikannya kepadaku. Aku akan menyelesaikannya”.[Thabaqât as-Sya'râni (2/93)]
As-Sya'râni juga mengutip pernyataan Syaikh Syamsuddin di detik-detik kematiannya:
مَنْ كَانَتْ لَهُ حَاجَةٌ فَلْيأتِ إِلَي قَبْرِيْ وَيَطْلُبُ حَاجَتَهُ أَقْضِهَا لَهُ
“Siapa saja memiliki urusan penting hendaknya mendatangi kuburku dan menyampaikan keperluannya, pasti akan aku tuntaskan [Thabaqât as-Sya'râni (2/86)]
sebenarnya ini telah dijelaskan oleh as-sya'rani sendiri:as-Sya'râni berkomentar: Kuburannya terkenal, sering dikunjungi. Orang-orang mencari berkah darinya".

Syaikh 'Abdur Razzâq al-'Abbâd hafizhahullâh menegaskan kekeliruan mereka ini dengan berkata: " Apakah mungkin ada orang di muka bumi ini yang sanggup membawakan riwayat dari mereka (generasi Sahabat dan Tabi'în) baik dengan jalur yang shahîh, lemah atau terputus bahwa mereka dahulu bila menghadapi urusan penting datang ke kubur-kubur dan berdoa di sana serta mengusap-usap pusara. Apalagi riwayat bahwa mereka mengerjakan shalat di kuburan dan meminta kepada Allah Azza wa Jalla melalui mereka atau meminta penghuni kubur untuk mewujudkan keperluan-keperluan mereka (lebih tidak ada lagi, red). Seandainya ini merupakan perkara Sunnah atau sebuah keutamaan, sudah barang tentu akan ada riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Dan para Sahabat dan Tabi'în pun pasti akan melakukannya….[Fiqhul "Ad'iyah (2/125)]

Sabtu, 13 September 2014

syubhat tabarruk imam syafi'i ke makam abu hanifah


Al-Khathiib Al-Baghdadiy rahimahulah meriwayatkan :
أخبرنا القاضي أبو عبد الله الحسين بن علي بن محمد الصيمري قال أنبأنا عمر بن إبراهيم المقرئ قال نبأنا مكرم بن أحمد قال نبأنا عمر بن إسحاق بن إبراهيم قال نبأنا علي بن ميمون قال سمعت الشافعي يقول اني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم يعني زائرا فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده فما تبعد عني حتى تقضى
Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qaadliy Abu ‘Abdillah Al-Husain bin ‘Aliy bin Muhammad Ash-Shiimariy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kamu ‘Umar bin Ibraahiim Al-Muqri’, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Mukarram bin Ahmad, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ishaaq bin Ibraahiim, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Aliy bin Maimuun, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syaafi’iy berkata : “Sesungguhnya aku akan ber-tabarruk dengan Abu Haniifah. Aku akan datang ke kuburnya setiap hari – yaitu untuk berziarah – . Apabila aku mempunyai satu hajat, aku pun shalat dua raka’at lalu datang ke kuburnya untuk berdoa kepada Allahta’ala tentang hajat tersebut di sisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku pun terpenuhi” [Taariikh Baghdaad 1/123].
Ali bin Maimun wafat tahun 247 H dan Amr bin Ishaq dating ke Baghdad pada tahun 341, maka ada kemungkinan Amr mendengar langsung dari Ali bin Maimun, karena sama-sama satu zaman dan satu masa. Persyaratam isttishal sanad memang diperselisihkan di kalangan ulama. Menurut Imam al-Bukhari, harus ada bukti pernah bertemu antara dua perawi walaupun satu kali. Sementara menurut Imam Muslim, (dan beliau menganggapnya sebagai ijma’ ulama), mencukupkan dengan mungkinnya terjadinya pertemuan antara dua perawi, yaitu hidup dalam satu masa, walaupun tidak ada bukti. Dengan demikian, menurut Imam Muslim, dan mayoritas ulama, kisah di atas jelas shahih.”
BANTAHAN:
benarkah mereka sezaman ?
فبين وفاتيهما نحو مائة سنة فيبعد أن يكون قد أدركه
Maka diperoleh penjelasan kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun sehingga jauh kemungkinan ia bertemu dengannya (‘Aliy bin Maimuun)” [Silsilah Ad-Dla’iifah, 1/78].Imam Muslim mencukupkan semasa saja, tidak perlu pertemuan. Semasa telah dapat memberi keyakinan bahwa seorang perowi yang tsiqoh telah menerima suatu hadis dari periwayat sebelumnya.apakah amr ibn ishaq tsiqoh? sedangkan dia majhul haal.



مسلمٌ –رحمه الله- وإن كان قد اشترط هذا الشرط, لكنه قد  يحمل على الإبهام, بمعنى عدم وجود القرائن الدالة على اللقيا -كما يقع ذلك في طبقة التابعين، حيث لا تتوفر المعلومات التاريخية الكافية فيما يخص تفاصيل علاقتهم ولقائهم مع بعض الصحابة حين إذٍ يكتفى بالمعاصرة, وليس كما يظن البعض أن مذهبه الاكتفاء بالمعاصرة علىالإطلاق, بل وضع –رحمه الله- قيدين لشرطه, وهما:
1) أن يكون المعنعن غير مدلس
2) إمكان لقاء من أضيفت العنعنة إليهم بعضهم بعضاً
قال: (وذلك أن القول الشائع المتفق عليه بين أهل العلم بالأخبار والروايات قديما وحديثا: أن كل رجل ثقة روى عن مثله حديثا وجائز ممكن له لقاؤه والسماع منه، لكونهما جميعا كانا في عصر واحد وإن لم يأت في خبر قط أنهما اجتمعا ولا تشافها بكلام، فالرواية ثابتة والحجة بها لازمة، إلا أن يكون هناك دلالة بينة أن هذا الراوي لم يلق من روى عنه أو لم يسمع منه شيئا, فأما والأمر مبهم على الإمكان الذي فسرنا فالرواية على السماع أبداً حتى تكون الدلالة التي بينا)

 مقدمة صحيح مسلم
Syubhat ke-2:
imam al-Hakim menilai Sahih hadits yang beliau riwayatkan dari jalan ‘Aamr bin Ishaq bin Ibrahim As-Sakan al-Bukhari. Ini membuktikan tautsiq beliau secara eksplisit, karena telah ma’ruf dalam kaidah hadits bawasanya pentashihan seorang ulama hadits merupakan cabang dari pentautsiqan. Berikut hadits yang dinlai sahih oleh imam al-Hakim yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Ishaq as-Sakna al-Bukhari :
حدثنا عمرو بن إسحاق بن إبراهيم السكنى البخاري بنيسابور ثنا أبو علي صالح بن محمد بن حبيب الحافظ ثنا محمد بن عمر بن الوليد الفحام ثنا يحيى بن آدم عن ابن المبارك قال سمعت إبراهيم بن طهمان وتلا قول الله عز وجل الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم فقال حدثني المكتب عن عبد الله بن بريدة عن عمران ابن حصين انه كان به البو أسير فأمره النبي صلى الله عليه وآله ان يصلى على جنب هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه
“ Telah menceritakan pada kami ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim as-Skna al-Bukhari di Naisabur, telah menceritakan pada kami Abu Ali bin Shalih bin Muhamamd bin Habib al-Hafidz, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Umar bin al-Walid al-Fahham, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam dari Ibnul Mubarak, ia bekata…..dan seterunsya…”
beliau juga menyebutkan bahwa hadits yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim itu sahih sesuai syarat imam Bukhari dan Muslim. Ini merupakan salah satu indikasi pentaustiqan imam al-Hakim kepada ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim.
an) syarat dalam kitab keduanya dan tidak pula dalam selain kitab keduanya.”
BANTAHAN :
Adz-Dzahabi berkata, “Dalam kitab Al Mustadrak terdapat banyak hadits yang sesuai kriteria Al Bukhari dan Muslim atau salah satunya. Jumlahnya sekitar separuh dari isi kitab. Seperempatnya memiliki sanad yang shahih, sedangkan sisanya (seperempat lagi) merupakan hadits-hadits munkar yang lemah dan tidak shahih, yang sebagiannya maudhu’.”
Ada yang berkata, "Hal itu disebabkan bahwa dia menulisnya pada akhir masa hidupnya, yang saat itu dia sudah agak pelupa."
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Al Hakim bersikap menggampangkan karena dia mengkonsep kitab tersebut untuk diralat kemudian, tetapi dia meninggal sebelum sempat meralat dan membetulkannya.”(Tarikh Funun Al Hadits karya Muhammad Abdul Aziz Al Khauli, hal. 98,)
Imam Nawawi berkata, “Maksud perkataan para muhaddits, 'sesuai syarat (kriteria) keduanya atau salah satunya', adalah bahwa para periwayat sanad tersebut terdapat dalam kitab Al Bukhari dan Muslim atau salah satunya, karena keduanya tidak memiliki (tidak menetapkan) syarat dalam kitab keduanya dan tidak pula dalam selain kitab keduanya.” 

sekarang tunjukkan kalau ‘Amr bin Ishaq bin Ibrahim termasuk perawi bukhori atau muslim !!!

kuburan ma'ruf al-Kurkhi


عن إبراهيم الحربي أنه قال : (( قبر معروف يعني الكرخي الترياق المجرب ))
Ibrahim al-Harbi berkata : “ Kuburan Ma’ruf al-Kurkhi adalah obat yang mujarrab “,

أخرجها أبو عبد الرحمن السلمي محمد بن الحسين الصوفي في كتابه طبقات الصوفية في ترجمة معروف الكرخي : (( سمعت أبا الحسن بن مقسم المقرئ ببغداد يقول : سمعت أبا علي الصفار يقول : سمعت إبراهيم بن الجزري يقول معروف الترياق المجرب )) [ ص 81 ].

ومن طريقته أخرجها الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد ص445 / 1 ، وبابن الجوزي في كتاب مناقب معروف الكرخي ص 199 – 200 .
telah meriwayatkannya abu abdirohman assalamy seorang shufi di kitabnya tobaqot shufiyah beliau berkata hal 81 dan albagdadi juz 1 hal 445 dan ibnul jauzi hal 199-200
berkata muhammad ibn yusuf alqotton :dia tidak tepercaya dan sering memalsukan hadits untuk para shufi( ad-dhu'afa wal matrukin li ibnil jauzi juz 3 hal 52 )
addzahabi berkata :dia bukan perawi kuat (siyar a'lam annubala' juz 17 hal 250)
dalam sanadnya juga ada abul hasan ibn muqosim al muqri,alkhotib albagdadi berkata :dulu dia ahli ibadah namun tidak terercaya dalam hadits (tarikhnya juz 4 hal 429)

Sholat Ditempat Yang Pernah Digunakan Nabi Sholat ???


Imam Al Bukhori meriwayatkan hadits dengan sanad bersambung sampai kepada Musa bin ‘Uqbah, ia berkata :

رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنْ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ

Aku pernah melihat Salim bin Abdillah, ia sedang mencari tempat-tempat di tepi jalan, kemudian dia sholat di tempat-tempat tersebut. Salim menceritakan ; bahwa ayahnya (Abdulloh Ibn Umar) pernah sholat di tempat-tempat tersebut, dan beliau pernah melihat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sholat di tempat-tempat tersebut. (HR. Al Bukhori)

Ketika menjelaskan hadits diatas, Al Hafidh Ibnu Hajar menyampaikan hadits lain dengan tema yang sama, kemudian beliau berkata :
فَهُوَ حُجَّةٌ فِي التَّبَرُّكِ بِآثَارِ الصَّالِحِيْنَ

Maka hal tersebut menjadi hujjah (dalil) Tabarruk dengan peninggalan orang-orang sholih. (Fathul Bari, vol. 1 hlm. 569)
perhatikan kalimat الصَّالِحِيْنَ dg Al menunjukkan kekhususan bagi orang yg sholih tertentu yg dijamin punya berkah seperti para nabi.

adapun ibnu umar insyaalloh terjaga aqidahnya,sedangkan anda siapa yang menjamin ?
seperti dikatakan syekh al 'aini :
إن عمر إنما خشي أن يلتزم الناس الصلاة في تلك المواضع حتى يشكل على من يأتي بعدهم فيرى ذلك واجبا وعبد الله بن عمر كان مأمونا من ذلك 
sesungguhnya umar kawatir manusia merasa diharuskan sholat di tempat2 itu sehingga menyulitkan orang sesudahnya karena menyangkanya suatu keharusan sedangkan ibnu umar terjaga dari itu semua (umdatul qori juz 7 hal 198)
siapa yg menjamin kyai punya berkah ???
adapun hadits :
عَنْ ابْنِ عَبَّاس قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ (( الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ ))
Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rosululloh shollalloho ‘alaihi wasallam bersabda : “Barokah itu bersama orang-orang bersar diantara kalian.” (HR. Al Hakim dan Ibnu Hibban) telah dijelaskan ibnu mas'ud

قال ابن مسعود رضي الله عنه :" لا يزال الناس بخير ما أخذوا العلم عن أكابرهم
ibnu mas'ud berkata :senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu oran2 besar mereka.riwayat baihaqi
jadi maksudnya besar ilmunya yaitu ulama' atau besar umurnya yakni orang tua.
namun yg perlu diperhatikan cara mengambil berkahnya dg menimba ilmu ulama' bukan mengais bekas2nya.dg menghormati orang tua bukan sungkem pada mereka.
ليس منا من لم يرحم صغيرنا ويوقر كبيرنا
Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak menghormati orang sudah tua kami(HR.tirmidzi dishohihkan albani dalam sohihul jami' no.5445)

Tabarruk dengan Masjid ‘Asysyar,shohihkah ?


Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Sholih bin Dirham, ia bercerita :

انْطَلَقْنَا حَاجِّينَ فَإِذَا رَجُلٌ فَقَالَ لَنَا إِلَى جَنْبِكُمْ قَرْيَةٌ يُقَالُ لَهَا الْأُبُلَّةُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مِنْكُمْ أَنْ يُصَلِّيَ لِي فِي مَسْجِدِ الْعَشَّارِ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا وَيَقُولَ هَذِهِ لِأَبِي هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ خَلِيلِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ مِنْ مَسْجِدِ الْعَشَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ لَا يَقُومُ مَعَ شُهَدَاءِ بَدْرٍ غَيْرُهُمْ

“Kami pergi melaksanakan haji. Kebetulan kami bertemu seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Di dekat kalian ada desa yang disebut Ubullah.” “Betul,” jawab kami.
“Siapakah di antara kalian yang bisa memberi jaminan kepadaku agar aku bisa disholatkan di masjid ‘Asysyar dua atau empat roka’at ,” lanjutnya.
Sholih ibnu Dirham berkata : “Ini untuk Abu Huroiroh : Saya mendengar orang yang saya cintai, yakni Abul Qosim shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah membangkitkan dari masjid ‘Asysyar pada hari kiamat para syuhada’ yang tidak berdiri bersama para syuhada’ Badar kecuali mereka,” (HR Abu Dawud.)

As Syaikh Abuth Thoyyib penyusun kitab ‘Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Dawud mengatakan : bahwa masjid ‘Asysyar adalah masjid terkenal yang dimintakan berkah dengan sholat di dalamnya. (Aunul Ma’bud vol. XI hlm. 284)
BANTAHAN :
betapa mudah sebenarnya membantahnya,tinggal ruju'/kembali ke kitab asli akan ketahuan belangnya.
masih Aunul Ma’bud juz 11 hlm. 284 :
قال المنذري إبراهيم بن صالح بن درهم ذكره البخاري في التاريخ الكبير وذكر له هذا الحديث وقال لا يتابع عليه وذكره أبو جعفر العقيلي وقال فيه إبراهيم هذا وأبوه ليسا بمشهورين والحديث غير محفوظ وذكر الدارقطني أن إبراهيم هذا ضعيف
berkata al mundziri : ibrohim ibn sholih ibn dirham telah disebutkan bukhori di kitab at-tarikh al kabir dan menyebutkan hadits itu lalu berkata tidak memiliki penguat.al uqaili menyebutnya dan bapaknya tidak masyhur dan hadits itu tidak terjaga.imam daruqutni menyebutnya sebagai perawi lemah.
ibnu hajar juga berkata padanya ada kelemahan.

perbedaaan aswaja asli dan asuaja palsu


pakai ukuran/standar yg jelas aja yg telah disepakati ulama'

semua ulama sepakat sholat jamaah 5 waktu adalah sunnah nabi yg utama.tapi lihat para asuaja kebanyakan mereka jarang jamaah 5 waktu,bahkan didesa-desa lebih mengenaskan,sampai kyainya saja jamaahnya cuma 3 waktu,ashar dan dhuhur entah kemana???
sebaliknya salafi dimanapun mereka,cari mereka di masjid terdekat pasti ketemu.subhanalloh...
semua ulama sepakat jenggot dan tidak isbal adalah sunnah nabi yang utama,maksimal isbal itu makruh,adakah ulama yg memubahkan bahkan mengharamkan tidak isbal dan berjenggot?tentu tak ada...
maka pandanglah sekitar anda mana yg palsu akan dg mudah tersingkap.
semua ulama sepakat wajibnya berjilbab tidak transparan,tapi lihat kalangan mereka sampai bu nyai mereka jilbabnya kayak saringan santan,bahkan dg mudah terlihat wanita mereka keluar rumah tanpa penutup rambut sehelai pun sampai anak kyai mereka sekalipun.
sebaliknya salafi lihat bagaimana hijab akhwat mereka begitu rapat tertutup bagi suami mereka saja.subhanalloh...

syubhat kuburan berkah


mereka berdalil:
Adz-Dzhabi menukil pernyataan sebagai berikut :
قال ابن خلكان: وكان بكار بن قتيبة تاليا للقرآن، بكاء صالحا دينا، وقبره مشهور قد عرف باستجابة الدعاء عنده
“ Ibnu Khalkan berkata, “ Bakar bin Qutaibah suka membaca al-Quran, banyak menangis, shalih dan agamis, Makamnya sudah masyhur. Dan dikenal dengan terkabulnya doa di dekat makamnya “[Siyar A’lam an-Nubala : 12/603]
Adz-Dzhabi juga mengatakan :
وابن لآل الإمام أبو بكر أحمد بن علي بن أحمد الهمذاني . قال شيرويه : كان ثقة أوحد زمانه مفتي همذان له مصنفات في علوم الحديث غير انه كان مشهورا بالفقه. عاش تسعين سنة والدعاء عند قبره مستجاب
“Ibnu La’al, seorang imam. Abu Bakar Ahmad bin Ali bi Ahmad al-Hamdzani. Syairawaih berkata: Ia terpercaya, orang alim tunggal di masanya. Mufti Hamdzan. Ia memiliki banyak karya di bidang hadis. Ia juga masyhur dengan ilmu fikih. Ia hidup 90 tahun. Berdoa di kuburnya adalah mustajab”[al-Ibar, adz-Dzahabi : 175]
Adz-Dzahabi juga mengatakan :
صالح بن احمد ابن محمد الحافظ الكثير الصدق المعمر أبو الفضل التميمي الهمذانى ذكره شيرويه في تاريخه فقال: كان ركنا من اركان الحديث ثقة حافظا دينا لا يخاف في الله لومة لائم، وله مصنفات غزيرة، توفى في شعبان سنة اربع وثمانين وثلاث مائة. والدعاء عند قبره مستجاب
“Shaleh bin Ahmad bin Muhammad, al-Hafidz, yang banyak jujurnya, Abu al-Fadlal at-Tamimi al-Hamdzani. Syairawaih menyebutkan dalam Tarikhnya bahwa Ia termasuk ahli hadis, terpercaya, hafidz, dan agamis. Ia tidak takut celaan orang lain dalam agama Allah. Ia punya banyak karya kitab. Meninggal pada 384 H. Berdoa di kuburnya adalah mustajab”[Tadzkirah al-Huffadz : 3/985]

BANTAHAN :
sebenarnya semua itu telas dijelas secara gamblang oleh imam addzahabi sendiri maksudnya :
يريد إجابة دعاء المضطر عنده لان البقاع المباركة يستجاب عندها الدعاء، كما أن الدعاء في السحر مرجو، ودبر المكتوبات، وفي المساجد، بل دعاء المضطر مجاب في أي مكان اتفق
yang dimaksud adalah ijabah doa saat keadaan terjepit disamping kubur karena tempat yg berkah mustajab doa disampingnya seperti halnya doa waktu sahur juga sangat diharap terkabul dan saat di belakang sholat dan di masjid, jadi doa orang terjepit mustajab dimanaun tempatnya ia dapati.
walaupun asalnya kuburan bukan tempat mustajab,tapi karena keadaan terjepit maka mustajab dimanapun tempatnya walaupun di kuburan.itulah maksudnya.

Sabtu, 23 Agustus 2014

RUMAH SAINS DAN TAHFIDZ MARKAZUL ULUM


ISLAMIC STUDY CLUB MARKAZUL 'ULUM
BERTEMPAT DI CIBARUSAH PERUM MUTIARA BEKASI JAYA BLOK B5 NO.46
LEMBAGA DAKWAH INI MENAUNGI :

A) HIFDZUL QUR'AN

METODE: TALAQQI,HALAQOH DAN MUTASALSIL

B) LUGHOH 'AROBIYAH

UNTUK ANAK-ANAK,DEWASA DAN BAPAK-BAPAK (MASJID ATAU MUSHOLA)

C) TAHSINUL QUR'AN

METODE ASSYAFI'I UNTUK BAPAK-BAPAK (MASJID ATAU MUSHOLA)

C) SAINS

BIMBINGAN BELAJAR SAINS ISLAMI

D) MATEMATIKA

BIMBINGAN PERHITUNGAN CEPAT

MENERIMA SISWA BARU / PRIVAT DI RUMAH ATAU MASJID

ALHAMDULILLAH DAKWAH KAMI TELAH BERJALAN DAN TERSEBAR

BAGI YANG INGIN MENDAFTARKAN ANAK ATAU MASJIDNYA BISA DATANG ATAU SMS KE CENTER

KAMI MENERIMA DONATUR UNTUK SARANA PEMBELAJARAN (SEDEKAH JARIYAH) :
A) MUSHAF  B) MEJA BELAJAR  C) KAMUS,DLL (AKAN ADA LAPORANNYA)

BAGI PARA MUHSININ ATAU DONATUR BISA MENGIRIM DONASINYA LEWAT :
BRI 084701026561539 a.n THOYIB MUTTAQI

KONFIRMASI DONATUR : NAMA_ALAMAT_NOMINAL_TUJUAN
CONTOH : AHMAD JOGJA 1000.000 PEMBELIAN MUSHAF DAN BANGKU

KIRIM KE 085786393686

HANYA DENGAN SEDEKAH HARTA AKAN KEKAL PLUS JADI MILIK KITA SEJATI


hukum hormat bendera



ulama' yang melarang :
mustofa al'adawi http://www.youtube.com/watch?v=doxQRvank4E
syeikh albani http://www.youtube.com/watch?v=xnjzWB8VOPw
syeikh fauzan http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=14181
syeikh ibn baz http://www.up.noor-alyaqeen.com/
darul ifta' saudi http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/06/merah-putih.html
syeikh jibrin http://ar.islamway.net/fatwa/29907/حكم-تحية-العلم-في-المدارس
السؤال: ما حكم وضع اليد على الرأس تحية للعلم كما يفعل في المدارس؟
الإجابة: نرى أن ذلك بدعة، وأن تحية المسلمين هي السلام، فالإشارة باليد تحية النصارى، كما ورد، فالإشارة باليد، أو الإشارة بالرأس، سلام أو تحية اليهود[ ] أو النصارى.

أما تحية المسلم فهي أن يقول: السلام عليكم.. وإن كان المسلم بعيداً عنك فإن لك أن تشير برأسك مع تلفظك بالسلام.. تقول السلام عليكم، وتحرك رأسك، أو يدك علامة على أنك فطنت له، وسلمت عليه، فتجمع بين الأمرين، السلام الذي هو سنة المسلمين، والإشارة: التي هي علامة على أنك فطنت وسلمت.

ولا تكون الإشارة هي السلام فقط؛ فالتحية للعلم إذا كان العلم[ ] هو أحد الأعلام التي تنشر كاللواء، أو نحوه - فهذا لا يجوز؛ وذلك لأنه جماد، والتحية فيها شيء من التعظيم، والتعظيم لا يجوز للمخلوق، فما بالك بالجماد الذي لا ينفع ولا يسمع؟! وإذا كان هذا تعبيراً عن التعظيم لهذا الجماد كان ذلك من الشرك.

وإن أراد بالعلم الشخص الذي يحمله، أو العامل ونحوه.. فتكون التحية بالسلام لا بغيره.

yang membolehkan
syeikh al ubaikan http://al-obeikan.com/article/90-تحية%20العلم.html
dalilnya وقال عندما أقبل سعد بن معاذ رضي الله عنه ليقضي في بني قريظة (قوموا إلى سيدكم)

Ketika Saad bin Muadz datang untuk menjatuhkan hukuman kepada Yahudi Bani Quraizhah Nabi bersabda, “Berdirilah kalian-wahai para anshar-untuk pemimpin kalian”.
pendalilan semacam ini telah dibantah syeikh jamil zainu murid syeikh albani dalam Minhaj firqotun najiah wa thoifatul manshuroh;
Asbabul wurud hadist ini diceritakan bahwa Sa’ad bin Mu’adz Radhiallahu ‘anhu terluka dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memintanya untuk memberikan putusan hukuman kepada Yahudi, maka ia menunggangi keledai dan tatkala sampai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum anshor dengan hadist di atas. Maka, ini adalah berdiri yang disyariatkan untuk membantu Sa’ad sayyid kaum Anshor dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat yang lain tidak ikut berdiri.
Jika kita perhatikan maka semua hadist yang membolehkan berdiri menggunakan lafadz

  قام الى [qooma ila] sedangkan hadist yang melarang berdiri mengunakan lafadz 
قام له [. Makna keduanya sangat berbeda, qooma ila] bermakna bersegera menolong dan 
[qooma lahu] bermakna berdiri ditempat dan mengagungkan. (Minhaj firqotun najiah wa thoifatul manshuroh hal 130-132, Darul Haromain

Jumat, 15 Agustus 2014

yang tidak merapatkan kaki saat jamaah seperti bighol liar


Anas bin Malik berkata:


لَقَدْ رَأَيْتُ أَحَدَنَا يَلْزِقُ مَنْكَبَهُ بِمَنْكَبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بَقَدَمِهِ .وَلَوْ ذَهَبْتَ تَفْعَلُ ذَلِكَ الْيَوْمَ لَتَرَى أَحَدَهُمْ كَأَنَّهُ بِغَلِ شُمُوْسٍ
“Dulu, salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu teman di sampingnya serta kakinya dengan kaki temannya. Andaikan engkau lakukan hal itu pada hari ini, niscaya engkau akan melihat mereka seperti bighol (Hewan hasil perkawinan campur antara kuda dengan keledai) yang liar”.(HR.Abu ya'la (3671))
Apa yang dikatakan oleh Anas -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- adalah benar. Andaikan kita terapkan petunjuk Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabatnya dalam merapatkan shaf, niscaya kita akan melihat orang di samping kita bagaikan cacing kepanasan, tidak rela jika kakinya ditempeli oleh kaki saudaranya, bahkan marah dan buruk sangka kepada hamba Allah yang taat. Alangkah buruknya orang jenis ini, semoga Allah tidak memperbanyak jumlahnya.
Busyair bin Yasar Al-Anshory pernah berkata, “Tatkala Anas datang ke Madinah, maka ada yang bertanya kepadanya: “Apakah yang anda ingkari pada kami sejak hari engkau mengenal Rasulullah-shollallahu alaihi wasallam-?”. Maka beliau berkata: [“Aku tak mengingkari (kalian), kecuali karena kalian tidak menegakkan shaf”]”.(HR.Al-Bukhory (724))
Syaikh Masyhur Hasan Salman -hafizhohullah- berkata dalam mengomentari atsar di atas, “Demikianlah kondisi kebanyakan orang di zaman kita ini. Andaikan hal itu dilakukan di hadapan mereka, maka mereka akan lari laksana keledai liar. Sunnah ini di sisi mereka berubah seakan-akan menjadi suatu bid’ah (ajaran baru) -na’udzu billah-. Semoga Allah menunjuki mereka dan membuat mereka merasakan manisnya sunnah”. (Lihat Al-Qoul Al-Mubin fi Akhtho’ Al-Mushollin, hal.207)
Maka janganlah anda yang tertipu dengan orang yang menyatakan bahwa perkara ini bukanlah wajib, apalagi sampai mengingkarinya dan menyatakannya sebagai akhlaknya orang-orang yang tak berakhlak.
Al-Hafizh -rahimahullah- berkata ketika mengomentari atsar Anas di atas, “Pernyataan ini memberikan faedah bahwa perbuatan (para sahabat) tersebut telah ada sejak zaman Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Berdasarkan hal ini, maka sempurnalah pengambilan hujjah yang menjelaskan maksud menegakkan shaf dan meluruskannya”. ( Lihat Fath Al-Bari (2/211))
Maka batillah pendapat orang yang menyatakan bahwa menempelkan bahu dengan bahu, kaki dengan kaki dan lutut dengan lutut ketika merapatkan shaf merupakan perkara baru.( Lihat Laa Jadiida fi Ahkam Ash-Sholah, hal.13 karya Syaikh Bakr Abu Zaid)
apabila ada suatu perintah lalu diiringi dengan ancaman bagi orang yang meninggalkan perintah tersebut, maka ini menunjukkan bahwa hal itu hukumnya wajib. Dari sisi yang lain, seluruh perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hukum asalnya adalah wajib, kecuali jika ada dalil lain menunjukkan bolehnya sekali-sekali tidak meluruskan shaf dan merapatkannya, maka hukumnya berubah menjadi mandub (sunnah/tidak wajib). Namun disana tidak ada dalil yang mengubah hukum asal ini, artinya tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa Nabi –Shallallahu ‘alaihi wasallam- atau para sahabat pernah sekali tidak meluruskan dan merapatkan shaf. Maka diketahuilah dari semua hal ini bahwa meluruskan dan merapatkan shaf hukumnya adalah wajib.
Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusy -rahimahullah- berkata, “Diwajibkan atas kaum mukminin untuk meluruskan shaf –orang yang pertama lalu yang berikutnya-dan merapatkan shaf, serta menyejajarkan bahu dengan bahu serta kaki dengan kaki”. (Lihat Al-Muhalla (4/52) via Minhaj An-Najah)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany -rahimahullah- berkata ketika menjelaskan hukum meluruskan shaf, “Berdasarkan hal ini, maka ia adalah wajib dan berbuat kekurangan di dalamnya adalah haram”. (Lihat Fathul Bari (2/268))
Ibnul Mulaqqin -rahimahullah- berkata, “Konsekwensi segi yang pertama adalah wajibnya meluruskan shaf dengan adanya ancaman karena meninggalkannya”. (Lihat Minhaj An-Najah fi Wujub Taswiyah Ash-Shufuf fi Ash-Sholah (2/519))
Al-Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- berkata ketika mengomentari hadits yang memerintahkan untuk meluruskan shaf, “Di dalam hadits tersebut terdapat keterangan wajibnya meluruskan shaf”. (Lihat Nailul Author (2/454) karya Asy-Syaukani, cet.Dar Al-Kitab Al-Araby, 1420 H)