Selasa, 11 November 2014

SYUBHAT QUNUT SHUBUH


حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ يَعْنِي الرَّازِيَّ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far – yaitu Ar-Raaziy – , dari Ar-Rabii’ bin Anas, dari Anas bin Maalik, ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan qunut di waktu Shubuh hingga meninggal dunia”[Diriwayatkan oleh Ahmad 3/162. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 4963, Ad-Daaruquthniy 2/370-372 no. 1692-1694, Ibnu Abi Syaibah 2/312, Al-Bazzaar dalam Kasyful-Astaar no. 556, Ath-Thahawiy dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar 1/244, Al-Baihaqiy 2/201, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 639, Al-Haazimiy dalam Al-I’tibaar hal. 86, Adl-Dliyaa’ dalam Al-Mukhtarah no. 2128; semuanya dari jalan Abu Ja’far Ar-Raaziy. Al-Baihaqiy berkata : “Sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah “.]
SYUBHAT :1)Abu Ja’far – yaitu Ar-Raaziy – telah ditsiqohkan banyak ulama
jawab : iya memang banyak yang mentsiqohkan,namun semua mujmal seperti Ibnu Abi Khaitsamah berkata, “ Yahya bin Ma’in ditanya tentang Abu Jakfar ar-Razi, maka beliau menjawab “ Dia shalih (baik/patut) “. padahal dalam riwayat lain disebutkan :يكتب حديثه ولكنه يخطىء,ditulis haditsnya(sebagai penguat) namun perawi yg salah.
“ Imam Ahmad ditanya tentang Abu Jakfar ar-Razi, maka beliau menjawab, “ Haditsnya baik .namun dalam riwayat lain dari anaknya :ليس بقوي فى الحديث
dia (Abu Ja’far) tidak kuat dalam hadits

Abu Zur’ah berkata bahwa dia (Abu Ja’far) sering keliru dan Al Fallas berkata bahwa hafalannya (Abu Ja’far) buruk, bahkan Ibnu Hibban berkata bahwa dia (Abu Ja’far) menceritakan riwayat-riwayat yang mungkar dari orang-orang yang terkenal.
dari sini saja terlihat ta'dilnya mujmal(global) sedang jarhnya mufassar.(terperinci)dan itu harus didahulukan menurut kesepakatan ahli hadits.
2)syubhat : ibnu hajar :  صدوق ، سيء الحفظ خصوصا عن المغيرة
Dia seorang yang jujur, tetapi hafalannya buruk, khususnya (riwayat) dari Mughirah. 
mereka  berkata : kesalahan dan jeleknya hafalan yang disematkan padanya hanya terkhusus pada riwayatnya dari Mughirah
jawab : disitu jelas dia lemah apalagi dari mughiroh,bukan berarti selain dari mughiroh tsiqoh.
misal ada orang ceramah berkata: hadirin yg saya hormati khususnya tuan rumah.ini bukan berarti selain tuan rumah tidak dihormati.
ini semakin jelas dalam perkataan ibnul madini  dari ayahnya : “Ia seperti Muusaa bin ‘Ubaidah. Ia sering kacau dalam hadits yang ia riwayatkan dari Mughiirah dan yang SEPERTINYA”.
JADI BUKAN DARI MUGHIROH SAJA.
3) HADITSNYA MINIMAL  HASAN KARENA RINGAN yaitu buruk HAFALANNYA

jawab : justru bahkan itu hadits mungkar.karena pengertian hadits mungkar yaitu 


هُوَ الْحَدِيْثُ الَّذِيْ يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ الرَّاوِي الضَّعِيْفِ، أَوْ مَا يُخَالِفُ بِهِ مَنْ هُوَ أَقْوَى مِنْهُ
Adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang diri periwayat yang dha’if, atau hadits itu bertentangan dengan periwayat yang lebih kuat darinya.
Diriwayatkan oleh seorang diri periwayat yang dha’if; Maksudnya, adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang diri periwayat yang dha’if dari segi hafalannya, tanpa diikuti dengan riwayat dari orang yang lebih kuat, atau yang setingkat apabila kedha’ifannya ringan.

syubhat : dia kan shoduq bagaimana disebut haditsnya munkar?
jawab :  Bahwa rawi yang shaduq kadang-kadang haditsnya dikategorikan munkar dalam dua kondisi; Pertama, Apabila ia meriwayatkan seorang diri dengan matan yang munkar tanpa diikuti dengan tabi’ dari periwayat yang lain, atau riwayatnya bertentangan dengan riwayat dari rawi yang siqah. Contohnya, hadits yang diriwa-yatkan oleh Imam Ahmad (2/423 dan 510), Abu Dawud (2350) dengan jalan dari Hammad bin Salamah
 حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
Telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda; Apaila salah seorang di antara kalian mendengar adzan sedangkan piring ada di tangannya, maka janganlah diletakkan sehingga selesai memakannya.
Muhammad bin Amr bin Alqamah adalah shaduq, Dia telah melakukan kesalahan dalam meriwayatkan hadits Abu Salamah. Ibnu Ma’in berkata, “Ia meriwayatkan hadits dari Abu Salamah sekali dengan riwayatnya, kemudian meriwayatkan hadits itu sekali lagi dari Abu Salamah dari Abu Hurairah”
Ia meriwayatkan hadits ini seorang diri dari Abu Salamah, dan tak ada tabi’ dari seorang pun. Demikian juga matan hadits ini munkar, jika dibandingkan dengan matan hadits dari Aisyah , yang tersebut di dalam shahihain secara marfu’;
كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan, karena ia tidak akan mengumandangkan adzan sebelum terbit fajar.
Kata-kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sehingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan” berfungsi untuk menetapkan batas waktu. Maksudnya bahwa makan dan minum akan membatalkan puasa apabila telah dikumandangkan adzan. Adapun hadits Abu Hurairah, di dalamnya terkandung makna bolehnya melanjutkan makan setelah adzan dikumandangkan, dan menjadikan batasannya adalah selesainya makan dan minum.
Dengan demikian hadits ini munkar, padahal hadits datang dari rawi yang shaduq
syubhat :

dari Anas yaitu

أنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن محمد بن مرزوق الباهلي حدثنا محمد بن عبد الله الأنصاري حدثنا سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن أنس أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت إلا إذا دعا القوم أو دعا على قوم

Telah menceritakan kepada kami Abu Thaahir yang berkata telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muhammad bin Marzuuq Al-Baahiliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’iid bin Abi ‘Aruubah dari Qataadah dari Anas Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan qunut, kecuali jika mendoakan kebaikan pada satu kaum atau mendoakan kejelekan pada satu kaum” [Shahih Ibnu Khuzaimah no. 620 ]
 hadis riwayat Ibnu Khuzaimah ini para perawinya tsiqat tetapi ia mengandung illat [cacat] yaitu Sa’id bin Abi Aruubah dikatakan oleh Ibnu Hajar bahwa ia tsiqat hafizh memiliki banyak tulisan, banyak melakukan tadlis, mengalami ikhtilath dan ia orang yang paling tsabit riwayatnya dari Qatadah [Taqrib At Tahdzib 1/360]. Dan Ibnu Hajar sendiri menyatakan dengan jelas bahwa Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy termasuk yang meriwayatkan dari Sa’id bin Abi Aruubah setelah ia mengalami ikhtilath, ia pernah berkata tentang Sa’id bin Abi Aruubah

وأما ما أخرجه البخاري من حديثه عن قتادة، فأكثرُه من رواية مَن سمع منه قبل الاختلاط، وأخرج عمَّن سمع منه بعد الاختلاط قليلاً؛ كمحمد بن عبدالله الأنصاري، وروح بن عبادة، وابن أبي عدي

Adapun apa yang dikeluarkan Bukhari dari hadisnya dari Qatadah maka banyak riwayatnya dari orang yang mendengar darinya sebelum ia ikhtilath dan [Bukhariy] mengeluarkan juga sedikit riwayat dari orang yang mendengar darinya setelah ikhtilath seperti Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshariy, Rauh bin ‘Ubadah dan Ibnu Abi Adiy [Fath Al Bariy 1/406]


jawab : itu karena tidak melanjutkan perkataan ibnu hajar : فإذا أخرج حديث هؤلاء انتقى ما توافقوا عليه
artinya jika dikeluarkan hadits mereka maka hilanglah kelemahannya jika ada riwayat yg berkesesuaian
disebutkan juga dalam an nadhm al mathlul
 Dikuatkan oleh hadits :
أنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن يحيى نا أبو داود حدثنا إبراهيم بن يعد عن الزهري عن سعيد وأبي سلمة عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان لا يقنت إلا ان يدعو لأحد أو يدعو على أحد وكان إذا قال سمع الله لمن حمده قال ربنا ولك الحمد اللهم أنج وذكر الحديث
Telah memberitakan kepada kami Abu Thaahir : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakr : Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Yahyaa : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Daawud : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Sa’d, dari Az-Zuhriy, dari Sa’iid dan Abu Salamah, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan qunut kecuali jika hendak mendoakan kebaikan kepada seseorang atau mendoakan kejelekan kepada seseorang. Jika beliau berkata : ‘sami’allaahu liman hamidahu’, beliau berkata : ‘rabbanaa wa lakal-hamdu, allaahumma anji….’ Kemudian ia menyebutkan haditsnya [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah no. 619; shahih].
adapun tuduhan abu dawud lemah
mereka berkata :Abu Hatim pernah berkata tentangnya “ahli hadis yang shaduq banyak melakukan kesalahan, Abu Walid dan ‘Affan lebih aku sukai darinya”  
jawab :  iya sebagian ulama melemahkan,tapi banyak juga menguatkannya seperti :
adzahabi :  ثقة ، ما علمت به بأسا terpercaya,aku tidak mengetahui kerusakan padanya.
assuyuti : الحافظ ، أحد الأعلام al hafidz,salah seorang yg aling beilmu
'ali ibnul madini: ما رأيت أحدا أحفظ منه aku tidak tahu seseorang yg lebih hafal darinya
adapun menyelisihi  Ibrahim bin Sa’ad,maka tidak benar.ziyadatutstsiqoh maqbulah tambahan dari perawi tsiqoh diterima.tambahan :

قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ 
adalah  penjelas bahwa qunut itu adalah qunut nazilah dan yang dinafikan adalah qunut dalam sholat fardhu selain qunut nazilah
apalagi tidak pernah dinukil riwayat anas bin malik qunut shubuh.

Minggu, 09 November 2014

DALIL QUNUT SHUBUH


SOAL : QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS SUNNAH ?
JAWAB : TIDAK,KARENA TIDAK ADA DALIL SHOHIH TERUS MENERUS
SOAL :BAGAIMANA DENGAN HADITS
فَأَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذٍ الْعَدْلُ ، حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ الأُسْفَاطِيُّ ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ ، حَدَّثَنَا الْعَلاءُ بْنُ صَالِحٍ ، حَدَّثَنِي بُرَيْدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ ، حَدَّثَنَا أَبُو الْحَوْرَاءِ ، قَالَ : سَأَلْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ : مَا عَقَلْتَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ؟ قَالَ : عَلَّمَنِي دَعَوَاتٍ أَقُولُهُنَّ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ ، إِنَّكَ تَقْضِي ، وَلا يُقْضَى عَلَيْكَ أُرَاهُ قَالَ : إِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ قَالَ : فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةِ ، فَقَالَ : إِنَّهُ الدُّعَاءُ الَّذِي كَانَ أَبِي يَدْعُو بِهِ فِي صَلاةِ الْفَجْرِ فِي قُنُوتِهِ
Maksudnya:
Al-Hasan bin Ali . katanya: Rasulullah . telah mengajarku membaca beberapa kalimah untuk aku ucapkan: Ya Tuhanku, tunjukilah aku bersama orang-orang yang Engkau tunjuki, dan sihatkanlah aku bersama orang-orang yang Engkau sihatkan, dan pimpinlah aku bersama orang-orang yang Engkau pimpin, dan berkatilah aku bersama orang-orang yang Engkau berikan kurnia, dan lindungilah aku dari bencana yang Engkau takdirkan, sesungguhnya Engkaulah yang mentakdirkan dan tiadalah Engkau yang ditakdirkan dan bahwasanya tiadalah akan terhina orang yang Engkau pimpin, Maha Mulia Engkau, wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi Engkau. Muhammad bin al-Hanafiyah berkata: Sesungguhnya doa ini merupakan doa yang selalu dibaca oleh ayah saya pada solat Subuh dalam qunutnya. (Riwayat Baihaqi)
DAN RIWAYAT :
وَمِنْهَا مَا أَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ الْمَالِينِىُّ أَخْبَرَنَا أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِىٍّ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا السَّاجِىُّ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَمْزَةَ قَالَ : سَأَلْتُ أَبَا عُثْمَانَ عَنِ الْقُنُوتِ فِى الصُّبْحِ قَالَ : بَعْدَ الرُّكُوعِ. قُلْتُ : عَمَّنْ؟ قَالَ : عَنْ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ. هَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ.
Awam bin Hamzah telah bertanya Abu Utsman tentang qunut pada solat Subuh. Beliau menjawab: Sesudah rukuk. Awam bertanya lagi: Fatwa siapakah itu? Beliau menjawab: Fatwa Abu Bakar, Umar dan Utsman radiyallahu anhum ajmaiin. (Riwayat al-Baihaqi)
JAWAB : HADITSNYA HASAN,NAMUN QUNUT DALAM SHOLAT SHUBUH BUKAN BERARTI QUNUT SHUBUH KHUSUS APALAGI QUNUT SHUBUH TERUS MENERUS,MAKA ITU KURANG TEPAT KARENA SANGAT MUNGKIN ITU QUNUT NAZILAH,SEPERTI DI BANYAK RIWAYAT.DIANTARANYA :
Umar pernah melakukannya
حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ أَبِي رَافِعٍ، أَنَّهُ قَنَتَ مَعَ عُمَرَ فِي صَلاةِ الصُّبْحِ بَعْدَ الرُّكُوعِ، يَدْعُو عَلَى الْفَجَرَةِ
Telah menceritakan kepada kami Ibnul Mutsannaa yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Athaa’ bin Abi Maimuunah dari Abu Raafi’ Bahwasannya ia pernah melakukan qunut bersama ‘Umar dalam shalat Shubuh setelah rukuk untuk mendoakan kejelekan bagi orang-orang yang durhaka” [Tahdziib Al Atsaar Ibnu Jarir Ath Thabariy no. 586].Riwayat ini sanadnya shahih. Muhammad bin Mutsanna seorang yang tsiqat tsabit [Taqrib At Tahdzib 2/129]. Muhammad bin Ja’far atau Ghundar seorang yang tsiqat dan shahih kitabnya [Taqrib At Tahdzib 2/63]. Syu’bah adalah seorang yang tsiqat hafizh mutqin, amirul mukminin dalam hadis [Taqrib At Tahdzib 1/418]. Atha’ bin Abi Maimunah seorang yang tsiqat dan dituduh berpahaman Qadariy [Taqrib At Tahdzib 1/676]. Abu Rafi’ Ash Sha’igh seorang yang tsiqat tsabit [Taqrib At Tahdzib 2/252]
SOAL : TAPI KENAPA KADANG SEBELUM RUKUK ? SEPERTI :
حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع بن الجراح قال حدثنا سفيان عن مخارق عن طارق بن شهاب أنه صلى خلف عمر بن الخطاب الفجر فلما فرغ من القراءة كبر ثم قنت ثم كبر ثم ركع
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ bin Jarrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Mukhaariq dari Thaariq bin Syihaab bahwasanya ia shalat shubuh di belakang Umar bin Khaththab maka ketika Umar selesai membaca surat ia bertakbir kemudian membaca Qunut, kemudian takbir kemudian ruku’ [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/107 no 7033]
Riwayat ini sanadnya shahih hingga Umar bin Khaththab. Sufyaan Ats Tsawriy adalah seorang tsiqat faqih ahli ibadah imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/371]. Mukhariq bin Khaliifah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 2/165]. Thariq bin Syihaab Al Ahmasiy ia seorang yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi tidak mendengar hadis darinya [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/447].
JAWAB : YA MEMANG PADA ZAMAN UMAR PERNAH ADA DAN ITU SUNAH SAHABAT,JADI BOLEH SAJA QUNUT NAZILAH SEBELUM RUKUK
SEPERTI DIJELASKAN IBNU ROJAB SAAT MENJELASKAN HADITS :
وحدثنا أبو بكر بن أبي شيبة وأبو كريب قالا حدثنا أبو معاوية عن عاصم عن أنس قال سألته عن القنوت قبل الركوع أو بعد الركوع ؟ فقال قبل الركوع قال قلت فإن ناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قنت بعد الركوع فقال إنما قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم شهرا يدعو على أناس قتلوا أناسا من أصحابه يقال لهم القراء
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Aashim dari Anas yang berkata aku bertanya kepadanya tentang Qunut sebelum ruku’ atau sesudah ruku’?. Maka ia berkata “sebelum ruku”. Aku berkata bahwa orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Maka ia berkata “sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya qunut [setelah ruku’] satu bulan mendoakan orang-orang yang membunuh para sahabatnya yang adalah penghafal Al Qur’an [Shahih Muslim 1/468 no 677] BELIAU BERKATA :
وليس في شيء من هذه الروايات : مدوامة القنوت ، كما في رواية عبد الواحد بن زياد التي خرجها البخاري ، مع أنه لا دلالة فيها على ذلك - على تقدير أن تكون محفوظة - ؛ فإنه ليس فيها تصريح بأن النَّبيّ ( هوَ الذي كانَ يقنت قبل الركوع ، فيحتمل أن يريد أن مدة قنوت النَّبيّ ( كانت شهرا بعد الركوع ، وكان غيره من الخلفاء يقنت قبل الركوع ، ولعله يريد قنوت عمر ، لما كانَ يبعث الجيوش إلى بلاد الكفار ، فكان يقنت ويستغفر لهم
DAN TIDAKLAH DALAM HADITS INI HUJJAH QUNUT TERUS MENERUS,SEPETI DALAM RIWAYAT ABDUL WAHID IBN ZIYAD YANG DIKELUARKAN BUKHORI,SEDANGKAN TIDAK ADA YG MENUNJUKKAN HAL ITU.KALAUPUN ITU SHOHIH,MAKA DISITU TIDAK JELAS BAHWA NABI QUNUT SEBELUM RUKU'.KEMUNGKINAN YG DIMAKSUD ADALAH NABI SETELAH RUKUK SEDANGKAN SEBELUM RUKU' PADA MASA KHULAFA' ROSYIDIN.BISA JADI YANG DIMAKSUD QUNUT UMAR SAAT MENGIRIM TENTARA KE NEGARA KAFIR, MAKA BELIAU QUNUT DAN MEMOHONKAN AMPUN BAGI MEREKA(FATHUL BARI JUZ 6 HAL 272)
SOAL : BUKANKAH QUNUT NAZILAH HARUS DI LIMA SHOLAT WAJIB ?
JAWAB : QUNUT BOLEH DI SELURUH SHOLAT WAJIB SECARA KESELURUHAN ATATUPUN SEBAGIAN,BANYAK RIWAYAT MENYEBUTKAN,
Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] pernah melakukan qunut nazilah pada saat perang
حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور
Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ubaid Abi Hasan yang mendengar ‘Abdurrahman bin Ma’qil berkata “aku menyaksikan Ali bin ‘Abi Thalib membaca qunut dalam shalat ‘atamah [shalat malam yaitu maghrib atau isya’] setelah ruku’ untuk lima orang untuk Mu’awiyah dan Abul A’war [Ma’rifat Wal Tarikh Ya’qub bin SufyanAl Fasawi 3/134]
Riwayat ini sanadnya shahih. Ubaidillah bin Mu’adz seorang hafizh yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/639]. Ayahnya Mu’adz bin Mu’adz seorang yang tsiqat mutqin [Taqrib At Tahdzib 2/193]. Syu’bah adalah seorang yang tsiqat hafizh mutqin, amirul mukminin dalam hadis [Taqrib At Tahdzib 1/418]. Ubaid bin Hasan Al Muzanniy kuniyah Abu Hasan seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/643]. ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy seorang tabiin yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib 1/591].
Diriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu’anhu: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang berdoa Qunut (ketika ada musibah) pada shalat Shubuh dan shalat Maghrib” [HR. Bukhari]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
“Selama sebulan penuh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam setelah membaca سمع اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ pada raka’at terakhir dari shalat Isya beliau membaca doa Qunut:
اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ
Ya Allah, tolonglah ‘Ayyash bin Abi Rabi’ah. Ya Allah, tolonglah Walid bin Al Walid. Ya Allah, tolonglah Salamah bin Hisyam. Ya Allah, tolonglah orang-orang lemah dari kaum mu’minin. Ya, Allah sempitkanlah jalan-Mu atas orang-orang yang durhaka. Ya Allah, jadikanlah tahun-tahun yang mereka lewati seperti tahun-tahun yang dilewati Yusuf “ [HR. Bukhari]

hadits Abdullah bin Abbas radhiallahu 'anhu, dia berkata:

قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم شهرا متتابعا في الظهر والعصر والمغرب والعشاء وصلاة الصبح في دبر كل صلاة إذا قال " سمع الله لمن حمده " من الركعة الآخرة يدعو على أحياء من بني سليم على رعل وذكوان وعصية ويؤمن من خلفه

“Rasulullah صلى الله عليه وسلم membaca doa qunut satu bulan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Magrib, dan Isya pada (rakaat) terakhir dari setiap shalat. Apabila telah mengucapkan “sami’allahu liman hamidah” pada rakaat terakhir, beliau mendoakan (kehancuran) atas beberapa suku dari Bani Sulaim, yaitu Ri'l, Dzakwan, dan ‘Ushaiyyah. Sedangkan (para makmum) di belakang beliau mengucapkan amin.” [HR Abu Daud (1443). Hadits hasan.]
- See more at: http://dakwahquransunnah.blogspot.com/2013/08/qunut-nazilah.html#sthash.t9gh1anG.dpuf

Jumat, 31 Oktober 2014

SYUBHAT QUNUT SHUBUH SECONDPRINCE


DIA BERKATA : perhatikan riwayat Anas berikut
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ ، حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ يُوسُفَ ، حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : سُئِلَ عَنِ الْقُنُوتِ فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ ، فَقَالَ : كُنَّا نَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَبَعْدَهُ
Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Aliy Al Jahdhamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Sahl bin Yuusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas bin Malik yang berkata ia ditanya tentang Qunut dalam shalat Shubuh maka Anas berkata “kami melakukan Qunut sebelum ruku’ dan melakukan Qunut sesudah ruku’ [Sunan Ibnu Majah no 1183]
Al Hafizh Al Buushiriy berkata dalam kitabnya Az Zawa’id bahwa sanadnya shahih [Mishbah Az Zujajah Fii Zawa’id Ibnu Majah hal 727-728 no 322]. Dari hadis ini maka dapat dipahami bahwa di sisi Anas bin Malik ada dua jenis Qunut pada shalat shubuh yaitu
Qunut Nazilah yang dilakukan setelah ruku’
Qunut Shubuh tanpa nazilah yang dilakukan sebelum ruku’
JAWAB: ITU KESIMPULAN DARI KANTONGNYA SENDIRI.apakah imam syafi'i qunut shubuh sebelum ruku'???
DIA BERKATA :
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعِينَ رَجُلًا لِحَاجَةٍ يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ فَعَرَضَ لَهُمْ حَيَّانِ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ رِعْلٌ وَذَكْوَانُ عِنْدَ بِئْرٍ يُقَالُ لَهَا بِئْرُ مَعُونَةَ فَقَالَ الْقَوْمُ وَاللَّهِ مَا إِيَّاكُمْ أَرَدْنَا إِنَّمَا نَحْنُ مُجْتَازُونَ فِي حَاجَةٍ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَتَلُوهُمْ فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ شَهْرًا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَذَلِكَ بَدْءُ الْقُنُوتِ وَمَا كُنَّا نَقْنُتُ قَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ وَسَأَلَ رَجُلٌ أَنَسًا عَنْ الْقُنُوتِ أَبَعْدَ الرُّكُوعِ أَوْ عِنْدَ فَرَاغٍ مِنْ الْقِرَاءَةِ قَالَ لَا بَلْ عِنْدَ فَرَاغٍ مِنْ الْقِرَاءَةِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Waarits yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz dari Anas [radiallahu ‘anhu] yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus tujuh puluh orang untuk suatu keperluan, mereka adalah para penghafal Al Qur’an. Kemudian mereka dihadang bani Sulaim Ri’il dan Dzakwan di dekat sumur yang bernama sumur Ma’unah. Kaum itu berkata “demi Allah bukan kalian yang kami inginkan, kami hanya perlu kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. kaum itu akhirnya membunuh mereka maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan mereka satu bulan dalam shalat Shubuh, itulah pertama kali kami berdoa dalam Qunut dan sebelumnya kami belum pernah Qunut. Abdul ‘Aziz berkata “seorang laki-laki bertanya kepada Anas tentang Qunut, apakah setelah ruku’ atau setelah membaca surat?. Maka Anas berkata “tidak, bahkan Qunut dikerjakan setelah membaca surat” [Shahih Bukhariy 5/104 no 4088]
Qunut ini dinamakan Qunut Nazilah dimana Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakan keburukan bagi bani Sulaim Ri’il dan Dzakwan
kemudian dia berkata : Maka maksud perkataan Abdul Aziz dari Anas tentang qunut dilakukan setelah membaca surat adalah qunut shubuh tanpa nazilah. Hal ini karena Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidaklah Qunut setelah ruku’ kecuali Qunut Nazilah
dia juga berdalil :
Dengan sanad yang sama dengan sanad riwayat Muslim, Al Bazzaar meriwayatkan hadis ‘Aashim di atas dengan matan ringkas sebagai berikut
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ ، نَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنْ عَاصِمٍ الأَحْوَلِ قَالَ : سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنِ الْقُنُوتِ ، فَقَالَ : قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الرُّكُوعِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Aashim Al Ahwal yang berkata aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang Qunut, maka ia berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah qunut sebelum ruku’ [Musnad Al Bazzaar 13/109 no 6480]
JAWAB : ente tu plin plan diawal mengatakan itu dasar hadits qunut nazilah,adaun penafsiran ente sebelum ruku' itu qunut shubuh telah dibantah Al Bazaar sendiri bahwa riwayat ‘Aashim ini bertentangan dengan riwayat dari para perawi tsiqat lain dari Anas yang menetapkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut hanya satu bulan setelah ruku’. Diantaranya Al Bazaar berkata
وَهَذَا الْحَدِيثُ لا نَعْلَمُهُ يُرْوَى عَنْ أَنَسٍ مِنْ وَجْهٍ صَحِيحٍ إِلَّا عَنْ عَاصِمٍ ، عَنْ أَنَسٍ . وَقَدْ رَوَى هَذَا الْحَدِيثَ الْحُفَّاظُ مِنْ أَصْحَابِ أَنَسٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، مِنْهُمْ : مُحَمَّدُ ابْنُ سِيرِينَ ، وَأَبُو مِجْلَزٍ ، وَقَتَادَةُ وَغَيْرُهُمْ ، عَنْ أَنَسٍ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ
Dan hadis ini tidak diketahui riwayat dari Anas dengan jalan yang shahih kecuali dari ‘Aashim dari Anas. Dan sungguh telah meriwayatkan hadis ini sekelompok hafizh dari sahabat Anas dari Anas, diantaranya Muhammad bin Siirin, Abu Mijlaz, Qatadah dan selain mereka dari Anas bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’ [Musnad Al Bazzaar 13/109 no 6480] kemudian ente menuduhnya keliru,
ibnu rojab pun membantahmu dalam fathul bari 1/278 beliau berkata :
ولكن ؛ ليس في هذه الرواية تصريح بأن قنوت النَّبيّ ( كانَ قبل الركوع ، إنما هوَ من فتيا أنس . والله سبحانه وتعالى أعلم .
akan tetapi bukanlah riwayat ini tegas bahwa rosul qunut sebelum ruku',itu hanya fatwa anas saja.
sekarang kita bandingkan siapa yg keliru?

BANTAHAN RUMAH FIQIH :Al-Albani VS Ibnul Qayyim ???


DIA BERKATA : Hal menarik disampaikan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) [3]. Beliau berkata:
فأهل الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها، وهم أسعد بالحديث من الطائفتين، فإنهم يقنتون حيث قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويتركونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه.
“AHLI HADITS adalah kaum pertengahan antara mereka (pent: yang mengatakan Qunut itu bid’ah) dan mereka yang menganggap sunnah Qunut ketika ada nawazil dan lainnya (pent: termasuk Qunut Shubuh). Mereka lebih beruntung terhadap hadits Nabi, mereka qunut ketika Rasulullah Qunut dan meninggalkannya ketika Rasul juga meninggalkannya. Mereka mengikuti Nabi dalam menjalankan ataupun meninggalkannya.
ويقولون: فعله سنة وتركه سنة، ومع هذا فلا ينكرون على من داوم عليه، ولا يكرهون فعله، ولا يرونه بدعة، ولا فاعله مخالفا للسنة، كما لا ينكرون على من أنكره عند النوازل، ولا يرون تركه بدعة، ولا تاركه مخالفا للسنة، بل من قنت فقد أحسن، ومن تركه فقد أحسن.
Mereka (AHLI HADITS) mengatakan bahwa melakukannya adalah perbuatan SUNNAH dan meninggalkannya juga perbuatan SUNNAH. Maka, mereka tidak mengingkari orang yang membiasakan qunut, tidak benci untuk melakukannya , tidak menganggapnya bid’ah, dan juga tidak menganggap orang yang melakukannya termasuk menyelisihi sunnah begitu juga sebaliknya.
Bahkan orang yang qunut itu BAGUS, yang meninggalkannya juga BAGUS.”
Wah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) malah menyebutkan bahwa AHLI HADITS itu mereka yang mengatakan “mengamalkan atau meninggalkan qunut itu sama-sama baik”. Sepertinya berbeda terbalik dengan pendapat al-Albani.
JAWAB : KALAU MENGADU DOMBA MANUSIA BIASA TERLARANG, BAGAIMANA GIMANA MENGADU DOMBA ULAMA'?.
itu karena kejahilan dan mengikuti hawa nafsunya saja
yang di komentari ahli hadits tentang apa?ini yang harus jelas dulu. lihatlah runtutan awalnya.nukilan pertama,
فكان أبو هريرة يقنُت في الركعة الأخيرة مِن صلاة الصبح بعدما يقول: سَمعَ اللهُ لِمَنْ حَمِده، فيدعو للمؤمنين، ويلعنُ الكُفَّار ولا ريب أن رسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فعل ذلك، ثمَّ تركه فأحبَّ أبو هريرة أن يُعلِّمهم أن مِثلَ هذا القنوتِ سنة، وأن رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فعله، وهذا رد على أهل الكوفة الذين يكرهون القنوت في الفجر مطلقاً عند النوازل وغيرها.ويقولون: هو منسوخ، وفعله بدعة، فأهلُ الحديث متوسطون بين هؤلاء وبين من استحبه عند النوازل وغيرها
Dulu abu huroiroh qunut di rokaat akhir dari sholat shubuh setelah membaca sami’allohu liman hamidah,lalu berdoa kebaikan untuk orang mukmin dan MELAKNAT orang kafir.dan tidak ada keraguan lagi bahwa rosul mengerjakannya (qunut nazilah) kemudian meninggalkannya.Maka abu huroiroh ingin mengajarkan sesungguhnya seperti qunut ini (qunut nazilah) sunnah,dan rosul mengerjakannya dan ini bantahan keada ahlul kuffah yg membenci qunut apapun itu mutlak entah qunut nazilah atau yang lain,mereka ahlul kuffah berkata : itu qunut nazilah terhapus dan mengerjakanya BID’AH. AHLI HADITS adalah kaum pertengahan antara mereka ahlul kuffah (yang melarang qunut apapun pada sholat shubuh) dan orang yg mensunnahkan dalam sholat shubuh qunut nazilah dan selainnya.
jadi jelas yang diingkari abu huroiroh adalah pelarangan qunut nazilah pada sholat shubuh secara mutlak.dan bahwa ahli hadits tidak mensunnahkan secara mutlak dan tidak melarang secara mutlak.dan bukan berarti pula mereka membenarkan qunut shubuh.lalu bagaimana sikap mereka?mereka melihat adakah riwayat shohihah nabi melakukannya.
فإنهم يقنتون حيث قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويتركونه حيث تركه، فيقتدون به في فعله وتركه.
mereka qunut ketika Rasulullah Qunut dan meninggalkannya ketika Rasul juga meninggalkannya. Mereka mengikuti Nabi dalam menjalankan ataupun meninggalkannya.
adaun nukilan yg kedua.maka mereka tidak ilmiah dalam menukil dan menerjemahkan.
mereka menukil :
ويقولون: فعله سنة وتركه سنة
seharusnya
ويقولون: فِعله سنة، وتركُه لسنة
bedanya jelas ADA LAM TA'LIL
lihat artian mereka :Mereka (AHLI HADITS) mengatakan bahwa melakukannya adalah perbuatan SUNNAH dan meninggalkannya juga perbuatan SUNNAH.
seharusnya : Mereka (AHLI HADITS) mengatakan bahwa melakukannya adalah perbuatan SUNNAH dan meninggalkannya KARENA perbuatan SUNNAH. jadi ukurannya ada sunnahnya atau tidak.
adapun perkataan ahli hadits :mereka tidak mengingkari orang yang membiasakan qunut, tidak benci untuk melakukannya , tidak menganggapnya bid’ah, dan juga tidak menganggap orang yang melakukannya termasuk menyelisihi sunnah begitu juga sebaliknya.
Bahkan orang yang qunut itu BAGUS, yang meninggalkannya juga BAGUS.”
maka itu berkaitan qunut nazilah waktu shubuh,itu karena mereka mengomentari hadits abu huroiroh. sedang kata وغيرها itu ketika dimutlakkan dalam pelarangan maupun pensunnahan.
terakhir, itu belum kesimpulan ibnul qoyyim.kesimpulan beliau yaitu
Berikut ini ucapannya:
وقنت في الفجر بعد الركوع شهراً، ثم ترك القنوت ولم يكن مِن هديه القنوتُ فيها دائماً، ومِنْ المحال أن رسولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كان في كل غداة بعد اعتداله من الركوع يقول: “اللَّهُمَ اهْدِني فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ وَلَّيْتَ…” الخ ويرفعُ بذلك صوته، ويؤمِّن عليه أصحابُه دائماً إلى أن فارق الدنيا
“(Beliau) Qunut dalam subuh setelah ruku selama satu bulan, kemudian meninggalkan qunut. Dan, bukanlah petunjuk beliau melanggengkan qunut pada shalat subuh, dan termasuk hal mustahil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setiap paginya setelah i’tidal dari ruku mengucapkan: “Allahumahdini fiman hadait wa tawallani fiman tawallait … dst” dengan meninggikan suaranya, dan selalu diaminkan oleh para sahabatnya sampai meninggalkan dunia. ( 1/271)
adapun maksud perkataan " Bahkan orang yang qunut itu BAGUS, yang meninggalkannya juga BAGUS.” telah dijelaskan di bagian selanjutnya
 وركن الاعتدال محل الدعاء والثناء، وقد جمعهما النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فيه، ودعاء القنوت دعاء وثناء، فهو أولى بهذا المحل، وإذا جهر به الإِمام أحياناً لِيعلِّم المأمومين ، فلا بأس بذلك
rukun i'tidal adalah temat doa dan pujian dan osul telah menggabungkan keduanya dan doa qunut adalah doa dan pujian,maka berhak dg tempat itu.dan apabila imam mengeraskan KADANG2 untuk mengajari manusia maka ini tidak mengapa.
JADI KALAU TERUS MENERUS ITU BID'AH
KESIMPULAN : TIDAK ADA CERITANYA IBNU QOYYIM VS ALBANI

IBNU AL KATIBIY MENGUAK KEJAHILANNYA SENDIRI


DIA BERKATA : Imam al-Qurthubi mengatakan :
كل بدعة صدرت من مخلوق فلا يخلو أن يكون لها أصل في الشرع أولا، فإن كان لها أصل كانت واقعة تحت عموم ما ندب الله إليه وخص رسوله عليه، فهي في حيز المدح وإن لم يكن مثاله موجودا كنوع من الجود والسخاء وفعل المعروف، فهذا فعله من الافعال المحمودة، وإن لم يكن الفاعل قد سبق إليه
“ Setiap bid’ah yang datang dari makhluk, maka tidak terlepas dari dua perkara yakni adakalanya memiliki asal dalam syare’at atau tidak ada asalnya. Jika memiliki asal dalam syare’at, maka masuk dalam keumuman apa yang Allah dan Rasul-Nya anjurkan, perkara ini masuk pujian (baik), walaupun belum ada contoh sebelumnya semisal merk (macam/jenis) dari sifat kedermawanan, kemurahan dan pebuatan ma’ruf, maka ini semua ini jika dilakukan adalah termasuk perbuatan terpuji, meskipun belum ada contoh orang yang melakukannya..
JAWAB : lihat lah baik2 contohnya tentang kedermawanan, kemurahan dan pebuatan ma’ruf. apakah bid'ah mereka dalam hal ini?
ini mah selaras dg hadits yg dijelaskan imam qurtubi (Tafsir al-Qurthubi : 2/87) : وقد بين هذا بقوله : ( من سن في الإسلام سنة حسنة كان له أجرها وأجر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن في الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء
yang asbabul wurudnya adalah kisah sedekah sahabat.
apakah ini pantas disebut bid'ah istilah atau lughoh/bahasa ???
قول الحافظ ابن حجر العسقلاني رحمه الله في الفتح: (ما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة)
ini juga senada dg perkataan ibnu hajar bahwa itu yg ada dalilnya tidak boleh disebut bid'ah
masih dihalaman yg sama imam qurtubi menjelaskan : وإن كانت في خلاف ما أمر الله به ورسوله فهي في حيز الذم والإنكار قال معناه الخطابي وغيره قلت : وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في خطبته : ( وشر الأمور محدثاتها وكل بدعة ضلالة ( يريد ما لم يوافق كتابا أو سنة أو عمل الصحابة رضي الله عنهم
jika bid'ah menyelisihi apa yg diperintah alloh dan rosulnya masuk perkara yg tercela dan diingkari sebagaimana dikatakan alkhottobi dan selainnya.aku berkata : dan itulah makna perkataan nabi di khutbahnya:seburuk2 perkara adalah perkara yg diada-adakan dan setiap bid'ah adalah sesat yg dimaksud adalah apa yg tidak mencocoki kitabulloh,sunnah,dan amal para sahabat.
(Tafsir al-Qurthubi : 2/87)
sekarang bid'ah hasanah mereka yg mencocoki amal para sahabat ?
apakah tahlilan atau sholawat nariyyah ?
lihat tafsir al qurtubi baik2..
Abu Bakr Ath-Thurthuusiy Al-Maalikiy rahimahullah berkata:
يرحمك الله - مذهب الصوفية بطالة وجهالة وضلالة، وما الإسلام إلا كتاب الله وسنة رسول، وأما الرقص والتواجد فأول من أحدثه أصحاب السامري، لما اتخذ لهم عجلا جسدا له خوار قاموا يرقصون حواليه ويتواجدون؛ فهو دين الكفار وعباد العجل؛ ....... وإنما كان يجلس النبي صلى الله عليه وسلم مع أصحابه كأنما على رؤوسهم الطير من الوقار؛ فينبغي للسلطان ونوابه أن يمنعهم عن الحضور في المساجد وغيرها؛ ولا يحل لأحد يؤمن بالله واليوم الآخر أن يحضر معهم، ولا يعينهم على باطلهم؛ هذا مذهب مالك وأبي حنيفة والشافعي وأحمد بن حنبل وغيرهم من أئمة المسلمين وبالله التوفيق.
“Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu,… madzhab Shuufiyyah hanyalah kesia-siaan, kebodohan, dan kesesatan. Islam itu hanyalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Adapun tarian dan sikap berkasih-kasihan, yang pertama kali mengadakannya adalah rekan-rekan Saamiriy. Ketika ia berhasil membuat patung anak sapi yang bisa bersuara, maka mereka berdiri menari di sekitarnya sambil berkasih-kasihan. Perbuatan tersebut merupakan agama orang kafir dan penyembah anak sapi..... Adapun majelis Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama para shahabatnya, (keadaannya) adalah seakan-akan di kepala-kepala mereka terdapat burung karena ketenangannya. Sudah seharusnya sulthaan dan para wakilnya melarang mereka (shufiy) menghadiri masjid-masjid dan yang lainnya. Tidak halal bagi seorang pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir hadir pada kegiatan mereka. Tidak diperbolehkan menolong kebathilan mereka. Inilah madzhab Maalik, Abu Haniifah, Asy-Syaafi’iy, Ahmad bin Hanbal, dan yang lainnya dari kalangan imam-imam kaum muslimin. Wabillaahit-taufiiq” [Tafsiir Al-Qurthubiy, 11/238].
DIA BERKATA : Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan :
المحدثات من الأمور ضربانأحدهما ما أحدث مما يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، وهذه محدثة غير مذمومة
“Hal baru terbagi menjadi dua, pertama apa yang bertentangan dengan Al Quran, Sunah, atsar, dan ijma, maka inilah bid`ah dholalah. Yang kedua adalah hal baru dari kebaikan yang tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut, maka baru ini tidaklah tercela..”[2]
Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan :
والمراد بالبدعة: ما أحدث ممّا لا أصل له في الشريعة يدل عليه، فأمّا ما كان له أصل من الشرع يدل عليه فليس ببدعة شرعًا، وإن كان بدعة لغة
“ Yang dimaksud dengan bid’ah adalah : Segala perkara baru yang tidak ada asalnya dalam syare’at yang menunjukkan atasnya. Adapun perkara baru yang ada asal dari syare’at yang menunjukkan atasnya, maka bukanlah bid’ah dalam segi syare’atnya, walaupun itu bid’ah dalam segi bahasanya “. [3]
JAWAB :ente lagi mengartikan serampangan alias tidak limiah,membuat talbis tipu muslihat.
لا خلاف فيه لواحد من هذا
diartikan :tidak bertentangan dengan salah satu dari yang telah disebut
yg benar :tidak ada perbedaan di dalamnya dengan salah satu dari ini.
arti ini selaras dengan penafsiran imam nawawi :"Dan perkara-perkara yang baru ada dua bentuk, yang pertama adalah yang menyelisihi Al-Kitab atau As-Sunnah atau atsar atau ijma', maka ini adalah bid'ah yang sesat. Dan yang kedua adalah yang merupakan kebaikan, tidak seorang ulamapun yang menyelisihi hal ini (bahwasanya ia termasuk kebaikan-pen) maka ini adalah perkara baru yang tidak tercela"(Tahdziib Al-Asmaa' wa Al-Lughoot (3/23))

قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )
Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal (kebiasaan) yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi (bertentangan) dengan pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebiasaan yang baik (kebaikan) yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyalahi (tidak bertentangan) dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji, (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313)
apakah ente lebih mengerti dari imam nawawi

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menjelaskan maksud perkataan Imam Asy Syafi’i mengenai bid’ah hasanah (mahmudah) dan bid’ah madzmumah, “Yang dimaksudkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya bahwa bid’ah madzmumah (yang tercela) adalah segala amalan yang tidak ada asalnya dalam syari’at yang mendukungnya. Inilah bid’ah yang dimutlakkan dalam syari’at. Sedangkan bid’ah yang terpuji (bid’ah hasanah, pen) adalah bid’ah yang bersesuaian dengan sunnah (ajaran Rasul), yaitu yang memiliki asal dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pendukung. Namun yang dimaksudkan dengan bid’ah hasanah di sini adalah bid’ah secara bahasa dan bukan bid’ah menurut istilah syar’i karena bid’ah kedua ini bersesuaian dengan ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”[ Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 131]
DIA BERKATA : Amaliah maulid Nabi, tidak ada sesuatu hal yang mengharuskan untuk melakukannya di masa Nabi maupun di masa tiga kurun terbaik, karena di masa-masa itu para sahabat atau ulama salaf tidak butuh suatu acara untuk mengingat-ingat supaya lebih mencintai dan mensyukuri Nabi, sebab mereka para sahabat sudah cukup kuat keimanannya kepada Nabi, bahkan suduh cukup Nabi yang selalu berjumpa, bertemu dan menasehati para sahabat langsung ketika itu yang hidup di tengah-tengan para sahabatnya. Tidak seorang pun dai sahabat yang mengalami kesyubhatan, kecuali Nabi mencerahkannya, tidak seorang pun dari sahabat yang kesumpekan dan kesusahan kecuali Nabi melapangkannya, tidak seorang pun dari sahabat yang mengalami kerasnya hati atau was-was kecuali pada Nabi lah mereka menemukan obat dan penawarnya. Hati mereka penuh dengan keimanan, ketenangan dan kekuatan taqwa. Selalu mengikuti sunnah Nabi, mengikuti jejak Nabi dan menysukuri nikmat diwujudkannya Nabi serta selalu mengingat Nabi.
JAWAB : he, lucunya ente mengakui cara menambah iman dg nasehat tapi kemudian membuat cara yg tidak dilakukan nabi,benarlah kata ahli ilmu.
" Jika manusia merasa dirinya lemah, hina, dan tidak dikenal, maka mereka akan mengadakan perkumpulan-perkumpulan berkala untuk mengagungkan pemimpin mereka tanpa memperhatikan prilaku mereka. Pengagungan itu tidaklah berat bagi jiwa yang lemah. Tidak diragukan bahwa pengagungan yang hakiki adalah dengan mentaati orang yang diagungkan, menerima nasehatnya, melaksanakan perintahnya, dan menjunjung tinggi agamanya. Hal tersebut berlaku jika dia seorang Rasul. Jika dia seorang raja, maka dengan cara mengabdi kepadanya."
[ Fatawa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, III, 54-56 ].
DIA BERKATA : Keadaan seperti ini terus berlangsung hingga masa tabi’in, sehingga mereka sama sekali tidak memikirkan atau bahkan tidak terlintas untuk mengadakan suatu acara agar memberikan motivasi dalam mencintai dan mensyukuri nikmat diutusnya Nabi.
JAWAB : he..coba tanya,bagaimana mereka memotivasi diri setelah wafat nabi,apakah dg maulid?kalau tidak,mengapa tidak pakai cara mereka? apakah karena mereka tiga generasi utama pasti terjamin imannya?,sedangkan iman mereka naik turun juga, dari Kalangan tabi’ut Tabi’in, di antaranya:
Abdurrahman bin ‘Amru al-‘Auzaa’i (wafat tahun 157 H) menyatakan,
الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ
“Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.”Diriwayatkan al-Aajuuri dalam kitab asy-Syari’at hlm 117.]
Beliau juga ditanya tentang iman, “Apakah bisa bertambah?” Beliau menjawab, “Iya, hingga menjadi seperti gunung.” Beliau ditanya lagi, “Apakah bisa berkurang?” Beliau rahimahullah menjawab, “Iya, hingga tidak tersisa sedikitpun darinya”.[Diriwayatkan al-Laalakai dalam Ushul I’tiqaad 5/959.]
DIA BERKATA : Kenapa Ibnu Utsaimin tidak mau menyebut perkara itu bid’ah padahal ia meyakini itu perkara baru dalam urusan agama dan tak ada dalil sahihnya ?? terlebih dengan lantang al-Albani dan Bakar Abu Zaid mengakui bahwa hal itu memang bid’ah yang sesat. Apa sebab Ibnu Utsaimin menyebut bid’ah pada persoalan maulid? Padahal kasusnya sama dengan kasus di atas?
JAWAB : kalau gak tau tanya jangan menghukumi,jangan juga bertanya sambil menghukumi di atas kejahilan.
kaidahnya jelas, Imam As Suyuthi mengatakan dalam Al Asybah wan Nazhair:
الْقَاعِدَةُ الْخَامِسَةُ وَالثَّلَاثُونَ ” لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيهِ ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ
Kaidah yang ke-35, “Tidak boleh ada pengingkaran terhadap masalah yang masih diperselisihkan. Seseungguhnya pengingkaran hanya berlaku pada pendapat yang bertentangan dengan ijma’ (kesepakatan) para ulama.” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wa An Nazhair, Juz 1, hal. 285.)
itulah mengapa syekh utsaimin tidak membid'ahkan.
sedangkan al-Albani dan Bakar Abu Zaid menggunakan tarjih salh satu pendapat,sebagaimana Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:
وَمِمَّا يَتَعَلَّق بِالِاجْتِهَادِ لَمْ يَكُنْ لِلْعَوَامِّ مَدْخَل فِيهِ ، وَلَا لَهُمْ إِنْكَاره ، بَلْ ذَلِكَ لِلْعُلَمَاءِ . ثُمَّ الْعُلَمَاء إِنَّمَا يُنْكِرُونَ مَا أُجْمِعَ عَلَيْهِ أَمَّا الْمُخْتَلَف فِيهِ فَلَا إِنْكَار فِيهِ لِأَنَّ عَلَى أَحَد الْمَذْهَبَيْنِ كُلّ مُجْتَهِدٍ مُصِيبٌ . وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَار عِنْد كَثِيرِينَ مِنْ الْمُحَقِّقِينَ أَوْ أَكْثَرهمْ . وَعَلَى الْمَذْهَب الْآخَر الْمُصِيب وَاحِد وَالْمُخْطِئ غَيْر مُتَعَيَّن لَنَا ، وَالْإِثْم مَرْفُوع عَنْهُ
“Dan Adapun yang terkait masalah ijtihad, tidak mungkin orang awam menceburkan diri ke dalamnya, mereka tidak boleh mengingkarinya, tetapi itu tugas ulama. Kemudian, para ulama hanya mengingkari dalam perkara yang disepati para imam. Adapun dalam perkara yang masih diperselisihkan, maka tidak boleh ada pengingkaran di sana. Karena berdasarkan dua sudut pandang setiap mujtahid adalah benar. Ini adalah sikap yang dipilih olah mayoritas para ulama peneliti (muhaqqiq). Sedangkan pandangan lain mengatakan bahwa yang benar hanya satu, dan yang salah kita tidak tahu secara pasti, dan dia telah terangkat dosanya.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/131. Mawqi’ Ruh Al Islam)
DIA BERKATA : para imam masjid di haramain (Makkah dan Madinah) seperti syaikh Abdurrahman Sudais, syaikh Husain bin Abdul Aziz Aalu syaikh, syaikh Ali Al-Hudzaifi dan lainnya, mereka di dalam shalat tarawikh selalu menentukan bacaan Al-Quran di setiap roka’atnya sampai pada hari ke dua puluh tuju atau dua puluh Sembilan, mereka mengkhatamkan Al-Quran, ini mereka lakukan berulang-ulang setiap tahunnya, padahal tidak ada yang melakukannya di tiga kurun terbaik. Demikian juga membaca doa khatam Al-Quran di setiap akhir malam Ramadhan atau malam ke dua puluh sembilannya pada setiap tahunnya. Hal ini merupakan taqyid atau pengkhususan ibadah dan perkara baru yang tidak pernah dilakukan oleh ulama salaf sepanjang tiga kurun terbaik.
JAWAB : INI TUDUHAN,sedangkan dalam islam menuduh harus mengajukan bukti.mana bukti beliau2 mengkhususkan,pernahkah beliau berkata atau ente tanya ke dia ? apakah melakukan berkali2 berarti mengkhususkan?.apalagi dalam sholat ada tempat khusus baca qur'an tanpa batasan,yg melarang silahkan ajukan bukti.
ibnu Taimiyah berkata, “Dalam shalat tarawih disunnahkan untuk mengkhatamkan Al Quran kala itu. Inilah yang disepakati oleh para ulama bahkan itulah bagian dari maksud tarawih. Tujuannya adalah supaya kaum muslimin bisa mendengarkan Al Quran seluruhnya di bulan Ramadhan. Karena bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Quran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang begitu semangat melakukan kebaikan. Beliau lebih bertambah semangat lagi di bulan Ramadhan, saat itu pula Jibril mengajari beliau Al Quran.” (Majmu’ Al Fatawa, 23: 122-123).

Kamis, 30 Oktober 2014

SYEKH UTSAIMIN TIDAK KONSISTEN ATAU IBNU AL KATIBIY YANG JAHIL


dia berkata : sejak kapan wahabi sedikit legowo dengan mengakui tidak semua yang tidak dilakukan salaf otomatis bid’ah ? atau ini hanya taqiyyah mereka saja ketika mentok berhujjah ?
JAWAB : he,sejak kapaan?Pertanyaan terkonyol yg penah ana dengar,kalo idrus ramli denger akan ngakak,he..ente gak tahu bukan berarti gak ada,itu karena kejahilan dan terlalu bernafsu menyalahkan oRang lain.
perhatikan kaidah berikut :
إذا تَرَكَ الرسول صلى الله عليه وسلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضي لها قائمًا ثابتًا ، والمانع منها منتفيًا ؛ فإن فعلها بدعة
”Apabila Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam meninggalkan satu ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada, padahal faktor dan sebab yang menuntut dikerjakan ada, sementara faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah tersebut adalah bid’ah”.
Ada dua kata kunci di sini, yaitu :
1.          Keberadaan faktor dan sebab yang menuntut dilakukannya amalan tersebut.
2.          Ketiadaan faktor penghalang untuk mengerjakan amalan tersebut.
Kaidah turunan yang lebih luas lagi adalah :
كل عبادة من العبادات ترك فعلها السلف الصالح من الصحابة والتابعين وتابعيهم أو نقلها أو تدوينها في كتبهم أو التعرض لها في مجالسهم فإنها تكون بدعة بشرط أن يكون المقتضي لفعل هذه العبادة قائمًا والمانع منه منتفيًا
”Setiap ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada yang tidak dilakukan oleh ­as-salafush-shaalih dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in; atau mereka tidak menukilnya (tidak meriwayatkannya) atau tidak menukilnya dalam kitab-kitab mereka, atau tidak pernah menyinggung masalah tersebut dalam majelis-majelis mereka; maka jenis ibadah tersebut adalah bid’ah dengan syarat faktor penuntut untuk mengerjakan ibadah tersebut ada dan faktor penghalangnya tidak ada.
soal maulid :  Maulid Nabi. Jika kita ditanya : ”Apakah hal itu dilakukan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (atau jaman shahabat setelah Nabi wafat) ?”. Jawabannya : Tidak. Apakah ini disebut bid’ah ? Jawabannya adalah : Ya. Mengapa ? Karena faktor pendorong dan sebab untuk dilakukan di jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam ada. Juga, faktor penghalangnya pun tidak ada. Namun realitas menyatakan bahwa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak melakukannya. Apa artinya ? Artinya, maulid Nabi bukan merupakan amalan yang teranggap dalam syari’at secara asal. Jika ada yang mengatakan : ”Kami melakukannya dengan tujuan (faktor pendorong) untuk meramaikan syi’ar-syi’ar Islam dan sebagai wujud rasa syukur kami kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam”. Jika memang itu faktor pendorong Anda, maka kami jawab : ”Bukankah faktor pendorong yang sama sangat mungkin ada pada jaman Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya serta tidak ada halangan bagi mereka untuk melakukannya ? Namun ternyata mereka tidak melakukannya !!. Jadi, itu merupakan amalan bid’ah. Bukan teranggap sebagai kemaslahatan dalam syari’at.
sebagaimana diterangkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Husain Al-Jizaaniy dalam kitab Qawaaidu Ma’rifatil-Bida’.
dia berkata :Ibn Baz mengatakan :
ومعلوم أن الرسولَ صلى الله عليه وسلم لم يفعله ، ولا خلفاؤه الراشدون ، ولا غيرُهم من الصحابة ـ رضوان الله على الجميع ـ ولا التابعون لهم بإحسان في القرون المفضلة ، وهم أعلم الناس بالسنة ، وأكمل حباً لرسول الله صلى الله عليه وسلم ومتابعةً لشرعه ممن بعدهم.
“ Dan sudah maklum bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya, demikian juga para khalimah ar-Rasyidah dan para sahabat lainnya juga para tabi’in di masa-masa utama, padahal mereka lebih mengetahui sunnah Nabi, lebih sempurna dalam mencintai dan mengikuti syare’at Nabi daripada orang sesudahnya “.
Coba anda perhatikan illat hujjah Ibn Baz tersebut dalam pelarangan maulid Nabi. Secara mafhumnya Ibn Baz sama saja mengatakan, “ Para ulama salaf itu orang yang paling mengetahui tentang sunnah dan paling sempurna dalam mencintai dan mengikuti tuntunan Nabi, tapi tidak ada tuh yang melakukan praktek maulid, maka maulid adalah bid’ah “.
JAWAB : lagi-lagi nte tidak ilmiah dalam menukil, yang ada adalah
لأن الرسول صلى الله عليه وسلم لم يفعله، ولا خلفاؤه الراشدون، ولا غيرهم من الصحابة رضوان الله عليهم، ولا التابعون لهم بإحسان في القرون المفضلة، وهم أعلم الناس بالسنة، وأكمل حباً لرسول الله صلى الله عليه وسلم ومتابعة لشرعه ممن بعدهم
http://www.binbaz.org.sa/mat/8184
beliau ibn baz berkata juga : والرسول صلى الله عليه وسلم  قد بلغ البلاغ المبين، ولم يترك طريقاً يوصل إلى الجنة، ويباعد من النار إلا بينه للأمة، كما ثبت في الحديث الصحيح عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((ما بعث الله من نبي إلا كان حقاً عليه أن يدل أمته على خير ما يعلمه لهم وينذرهم شر ما يعلمه لهم)) رواه مسلم في صحيحه
dan rosul telah menyampaikan keterangan yg jelas, dan tidak meninggalkan suatu jalan yg menyampaikannya ke syuga dan menjauhkannya dai neraka kecuali akan dijelaskan.seperti dalam hadits shohih dari ibnu umar bekata;rosul bersabda:tidaklah alloh mengutus nabi kecuali harus baginya menerangkan kebaikan yg diketahui dan keburukan yg diketahui  (HR.muslim)
jadi yg jadi tolak ukur beliau dalam bid'ah adalah adakah sesuatu itu yg menuntut adanya dan nabi mampu namun nabi tidak menerangkannya ?

dia ibnu alkatibi bkata :  Di mana kaitannya dalil tersebut dengan kasus yang sedang dibicarakan wahai wahabi ? masalah yang sedang dibahas adalah hukum doa khatam al-Quran di dalam sholat bukan di luar sholat.  Maka dalil anda tidak tepat sasaran sama sekali. Bahkan sudah dibantah sendiri oleh tokoh wahabi Ibnu al-Utsaimin meskipun ia juga masih bingung :
" Doa khatam Al-Quran di dalam sholat

Soal : Apa pendapat kalian tentang anggapan sebagian orang bahwa doa khatam Al-Quran adalah termasuk bid’ah ?
Jawab : Saya tidak mengetahui adanya dalil sahih yang dapat dijadikan sandaran untuk melakukan doa khatam al-Quran di dalam sholat, baik dari sunnah Nabi maupun sunnah sahabat. Maksimalnya dalam hal ini adalah perbuatan Anas bin Malik ketika hendak menyelesaikan Al-Quran, bahwa ia mengumpulkan keluarganya dan berdoa, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya di dalam sholatnya. Sedangkan sholat sebagaimana maklumnya tidak boleh membuat doa baru di tempat yang tidak datang dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, karena ada sabda Nabi “ Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat “. Adapun menyebut bid’ah pada doa khatam al-Quran di dalam sholat, maka aku tidak menyukai penyebutan bid’ah tersebut, karena ulama sunnah berbeda pendapat tentangnya “.
Komentar saya (al-Katibiy) : dalam komentar di atas, ibn al-Utsaimin mengira-ngira dalil yang ia bawakan, lalu dengan tegas ia bantah sendiri dengan mengatakan, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya di dalam sholatnya. Artinya Ibnu al-Utsaimin akhirnya mengakui bahwa sahabat Anas bin Malik tidak pernah melakukan doa khatam al-Quran di dalam sholat, maka dalam arti lain, dalil tersebut tidak tepat dijadikan landasan. Dan ini merupakan penipuan dalil...
JAWAB : bukan syaikh utsaimin yg bingung tapi ente yg minim ilmu dan penuh kebencian sehingga tidak adil dan ilmiah.
perkataan syeikh :akan tetapi hal itu tidak dilakukannya di dalam sholatnya. ITU BUKAN KESIMPULAN,tapi bentuk keilmiahan beliau dalam menukil bukan menipu tapi ente yg penipu yg jelas terlihat.
lihat teks lebih lengkapnya :perbuatan Anas bin Malik ketika hendak menyelesaikan Al-Quran, bahwa ia mengumpulkan keluarganya dan berdoa, akan tetapi hal itu tidak dilakukannya di dalam sholatnya.
jadi yg di maksud dalam riwayat bukan kesimpulan beliau tentang hukum.
adapun yg dilarang syaikh adalah : tidak boleh membuat doa baru di TEMPAT YANG tidak datang dari Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam
sedangkan dalam sujud atau yg lainnya yg disitu ada nabi memberi tempat keleluasaan  maka tidak masalah.kecuali ente yg bermasalah he..
adapun perkataan ibn baz :“ Maka wajib bagi umat Islam yang berdoa, mengikat dengan syare’at dan bepegang teguh dengan yang telah didatangkan oleh syare’at saja di dalam dzikir atau selain dzikir, di dalam sholat, puasa, dzikir dan di semua ibadah. Wa Allahu al-Musta’an “.
maka benar,namun syariat itu termasuk bayan nabi dan mempunyai kaidah2 syaiat

Selasa, 28 Oktober 2014

IBNU BAZ TIDAK KONSISTEN ATAU IBNU AL KATIBIY YANG JAHIL


AL KATIBIY : Ketika Ibn Baz ditanya tentang bagaimana hukum berdoa khatam al-Quran di dalam sholat, oleh Ibn Baz dijawab :
وكان أنس رضي الله عنه إذا أكمل القرآن جمع أهله ودعا رضي الله عنه في خارج الصلاة، أما في الصلاة فلا أحفظ عنه شيئاً في ذلك ولا عن غيره من الصحابة لكن ما دام يفعله في خارج الصلاة، فهكذا في الصلاة، لأن الدعاء مشروع في الصلاة وليس بأمر مستنكر. ولا أعلم عن السلف أن أحداً أنكر دعاء ختم القرآن من داخل الصلاة، كما أنني لا أعلم من أنكره خارج الصلاة، وهذا هو الذي يعتمد عليه أنه معلوم عند السلف وقد درج عليه أولهم وآخرهم، فمن قال: إنه منكر فعليه بالدليل
“ Konon Anas Radhiallahu ‘anhu jika telah menyempurnakan al-Quran beliau mengumpulkan keluarganya dan berdoa di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka aku tidak menghafal (tidak ingat) sedikit pun dari hal itu dan juga aku tidak mengetahui dari para sahabatnya, akan tetapi selama boleh dilakukannya di luar sholat, maka demikian juga boleh dilakukan di luar sholat. Karena doa itu disyare’atkan di dalam sholat dan bukanlah perkara yang diingkari. Dan aku pun tidak mengetahui seorang pun dari ulama salaf yang mengingkari doa khatam al-Quran di dalam sholat, sebagaimana aku tidak mengetahui seorang pun yang mengikarinya jika dilakukan di luar sholat. Inilah yang maklum yang dipegang bagi ulama salaf dan hal ini (berdoa khatam Quran di luar sholat) telah menjadi rutinan sejak awal hingga akhir salaf, maka barangsiapa yang mengingkarinya, wajib ia menampilkan dalilnya “. (Silakan cek di situs resminya : http://www.binbaz.org.sa/mat/4522)
JAWAB : inilah akibat kurang teliti menerjemahkan,seharusnya
“ Konon Anas Radhiallahu ‘anhu jika telah menyempurnakan al-Quran beliau mengumpulkan keluarganya dan berdoa di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka aku tidak menghafal (tidak ingat) sedikit pun dari hal itu dan juga aku tidak mengetahui dari para sahabatnya, akan tetapi selama boleh dilakukannya di luar sholat, maka demikian juga boleh dilakukan di DALAM sholat. Karena doa itu disyare’atkan di dalam sholat dan bukanlah perkara yang diingkari. Dan aku pun tidak mengetahui seorang pun dari ulama salaf yang mengingkari doa khatam al-Quran di dalam sholat, sebagaimana aku tidak mengetahui seorang pun yang mengikarinya jika dilakukan di luar sholat. Inilah yang maklum yang dipegang bagi ulama salaf dan hal ini (berdoa khatam Quran di luar sholat) telah DIPRAKTEKKAN sejak awal hingga akhir salaf, maka barangsiapa yang mengingkarinya, wajib ia menampilkan dalilnya
AL KATIBIY : Coba perhatikan, Ibn Baz meyakini bahwa amalan berdoa khatam al-Quran di dalam sholat tidak pernah dilakukan oleh sahabat dan bahkan ulama salaf, maka seharusnya (sewajibnya) Ibn Baz mengatakan hal itu adalah bid’ah, karena jika membaca doa khatam al-Quran itu suatu kebaikan, sudah pasti para sahabat dan ulama salaf telah lebih dahulu melakukannya…inilah seharusnya yang mereka katakana, karena ini kaidah mereka. Tapi ternyata Ibn Baz membuat Qiyas dalam suatu ibadah dengan diperbolehkannya doa di luar sholat tanpa dalil satu pun. Bukankah semua ini mementang kaidah mereka sendiri ??
JAWAB : tidak semua yg tidak dilakukan salaf otomatis bid'ah,karena memang doa apapun yg baik disyariatkan dalam sholat termasuk doa khatam qur'an asal tidak mengkhususkan doa tertentu karena memang tidak ada doa khusus,
Dalil tentang hal ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb azza wa jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim no. 479)
Ada ulama yang menyatakan bahwa ruku’ dan sujud adalah dua keadaan di mana seseorang tunduk dan hina di hadapan Allah, sehingga bacaan yang lebih pantas ketika itu adalah do’a dan bacaan tasbih. Oleh karena itu, terlarang membaca Al Qur’an ketika sujud dalam rangka untuk mengagungkan Al Qur’an dan untuk memuliakan yang membacanya. (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/91)
Salah seorang ulama Syafi’iyah, Az Zarkasyi rahimahullah berkata,
وَمَحَلُّ كَرَاهَتِهَا إذَا قَصَدَ بِهَا الْقُرْآنَ فَإِنْ قَصَدَ بِهَا الدُّعَاءَ وَالثَّنَاءَ فَيَنْبَغِي أَنْ تَكُونَ كَمَا لَوْ قَنَتَ بِآيَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ
“Yang terlarang adalah jika dimaksudkan membaca Al Qur’an (ketika sujud). Namun jika yang dimaksudkan adalah do’a dan sanjungan pada Allah maka itu tidaklah mengapa, sebagaimana pula seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al Qur’an” (Tuhfatul Muhtaj, 6/6, Mawqi’ Al Islam).
apalagi sudah terbukti itu pernah dilakukan oleh salaf diluar sholat,
Riwayat Anas diriwayatkan oleh Tsabit Al Banani, Qotadah, Ibnu ‘Athiyah dan selainnya,
كَانَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ أَهْلَهُ وَوَلَدَهُ ، فَدَعَا لَهُمْ
“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah ketika khatam Al Qur’an mengumpulkan keluarga dan anaknya, lalu Anas berdoa untuk kebaikan mereka.” (HR. Ibnul Mubarok, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Nashr, Ibnu ‘Ubaid, Ibnu Adh Dhurais, Ibnu Abi Daud, Al Faryabi, Ad Darimi, Sa’id bin Manshur, Ath Thobroni, Al Anbari. Al Haitsami katakan bahwa dalam periwayat dalam sanad Thobroni adalah tsiqoh, kredible. Syaikh Al Albani katakan bahwa dalam riwayat Ad Darimi sanadnya shahih)
adapun qiyas dalam cabang ibadah itu diperbolehkan apalagi pengkhususan tempat doa ada dalam sholat.
أن أصل العبادة لا يصح إثباته بالقياس، فلا يصح لنا أن نثبت صلاة جديدة مثلا
لو جعل الإنسان قال في وسط النهارهناك صلاتان الظهر والعصر فيجعل في وسط
الليل صلاتين العشاء والصلاة الأخري نقول هذا مردود غير مقبول، لماذا؟ لأن
أصل العبادة لا يثبت بالقياس.
Syaikh Dr Saad as Syatsri mengatakan, “Ashl ibadah
itu tidak boleh ditetapkan dengan dasar qiyas atau analog. Kita tidak
boleh menetapkan shalat baru dengan dasar qiyas. Andai ada yang
mengatakan bahwa di pertengahan siang ada dua shalat yaitu zhuhur dan
ashar maka hendaknya di pertengahan malam juga ada dua shalat yaitu Isya
dan selainnya. Dengan tegas kita katakan bahwa ini adalah amalan yang
tertolak dan tidak diterima karena ashl ibadah tidaklah ditetapkan
dengan qiyas.
بخلاف
تفاريع العبادة فإننا قد نثبتها بواسطة القياس مثال ذلك لو جاء الإنسان
فقال التيمم يشرع له التسمية قياسا على الوضوء. الوضوء واضح هناك الأحاديث
ترد التسمية في الوضوء فنقول بمشروعية التسمية للوضوء لذا لو جاء الإنسان
قال نقيس الوضوء بالاغتسال والتيمم فيقول يشرع لها البسملة فيكون بذلك
وجهه.
Lain halnya dengan cabang2 ibadah, maka terkadang kita
menetapkannya dengan qiyas. Misalnya dituntunkan untuk menyebut nama
Allah ketika bertayamum dengan dasar qiyas dengan wudhu. Untuk wudhu
terdapat hadits yang menunjukkan dituntunkannya tasmiyah atau menyebut
nama Allah ketika berwudhu sehingga dengan tegas kita katakan
dituntunkan menyebut nama Allah ketika berwudhu sehingga jika ada yang
mengatakan kita analogkan mandi dan tayamum dengan wudhu oleh karena itu
dituntunkan menyebut nama Allah ketika itu maka ini adalah pendapat
yang sangat beralasan”
عن الإمام أحمد رحمه الله تعالى في رواية حنبل والفضل والحربي عنه - والتي لم نقف على أسانيدها - : من جعل دعاء الختم في صلاة التراويح قبل الركوع .
وفي رواية عنه - لا يعرف مخرجها - : أنه سهل فيه في دعاء الوتر ...
انظر : " مرويات دعاء ختم القرآن " .
Imam Ahmad rahimahullah ta’ala dalam riwayat Hanbal, Fadl dan Harby –yang tidak dapat kami ketahui sanadnya- yang menjadikan doa khatam (Al-Qur’an) dalam shalat Taraweh sebelum ruku. Dalam riwayat lain darinya –yang juga tidak diketahui siapa yang meriwayatkannya- bahwa beliau membolehkan hal tersebut dalam doa witir. (Silakan lihat 'Marwiyyat Doa Khatmi Al-Qur’an'.