Minggu, 16 November 2014

TUDUHAN IDRUS :IBNU TAIMIYYAH PECINTA TAHLILAN


IDRUS : Fenomena bahwa Tahlilan telah berkembang sejak abad pertengahan, diterangkan oleh Syaikh Ibnu Taimiyah dalam fatwanya:
وَسُئِلَ: عَنْ رَجُلٍ يُنْكِرُ عَلَى أَهْلِ الذِّكْرِ يَقُولُ لَهُمْ : هَذَا الذِّكْرُ بِدْعَةٌ وَجَهْرُكُمْ فِي الذِّكْرِ بِدْعَةٌ وَهُمْ يَفْتَتِحُونَ بِالْقُرْآنِ وَيَخْتَتِمُونَ ثُمَّ يَدْعُونَ لِلْمُسْلِمِينَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ وَيَجْمَعُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّكْبِيرَ وَالْحَوْقَلَةَ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم؟” فَأَجَابَ : الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : ( إنَّ للهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ ) وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ ( وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك )… وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْرُ ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا. (مجموع فتاوى ابن تيمية، ٢٢/٥٢٠).
“Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendoakan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illaa billaah) dan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.?” Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca al-Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta pada sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan hamba-hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520).
Pernyataan Syaikh Ibn Taimiyah di atas memberikan kesimpulan bahwa dzikir berjamaah dengan komposisi bacaan yang beragam antara ayat al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, shalawat dan lain-lain seperti yang terdapat dalam tradisi tahlilan adalah amal shaleh dan termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu.
JAWAB : 1) dia menyelewengkan terjemahan dari perkataan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah AL-IJTIMA’ LI DZIKRILLAH diterjemahkan Berjamaah dalam berdzikir yang seharusnya AL-IJTIMA’ LI DZIKRILLAH diterjemahkan “perkumpulan untuk mengingat Allah
2) ibnu taimiyyah :أَنْ يَكُونَ هَذَا أَحْيَانًا فِي بَعْضِ الْأَوْقَاتِ وَالْأَمْكِنَةِ AKAN TETAPI HAL INI HENDAKNYA DILAKUKAN KADANG2 DI SEBAGAIAN WAKTU DAN TEMPAT artinya tidak terikat waktu,tidak boleh mengkhususkan
3)yg disebut amal sholih adalah masing amalan bukan modifikasi,campuraduk seenaknya.lihat الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ tidak ada isyarat pencampuran sedikitpun
IDRUS : Walaupun Tahlilan belum ada pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Syaikh Ibnu Taimiyah sendiri menganggapnya sebagai amal saleh dalam setiap waktu. Kalau sudah amal saleh, mengapa tidak dirutinkan saja? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عن عائشة قالت : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أحب الأعمال إلى الله أدومها ، وإن قل »
“Aisyah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Amal (saleh) yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan paling rutin, meskipun sedikit”. (HR. al-Bukhari [6100], Muslim [783], Ahmad [25356], dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra [4342]).
Pandangan Ibnu Taimiyah bahwa amal saleh yang tidak ada pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak boleh dirutinkan, jelas tidak berdalil. Dan dalil hadits, justru sebaliknya, menganjurkan dirutinkan
JAWAB : karena yg dirutinkan yg jelas sunnahnya dirutinkan demikianlah penjelasan sahabat dan para ulama' bahwa adwam itu tidak mesti berarti mengkhususkan.
aisyah sendiri saat ditanya :هل كان يَخُصَّ شيئًا من الأيام ؟ apakah nabi mengkhususkan sesuatu dari hari-harinya? aisyah menjawab : لا ، كان عَملُه دِيمةً tidak,amal beliau tetap(HR.BUKHORI)
yakni tetap seperti air hujan bukan campur aduk,akan tetai tetap sederhana
sebagaimana dikatakan ibnu atsir dalam jamiul ushul:شَبَّهَتْ عمله في دوامه مع الاقتصاد بديمة المطر menyerupai amalnya dalam tetapnya seperti tetapnya air hujan
dan ini hanya untuk ibadah yg dirutinkan,oleh karena para ulama mencontohkannya seperti sholat tathowwu' atau rowatib,dsb yang jelas waktunya.seperti imam syafi'i memasukkannya dalam kitab tathowwu',lihat ma'rifatus sunan wal atsar juz 3 hal 429
IDRUS : Al-Imam Ahmad bin Hanbal rutin mendoakan gurunya dalam shalat sebagaimana diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi berikut ini:
قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: إِنِّيْ لأَدْعُو اللهَ لِلشَّافِعِيِّ فِيْ صَلاَتِيْ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً، أَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيِّ. (الحافظ البيهقي، مناقب الإمام الشافعي، 2/254).
“Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Saya mendoakan al-Imam al-Syafi’i dalam shalat saya selama empat puluh tahun. Saya berdoa, “Ya Allah ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris al-Syafi’i.” (Al-Hafizh al-Baihaqi, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, 2/254).
Doa seperti itu sudah pasti tidak pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan tabi’in. Tetapi al-Imam Ahmad bin Hanbal melakukannya selama empat puluh tahun secara rutin.
JAWAB : soal isi doa terseah asal baik,memang nabi memberi kebebasan,soal rutin dalam sholat,memang dalam sholat tempat2 berdoa bebas,bahkan mustajab.
seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengajarkan tasyahud kepada Ibnu Mas’ud, nabi bersabda,
ثم ليتخير من الدعاء ما شاء
“Kemudian pilihlah doa yang dia inginkan.”(HR.muslim)
ibnu hajar berkata :واستدل به على جواز الدعاء في الصلاة بما اختار المصلي من أمر الدنيا والآخرة dan itu menjadi dalil bahwa boleh berdoa dalam sholat dg apa yg dipilih musholi dari perkara dunia dan akhirat.
jadi boleh dirutinkan dalam sholat karena tempat doanya jelas,dan isinya bebas dalam kebaikan
IDRUS :Syaikh Ibnu Taimiyah tidak melarang melakukan Tahlilan secara rutin. Beliau hanya menganjurkan, agar jangan terlalu rutin saja, yakni melakukan Tahlilan kok rutin seperti menunaikan shalat berjamaah lima waktu. Dalam hal ini, Ibnu Taimiyah tidak mengharamkan atau melarang Tahlilan secara rutin.
JAWAB :1) ibnu taimiyyah berkata : فَلَا يُجْعَلُ سُنَّةً رَاتِبَةً jadi tidak dijadikan sunnah ratibah dirutinkan,bukan berarti boleh jangan terlalu rutin atau boleh agak rutin.ini akal2an.disitu nafyu penafian rutin secara mutlak mau setengah utin atau seperemat rutin sama saja.kecuali yg rutin saja seperti sholat jamaah,artinya selain yg rutin dimutlakkan saja.
2)justru ibnu taimiyyah jelas melarang tahlilan,masih di kitabnya yang sama di Majmu’ Fatawa juz 24 hal 316
Dimana beliau berkata:
وَأَمَّا صَنْعَةُ أَهْلِ الْمَيِّتِ طَعَامًا يَدْعُونَ النَّاسَ إلَيْهِ فَهَذَا غَيْرُ مَشْرُوعٍ وَإِنَّمَا هُوَ بِدْعَةٌ بَلْ قَدْ قَالَ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ : كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَتَهُمْ الطَّعَامَ لِلنَّاسِ مِنْ النِّيَاحَةِ . وَإِنَّمَا الْمُسْتَحَبُّ إذَا مَاتَ الْمَيِّتُ أَنْ يُصْنَعَ لِأَهْلِهِ طَعَامٌ ، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ : { اصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ }.
“ Adapun keluarga mayit membuat makanan, dan mengundang manusia ke rumahnya maka ini sama sekali tidak di Syari’atkan dan itu termasuk BID’AH bahkan, (salah seorang sahabat yang bernama )Jarir Bin Abdillah berkata:” kami dahulu menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga mayit dan membuat makanan untuk manusia termasuk dalam Niyahah (meratap), akan tetapi yang disukai jika ada seorang yang meninggal adalah membuat makanan untuk keluarga mayit sebagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far karena sekarang mereka telah di timpa kesedihan.”

Tidak ada komentar: