Kamis, 19 Oktober 2017

Ikut madzhab rosul aja


Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin ditanya sebagai berikut.
Apakah orang awam yang bukan seorang yang alim dalam hal madzhab wajib baginya mengikuti madzhab tertentu dari empat madzhab yang ada? Lalu mana madzhab yang baiknya diikuti?
Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin:
Yang tepat, tidak wajib bagi seorang pun untuk memilih madzhab tertentu. Madzhab yang jelas yang wajib untuk diikuti adalah madzhab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan seluruh imam yang empat juga menginginkan agar kita bisa berpegang teguh dengan madzhab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena manusia (selain Rasul) bisa benar dan salah. Jadi tidak ada manusia selain Rasul yang wajib mutlak untuk diikuti.
Namun kami nyatakan bahwa siapa saja dari imam tadi yang berada di atas kebenaran, maka wajib untuk diikuti karena kita memandang bahwa ia benar, bukan karena memandang person atau sosoknya.
Inilah jawaban kami untuk persoalan seperti ini.
Sumber: Silsilah Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, kaset no. 56.

Keutamaan surat al waqi'ah


memang ada riwayat tentang keutamaan membaca surat al-Wâqi’ah setiap malam dalam beberapa hadits, akan tetapi semua hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah karena sebagiannya lemah, bahkan ada yang palsu. Di antaranya:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا

Barangsiapa membaca surat al-Wâqi’ah setiap malam, maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Hârits bin Abu Usâmah dalam kitab Musnad-nya, no. 178, dikeluarkan pula oleh Ibnu Sunniy dalam kitabAmalul Yaum wal Lailah, no. 674, dan dihukumi lemah oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalamSilsilah Âhadits Dha’îfah, 286 dan Dha’îf al-Jâmi’, 5773. Beliau sampaikan bahwa imam Ahmad bin Hambal, Imam Abu Hâtim ar-Râzi, imam Abdurrahman bin Abi Hatim, Imam ad-Daruquthni, al-Baihaqi dan selainnya melemahkan hadits ini. Demikian juga hadits yang berbunyi:

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْوَاقِعَةِ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ لَمْ تُصِبْهُ فَاقَةٌ أَبَدًا، وَمَنْ قَرَأَ كُلَّ لَيْلَةٍ {لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ} لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ فِي صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

Barangsiapa membaca surat al-Waqi’ah setiap malam maka dia tidak akan jatuh miskin selamanya. Dan barangsiapa setiap malam membaca Surat al-Qiyâmah maka dia akan berjumpa dengan Allâh pada hari kiamat sedangkan wajahnya bersinar layaknya rembulan di malam purnama.

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Dailami dari jalan Ahmad bin Umar al-Yamami dengan sanadnya sampai Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma. Hadits ini disebutkan juga oleh Imam as-Suyuthi dalam Dzailul Âhâdîts al-Maudhû’ah, no. 177. Imam Ahmad berkata,” Ahmad al-Yamami adalah rawi yang kadzdzab (yang suka berdusta). Para ulama menghukuminya sebagai hadits palsu. [LihatSilsilah Âhâdîts adh-Dha’îfah, no. 290].

Berdasarkan ini, maka tidak disyariatkan mengamalkan hadits-hadits di atas.

Ciri rumah tangga sakinah


1. Lihat bagaimana mereka memperlakukan alquran
Dalam hadits disebutkan,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seseorang dengan kitab ini (Al Qur’an) dan merendahkan yang lain dengan kitab ini.” (HR. Muslim no. 817, dari ‘Umar bin Al Khattab)

Disunnahkan sebulan khatam membaca
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِى شَهْرٍ » . قُلْتُ إِنِّى أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ « فَاقْرَأْهُ فِى سَبْعٍ وَلاَ تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ »

“Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam sebulan.” ‘Abdullah bin ‘Amr lalu berkata, “Aku mampu menambah lebih dari itu.” Beliau pun bersabda, “Bacalah (khatamkanlah) Al Qur’an dalam tujuh hari, jangan lebih daripada itu.” (HR. Bukhari No. 5054).
Tidak seperti kuburan rumahnya

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibaca surat al-Baqarah di dalamnya.”

2. Tidak menghalalkan yg diharamkan

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَـيَـكُوْنَـنَّ مِنْ أُمَّـتِـيْ أَقْوَامٌ يَـسْتَحِلُّوْنَ الْـحِرَ ، وَالْـحَرِيْرَ ، وَالْـخَمْرَ ، وَالْـمَعَازِفَ. وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَـى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوْحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَـهُمْ ، يَأْتِيْهِمْ –يَعْنِيْ الْفَقِيْرَ- لِـحَاجَةٍ فَيَـقُوْلُوْنَ : ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا ، فَـيُـبَـيِـّـتُـهُـمُ اللهُ وَيَـضَعُ الْعَلَمَ وَيَـمْسَـخُ آخَرِيْنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ إِلَـى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

‘Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan ummatku sekelompok orang yang menghalalkan kemaluan (zina), sutera, khamr (minuman keras), dan alat-alat musik. Dan beberapa kelompok orang sungguh akan singgah di lereng sebuah gunung dengan binatang ternak mereka, lalu seseorang mendatangi mereka -yaitu orang fakir- untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami besok hari.’ Kemudian Allâh mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allâh mengubah sebagian dari mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.’

TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini diriwayatkan oleh:
1. al-Bukhâri secara mu’allaq dengan lafazh jazm (pasti) dalam Shahîh-nya (no. 5590). Lihat Fat-hul Bâri (X/51),
2. Ibnu Hibbân (no. 6719-at-Ta’lîqâtul Hisân),
3. al-Baihaqi dalam Sunan-nya (X/221),
4. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4039).
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini diriwayatkan oleh :
1. Imam Muslim dalam Shahiih-nya (no. 780).
2. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 2877), dan ia menshahihkannya.
bercorak sutera).” (HR. Bukhari no. 5838)

pria haram berbaju merah polos
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

نُهِيتُ عَنْ الثَّوْبِ الْأَحْمَرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ وَأَنْ أَقْرَأَ وَأَنَا رَاكِعٌ

“Aku dilarang untuk memakai kain yang berwarna merah, memakai cincin emas dan membaca Al-Qur’an saat rukuk.” (HR. An Nasai no. 5266. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)
Menjauhi makanan dari yg haram
sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)
Berobat dg yg halal saja
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّوَاءَ وَأَنْزَلَ الدَّاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَتَدَاوَوْا بِحَرَامِ

“Sesungguhnya Allah menurunkan obat dan Dia juga menurunkan penyakit. Allah menjadikan obat pada setiap penyakit. Oleh karena itu, berobatlah. Namun janganlah kalian berobat dengan yang haram. ”[HR. Abu Daud no. 3870, Ibnu Majah no. 2802, At Tirmidzi no. 2045 dan Ahmad 15/193. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Bukan  penggemar musik

Diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam An-Nubala’ (5: 184) bahwa Al-Minhal bin ‘Amr Al-Asadi yang meninggal tahun 110-an Hijriyah diceritakan sebagai berikut.

“Syu’bah meninggalkan periwayatan dari Al-Minhal cuma karena ia mendengar alat musik di rumahnya.”

Versi lainnya, Syu’bah pernah mendatangi rumah Al-Minhal lalu ia mendengar suara at-tunbur (sejenis alat musik) di dalam rumahnya. Syu’bah pun langsung pulang dan tidak bertanya lagi tentang hadits pada Al-Minhal. (Disebutkan dalam Adh-Dhu’afa’, 4: 237)

3. Rumahnya bersih dari gambar yg diharamkan

Dalam hadits muttafaqun ‘alaih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ

“Para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang terdapat gambar di dalamnya (yaitu gambar makhluk hidup bernyawa)” (HR. Bukhari 3224 dan Muslim no. 2106)

Hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الصُّوَرِ فِي الْبَيْتِ وَنَهَى أَنْ يَصْنَعَ ذَلِكَ

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang adanya gambar di dalam rumah dan beliau melarang untuk membuat gambar.” (HR. Tirmizi no. 1749 dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Jumat, 13 Oktober 2017

Wiridan yg shohih


أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ

Astaghfirullaåh. Astaghfirullaåh. Astaghfirullaåh. Allahumma antassalaam, wa mingkassalaam, tabarakta ya dzaljalaali wal ikraam.

“Saya memohon ampun kepada Allah.(3x) Ya Allah Engkau Maha Sejahtera, dan dari-Mu lah kesejahteraan, Maha Suci Engkau wahai Rabb pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Keterangan: HR. Muslim no.591 (135), Ahmad (V/275,279), Abu Dawud no.1513, an-Nasa-i III/68, Ibnu Khuzaimah no.737, ad-Darimi I/311 dan Ibnu Majah no.928 dari Sahabat Tsauban radhiyallaahu ‘anhu.
Perhatian: Hendaklah dicukupkan dengan bacaan ini dan jangan ditambah-tambah dengan macam-macam bacaan lainnya yang tidak ada asalnya dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Misykaatul Mashaabiih 1/303)
adapun ini riwayat yg lemah:

  اَللّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ وَاِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلاَمِ وَاَدْخِلْنَا اْلجَنَّةَ دَارَالسَّلاَمِ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَاْلجَلاَلِ وَاْلاِكْرَام

▪️ أنَّ عمرَ بن الخطَّابِ - رضيَ اللَّهُ عنْهُ - كانَ إذا نظرَ إلى بيتِ اللَّهِ قالَ اللَّهمَّ أنتَ السَّلامُ ومنْكَ السَّلامُ فحيِّنا ربَّنا بالسَّلامِ 

▫️ درجة الحديث: ليس إسناده بقوي
▫️ الراوي: -
▫️ المحدث: النووي في المجموع - 8/7

▪️  عن عمر يقول : إذا رأيت البيت فقل : اللهم أنت السلام ومنك السلام فحينا ربنا بًالسلام 

▫️ درجة الحديث: موقوف غريب
▫️ الراوي: سعيد بن المسيب
▫️ المحدث: ابن حجر العسقلاني في الفتوحات الربانية - 4/372

Istighfar setelah sholat yg shohih


Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam mengatakan, “Dikatakan kepada salah seorang perawi hadits ini, yaitu Al-Auza’i: bagaimana bunyi istighfar itu? Beliau menjawab: Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca: Astaghfirullaah, Astaghfirullaah, Astaghfirullaah.” (Ini disebutkan dalam Al-Adzkar milik Imam Nawawi Rahimahullah)

Jadi bacaan istighfar sesudah shalat:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْك السَّلَامُ ، تَبَارَكْت يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Ada bacaan istighfar lain yang lebih panjang dan lebih masyhur di tengah masyarakat kita. Namun sayang, riwayat yang menyebutkannya berstatus dhaif sehingga mayoritas ulama meninggalkannya dan berpegang dengan riwayat shahih di atas. Yakni:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Riwayat lengkapnya
️ مَنِ استَغفر في دُبُرِ كُلِّ صلاةٍ ثلاثَ مراتٍ فقال : أستغفرُ اللهَ الذي لا إله إلا هو الحيَّ القيومَ وأتوبُ إليه ؛ غُفِرَ له ذنوبُه وإنْ كان قد فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ 

▫️ درجة الحديث: ضعيف جداً
▫️ الراوي: البراء بن عازب
▫️ المحدث: الألباني في السلسلة الضعيفة - 4546

Kamis, 12 Oktober 2017

Debat Seru Sunni-Syiah, Syiah nya Keok!


Seorang ulama marja’ Syiah Muhammad Said al-Hakim di Baghdad (tahun 1995) memfatwakan bolehnya nikah Mut’ah bagi mahasiswa kampus dan lainnya. Namun fatwa itu ditentang dan difatwakan haram oleh DR. Muhammad Mahrus al-Mudarris seorang tokoh madzhab Hanafi, lalu aparat menangkap dan memenjarakan beliau.

Yang bertindak sebagai perantara bebasnya tahanan beliau adalah Syaikh Rafi’ ar-Rifai mufti Iraq sekarang. Izzat ad-Douri (komandan militer Iraq) berkata kepada Syaikh Rafi’, “Fatwanya itu menimbulkan bencana fanatisme di negara ini!”

Syaikh Rifai pun menjawab dan mengeluarkan pamflet fatwa al-Hakim yang membolehkan Mut’ah, seraya berkata, “Sekarang siapa yang melahirkan bencana?”

Sebelumnya sang komandan belum mengetahui akan adanya fatwa si Syiah, akhirnya ia pun membebaskan Syaikh al-Mudarris.
Setelah itu aparat ingin berbalik menangkap al-Hakim, namun komandan ad-Douri melarang mereka, lalu ia meminta para ulama mengirim utusan untuk mendebat tokoh-tokoh Syiah dalam masalah ini. Maka Syaikh Abdul Malik as-Sa’di bersedia maju bersama sekelompok ulama yang di antaranya adalah Syaikh ar-Rifai. Adapun dari pihak Syiah, muncullah al-Hakim si pemilik fatwa, al-Madani, dan tokoh Syiah lainnya.

Akhirnya mereka pun berkumpul di Najaf untuk melakukan dialog yang dihadiri langsung oleh komandan ad-Douri, para aparat, dan di tengah-tengah mereka ada Shabri as-Sa’dun (panglima aparat di Najaf saat itu).
Syaikh as-Sa’di pun mulai berbicara tentang Mut’ah, begitu pula al-Hakim, namun keduanya belum menuai hasil.

Syaikh Rafi’ ar-Rifai meminta kesempatan berbicara, lalu beliau diijinkan bicara. Syaikh ar-Rifai bertanya kepada al-Hakim, “Sebenarnya apa yang menjadi pembeda antara sunnah dan syiah, mengapa kami belum puas dengan pendapat kalian dan kalian belum puas dengan pendapat kami? Hingga berbagai argumen belum membuahkan hasil!”

Sekarang saya bertanya kepadamu, “Apakah kamu meyakini Allah memiliki alasan dan tujuan dalam setiap hukum-Nya?”
Al-Hakim menjawab, “Tentu!”

Ar-Rifai kembali bertanya, “Apakah kamu juga meyakini Maqashid Syariah, bahwa agama menjaga jiwa, agama, keturunan, harta, dan akal? ”
Al-Hakim menjawab, “Tentu!”

Ar-Rifai bertanya, “Fatwamu ini untuk setiap lelaki dan perempuan?”
Al-Hakim kembali menjawab, “Tentu!”

Ar-Rifai bertanya lagi, “Apakah wanita memiliki waktu khusus untuk melakukan mut’ah?”
Al-Hakim menjawab, “Wanita boleh melakukannya kapanpun!”

Ar-Rifai mendebat, “Meskipun ia baru beberapa detik mut’ah dengan lelaki lain?”
Al-Hakim menjawab, “Tentu!”

Ar-Rifai mendebat, “Andaikata seluruh atau kebanyakan wanita mengamalkan fatwamu lalu mut’ah, apakah anakmu ini (saat itu hadir di majelis) mau kamu nikahkan dengan seorang perempuan yang setiap 5 menit selalu dilihat berada di pelukan lelaki?”
Saat itu al-Hakim langsung bungkam.

Ar-Rifai mendesak, “Demi Allah, jawablah dengan jujur!”
Al-Hakim menjawab, “Tentu saja tidak, lebih baik ia tetap membujang!”

Ar-Rifai mendebat, “Andaikata seluruh atau kebanyakan lelaki mengamalkan fatwamu, lalu salah seorang mereka meminang putrimu, apakah mau kamu nikahkan?”
Al-Hakim menjawab, “Tentu saja tidak, lebih baik ia tetap perawan dan tak bersuami!”

Ar-Rifai bertanya, “Apakah kamu sudah mendengar Syaikh Fulan (seorang Qari’ Syiah terkenal), putrinya banyak melakukan mut’ah hingga ia familiar, tidakkah kamu dengar bahwa Syaikh itu ingin membunuh putrinya?”
Al-Hakim menjawab, “Yaa.. aku sudah mendengarnya!”

Ar-Rifai kembali bertanya, “Apakah kamu membela Syaikh itu untuk membunuh putrinya, dan setelah itu ia tidak perlu dihukum?”
Al-Hakim menjawab, “Yaa.. setiap ayah yang menjaga kehormatan akan melakukan itu!”

Ar-Rifai kembali bertanya, “Lalu fatwa macam apa itu, yang kontradiksi dengan dua Maqashid Syariah, jiwa dan keturunan?”
Al-Hakim hanya terbungkam tak mampu menjawab.

Komandan ad-Douri pun meminta kepada al-Hakim untuk mencabut fatwa bolehnya mut’ah.

Al-Hakim pun menjawab, “Berilah saya waktu 1 bulan, agar saya dapat mencari solusi, supaya orang-orang tidak meragukan statusku sebagai marja’. ”
Saat itu panglima Shabri as-Sa’dun ingin langsung membunuh al-Hakim, namun Syaikh ar-Rifai menghalangi dan meminta ad-Douri untuk memberi tangguh.

Alhamdulillah, majelis pun selesai.

Hukum BPJS


Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

BPJS yang dipermasalahkan MUI adalah BPJS untuk dua program,

Pertama, untuk program jaminan kesehatan mandiri dari BPJS, dimana peserta membayar premi iuran dengan tiga kategori kelas

Kedua, jaminan kesehatan Non PBI (Peserta Bantuan Iuran) yang diperuntukkan bagi PNS/POLRI/TNI, lembaga dan perusahaan. Dimana dana BPJS sebagian ditanggung oleh instansi yang bersangkutan dan juga sebagiannya  ditanggung peserta.

Dalam program ini, MUI menimbang adanya 3 unsur pelanggaran dalam BPJS,

Pertama, gharar (ketidak jelasan) bagi peserta dalam menerima hasil dan bagi penyelenggara dalam menerima keuntungan.

Kedua, mukhatharah (untung-untungan), yang berdampak pada unsur maisir (judi)

Ketiga,  Riba fadhl (kelebihan antara yang diterima & yang dibayarkan). Termasuk denda karena keterlambatan.

Penjelasan lebih rincinya sebagai berikut,

Pertama, Peserta bayar premi bulanan, namun tidak jelas berapa jumlah yang akan diterima. Bisa lebih besar, bisa kurang. Di situlah  unsur gharar (ketidak jelasan) dan untung-untungan.

Ketika gharar itu sangat kecil, mungkin tidak menjadi masalah. Karena hampir dalam setiap jual beli, ada unsur gharar, meskipun sangat kecil.

Dalam asuransi kesehatan BPJS, tingkatannya nasional. Artinya, perputaran uang di sana besar. Anda bisa bayangkan ketika sebagian besar WNI menjadi peserta BPJS, dana ini bisa mencapai angka triliyun. Jika dibandingkan untuk biaya pemeliharaan kesehatan warga, akan sangat jauh selisihnya. Artinya, unsur ghararnya sangat besar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim 1513).

Kedua, secara perhitungan keuangan bisa jadi untung, bisa jadi rugi. Kita tidak menyebut peserta BPJS yang sakit berarti untung, sebaliknya ketika sehat berarti rugi. Namun dalam perhitungan keuangan, yang diperoleh peserta ada 2 kemungkinan, bisa jadi untung, bisa jadi rugi. Sementara kesehatan peserta yang menjadi taruhannya.

Jika dia sakit, dia bisa mendapatkan klaim dengan nilai yang lebih besar dari pada premi yang dia bayarkan.

Karena pertimbangan ini, MUI menyebutnya, ada unsur maisir (judi).

Ketiga, ketika klaim yang diterima peserta BPJS lebih besar dari premi yg dibayarkan, berarti dia mendapat riba Fadhl. Demikian pula, ketika terjadi keterlambatan peserta dalam membayar premi, BPJS menetapkan ada denda. Dan itu juga riba.

Menimbang 3 hal di atas, MUI dan beberapa pakar fikih di Indonesia, menilai BPJS belum memenuhi kriteria sesuai syariah.

Diantaranya pernyataan Dr. Muhammad Arifin Badri – pembina pengusahamuslim.com – ketika memberikan kesimpulan tentang BPJS,

”BPJS Kesehatan termasuk dalam katagori Asuransi Komersial, jadi hukumnya haram.”

Kemudian juga keterangan DR. Erwandi Tarmizi,

Pada kajian di al-Azhar 18 Mei 2014, beliau manyatakan

Bahwa sebagian besar dengan adanya BPJS ini sangat baik dan bagus dari pemerintah terhadap rakyatnya. Hanya saja, karena ada satu akad yang mengandung unsur ribawi,  yakni bila terjadinya keterlambatan pembayaran maka pada bulan berikutnya akan dikenakan denda Rp 10 ribu, unsur inilah yang pada akhirnya dipermasalahkan dan menjadikan BPJS haram.

Hukum Jamsostek


Pertanyaan, “Apa hukum mengikuti asuransi kesehatan (jamsostek, dan lain-lain)?”

Jawaban, “Asuransi kesehatan itu bagian dari asuransi tijari (asuransi yang berorientasikan keuntungan). Hukum mengikuti asuransi tijari itu ada dua macam.

Jika mengikuti asuransi tersebut karena suka-rela tanpa ada satu pun pihak yang memaksanya maka hukumnya adalah tidak boleh karena transaksi asuransi itu mengandung unsur gharar (gambling) dan taruhan yang terlarang dalam syariat.Jika keanggotaan asuransi tersebut dipaksakan oleh pemerintah dan tidak mungkin menghindarinya maka kita boleh bergabung dengan asuransi tersebut, namunkita memiliki kewajiban untuk tidak ridha dengannya. Inilah level pengingkaran terhadap kemungkaran yang paling rendah. Kita punya hak dan kita boleh memanfaatkan polis asuransi sebanyak total premi yang pernah kita berikan kepada perusahaan asuransi.

Orang yang benar-benar mengenal Allah tentu saja yakin bahwa bertakwa kepada Allah penyebab dimudahkannya segala urusan, mendapatkan rezeki, dan keluar dari kesempitan penghidupan serta kondisi keuangan yang mengkhawatirkan.

وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Allah berfirman (yang artinya), “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan berikan untuknya jalan keluar dan Allah akan melimpahkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.s. Ath-Thalaq:2–3)

وقال تعالى: وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

Allah berfirman yang artinya, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan mudahkan segala urusannya.” (Q.s. Ath-Thalaq:4)

Referensi: http://www.ferkous.com/rep/Bi133.php

Read more http://pengusahamuslim.com/2374-hukum-jamsostek.html

Rabu, 04 Oktober 2017

Hukum mendoakan keburukan bagi pemimpin yang dholim


السؤال
يقول البربهاري -رحمه الله- في شرح السنة "وإذا رأيت الرجل يدعو على السلطان فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله"، لكن الرسول صلى الله عليه وسلم يقول "...وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم..."، فهل تَرَوْن -بارك الله فيكم- صحة ما ذهب إليه البربهاري-رحمه الله-

الإجابــة
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فإذا كان الإمام عدلاً متبعاً للحق رحيماً بالرعية، فإن الدعاء عليه ظلم واعتداء ومجاوزة للسنة، وإذا كان ظالماً فاسقاً مغيراً للشريعة متبعاً لهواه، فالدعاء عليه جائز ومشروع.

وفي هذا السياق يفهم حديث النبي صلى الله عليه وسلم: خيار أئمتكم الذي تحبونهم ويحبونكم، ويصلون عليكم وتصلون عليهم، وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم…. رواه مسلم، ومعنى تصلون عليهم تدعون لهم.

ويتنزل كلام العلماء في الدعاء على السلطان أو له على ما تقدم، وقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه دعا على الولاة الذين يشقون على الأمة، كما جاء في صحيح مسلم: اللهم من ولي من أمر أمتي شيئاً فشق عليهم فاشقق عليه، ومن ولي من أمر أمتي شيئاً فرفق بهم فارفق به.

فكيف يقال إن الدعاء على الظلمة من الحكام مخالف للسنة، فالحاكم الظالم يدعى عليه كما يدعى على سائر الظلمة.

والله أعلم
http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=57536

Minggu, 01 Oktober 2017

Tidak semua muslim itu salafi


Adz-Dzahabiy rahimahullah ketika menyebutkan biografi para ulama Ahlus-Sunnah yang kuat ittiba’-nya kepada as-salafush-shaalih, menyifatinya dengan salafiy. Diantaranya, ketika menyifati Ad-Daaraquthniy rahimahullah:
لم يدخل الرجل أبدا في علم الكلام ولا الجدال، ولا خاض في ذلك، بل كان سلفيا
“Ia (Ad-Daaraquthniy) tidak masuk sama sekali dalam ilmu kalam dan jidal (perdebatan), serta tidak pula mendalaminya. Bahkan ia seorang salafy” [Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 16/457].
Juga Abul-‘Abbas Ahmad bin Al-Muhaddits Al-Faqiih Majduddiin ‘Isaa bin Al-Imaam Al-‘Allamah Muwaffaquddiin ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah:
وكان ثقة ثبتا، ذكيا، سلفيا، تقيا، ذا ورع وتقوى
“Ia seorang yang tsiqah (terpercaya), tsabt, pandai, salafiy, hati-hati, punya sifat wara’ dan taqwa…” [Idem, 23/118].
Sebaliknya, ketika menyebut orang-orang yang manhaj atau ‘aqidahnyanya ‘bermasalah’, Adz-Dzahabiy rahimahullah mensifati mereka dengan kebid’ahannya. Misalnya, Ibraahiim bin Abi Yahyaa Al-Aslamiy Al-Madaniy:
قدري، معتزلي، يروى أحاديث ليس لها أصل. وقال البخاري: تركه ابن المبارك والناس. وقال البخاري أيضا: كان يرى القدر، وكان جهميا.
“Qadariy, mu’taziliy. Ia meriwayatkan hadits-hadits yang tidak ada asalnya. Al-Bukhaariy berkata : ‘Ibnul-Mubaarak dan orang-orang meninggalkannya’. Al-Bukhaariy juga berkata : ‘Ia memiliki pandangan qadariyyah, seorang jahmiy” [Miizaanul-I’tidaal, 1/57-58 no. 189].
Ibraahiim bin Thahmaan :
ثقة متقن من رجال الصحيحين، وكان مرجئاً
“Tsiqah, mutqin, termasuk perawi kitab Ash-Shahiihain, namun ia seorang Murji’ (memiliki pemikiran Murji’ah)” [Ar-Ruwaatuts-Tsiqaat Al-Mutakallamu fiihim, hal. 35 no. 1].
Al-Hasan bin Shaalih bin Hay :
مع جلالة الحسن وامامته كان فيه خارجية.
“Bersamaan dengan keagungan dan keimaman Al-Hasan, namun padanya ada pemikiran Khawaarij (Khaarijiyyah)” [Tadzkiratul-Huffadh, 1/217].
So, apakah kita pikir paham Raafidlah, Khawaarij, Qadariyyah, Murji’ah, dan yang lainnya itu telah punah di dunia saat ini ?. Jawabannya : tidak. Malah mereka telah bermutasi dengan berbagai nama sehingga hakekatnya menjadi samar dari kejauhan.
Diantaranya, Khawaarij pada hari ini berada di bawah bendera ISIS yang menghalalkan darah kaum muslimin di berbagai penjuru negeri, dari Timur sampai Barat. Mereka muslim,…. tapi apakah mereka salafi ?. Kalau Anda mengatakan Salafi; mohon maaf, saya jelas tidak sependapat.
Apabila, slogan semua muslim adalah salafi dimaksudkan sebagai ajakan liberalisasi salafi/ahlus-sunnah dengan menyatukan semua kelompok Islam, tak peduli benar atau salahnya ‘aqidah dan manhaj mereka dalam baju salafiy; tentu ini menyalahi kaedah. Tidak mungkin dua hal yang berlawanan untuk disatukan : Sunnah dengan Bid’ah, Salafi/Ahlus-Sunnah dengan Ahli Bid’ah.
Di sini point pentingnya.

Syubhat: semua muslim adalah salafi


 Asy Syeikh Muhammad Bin Umar Bazemul:

 Tidak semua muslim disebut SALAFY, ahlul bid'ah dan orang yang menyimpang apabila tidak sampai pada kekufuran maka disebut seorang muslim, tapi TIDAK BISA DISEBUT DENGAN SALAFY.

 Yang dimaksud dengan salafy adalah siapa saja yang bersemangat untuk mengamalkan amalan sebagaimana Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan para shohabatnya beramal.

 Dan Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

"Dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, SEMUANYA DI NERAKA kecuali satu, ada yang berkata: siapa mereka wahai Rosulullah? Beliau berkata: Al Jama'ah, didalam satu riwayat, beliau berkata: siapa yang mencontoh kami dan para shohabat kami" atau sebagaimana yang disabdakan oleh beliau shollallahu alaihi wa sallam.

 Didalam hadits ini ada beberapa perkara:

1. Bahwasannya ummat Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam terpecah menjadi 73 golongan.

2. Bahwasannya kelompok kelompok sempalan yang berpecah belah, yang mereka menisbatkan diri kepada kelompok kelompok ini, mereka DIANCAM DENGAN NERAKA.

3. Dalil dalil syareat menjelaskan sabda Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam "semuanya di neraka" yaitu ancaman ini dan adzabnya apabila Allah berkehendak mengadzabnya, yaitu dengan kehendak Allah, kalau Allah berkehendak mengadzabnya, dan jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampuninya,

Sebagaimana firman Allah "sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni yang lainnya bagi barangsiapa yang Allah kehendaki, barangsiapa yang menyekutukan Allah maka dia telah berbuat kedustaan yang besar"

4. Bahwasannya Al Firqotun Najiyah Al Manshuroh yaitu, kelompok ini saja yang selamat dari ancaman itu.

5. Bahwasannya ciri khas dari Alfirqotun Najiyah At Thoifah Al Manshuroh ini merealisasikan dari jamaah Ahlussunnah yaitu apa yang dibawa oleh Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan para shobatnya.

Dan jalan dari Al Firqotun Najiyah ini adalah sebagaimana firman Allah tabaroka wa Ta'alaa "Barangsiapa yang menyelisihi Rosulullah setelah datang penjelasan petunjuk, dan dia mengikuti selain jalannya kaum mu'minin maka kami palingkan dia kedalam neraka jahannam dan sejelek jelek tempat kembali".

Dan kelompok ini dan jalan mereka adalah jalannya kaum mu'minin, maka barngsiapa yang menyelisihi Rosulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan tidak mengikutinya maka dia telah mengikuti selain jalannya kaum mu'minin.

Oleh karena itu aku menyeru: WAHAI SALAFIYYIN !! Karena merekalah yang mengamalkan ISLAM YANG MURNI dari kebid'ahan dan penyimpangan,

Dan merekalah yang dijanjikan dengan keselamatan dan pertolongan dari Allah ta'alaa, dan yang MENYELISIHI MANHAJ SALAFY DIANCAM DENGAN ADZAB ALLAH Subahanahu

Wa Ta'alaa, wallahul muwaffiq.

 Sumber:http:"//www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=43273

Sabtu, 30 September 2017

Anakmu penolongmu atau musuhmu?


Jangan sampai salah mendidik karena hasil didikan akan sangat terasa di penghujung usia kita.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan,
ﺍﻛﺜﺮ ﺍﻷﻭﻻﺩ ﺇﻧﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﻓﺴﺎﺩﻫﻢ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﺍﻵﺑﺎﺀ, ﻭﺇﻫﻤﺎﻟﻬﻢ, ﻭ ﺗﺮﻙ ﺗﻌﻠﻴﻤﻬﻢ ﻓﺮﺍﺋﺾ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﺳﻨﻨﻪ, ﻓﻀﺎﻋﻮﻫﻢ ﺻﻐﺎﺭﺍ
“Kebanyakan kerusakan anak disebabkan karena orangtua mereka, mereka menelantarkannya dan tidak mengajarkan anak ilmu dasar-dasar wajib agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka menyia-nyiakan anak-anak di masa kecil mereka.”

 ﻳﺎﺃﺑﺖ, ﺇﻧﻚ ﻋﻘﻘﺘﻨﻲ ﺻﻐﻴﺮﺍ ﻓﻌﻘﻘﺘﻚ ﻛﺒﻴﺮﺍ, ﻭﺃﺿﻌﺘﻨﻲ ﻭﻟﺪﺍ ﻓﺄﺿﻌﺘﻚ ﺷﻴﺨﺎ
“Wahai ayahku, sungguh engkau mendurhakaiku di waktu kecil maka aku pun mendurhakaimu dikala aku besar. Engkau menelantarkanku di waktu kecil maka aku terlantarkan engkau di kala tua nanti.”
[ Tuhfatul Maulud hal. 387]

Jangan dikira maksiat tidak berpengaruh ke kejiwaan anak istri kita
Sebagian ulama berkata,

إن عصيت الله رأيت ذلك في خلق زوجتي و أهلي و دابتي

 “Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku, keluargaku dan hewan tungganganku.”

Tidak mungkin anak memintakan ampun orangtuanya kalau tidak dikenalkan tuhannya dan rasulnya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ : يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga,” maka ia pun bertanya: “Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi?” Allah menjawab: “Berkat istighfar anakmu bagi dirimu”.[ HR Ibnu Hibban 9/338,Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ no 1784]

Bisa jadi anak ujian yg menggagalkan kita masuk syurga
Allah berfirman,

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah/ujian (bagimu).” (At-Taghabun: 15)
Pastikan anak menjadi pengingat alloh bukan melalaikannya
Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah.” (Al-Munafiqun: 9)

Luangkan waktu mendidik keluarga walau sebentar,begitu pula istri berkewajiban menemani anaknya belajar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرجل راع على أهل بيته، وهو مسئول عنهم، والمرأة راعية على بيت بعلها وولده

“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

Hukum kirim al fatihan kepada nabi?

Imaduddin Ibnul Athar muridnya an-Nawawi pernah ditanya,
هل تجوز قراءة القرآن وإهداء الثواب إليه صلى الله عليه وسلم وهل فيه أثر؟
Bolehkah membaca al-Quran dan menghadiahkan pahalanya untuk Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam? Adakah dalil praktek sahabat dalam masalah ini?
Jawaban yang beliau sampaikan,
أما قراءة القرآن العزيز فمن أفضل القربات ، وأما إهداؤه للنبي صلى الله عليه وسلم فلم ينقل فيه أثر ممن يعتد به ، بل ينبغي أن يمنع منه ، لما فيه من التهجم عليه فيما لم يأذن فيه ، مع أن ثواب التلاوة حاصل له بأصل شرعه صلى الله عليه وسلم ، وجميع أعمال أمته في ميزانه
Membaca al-Quran, termasuk amal soleh yang sangat utama. Akan tetapi, menghadiahkannya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pernah ada nukilan yang bisa dipertanggung jawabkan. Bahkan sebaliknya, selayaknya amalan ini dicegah karena termasuk membebani diri yang tidak disyariatkan. Sementara pahala bacaan al-Quran juga beliau dapatkan, disebabkan beliau yang pertama kali mensyariatkannya. Dan semua amal umatnya juga sama. (Mawahib al-Jalil, 3/520).
Kemudian juga dinyatakan oleh as-Sakhawi – murid Ibn Hajar al-Asqalani – beliau ditanya tentang orang yang membaca al-Quran, lalu dia hadiahkan pahalanya untuk menambah kemuliaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jawaban beliau,
هذا مخترع من متأخري القراء لا أعلم لهم سلفا فيه
Ini perbuatan bid’ah, yang dibuat-buat oleh para pembaca al-Quran geenerasi belakangan ini. Saya tidak mengetahui adanya ulama pendahulu untuk mereka dalam masalah ini. (Mawahib al-Jalil, 3/520)

Jumat, 22 September 2017

10 HADIAH BUAT SYIAH SAAT ASYURO

syiah tak mampu menjawab 10 pertanyaan seputar kedua ritual tersebut:
  1. Jika duka mengenang kematian adalah ritual yang baik, mengapa Husein tidak memperingati wafatnya Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan majelis duka padahal ia hidup selama 21 tahun sepeninggal sang ayah?
  2. Mengapa pula anak-anak Ali bin Abu Thalib lainnya dan juga keturunannya tidak mengenang wafatnya Ali dengan majelis duka tiap tahun?
  3. Ali bin Abu Thalib juga wafat terbunuh. Jika tathbir adalah ritual yang baik, mengapa pula Husein tidak melukai dirinya sendiri demi mengenang duka atas wafatnya Ali?
  4. Mengapa pula anak-anak Ali bin Abu Thalib lainnya dan juga keturunannya tidak mengenang wafatnya Ali dengan tathbir tiap tahun?
  5. Kalaupun majelis duka tahunan khusus untuk wafatnya Husein, mengapa anak keturunan Husein tidak menggelar majelis duka tiap tahun dan ritual itu baru digelar pada mulai tahun 352 Hijriyah, 3 abad setelah wafatnya Husein?
  6. Kalaupun tathbir khusus untuk memperingati wafatnya Husein, mengapa anak keturunan Husein tidak menggelar majelis duka tiap tahun dan ritual itu baru digelar lebih dari 3 abad setelah wafatnya Husein?
  7. Mengapa hanya Husein yang disebut-sebut di hari asyura dan diperingati syiah, padahal pada tanggal 10 Muharram 61 H itu wafat pula Muhammad bin Ali bin Abu Thalib bersama Husein bin Ali bin Abu Thalib?
  8. Mengapa hanya Husein yang disebut-sebut di hari asyura dan diperingati syiah, padahal pada tanggal 10 Muharram 61 H itu wafat pula Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib bersama Husein bin Ali bin Abu Thalib?
  9. Mengapa hanya Husein yang disebut-sebut di hari asyura dan diperingati syiah, padahal pada tanggal 10 Muharram 61 H itu wafat pula Utsman bin Ali bin Abu Thalib bersama Husein bin Ali bin Abu Thalib?
  10. Jika menurut kaum Syiah Ali bin Abu Thalib benci kepada Abu Bakar dan Ustman, mengapa Ali memberi nama putranya dengan nama mereka? Dan keduanya pun wafat terbunuh bersama Husein.

MATI MEMBELA TANAH AIR BUKAN MATI SYAHID

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,
“Jika niatan seseorang dalam berperang hanyalah untuk membela tanah air, maka itu adalah niatan yang keliru. Niat seperti itu sama sekali tidaklah bermanfaat. Tidak ada beda antara muslim dan kafir jika niatannya hanyalah untuk membela tanah air. Sedangkan hadits yang menyebutkan “hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman)”, ini adalah hadits dusta, yang bukan berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Cinta tanah air jika yang dimaksud adalah cinta negeri Islam, maka itu disukai karena yang dibela adalah Islam. Namun sebenarnya tidak ada beda antara negerimu dan negeri Islam yang jauh, semua adalah negeri Islam yang wajib dibela.
Jadi patut diketahui niat yang benar ketika berperang adalah untuk membela Islam di negeri kita atau membela negeri kita yang termasuk negeri Islam, bukan sekedar membela tanah air.” (Syarh Riyadhus Sholihin, 1: 66).
Beliau mengatakan pula di halaman yang lain,
“Yang harus diperhatikan bahwa di berbagai media banyak yang berkoar ketika berjihad (berperang) dengan menuliskan ‘ayo bela tanah air kita, ayo bela tanah air!’ Ini bukan Islam yang dibela. Ini sungguh kekurangan yang besar. Harusnya umat Islam diarahkan ke jalan yang benar ketika ingin berjihad.” (Idem, hal. 69).
Faedah lain dari hadits ini diterangkan oleh Syaikh Musthofa Al Bugho hafizhohullah, “Yang disebut keutamaan jihad di jalan Allah adalah jika Islam yang dibela. Akan tetapi hal ini tidaklah menghalangi untuk tetap memandikan orang yang mati di medan perang dan dianggap sebagai syahid sehingga ketika matinya tidak mandikan, tidak dikafani, tidak dishalati, namun langsung dikuburkan. Sedangkan niatan yang benar atau keliru dari orang yang mati tersebut, semuanya diserahkan pada Allah.” (Nuzhatul Muttaqin, hal. 16).

Selasa, 05 September 2017

Hadits ghudhaif minta dibacakan yasin saat sakarotul maut?


Syubhat:
Ahmad bin Hanbal (Diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa'd dalam al-Thabaqat 7/443 dan Ibnu Katsir dalam tafsirnya)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ حَدَّثَنِي أَبِي ثَنَا أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ ثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشِيْخَةُ اَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَرْثِ الثَّمَالِيَ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السُّكُوْنِي فَلَمَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشِيْخَةُ يَقُوْلُوْنَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ بْنِ مَعْبَدٍ (مسند أحمد بن حنبل 17010)
"Para guru bercerita bahwa mereka mendatangi Ghudlaif bin Hars al-Tsamali ketika penyakitnya sangat parah. Shafwan berkata: Adakah diantara anda sekalian yang mau membacakan Yasin? Shaleh bin Syuraih al-Sukuni yang membaca Yasin. Setelah ia membaca 40 dari Surat Yasin, Ghudlaif meninggal. Maka para guru berkata: Jika Yasin dibacakan di dekat mayit maka ia akan diringankan (keluarnya ruh) dengan Surat Yasin tersebut. (Begitu pula) Isa bin Mu'tamir membacakan Yasin di dekat Ibnu Ma'bad" (Musnad Ahmad No 17010)

Al-Hafidz Ibnu Hajar menilai atsar ini:

وَهُوَ حَدِيْثٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ (الإصابة في تمييز الصحابة للحافظ ابن حجر 5 / 324)
"Riwayat ini sanadnya adalah hasan" (al-Ishabat fi Tamyiz al-Shahabat V/324)

Ahli hadis al-Hafidz Ibnu Hajar juga menilai riwayat amaliyah ulama salaf membaca Yasin saat Ghudlaif akan wafat sebagai dalil penguat (syahid) dari hadis riwayat Ma'qil bin Yasar yang artinya: Bacakanlah Surat Yasin di dekat orang yang meninggal. (Raudlah al-Muhadditsin X/266)

Al-Hafidz Ibnu Hajar memastikan Ghudlaif ini adalah seorang sahabat:
هَذَا مَوْقُوْفٌ حَسَنُ اْلإِسْنَادِ وَغُضَيْفٌ صَحَابِىٌّ عِنْدَ الْجُمْهُوْرِ وَالْمَشِيْخَةُ الَّذِيْنَ نَقَلَ عَنْهُمْ لَمْ يُسَمُّوْا لَكِنَّهُمْ مَا بَيْنَ صَحَابِىٍّ وَتَابِعِىٍّ كَبِيْرٍ وَمِثْلُهُ لاَ يُقَالُ بِالرَّأْىِ فَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعُ (روضة المحدثين للحافظ ابن حجر 10 / 266)
"Riwayat sahabat ini sanadnya adalah hasan. Ghudlaif adalah seorang sahabat menurut mayoritas ulama. Sementara 'para guru' yang dikutip oleh Imam Ahmad tidak disebut namanya, namun mereka ini tidak lain antara sahabat dan tabi'in senior. Hal ini bukanlah pendapat perseorangan, tetapi berstatus sebagai hadis yang disandarkan pada Rasulullah (marfu')" (Raudlah al-Muhadditsin X/266)

jawab : Atsar ini dihasankan oleh Al-Haafidh Ibnu Hajar dalam Al-Ishaabah (biografi Ghudlaif). Namun penghasanan ini perlu ditinjau kembali karena dua hal, yaitu : Pertama, mubham-nya para orang tua (masyyakhah) yang menyampaikan riwayat kepada Shafwaan. Kedua, majhul-nya Shaalih bin Syuraih. Apalagi perkataan “apabila dibacakan (surat Yasin) di sisi mayit, maka akan diringankan deritanya (sakarat) dengan bacaan itu” dibawakan oleh Shaalih. Abu Haatim dalam kitabnya Al-Jarh wat-Ta’diil (4/405) menukil perkataan Abu Zur’ah, bahwasannya ia berkata tentang Shaalih : “Majhul”.

Kesimpulan dari atsar ini adalah lemah (dla’if).

Ibnu hajar melegalkan hadits pembacaan yasin?


Syubhat:
al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Bulugh al-Maram I/195:

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ اَلنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ (وأخرجه أحمد 20316 وأبو داود رقم 3121 وابن ماجه رقم 1448 وابن حبان رقم 3002 والطبرانى رقم 510 والحاكم رقم 2074 والبيهقى رقم 6392 وأخرجه أيضاً الطيالسى رقم 931 وابن أبى شيبة رقم 10853 والنسائى فى الكبرى رقم 10913)
"Dari Ma'qil bin Yasar bahwa Rasulullah Saw bersabda: 'Bacalah surat Yasin di dekat orang-orang yang meninggal.' Ibnu Hajar berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban" (Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad No 20316, Abu Dawud No 3121, Ibnu Majah No 1448, al-Thabrani No 510, al-Hakim No 2074, al-Baihaqi No 6392, al-Thayalisi No 931, Ibnu Abi Syaibah No 10853 dan al-Nasa'i dalam al-Sunan al-Kubra No 10913)

Dalam kitab tersebut al-Hafidz Ibnu Hajar tidak memberi komentar atas penilaian sahih dari Ibnu Hibban. Sementara dalam kitab beliau yang lain, Talkhis al-Habir II/244, kendatipun beliau mengutip penilaian dlaif dari Ibnu Qattan dan al-Daruquthni, di saat yang bersamaan beliau meriwayatkan atsar dari riwayat Imam Ahmad diatas.

Jawab :
Sanad hadits ini lemah (dla’iif), karena jahalah dari Abu ‘Utsman dan ayahnya serta adanya perselisihan (idlthirab) dalam sanadnya. An-Nasa’iy, Al-Baghawiy, dan Ibnu Hibbaan membawakan hadits ini tanpa menyebutkan “dari ayahnya” – yaitu ayah Abu ‘Utsman.

Atas dasar inilah Al-Haafidh Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhiish (2/110) : “An-Nasa’iy dan Ibnu Majah tidak menyebutkan : ‘dari ayahnya’. Ibnul-Qaththaan men-ta’lil-nya dengan adanya idlthiraab, status mauquf (hanya sampai pada shahabat saja), serta jahalah Abu ‘Utsman dan ayahnya. Abu Bakr bin Al-‘Arabiy menukil dari Ad-Daruquthniy bahwasannya ia berkata : ‘Hadits ini sanadnya dla’iif, matan (redaksi)-nya majhul, dan tidak shahih satu pun hadits dalam bab ini” [selesai].

Hadits ini dibawakan dalam empat sanad yang berselisihan :

1. Dari Abu ‘Utsman, dari ayahnya, dari Ma’qil secara marfu’.

2. Dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil secara marfu´- dan di dalamnya tidak ada penyebutan : dari ayahnya.

3. Dari Ma’qil secara mauquf.

4. Dari seorang laki-laki, dari ayahnya, dari Ma’qil secara marfu’.

Al-Albaniy berkata dalam Irwaaul-Ghaliil (3/151) : “Sesungguhnya hadits ini terdapat ‘illat lain, yaitu adanya idlthiraab (kegoncangan). Sebagian perawinya berkata : ‘Dari Abu ‘Utsman, dari ayahnya, dari Ma’qil’. Sebagian lagi mengatakan : ‘Dari Abu ‘Utsman, dari Ma’qil’ – tanpa mengatakan : ‘dari ayahnya’. Dan ayahnya ini juga tidak dikenal” [selesai].

Adapun Abu ‘Utsman, maka ia adalah perawi majhul.

Adz-Dzahabiy berkata dalam Al-Miizaan (4/550) : “Abu ‘Utsman - dikatakan bahwa namanya Sa’d - , dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasaar dengan hadits : ‘Bacakanlah (surat) Yaasiin pada orang yang akan mati di antara kalian’. Ayahnya tidaklah dikenal, begitu juga ia (Abu ‘Utsman). Tidak ada orang yang meriwayatkan darinya selain Salmaan At-Taimiy” [selesai].

An-Nawawiy berkata dalam Al-Adzkaar (hal. 122; tahqiq : Al-Arna’uth) : “Sanadnya dla’iif, padanya terdapat dua orang yang majhul. Namun hadits ini tidak di-dla’if-kan oleh Abu Dawud” [selesai].

Dua orang majhul yang dimaksudkan oleh An-Nawawiy tersebut adalah Abu ‘Utsman dan ayahnya, sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabiy dan Al-Albaniy.

Dicantumkannya Abu ‘Utsman oleh Ibnu Hibban dalam Ats-Tsiqaat sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Al-Futuhaat Ar-Rabbaaniyyah oleh Ibnu ‘Allaan (4/119; Daar Ihyaa At-Turats, Beirut) tidak perlu dihiraukan, karena ia memang terkenal gampang memberikan tautsiq kepada para perawi majhul.
Ibnu Hajar berkata :

قلت وهذا الذي ذهب اليه بن حبان من ان الرجل إذا انتفت جهالة عينه كان على العدالة الى ان يتبن جرحه مذهب عجيب والجمهور على خلافه وهذا هو مساك بن حبان في كتاب الثقات الذي الفه فإنه يذكر خلقا من نص عليهم أبو حاتم وغيره على انهم مجهولون وكان عند بن حبان ان جهالة العين ترتفع برواية واحد مشهور وهو مذهب شيخه بن خزيمة ولكن جهالة حاله باقية عند غيره

“Aku berkata : Inilah pendapat Ibnu Hibban bahwa seorang perawi yang hilang majhul ‘ain-nya, maka ia berstatus ‘adil sampai dijelaskan jarh-nya. Ia adalah pendapat yang sangat mengherankan. Jumhur ulama telah menyelisihinya. Inilah jalan yang ditempuh oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats-Tsiqaat buah karyanya. Ia menyebutkan sejumlah orang yang dinyatakan oleh Abu Haatim dan yang lainnya sebagai orang-orang yang majhul; dimana orang-orang tersebut menurut Ibnu Hibban hilang status majhul ‘ain-nya hanya dengan riwayat satu orang yang terkenal. Dan itu pulalah yang menjadi pendapat gurunya, Ibnu Khuzaimah. Akan tetapi, majhul haal tetaplah ada menurut ulama yang lain” [Lisaanul-Miizaan, hal. 14].

Senin, 04 September 2017

Syubhat Dalil Membaca Surat Yasin Untuk Orang Mati


Syubhat :
Diantaranya adalah sebagai berikut:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَليْهِ وسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ يس فِى لَيْلَةٍ اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ (رواه البيهقى فى شعب الإيمان رقم 2464 وأخرجه أيضًا الطبرانى فى الأوسط رقم 3509 والدارمى رقم 3417 وأبو نعيم فى الحلية 2/159 والخطيب البغدادي 10/257 وأخرجه ابن حبان عن جندب البجلى رقم 2574)
"Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari seraya mengharap rida Allah, maka ia diampuni" (HR al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman No 2464, al-Thabrani dalam al-Ausath No 3509, al-Darimi No 3417, Abu Nuaim dalam al-Hilyat II/159, Khatib al-Baghdadi X/257 dan Ibnu Hibban No 2574)
Hadis ini diklaim oleh banyak pihak sebagai hadis palsu, khususnya dibesarkan-besarkan oleh kelompok yang anti tahlil karena hampir setiap acara tahlilan terlebih dahulu membaca Surat Yasin bersama atau dibaca saat berziarah. Untuk membantahnya kami paparkan ke hadapan mereka pendapat ulama dari kalangan mereka sendiri dan sekaligus dikagumi oleh mereka, yaitu Muhammad bin Ali al-Syaukani. Ia berkata:
حَدِيْثُ مَنْ قَرَأَ يس اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ رَوَاهُ الْبَيْهَقِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا وَإِسْنَادُهُ عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ وَأَخْرَجَهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ وَأَخْرَجَهُ الْخَطِيْبُ فَلاَ وَجْهَ لِذِكْرِهِ فِي كُتُبِ الْمَوْضُوْعَاتِ (الفوائد المجموعة في الأحاديث الموضوعة لمحمد بن علي بن محمد الشوكاني 1 / 302)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat Yasin seraya mengharap rida Allah, maka ia diampuni' diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Hurairah secara marfu', sanadnya sesuai kriteria hadis sahih. Juga diriwayatkan oleh Abu Nuaim dan Khatib (al-Baghdadi). Maka tidak ada jalan untuk mencantumkannya dalam kitab-kitab hadis palsu!" (al-Fawaid al-Majmu'ah I/302)

jawab : hadits ini memang bukan palsu tapi itu tetap hadits lemah tidak bisa dibuat sandaran hukum.
Diriwayatkan oleh Thabrani dalam kitabnya Mu’jamul Ausath dan As-Shaghir dari Abu Hurairah, tetapi dalam sanadnya ada rawi Aghlab bin Tamim. Kata Imam Bukhari, ia munkarul hadits. Kata Ibnu Ma’in, ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat). (Periksa: Mizanul I’tidal I:273-274 dan Lisanul Mizan I : 464-465).

Syubhat :
Begitu pula ahli hadis al-Fatanni berkata:
مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ وَمَنْ قَرَأَ الدُّخَانَ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ فِيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا يَضَعُ  قُلْتُ لَهُ طُرُقٌ كَثِيْرَةٌ عَنْهُ بَعْضُهَا عَلَى شَرْطِ الصَّحِيْحِ أَخْرَجَهُ التُّرْمُذِي وَالْبَيْهَقِي (تذكرة الموضوعات للفتني 1 / 80)
"Hadis yang berbunyi: 'Barangsiapa membaca Surat Yasin di malam hari, maka di pagi harinya ia diampuni dan barangsiapa membaca Surat al-Dukhan di malam Jumat, maka di pagi harinya ia diampuni' Di dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Zakariya yang memalsukan hadis. Saya (al-Fatanni) berkata: Hadis ini memiliki banyak jalur riwayat, yang sebagiannya sesuai kriteria hadis sahih yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan al-Baihaqi" (Tadzkirat al-Maudlu'at I/80

jawab :kenapa anda memakai standar ganda,padahal kalau anda berniat memakai imam assyaukani dalam penilaian hadits,maka beliau telah menyatakan kepalsuannya
 حديث من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورا له ومن قرأ الدخان ليلة أصبح معفورا له في إسناده محمد بن زكريا وضاع ورواه الدارقطني من طريق عمر بن راشد وهو أيضا وضاع قال في اللآلىء أخرجه الترمذي ومحمد بن نصر في كتاب الصلاة قلت ولكن من طريق عمر بن راشد المذكور
Hadits ini Palsu.

Ibnul Jauzi mengatakan, hadits ini dari semua jalannya adalah batil, tidak ada asalnya. Imam Daruquthni berkata: Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits. (Periksa: Al-Maudhu’at, Ibnul Jauzi, I/246-247, Mizanul I’tidal III/549, Lisanul Mizan V/168, Al-Fawaidul Majmua’ah hal. 268 No. 944).

Minggu, 03 September 2017

Takbir dulu atau dzikir dulu?


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin - rahimahullah- ditanya:

“Apakah takbir didahulukan sebelum berdzikir selepas shalat lima waktu?”

[ Beliau menjawab ]

■ “Tidak ada dalil yang shahih dan jelas dari Nabi -ﷺ- yang menjelaskan tentang kapan takbir muqayyad dilakukan. Hanya saja di sana ada beberapa atsar para ulama dan ijtihad mereka.”

◈ Mereka menyatakan: “Bahwasanya beliau -ﷺ- mendahulukan takbir sebelum membaca dzikir setelah shalat lima waktu.”

📚[Majmu' Fatawa wa Rasail Al-'Utsaimin 16/209)]

❱ Al-Lajnah ad-Da'imah (dalam Fatwa no. 21550) juga menjelaskan tentang kapan bertakbir muqayyad:

“... dibaca langsung setelah salam sebelum memulai berdzikir.”