Selasa, 22 Maret 2016

imam nawawi al bantani : ijma tentang syariat bercadar

Dalam kitab Syarh ‘Uqud al Lajjiin fi Bayan Huquq al Jauzain karya Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al Jawi adalah buku wajib santri NU yang ingin mewujudkan keluarga sakinah dalam rumah tangganya. Di dalamnya terdapat beragam nasihat untuk suami dan istri sehingga buku ini “wajib” dikaji oleh santri atau santriwati yang hendak menikah.
            Sebatas pengetahuan saya penulis matan Uqud al Lajjiin yang bermakna untaian perak adalah anonim alias tidak diketahui secara pasti.
            Di antara yang menarik di buku ini adalah bahasan tentang aurat wanita muslimah menurut penulis matan dan pen-syarah-nya.
            Di halaman ke-3 baris ke-7 dari atas menurut cetakan dari penerbit Syarikah an Nur Asia (tanpa dicantumkan tahun terbit dan alamat penerbit) disebutkan sebagai berikut:
(الفصل الثاني في) بيان (حقوق الزوج) الواجبة (على الزوجة) و هي طاعة الزوج في غير معصية وحسن المعاشرة وتسليم نفسها إليه وملازمة البيت وصيانة نفسها من أن توطيء فراشه غيره و الاحتجاب عن رؤية أجنبي لشيء من بدنها ولو وجهها وكفيها إذ النظر إليهما حرام ولو مع اتفاء الشهوة والفتنة …
“(Fasal kedua itu berisi) penjelasan (mengenai hak-hak suami) yang menjadi kewajiban (istri). Hak-hak tersebut adalah:
1. mentaati suami selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat
2. memperlakukan suami dengan baik
3. menyerahkan dirinya kepada suami (jika suami mengajak untuk berhubungan badan, pent)
4. Betah di rumah
5. menjaga diri jangan sampai ada laki-laki selain suaminya berada di tempat tidur suaminya
6. berhijab sehingga tidak ada satupun bagian tubuhnya yang terlihat oleh laki-laki ajnabi termasuk di antaranya adalah wajah dan kedua telapak tangannya karena adalah haram hukumnya seorang laki-laki melihat wajah dan telapak tangannya meski pandangan tersebut tanpa diiringi syahwat dan tidak dikhawatirkan adanya pihak-pihak yang tergoda…”
Catatan:
Yang ada di dalam kurung adalah perkataan penulis matan. Sedangkan yang diluar dalam kurung adalah perkataan Syaikh Muhammad bin Umar an Nawawi al Bantani, pensyarah matan Uqud al Lajjiin.
Di halaman 17 baris ke-9 dari bawah penulis matan berkata sebagaimana berikut ini:
(فيجب علي المرأة إذا أرادت الخروج أن تستر جميع بدنها ويديها من أعين الناظرين)
“Wajib atas perempuan muslimah jika hendak keluar rumah untuk menutupi semua badannya termasuk kedua telapak tangannya agar tidak terlihat mata para laki-laki yang melihat dirinya”.
Berdasarkan dua kutipan di atas jelaslah bahwa wajibnya seorang muslimah menutup seluruh badannya ketika bertemu lelaki ajnabi adalah pendapat penulis matan Uqud al Lajjain sebagaimana dalam kutipan kedua, sekaligus pendapat Syaikh Muhammad bin Umar al Jawi sebagaimana dalam kutipan pertama.
            Bahkan di halaman 18 baris ke-9 dari bawah an Nawawi al Jawi al Bantani mengklaim adanya ijma’ amali (kesepakatan secara praktek nyata) bahwa muslimah itu bercadar ketika berada di luar rumah. Beliau mengatakan,
إذ لم يزل الرجال على ممر الزمان مكشوفي الوجوه والنساء يخرجن متنقبات
“Tidak henti-henti sepanjang zaman (umat Islam, pent) bahwa laki-laki itu keluar rumah dalam keadaan tidak bercadar sedangkankaum wanita itu bercadar jika mereka keluar dari rumah”.
            Jadi umat Islam tidak pernah mengenal dan tidak pernah tercatat dalam sejarah umat Islam sampai masa Syaikh Muhammad bin Umar an Nawawi al Jawi al Bantani adanya seorang wanita muslimah yang bukan budak keluar rumah dalam keadaan wajahnya terbuka.
            Sungguh sangat aneh jika ada kaumnahdhiyyin yang lupa bahwa bercadar bagi wanita adalah ajaran resmi nahdhiyyinsebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab dasar yang diajarkan kepada santri pemula dan orang-orang awam. Bahkan beranggapan bahwa cadar bagi muslimah hanya sekedar budaya Arab Saudi dan tidak ada dalam ajaran Islam. Memang benar, ilmu itu akan terjaga jika di amalkan bukan hanya sekedar diteorikan.

aswaja asli itu bercadar

 Keputusan Bahtsul Masail yang paling bergengsi di NU tentu adalah hasil Bahtsul Masail di muktamar NU. Berikut ini saya kutipkan fatwa resmi NU yang telah menjadi keputusan resmi muktamar NU.
Teks arab dan terjemahnya saya memakai yang terdapat dalam buku Ahkam al Fuqaha’ fi Muqarrati Mu’tamarat Nahdhatil Ulama’, Kumpulan Masalah2 Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15 yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dan Penerbit CV Toha Putra Semarang.
Buku ini disusun dan dikumpulkan oleh Kyai Abu Hamdan Abdul Jalil Hamid Kudus, Katib II PB Syuriah NU dan dikoreksi ulang oleh Abu Razin Ahmad Sahl Mahfuzh Rais Syuriah NU.
Seluruh fatwa yang ada di buku tersebut sudah dikoreksi oleh tokoh-tokoh Nahdhatul Ulama antara lain J. M (Yang Mulia-ed) Rois Aam, Kj H Abdul Wahab Khasbullah, J.M. KH Bisyri Syamsuri, al Ustadz R Muhammad al Kariem Surakarta, KH Zubair Umar, Djailani Salatiga, al Ustadz Adlan Ali, KH Chalil Jombong dan alm KH Sujuthi Abdul Aziez Rembang.
Pada buku di atas tepatnya pada juz kedua yang berisi hasil keputusan Muktamar NU kedelapan yang diadakan di Batavia (Jakarta) pada tanggal 12 Muharram 1352 H atau 7 Mei 1933 H pasnya pada halaman 8-9 tercantum fatwa yang merupakan jawaban pertanyaan yang berasal dari Surabaya sebagai berikut:
135: ما حكم خروج المرأة لأجل المعاملة مكشوفة الوجه والكفين والرجلين هل هو حرام أو لا؟ وإن قلتم بالحرمة فهل هناك قول بجوازه لأنه من الضرورة أو لا؟ (سورابايا)
135 S: Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau makruh?
Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi darurat ataukah tidak? (Surabaya).
ج: يحرح خروجها لذلك بتلك الحالة على المعتمد والثاني يجوز خروجها لأجل المعاملة مكشوفة الوجه والكفين إلى الكوعين. وعند الحنفية يجوز ذلك بل مع كشف الرجلين إلى الكوعين إذا أمنت الفتنة.
Jaw.: Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang mu’tamad, menurut pendapat lain boleh wanita keluar untuk jual beli dengan terbuka muka dan kedua telapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh bahkan dengan terbuka kakinya (sampai mata kaki-ed) apabila tidak ada fitnah.
Keterangan dari kitab Maraqhil-Falah Syarh Nurul-Idhah dan Kitab Bajuri Hasyiah Fatkhul Qarib J. II Bab Nikah.
Catatan:
Terjemah dan huruf besar adalah sebagaimana yang terdapat dalam buku di atas.
Dalam fatwa resmi NU di atas, para ulama NU mengakui adanya perselisihan dalam Mazhab Syafii tentang batasan aurat yang boleh dinampakkan oleh seorang wanita ketika keluar rumah. Pendapat yang benar (baca:mu’tamad) dalam Mazhab Syafii –ditimbang oleh kaedah-kaedah mazhab- adalah pendapat yang mengatakan bahwa seluruh badan muslimah itu wajib ditutupi ketika hendak keluar rumah. Pendapat inilah yang dipilih dan difatwakan oleh NU. Sedangkan pendapat yang membolehkan untuk membuka wajah dan kedua telapak tangan bagi muslimah adalah pendapat yang lemah dalam Mazhab Syafii.
Anehnya saat ini pendapat yang mu’tamad dalam mazhab berubah seakan-akan pendapat yang lemah dalam mazhab. Lebih parah lagi ketika ada orang yang mengamalkan pendapat yang mu’tamad dalam Mazhab Syafii malah dituduh dengan berbagai tuduhan keji.
Untuk melengkapi fatwa di atas saya kutipkan fatwa no 265 yang ada di juz kedua hal 132 yang merupakan keputusan Muktamar NU yang ke-15:
265: هل يجوز لنا أن نستدل بقولهم: الضرورة تبيح المحظورات أو قولهم: وإذا ضاق الأمر اتسع في جواز خروج النساء كاشفات عوراتهن عند الأجانب لما عمت البلوي في إندونيسيا أو لا؟ (فاكر عالم)
265, S: Apakah boleh kita mengambil dalil dengan Qoidah: dharurat itu memperbolehkan mengerjakan larangan atau Qoidah: apabila urusan itu sempit maka menjadi longgar untuk memperbolehkan keluarnya perempuan dengan membuka auratnya di samping lelaki lain karena telah menjadi biasa di Indonesia ataukah tidak? (Pagaralam)
ج: لا يجوز ذلك لأن ستر العورة للنساء في إندونيسيا وقت الخروج لا يؤدي إلى الهلاك أو ما يقاربه لأن الضرورة التي تبيح المحظورات هي التي أدت إلى الهلاك أو قارب. كما في الأشباه و النظائر و نصه:فالضرورة بلوغه حدا إن لم يتناول الممنوع هلك أو قارب أهـ.
Jaw.: Tidak boleh menggunakan dalil tersebut karena menutup aurat waktu keluar (rumah-ed) itu tidak membahayakan diri karena dlarurat yang memperbolehkan menjalankan larangan itu apabila tidak mengerjakan larangan dapat membahayakan diri atau mendekati bahaya.
Keterangan dari Kitab Asybah wan Nazair.

misteri peracun al hasan cucu nabi muhammad

SIAPAKAH YANG TELAH MERACUNI AL-HASAN BIN ALI?
Sejarah mencatat bahwa Al-Hasan meninggal karena diracun. Menurut sebuah riwayat bahwa Hasan bin Ali semoga Allah meridhai mereka, meninggal karena diracun oleh istrinya Ja’dah binti Al-Asy’ats. Riwayat lain mengatakan bahwa Mu'awiyah lah yang telah menyuruh Ja’dah untuk meracun Hasan bin Ali. Hal ini dilakukan karena Mu’awiyah suka terhadap Ja’dah dan berjanji dia akan menikahi Ja’dah sepeninggal Hasan. Ada juga riwayat yang mengatakan bahwa Yazid bin Muawiyah lah yang telah menyuruh seluruh pembantu Hasan untuk menaruh racun di makanan dan minuman Hasan.
Itu hanyalah tuduhan syiah terlaknat yg hanya berdasar prasangka semata.





قال ابن تيمية-رحمه الله- في منهاج السنة: وَأَمَّا قَوْلُهُ: (يعني ابن المطهر الحّشلي الرافضي): " إِنَّ مُعَاوِيَةَ سَمَّ الْحَسَنَ ". فَهَذَا مِمَّا ذَكَرَهُ بَعْضُ النَّاسِ، وَلَمْ يَثْبُتْ ذَلِكَ بِبَيِّنَةٍ شَرْعِيَّةٍ، أَوْ إِقْرَارٍ مُعْتَبَرٍ، وَلَا نَقْلٍ يُجْزَمُ بِهِ. وَهَذَا مِمَّا لَا يُمْكِنُ الْعِلْمُ بِهِ، فَالْقَوْلُ بِهِ قَوْلٌ بِلَا عِلْمٍ. وَقَدْ رَأَيْنَا فِي زَمَانِنَا مَنْ يُقَالُ عَنْهُ: إِنَّهُ سُمَّ، وَمَاتَ مَسْمُومًا مِنَ الْمُلُوكِ وَغَيْرِهِمْ، وَيَخْتَلِفُ النَّاسُ فِي ذَلِكَ، حَتَّى فِي نَفْسِ الْمَوْضِعِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ ذَلِكَ الْمَلِكُ، وَالْقَلْعَةِ الَّتِي مَاتَ فِيهَا، فَتَجِدُ كُلًّا مِنْهُمْ يُحَدِّثُ بِالشَّيْءِ بِخِلَافِ مَا يُحَدِّثُ بِهِ الْآخَرُ، وَيَقُولُ: هَذَا سَمَّهُ فُلَانٌ، وَهَذَا يَقُولُ: بَلْ سَمَّهُ غَيْرُهُ؛ لِأَنَّهُ جَرَى كَذَا، وَهِيَ وَاقِعَةٌ فِي زَمَانِكَ، وَالَّذِينَ كَانُوا فِي قَلْعَتِهِ هُمُ الَّذِينَ يُحَدِّثُونَكَ. وَالْحَسَنُ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَدْ نُقِلَ عَنْهُ أَنَّهُ مَاتَ مَسْمُومًا. وَهَذَا مِمَّا يُمْكِنُ أَنْ يُعْلَمَ، فَإِنَّ مَوْتَ الْمَسْمُومِ لَا يَخْفَى، لَكِنْ يُقَالُ: إِنَّ امْرَأَتَهُ سَمَّتْهُ. وَلَا رَيْبَ أَنَّهُ مَاتَ بِالْمَدِينَةِ، وَمُعَاوِيَةُ بِالشَّامِ، فَغَايَةُ مَا يَظُنُّ الظَّانُّ أَنْ يُقَالَ: إِنَّ مُعَاوِيَةَ أَرْسَلَ إِلَيْهَا، وَأَمَرَهَا بِذَلِكَ. وَقَدْ يُقَالُ: بَلْ سَمَّتْهُ امْرَأَتُهُ لِغَرَضٍ آخَرَ مِمَّا تَفْعَلُهُ النِّسَاءُ; فَإِنَّهُ كَانَ مِطْلَاقًا لَا يَدُومُ مَعَ امْرَأَةٍ. وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ أَبَاهَا الْأَشْعَثَ بْنَ قَيْسٍ أَمَرَهَا بِذَلِكَ; فَإِنَّهُ كَانَ يُتَّهَمُ بِالِانْحِرَافِ فِي الْبَاطِنِ عَنْ عَلِيٍّ، وَابْنِهِ الْحَسَنِ. وَإِذَا قِيلَ: إِنَّ مُعَاوِيَةَ أَمَرَ أَبَاهَا، كَانَ هَذَا ظَنًّا مَحْضًا. وَالنَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: «إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ» (رواه البخاري) .
وَبِالْجُمْلَةِ فَمِثْلُ هَذَا لَا يُحْكَمُ بِهِ فِي الشَّرْعِ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ، فَلَا يَتَرَتَّبُ عَلَيْهِ أَمْرٌ ظَاهِرٌ: لَا مَدْحٌ وَلَا ذَمٌّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. ثُمَّ إِنَّ الْأَشْعَثَ بْنَ قَيْسٍ مَاتَ سَنَةَ أَرْبَعِينَ، وَقِيلَ: سَنَةَ إِحْدَى وَأَرْبَعِينَ، وَلِهَذَا لَمْ يُذْكَرْ فِي الصُّلْحِ الَّذِي كَانَ بَيْنَ مُعَاوِيَةَ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، فِي الْعَامِ الَّذِي كَانَ يُسَمَّى عَامَ الْجَمَاعَةِ، وَهُوَ عَامُ أَحَدٍ وَأَرْبَعِينَ، وَكَانَ الْأَشْعَثُ حَمَا الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، فَلَوْ كَانَ شَاهِدًا لَكَانَ يَكُونُ لَهُ ذِكْرٌ فِي ذَلِكَ، وَإِذَا كَانَ قَدْ مَاتَ قَبْلَ الْحَسَنِ بِنَحْوِ عَشْرِ سِنِينَ، فَكَيْفَ يَكُونُ هُوَ الَّذِي أَمَرَ ابْنَتَهُ أَنْ تَسُمَّ الْحَسَنَ؟ وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِحَقِيقَةِ الْحَالِ، وَهُوَ يَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِهِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ. فَإِنْ كَانَ قَدْ وَقَعَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ، فَهُوَ مِنْ بَابِ قِتَالِ بَعْضِهِمْ بَعْضًا كَمَا تَقَدَّمَ، وَقِتَالُ الْمُسْلِمِينَ بَعْضِهِمْ بَعْضًا بِتَأْوِيلٍ، وَسَبُّ بَعْضِهِمْ بَعْضًا بِتَأْوِيلٍ، وَتَكْفِيرُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا بِتَأْوِيلٍ: بَابٌ عَظِيمٌ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ حَقِيقَةَ الْوَاجِبِ فِيهِ وَإِلَّا ضَلَّ. انتهى
Sebenarnya, Hasan tidak tahu, siapa yang telah meracuni dirinya. Begitu pula dengan Husein. Husein tidak tahu, siapa yang telah meracuni saudaranya itu. Karena pada saat Hasan sedang sakaratul maut, datanglah Husein dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, siapakah yang telah meracunmu?” Hasan, “Untuk apa engkau menanyakan hal ini? Apakah untuk menuntut balas/qisas?” Husein, “Iya!” Hasan, “Biarkan saja nanti di hadapan Allah , saya dan dia akan beradu argumentasi. Biarlah Allah  yang menghukumnya!” Dari sini sudah bisa disimpulkan, jika Hasan sendiri tidak mengetahui secara pasti, siapa yang telah meracunnya. Demikian juga dengan Husein. Andai saja Husein tahu dengan pasti orang yang telah meracun Hasan, tentu Husein akan menuntut balas. 
Al hasan pun tidak pernah menyebutkan siapa peracunnya.jadi itu hanyalah bualan syiah.demikian dijelaskan pakar sejarah ibnu katsir dan imam adzdzahabi.


وقد ذكر ابن كثير أيضاً أنه: لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ الطبيب وهو يختلف إليه: هذا رجل قَطَّعَ السُّمُّ أَمْعَاءَهُ، فَقَالَ الْحُسَيْنُ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ؛ أَخْبِرْنِي مَنْ سَقَاكَ؟ قَالَ: وَلِمَ يَا أَخِي؟ قَالَ: أَقْتُلُهُ وَاللَّهِ قَبْلَ أَنْ أَدْفِنَكَ، ولا أَقْدِرَ عَلَيْهِ، أَوْ يَكُونُ بِأَرْضٍ أَتَكَلَّفُ الشُّخُوصَ إِلَيْهِ. فَقَالَ: يَا أَخِي إِنَّمَا هَذِهِ الدُّنْيَا لَيَالٍ فَانِيَةٌ، دَعْهُ حَتَّى أَلْتَقِيَ أَنَا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ، وَأَبَى أَنْ يُسَمِّيَهُ. اهـ.
وسياق الذهبي في تاريخه لقصة موته يدل على أنه -رحمه الله- لم يجزم بمن سمّه: قال ابْنِ عَوْنٍ، عَنْ عُمَيْرِ بْنِ إِسْحَاقَ، قَالَ: عُدْنَا الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ قَبْلَ مَوْتِهِ، فَقَامَ وَخَرَجَ مِنَ الْخَلَاءِ فَقَالَ: إِنِّي وَاللَّهِ قَدْ لَفَظْتُ طَائِفَةً مِنْ كَبِدِي قَلّبْتُهَا بِعُودٍ، وَإِنِّي قَدْ سُقِيتُ السُّمَّ مِرَارًا، فَلَمْ أُسْقَ مِثْلَ هَذَا قَطُّ، فَحَرَّضَ بِهِ الْحُسَيْنُ أَنْ يُخْبِرَهُ مَنْ سَقَاهُ، فَلَمْ يُخْبِرْهُ وَقَالَ: اللَّهُ أَشَدُّ نِقْمَةً إِنْ كَانَ الَّذِي أَظُنُّ، وَإِلَّا فَلَا يقتل بي، والله، بريء. انتهى.
Yang menjadi pertanyaan adalah, “Dari mana orang-orang tahu jika Ja’dah lah yang telah meracun Hasan?” Atau, “Apakah betul, jika Muawiyah lah orangnya yang telah meracun Hasan?”
Jawabannya, Pertama, “Mana mungkin seorang isteri tega meracun suaminya yang saleh. Jika hal ini benar-benar terjadi, maka seorang isteri seperti ini layak mendapatkan laknat dari Allah. para malaikat dan seluruh manusia.Sesungguhnya Ja’dah binti Al-Asy’ats bin Qais tidak memerlukan kekayaan atau jabatan sehingga dia tergiur oleh tawaran Muawiyah untuk membunuh suaminya Hasan bin Ali karena Muawiyah akan memberinya kekayaan. Karena Hasan adalah orang yang paling baik di zamannya. Karena Hasan adalah cucu Rasulullah, ibunya Fathimah binti Rasulullah dan ayahnya, yaitu Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga dan merupakan khalifah yang keempat. Apakah mungkin Ja’dah mau meracun Hasan dan kemudian dia menikah dengan Muawiyah?”
Kedua, “Apakah mungkin Muawiyah yang telah diberi tahta kekuasaan oleh Hasan, justru dia mengucapkan rasa terima kasihnya dengan meracun orang yang telah memberinya kekuasaan? Ini juga tidak mungkin, karena hubungan antara Muawiyah dengan Hasan sangat terjaga dengan baik. Tidak ada api permusuhan di antara keduanya. Oleh karena itu,makanya Hasan rela mengalah memberikan tampuk kekuasaan yang telah diamanahkan penduduk Kufah kepada Muawiyah demi menjaga keamanan dan supaya pertumpahan darah di antara sesama muslim tidak terjadi lagi.”
Kisah bahwa peracunnya yazid adalah tidak shohih apalagi muawiyah itu tidak.demikian ibnu katsir menjelaskan:

قال ابن كثير في البداية والنهاية: وَرَوَى بَعْضُهُمْ أَنَّ يَزِيدَ بْنَ مُعَاوِيَةَ بَعْثَ إِلَى جَعْدَةَ بِنْتِ الْأَشْعَثِ أَنْ سُمِّي الْحَسَنَ، وَأَنَا أَتَزَوَّجُكِ بَعْدَهُ، فَفَعَلَتْ، فَلَمَّا مَاتَ الْحَسَنُ بَعَثَتْ إِلَيْهِ فَقَالَ: إِنَّا وَاللَّهِ لَمْ نَرْضَكِ لِلْحَسَنِ، أَفَنَرْضَاكِ لِأَنْفُسِنَا؟ وَعِنْدِي أَنَّ هَذَا لَيْسَ بِصَحِيحٍ، وَعَدَمُ صِحَّتِهِ عَنْ أَبِيهِ مُعَاوِيَةَ بِطَرِيقِ الْأُولَى والأحرى. اهـ.
Kisah ini sesungguhnya telah menampar wajah para pengikut Syiah yang berkeyakinan jika para imam mereka itu adalah maksum dan mereka mengetahui alam gaib sampai mereka mengetahui kapan mereka meninggal dunia. Pertanyaan, “Apakah benar Hasan tahu akan ajalnya? Jika beliau sudah tahu ajalnya adalah diracun pada hari A dan di kota A misalnya, maka dia seharusnya bisa selamat dengan cara pergi jauh dari kota A atau pergi sebelum hari A tiba. Bukankah begitu?”
Jangan tertipu oleh gerombolan penipu syiah

imam ghozali beraqidah salafi

Imam ghozali dalam ihya' Ulumidinnya berkata:

وَأَنه مستوي على الْعَرْش على الْوَجْه الَّذِي قَالَه وبالمعنى الَّذِي أَرَادَهُ
اسْتِوَاء منزهاً عَن المماسة والاستقرار والتمكن والحلول والانتقال لَا يحملهُ الْعَرْش بل الْعَرْش وَحَمَلته محمولون بلطف قدرته ومقهورون فِي قَبضته وَهُوَ فَوق الْعَرْش وَالسَّمَاء وَفَوق كل شَيْء إِلَى تخوم الثرى

Sesungguhnya alloh beristiwa' diatas arsy sesuai dg apa yg di firmankannya dan adapun makna yg di maksud dari istiwa' adalah pensucian dari fisik yg dapat diraba,menetap ,berdiam diri, penyatuan mahluk dan perpindahan.arsy tidak memikul alloh tp justru arsy diurus alloh,arsy dipikul malaikat pemikul dg lembutnya kekuasaan alloh,mereka dikuasai dalam genggamannya.dan alloh itu diatas arsy dan langit,dan diatas segala sesuatu hingga apapun di permukaan tanah.(ihya' ulumiddin 1/90,darul ma'rifah,beirut)

Senin, 21 Maret 2016

hukum suudhon kepada orang kafir dan fasik sering berbuat dosa besar

 suudzan yang mubah
Mencakup suudzan kepada orang yang dikenal memiliki kesesatan pemikiran, atau ahli maksiat, atau suudzan kepada orang kafir.
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
يحرم سوء الظن بمسلم، أما الكافر فلا يحرم سوء الظن فيه؛ لأنه أهل لذلك، وأما من عرف بالفسوق والفجور، فلا حرج أن نسيء الظن به؛ لأنه أهل لذلك
Haram suudzan kepada sesama muslim. Sementara kepada orang kafir, tidak terlarang suudzan kepadanya. Karena dia memang layak diberi suudzan. Sementara orang yang dikenal suka berbuat dosa dan maksiat, tidak masalah memberikan suudzan kepadanya. Karena memang dia layak untuk mendapatkannya.  (as-Syarh al-Mumthi’, 5/300)

mengkritik penguasa harus selalu tertutup ???

Mengkritik penguasa Tidak harus selalu tertutup

Sebagian saudaraku mengira bahwa terlarang membicarakan kesalahan dan kekurangan pejabat (gubernur) karena para ulama’ melarang kita untuk menghibahi penguasa.

Kekawatiran ini cukup beralasan, namun demikian bila dikaji lebih mendalam maka akan terbukti kekawatiran ini sejatinya salah sasaran dan penempatan.

Larangan untuk membicarakan kesalahan atau kekurangan pemimpin secara terbuka adalah satu hukum yang beralasan (muallal). Mengobral kekurangan dan kesalahan pemerintah dapat berakibat pada terkikisnya kewibawaan pemerintah dan membuat jurang pemisah antara mereka dari rakyatnya. Rakyat membenci pemerintah dan akibatnya hilang kepatuhan mereka. Bahkan pada gilirannya dapat menyebabkan terjadinya pemberontakan berdarah yang dapat memakan banyak korban, dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dibanding maslahatnya.

Dengan demikian, bila pada suatu kondisi seorang yang berilmu menyimpulkan bahwa mengingkari kemungkaran penguasa secara terbuka, tidak menimbulkan kekacauan, maka dibolehkan

Berikut tiga contoh nyata dari praktek pengingkaran secara terbuka oleh sebagian sahabat kepada seorang pemimpin :

Teladan pertama:
Thariq bin Syihab mengisahkan bahwa orang pertama yang mendahulukan khutbah ‘Ied sebelum Sholatnya ialah Marwan bin Al Hakam. Melihat Marwan bn Al Hakam yang ingin naik mimbar, maka sahabat Abu Said Al Khudri segeraa menarik tangan Marwan dan berkata kepadanya: Sholatlah terlebih dahulu sebelum berkhutbah. Namun betapa terkejutnya beliau, Marwan berkata: Apa yang engkau ketahui dan katakan itu telah ditinggalkan. Mendengar jawaban ini sahabat Abu Said berkata:
كَلاَّ وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَأْتُونَ بِخَيْرٍ مِمَّا أَعْلَمُ
Sekali-kali tidak, Sungguh demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya engkau tidaklah dapat melakukan amalanyang lebih baik dari apayang telah aku ketahui ini. (Muslim)

Teladan kedua:
Sahabat Abu Said Al Khudri menceritakan: dahulu, semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami mengeluarkan zakat fitri atas setiap orang, anak kecil, atau dewasa, meredeka atau budak sebesar satu Sha’ (2,5 Kg) dari gandum atau satu Sha’ dari susu kering, atau satu Sha’ dari sya’ir (satu jenis gandum), atau satu sha’ dari kurma, atau satu sha’ dari kismis. Dan kami senantiasa melakukan itu sampai suat hari sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan singgah ke kota kami dalam rangka menunaikan Haji atau Umrah. Ia berceramah di hadapan masyarakat banyak, dan diantara yang ia sampaikan : Aku berpendapat bahwa dua genggam (setengah Sha’) gandum produk negri Syam senilai dengan satu Sha’ kurma, maka masyarakat segera mengamalkan ucapannya. Adapun aku, maka seumur hidupkan aku akan senantiasa menunaikan zakat seperti yang selama ini aku lakukan. (Muslim)
Nampak dengan jelas bagaimana sahabat Abu Said Al Khudri menyampaikan kebenaranyang ia ketahui walaupun harus menjelaskan pula orang yang menyelisihinya, yaitu sahabat Mua’wiyah yang kala itu adalah seorang Khalifah.
Beliau melakukan hal itu karena beliau meyakini bahwa sikapnya tidak akan menimbulkan gejolak atau kekacauan yang meluas di masyarakat.

Teladan Ketiga:
Al Asy’ast mengisahkan: Pada suatu waktu kami berperang dengan dipimpin oleh sahabat Mu’awiyah. Lallu kami berhasil mendapatkan rampasan perang yang sangat banyak. Diantara yang berhasil kami dapatkan ialah satu bejana terbuat dari perak. Sahabata Mu’awiyah memerintahkan seseorang agar menjual bejana itu kepada sebagian pasukan perang dengan pembayaran tertunda hingga masa pembagian harta (saat gajian).
Tak ayal lagi, perintah sahabat Mu’awiyah ini memancing polemik banyak orang, hingga akhirnya masalah ini sampai ke sahabat Ubadah bin As Shamit. Tanpa menunda sedikitpun, segera beliau berdiri di hadapan banyak orang danberkata:
إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنْ بَيْعِ الذَّهَبِ بِالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ وَالْبُرِّ بِالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ بِالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ بِالتَّمْرِ وَالْمِلْحِ بِالْمِلْحِ إِلاَّ سَوَاءً بِسَوَاءٍ عَيْنًا بِعَيْنٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ ازْدَادَ فَقَدْ أَرْبَى
Aku telah mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang penjualan emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir (satu jenis gandum), kurma dengan kurma, garam dengan garam kecuali bila sama takaran dan timbangannya dan dilakukan secara tunai, barang siapa yang menambah atau meminta tambah maka ia telah terjerumus dalam praktek riba.

Mendengar penjelasan ini, segera setiap orang mengembalikan/membatalkan pembelian mereka. Namun tatkala kejadian ini sampai ke sahabat Mu’awiyah, beliau segera berkhutbah dan berkata:
Mengapa sebagian orang menyampaikan beberapa hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal dahulu kami telah menyaksikan dan mendampingi beliau secara langsung namun demikian kami tidak pernah mendengar perihal hadits hadits itu.

Mengetahui khutbah sahabat Mu’awiyah ini, sahabat Ubadah bin As Shamit kembali menyampaikan hadits yang telah ia sampaikan, dan kemudian ia berkata:
لَنُحَدِّثَنَّ بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَإِنْ كَرِهَ مُعَاوِيَةُ
Sungguh aku akan tetap menyampaikan hadits yang telah aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam walaupun Mu’awiyah tidak menyukainya. (Muslim)

Perselisihan tentang masalah ini bukan hanya terjadi antara sahabat Mu’awiyah dengan sahabat Ubadah bin As Shamit semata, namun juga terjadi dengan sahabat Abu Ad Darda’.
Diantara sikap sahabat Abu Ad Darda’ kepada sahabat Mu’awiyah sebagaimana tergambar pada ucapan beliau berikut ini:
مَنْ يَعْذِرُنِى مِنْ مُعَاوِيَةَ أُخْبِرُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْبِرُنِى عَنْ رَأْيِهِ لاَ أُسَاكِنُكَ بِأَرْضٍ أَنْتَ بِهَا ثُمَّ قَدِمَ أَبُو الدَّرْدَاءِ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَذَكَرَ لَهُ ذَلِكَ فَكَتَبَ عُمَرُ إِلَى مُعَاوِيَةَ : أَنْ لاَ يَبِيعَ ذَلِكَ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَزْنًا بِوَزْنٍ
Adakah yang dapat mengutarakan alasan/pembelaan terhadap sikap Mu’awiyah? Aku menyampaikan kepadanya satu Hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata ia malah menolaknya dengan mengutarakan pendapatnya sendiri! Aku tidak sudi untuk tinggal satu negri dengannya. Selanjutnya sahabat Abu Ad Darda’ bergegas melaporkan sikap sahabat Mu’awiyah ini kepada Khalifah Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu. Dan sebagai tindak lanjutnya, Khalifah Umar mengirim teguran kepada sahabat Mu’awiyah yang berisikan: : Janganlah engkau menjual perak dengan perak melainkan sama jumlah dan timbangannya. (Malik dan lainnya).

Syeikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin rahimahullah berkata:
مسألة مناصحة الولاة، من الناس من يريد أن يأخذ بجانب من النصوص وهو إعلان النكير على ولاة الأمور، مهما تمخض عنه من المفاسد، ومنهم من يقول: لا يمكن أن نعلن مطلقاً، والواجب أن نناصح ولاة الأمور سراً كما جاء في النص الذي ذكره السائل، ونحن نقول: النصوص لا يكذب بعضها بعضاً، ولا يصادم بعضها بعضاً، فيكون الإنكار معلناً عند المصلحة، والمصلحة هي أن يزول الشر ويحل الخير، ويكون سراً إذا كان إعلان الإنكار لا يخدم المصلحة، لا يزول به الشر ولا يحل به الخير.
Masalah menasehati penguasa, ada dari sebagian orang yang hendak berpegangan dengan sebagian dalil, yaitu mengingkari penguasa secara terbuka, walaupun sikap tersebut hanya mendatangkan mafsadah/ kerusakan. Di sisi lain, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa: mutlak tidak boleh ada pengingkaran secara terbuka, sebagaimana dijelaskan pada dalil yang disebutkan oleh penanya.
Namun demikian, saya menyatakan: dalil-dalil yang ada tidaklah saling menyalahkan dan tidak pula saling bertentangan. Karena itu boleh mengingkari secara terbuka bila dianggap dapat mewujudkan maslahat, yaitu hilangnya kemungkaran dan berubah menjadi kebaikan. Dan mengingkari secara tersembunyi/ rahasia, bila dianggap mengingkari secara terbuka tidak dapat mewujudkan maslahat/kebaikan, sehingga kerusakan tidak dapat ditanggulangi dan tidak pula berganti dengan kebaikan. (Liqa’ Al Baab Al Maftuh)
 terdapat perbedaan antara kaedah yang berlaku pada masalah mengingkari kemungkaran yang telah terjadi dari kaedah mencegah kemungkaran yang belum terjadi.
A’isyah radhiallalllahu anha mengisahkan: Suatu hari ada seorang lelaki datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala beliau menyaksikan kedatangan lelaki itu, beliau bersabda:
( بئس أخو العشيرة وبئس ابن العشيرة ) .
“Ia adalah sejelek-jelek anggota kabilah dan sejelek-jelek keturunan satu kabilah”.
Namun demikian, betapa mengejutkan, tatkala lelaki itu telah masuk ke rumah dan duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambutnya dengan wajah yang riang dan ramah.
Sikap Nabi ini tentu saja mengherankan itri beliau tercinta ‘Aisyah radhiallallahu anha, sehingga setelah lelaki itu pergi, segera ‘Aisyah menanyakan perihal sikap beliau ini: Wahai Rasulullah , tatkala engkau melihat lelaki itu dari kejauhan engkau berkata tentangnya demikian demikian, namun setelah bertemu, engkau bermanis wajah dan menyambutnya dengan ramah? Menjawab keheranan istri beliau ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
( يا عائشة متى عهدتني فحاشا إن شر الناس عند الله منزلة يوم القيامة من تركه الناس اتقاء شره)
Wahai ‘Aisyah, sejak kapan engkau mendapatkan aku bertutur kata keji? Sejatinya sejelek-jelek manusia di sisi Allah ialah orang yang dijauhi oleh masyarakat luas karena mereka menghindari kejelekannya (tutur katanya yang jelek)” (Riwayat Bukhari)
Cermatilah saudaraku! Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela lelaki itu dalam rangka memberikan peringatan dan penjelasan kepada iistri beliau ‘Aisyah, namun demikian setelah berjumpa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberinya nasehat atau teguran, bahkan sebaliknya beliau bersikap ramah kepadanya.
Pada kisah lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi peringatan kepada sahabat Fatimah binti Qais radhiallahu ‘anha perihal beberapa orang lelaki yang hendak menikahinya. Beliau bersabda kepadanya:
أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ
Adapun Abu Jahem, maka ia adalah lelaki yang suka memukul istrinya, sedangkan Mu’awiyah, maka dia adalah lelaki miskin yang tidak punya harta, namun menikahlah dengan Usamah bn Zaid. (Muslim)
Cermatilah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits ini menyebutkan kekurangan can cacat dua orang sahabat, kepada Fatimah binti Qais, agar fatimah tidak salah memilih pasangan hidup

Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: "Ghibah keempat (yang dibolehkan) adalah: Tindakan memberi PERINGATAN kepada kaum muslimin dari keburukan seseorang.
Dan itu bentuknya banyak, diantaranya: MENJATUHKAN orang-orang yang memang buruk keadaannya, baik dari kalangan para perowi, para saksi, ataupun para pengarang kitab. Hal itu boleh berdasarkan IJMA, bahkan hal itu WAJIB untuk MELINDUNGI SYARIAT ISLAM.
Diantaranya lagi: Mengabarkan KEBURUKAN seseorang saat musyawarah tentang (kelayakan dia) meneruskan jabatannya… Diantaranya lagi: Bila dia memiliki JABATAN tapi IA tidak menunaikannnya sebagaimana mestinya, karena dia tidak memiliki kredibilitas atau karena kefasikannya, maka boleh bagi anda untuk menyebutkan hal tersebut kepada ORANG YANG MEMILIKI KEKUASAAN DI ATASNYA, agar hal tersebut dijadikan petunjuk tentang kondisi yang sebenarnya ada pada diri pejabat tersebut., sehingga pejabat atasannya tidak terperdaya olehnya, dan dapat mengampil keputusan yang benar ". [Kitab: Syarah Nawawi ala Shohih Muslim 16/142-143)
Bila dalam konteks pemerintahan yang pengangkatan seorang pejabat adalah dengan model penunjukan langsung, maka solusinya ialah dengan apa yang diutaran oleh Imam An Nawawi, yaitu dengan melaporkannya kepada pejabat atasannya. Namun karena di negri kita kewenangan untuk memilih pemimpin daerah dan juga presiden ada di tangan rakyat, maka tentu saja langkah yang tepat –menurut saya- ialah dengan menyampaikan peringatan kepada masyarakat para pemilik hak suara

syeikh abdul qodir al jiilani bukan asy'ari


Pernyataan Syaikh Abdul Qadir tentang Aqidah
Pertama, Allah ber-istiwa di atas Arsy,
Beliau mengatakan,
وهو بجهة العلو مستو ، على العرش محتو على الملك محيط علمه بالأشياء
Dia beristiwa di atas. Dia di atas Arsy, Dia menguasai semua kerajaan, ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. (al-Ghunyah, 1/71)

Kedua, beliau membantah semua sekte selain ahlus sunnah,
وينبغي إطلاق صفة الاستواء من غير تأويل ، وأنه استواء الذات على العرش لا على معنى القعود والمماسة كما قالت المجسمة والكرامية ، ولا على معنى العلو والرفعة كما قالت الأشعرية ، ولا معنى الاستيلاء والغلبة كما قالت المعتزلة ، لأن الشرع لم يرد بذلك ولا نقل عن أحد من الصحابة والتابعين من السلف الصالح من أصحاب الحديث ذلك
Selayaknya memahami istiwa Allah sesuai makna tekstualnnya, tanpa ditakwil. Dia bersemayam secara dzat di atas ‘Arsy, tidak kita maknai duduk dan menempel di Arsy, sebagaimana perkataan Mujassimah dan Karramiyah, tidak pula dimaknai berada di atas, sebagaimana perkataan Asy’ariyah. Tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana aqidah Mu’tazilah. Karena syariat tidak menyebutkan semua makna itu, dan tidak dinukil satupun keterangan  dari sahabat, maupun tabi’in di kalangan Salaf, para pembawa hadis. (al-Ghunyah, 1/74)

Pernyataan ini membuktikan, bahwa beliau adalah pengikut salaf, pembawa hadis, ahlus sunah, bukan Asy’ariyah, apaagi Mu’tazilah.

Mengapa lebih banyak disinggung aqidah masalah Allah beristiwa di atas?
Karena ini titik sengketa antara ahlus sunnah dengan ahlul bid’ah dalam masalah aqidah, seperti Asy’ariyah dan Mu’tazilah.

masjid semi paud???

Masjid atau mau bikin paud???

Syubhat perusak masjid:nabi bawa cucunya
Jawab:apakah cucunya mengganggu jamaah yg lain???? Tidak,
Klo bawa anak tp ganggu bapaknya sendiri silahkan.tp klo ganggu tetangga itu pengganggu

Syubhat2:kan untuk melatih anak cinta masjid katanya..
Jawab:klo emg belum mumayyiz,msh susah dikendalikan sebaiknya dirumah dg umminya.
Klo emg niat melatih kenapa saat magrib isya doang saat anak lagi aktif2nya??
Klo mau tu waktu shubuh ajak k masjid,saat anak blm betul2 aktif.
Namun yg ada saat subuh sepi dr anak2..
Itu namanya alasan doang..bukan niat mendidik

ustadz jadi penonton manis saja???

- Musyaffa Addariny, M.A.

“Katanya, seorang USTADZ itu harusnya NETRAL dalam dunia politik...

========

Kita katakan, kalau mereka yang berpolitik NETRAL kepada Islam dan Kaum Muslimin, mungkin perkataan di atas masih pantas... Tapi kenyataannya, banyak kegiatan agama UMAT ISLAM dicampuri oleh mereka yg berpolitik... Banyak para politikus yg blusukan ke pondok-pondok untuk mengambil hati Kaum Muslimin... Banyak para MUSUH ISLAM yang tidak netral dan terang-terangan mendukung kubu tertentu. Apakah mereka tidak malu menyuarakan "NETRAL" untuk para ustadz, dai, dan kiyai... Jika pilihannya adalah MEMPERJUANGKAN Islam dan Kaum Muslimin atau tidak... Maka tidak ada kata NETRAL dalam berpolitik, wallohu a'lam.”

https://www.facebook.com/addariny.abuabdillah/posts/584288248352763

siapa keledainya yahudi?

SYIAH KELEDAINYA YAHUDI

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taiymiyah rahimahullah :

“Syiah Rafidhah adalah keledai²nya Yahudi, mereka (Yahudi) menungganginya di setiap fitnah”.

📚 Minhajus Sunnah 1/21

قال شيخ الإسلام ابن تيمية:

الرافضة حمير اليهود
يركبون عليهم في كل فتنة.

منهاج السنة-١/٢١

minum dg kedua tangan terlarang???

Hukum minum dg kedua tangan

Boleh

الشرب بكلتا اليدين لا هو شرب باليمين وحدها فيكون موافقاً للشرع ، ولا هو شرب بالشمال وحدها فيكون مخالفاً للشرع ، وهل هو جائز ؟ وهل ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه فعله ؟ .
الذي يظهر لنا أنه جائز إن احتاج المسلم إلى أن يشرب بكلتا يديه ، وقد ثبتت أحاديث في السنَّة النبوية ليس فيها التصريح بالشرب بكلتا اليدين ، لكن يظهر لنا أنه لم يكن الأمر إلا كذلك ، وذلك من مثل ما ثبت أنه شرب من " إناء " ، ومن " قِربة " ، ومن " دلو " ؛ إذ الغالب في هذه أنه تُستعمل كلتا اليدين في حملها من أجل الشرب .
1- عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم أعطاه إناء لبن وأمره أن يسقي أهل الصفة ، قال أبو هريرة : (فَأَخَذْتُ الْقَدَحَ فَجَعَلْتُ أُنَاوِلُهُ الرَّجُلَ فَيَشْرَبُ حَتَّى يَرْوَى، ثُمَّ يَرُدُّهُ فَأُنَاوِلُهُ الْآخَرَ حَتَّى انْتَهَيْتُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَقَدْ رَوَى الْقَوْمُ كُلُّهُمْ ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدَيْهِ ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَتَبَسَّمَ فَقَالَ : أَبَا هُرَيْرَةَ ، اشْرَبْ ، فَشَرِبْتُ ، ثُمَّ قَالَ : اشْرَبْ ، فَلَمْ أَزَلْ أَشْرَبُ وَيَقُولُ : اشْرَبْ حَتَّى قُلْتُ : وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أَجِدُ لَهُ مَسْلَكًا ، فَأَخَذَ الْقَدَحَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَسَمَّى ثُمَّ شَرِبَ) . رواه الترمذي ( 2477 ) وصححه ، وصححه الألباني .
فقوله ( فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقَدَحَ فَوَضَعَهُ عَلَى يَدَيْهِ ) : يدل على أن الإناء كان كبيراً فاحتاج لكلتا اليدين لأن يوضع فيهما ، ويُفهم منه : جواز استعمالهما للشرب منه .
2. عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرِبَ مِنْ زَمْزَمَ مِنْ دَلْوٍ مِنْهَا وَهُوَ قَائِمٌ . رواه البخاري ( 1556 ) ومسلم ( 2027 ) .
ويقال فيه ما قيل في الإناء ، وإذا كان في الآنية ما هو صغير ويحمل بيد واحدة : فإنه لا يقال ذلك – غالباً – في " الدلو " ، فالذي يظهر أنه صلى الله عليه وسلم حمل الدلو بكلتا يديه ، وشرب منه .
3. عَنْ عَبْد الرَّحْمَن بْن أَبِي عُمَر عَنْ جَدَّته كَبْشَة قَالَتْ : (دَخَلَ عَلَيَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْت قِرْبَة مُعَلَّقَة فَشَرِبَ قَائِمًا فَقُمْت إِلَى فِيهَا فَقَطَعْته) . رواه الترمذي ( 1892 ) وصححه ، وابن ماجه ( 3423 ) ، وصححه الألباني في " صحيح الترمذي " .
4- وقد جاء في حديث صحيح أن النبي صلى الله عليه وسلم همَّ أن يشرب بيديه ، وهو تفسير " الكِراع " الذي جاء في الحديث عند بعض العلماء .
فعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَمَعَهُ صَاحِبٌ لَهُ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ ، وَإِلَّا كَرَعْنَا ، قَالَ : وَالرَّجُلُ يُحَوِّلُ الْمَاءَ فِي حَائِطِهِ ، قَالَ : فَقَالَ الرَّجُلُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي مَاءٌ بَائِتٌ فَانْطَلِقْ إِلَى الْعَرِيشِ ، قَالَ : فَانْطَلَقَ بِهِمَا ، فَسَكَبَ فِي قَدَحٍ ، ثُمَّ حَلَبَ عَلَيْهِ مِنْ دَاجِنٍ لَهُ ، قَالَ : فَشَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ شَرِبَ الرَّجُلُ الَّذِي جَاءَ مَعَهُ . رواه البخاري ( 5290 ) .
قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :
"قوله ( وإلا كرعنا ) فيه حذف تقديره : فاسقِنا وإن لم يكن عندك كرعنا ، ووقع في رواية ابن ماجه التصريح بطلب السقي ، والكرع : تناول الماء بالفم من غير إناء ، ولا كف ، وقال ابن التين : حكى أبو عبد الملك أنه الشرب باليدين معا ، قال : وأهل اللغة على خلافه ، قلت : ويرده ما أخرجه ابن ماجه عن ابن عمر قال : مررنا على بركة فجعلنا نكرع فيها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( لا تكرعوا ، ولكن اغسلوا أيديكم ثم اشربوا بها ) الحديث ، ولكن في سنده ضعف ، فإن كان محفوظاً : فالنهي فيه للتنزيه ، والفعل لبيان الجواز ، أو قصة جابر قبل النهي ، أو النهي في غير حال الضرورة .
" فتح الباري " ( 10 / 77 ) .
وقال الشيخ ابن باز - في شرحه لحديث جابر - :
شوب اللبن بالماء لا بأس به ، وفيه إعطاء من على يمينك وإن كان مفضولاً ، إلا أن يسمح من على يمينك فتناوله يسارك ، وفيه جواز الكرع إذا دعت الحاجة إليه ، وهو الشرب بالفم ، وإن تيسر بالإناء ، أو بالكفين فهو أولى حتى لا يشابه البهائم .
" الحلل الإبريزية من التعليقات البازية على صحيح البخاري " ( 4 / 143 ) .
ثالثاً:
قد جاء في كلام العلماء ما يدل على جواز الشرب بكلتا اليدين ، ومن ذلك :
1. قال النووي رحمه الله :
قال أصحابنا : لو شرب بكفيه وفي أصبعه خاتم فضة : لم يكره .
" المجموع " ( 1 / 316 ) .
2. وفي سياق تفسير قوله تعالى : ( إِلاَّ مَن اغْتَرَفَ غُرْفةً بِيَدِه ) قال القرطبي رحمه الله :
وقال بعض المفسرين : الغَرْفة بالكفِّ الواحد والغُرْفة بالكفَّيْن .
وقال بعضهم : كلاهما لغتان بمعنى واحد .
وقال عليّ رضي الله عنه : الأكُفّ أنْظَفُ الآنية .
ومن أراد الحلال الصرف في هذه الأزمان ، دون شبهة ولا امتراء ولا ارتياب : فليشرب بكفيه الماء من العيون والأنهار المسخرة بالجريان آناء الليل وآناء النهار.
" تفسير القرطبي " ( 3 / 253 ، 254 ) .
والخلاصة :
جواز الشرب بكلتا اليدين ، ولا يدخل هذا الفعل في النهي عن الشرب بالشمال ، والشيطان إنما يشرب بشماله لا بكلتا يديه ، وقد يتعين الشرب باليدين ولا بد في حالات : كأن يكون الإناء كبيراً ، أو يكون الشرب من فخارة ، أو من دلو ، أو مع ضعف اليد اليمنى ، وما يشبه ذلك من حالات .

yasinan malam jumat bukan bid'ah???


Syubhat yasinan malam jum'at

Syubhat: Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” HR. Muslim no. 1144.
Lihat yg dilarang itu cuma mengkhususkan puasa dan sholat saja.
Adapun tilawah/membaca surat tidak dilarang.jadi bukan bid'ah
Jawab: itu namanya nggak faham kaidah ushul.nabi menyebutkan itu
Bukan pembatasan hanya itu,tapi itu contoh saja.jadi membaca yasin
Masuk kedalamnya.tidak boleh mengkhususkan ibadah apapun karena yg
Berhak mengkhususkan adalah alloh saja.baca baik-baik mir'aatul mafaatih: 7/77 !

قال ابن حجر: أي بصلاة والظاهر أن القيام أعم في المعنى المراد (من بين الليالي) فيه دليل على تحريم تخصيص ليلة الجمعة بعبادة بصلاة وتلاوة غير معتادة إلا ما ورد به النص الصحيح كقراءة سورة الكهف، فإنه ورد تخصيص ليلة الجمعة بقراءتها
berkata ibnu hajar  : maksud hadits itu dg sholat dan yg nampak bahwa qiyam lebih umum maknanyaa.di dalamnya dalil atas haramnya pengkhususan malam jum'at dg IBADAH baik dg sholat dan TILAWAH yg tidak biasanya kecuali apa yg ada nash shohih seperti membaca surat al kahfi maka itu ada pengkhususannya malam jum'at dg membacanya.

pemimpin kafir ulil amri???

Pemimpin kafir bukan ulil amri

 jawaban Ust. Abu Hudzaifah Al Atsary, Lc ..lihat..https://muslimah.or.id/2543-wajibkah-taat-kepada-pemerintah.html

Pertanyaan: pemerintahan seperti apakah yang pemimpin nya wajib di taati?
dalam sirah nabawiah rasulullah tidak ikut dalam kepemimpinan kafir qurais dan tidak pula mengikuti kepempinan raja habsyi(najasyi) di madinah walaupun raja tersebut beriman pada alloh. pertanyaan kenapa rasulullah tidak mengikuti kedua nya dan tidak taat pada ulil amri saat itu?

Jawab:

Karena orang kafir bukanlah pemimpin kaum muslimin. Allah berfirman yg artinya: "Allah tidak akan memberi peluang bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum muslimin" (An Nisa': 141). Artinya, secara syar'i orang kafir tidak sah menjadi pemimpin kaum muslimin, makanya kafir Quraisy secara syar'i bukanlah waliyyul amri bagi muslimin yg ada di Mekkah saat itu.
Adapun raja Najasyi juga bukan waliyyul amrinya Rasulullah karena beliau bukan penguasa Mekkah. Lagi pula, Najasyi sendiri tidak bisa menampakkan keimanannya karena ia hidup di tengah2 rakyatnya yg nasoro... jadi percuma saja kalau menjadi pemimpin, toh dia sendiri tidak bisa leluasa menjalankan agamanya di negerinya sendiri... Bahkan ketika Najasyi wafat pun tidak ada yg menyolatkan jenazahnya kecuali Rasulullah dan para sahabatnya, karena memang hanya Najasyi saja yg beriman di negeri tsb kala itu.
ulil amri itu artinya yg punya wewenang alias pemerintah secara syar'i. Quraisy bukan ulil amri secara syar'i karena dia kafir. Najasyi juga bukan karena dia tidak punya wewenang kecuali di negaranya, bukan di wilayah lain, sedangkan Rasulullah tidak satu wilayah dengan beliau... itu pun wewenang yg terbatas pada urusan duniawi, bukan urusan agama sbgm yg telah ana jelaskan tadi.
kalau ada yg tanya: Mengapa Rasulullah tidak berjihad untuk menggulingkan Quraisy saat di Mekkah kalau memang mreka bkn ulil amri, padahal mereka jelas2 kafir?
Jawabnya: Karena kekafiran bukanlah syarat satu-satunya seseorang boleh melawan penguasa. Tapi ada syarat lain yg harus diperhatikan -bila memang si penguasa sudah jelas2 kafir-, yaitu ada/tidaknya kemampuan untuk menaklukkan mereka tanpa menimbulkan madharat yg lebih besar bagi kaum muslimin? Inilah yg belum terpenuhi saat itu... mengingat kaum muslimin masih minoritas dan lemah.

Senin, 22 Februari 2016

PEMAJANG KALIGRAFI PANTAS DIPUKUL

 

Empat Madzhab Sepakat Melarang Memasang Kaligrafi al-Quran

Memasang kaligrafi atau tulisan yang berisi ayat al-Quran atau pujian untuk Allah, dengan model apapun, bisa menjadi sebab penghinaan terhadap nama Allah atau ayat al-Quran. Karena itulah, para ulama dari berbagai madzhab, melarang  memasang tulisan ayat al-Quran atau kalimat dzikir atau yang menyebutkan nama Allah, agar tidak dipajang di dinding.
Berikut kita simak beberapa keterangan mereka,
Pertama, keterangan para ulama madzhab hanafi
Keterangan Imam Ibnu Nujaim (w. 970 H) mengatakan,
وليسَ بمستَحسَنٍ كتابةُ القُرآنِ على المحاريبِ وَالجدرَانِ لِما يُخَافُ من سُقوطِ الكتَابةِ وأَن تُوطأَ
Bukan tindakan yang baik, menuliskan ayat al-Quran di muhrab atau dinding, karena dikhawatirkan tulisannya jatuh dan diinjak. (al-Bahr ar-Raiq, 2/40)
Keterangan Imam Ibnu Abidin (w. 1252 H) mengatakan,
وتُكره كتابة القرآن , وأسماء الله تعالى على الدرهم , والمحاريب , والجدران , وما يُفرش , والله تعالى أعلم
Dibenci menuliskan ayat al-Quran atau nama Allah di mata uang, mihrab, dinding, atau semua benda yang dibentangkan. Wallahu a’lam. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/179).
Kedua, Keterangan para ulama Malikiyah
Keterangan al-Qurthubi (w. 631 H)
ومِن حرمته ألاَّ يُكتب على الأرض ولا على حائط كما يُفعل به في المساجد الْمُحدَثة
Diantara kehormatan al-Quran, tidak boleh ditulis di tanah atau di atas tembok, sebagaimana yang terjadi pada masjid-masjid baru-baru ini.
Kemudian al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Muhammad bin Zubair, bahwa beliau pernah melihat sikap Umar bin Abdul Aziz terhadap orang yang menulis kaligrafi al-Quran di dinding.
رأى عمر بن عبد العزيز ابناً له يكتب القرآن على حائط فضربه
Umar bin Abdul Aziz pernah melihat anaknya menulis ayat al-Quran di dinding, lalu beliaupun memukulnya. (Tafsir al-Qurthubi, 1/30).
Keterangan Muhammad Ilyisy (w. 1299 H),
وينبغي حُرمة نقش القرآن , وأسماء الله تعالى مطلقاً , لتأديته إلى الامتهان , وكذا نقشها على الحيطان
Selayaknya dicegah semua bentuk seni tulisan al-Quran atau nama Allah, karena ini bisa menyebabkan disikapi tidak terhormat. Demikian pula, dilarang memahat di tembok. (Minah al-Jalil ‘ala Mukhtashar Khalil, 1/517).
Ketiga, keterangan dalam Madzhab Syafiiyah
Keterangan Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam kitabnya at-Tibyan,
مذهبنا أنه يُكره نقش الحيطان والثياب بالقرآن , وبأسماء الله تعالى
Madzhab kami (syafiiyah), dibenci menuliskan al-Quran atau nama Allah di tembok atau kain.
Di tempat lain, beliau mengatakan,
لا تجوزُ كتابة القرآن بشيءٍ نجسٍ , وتُكره كتابته على الجدران عندنا
Tidak boleh menuliskan al-Quran dengan tinta najis. Dan dibenci menuliskan al-Quran di dinding, menurut madzhab kami. (at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Quran, hlm. 89).
Keterangan Muhammad as-Syirbini (w. 977 H),
ويُكره كتبُ القرآن على حائط ولو لمسجد , وثياب , وطعام , ونحو ذلك
Dibenci menuliskan al-Quran di dinding, meskipun milik masjid, atau di baju atau makanan, atau semacamnya. (al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’, 1/104).
Keterangan as-Syarwani (w. 1301 H),
يُكره كتبُ القرآن على حائط , وسقف , ولو لمسجد , وثياب , وطعام , ونحو ذلك
Dibenci menuliskan al-Quran di dinding atau atap, meskipun milik masjid, atau di baju, atau semacamnya. (Hasyaiyah as-Syarwani, 1/156).
Keterangan as-Suyuthi (w. 911),
قال أصحابنا : وتكره كتابته على الحيطان , والجدران , وعلى السقوف أشدّ كراهة
Para ulama madzhab kami mengatakan, dibenci menuliskan al-Quran di dinding dan lebih dilarang lagi menuliskannya di atap. (al-Itqan fi Ulum al-Quran, 2/454).
Keempat, Keterangan dalam Madzhab Hambali,
Keterangan Ibnu Taimiyah (w. 728 H),
وأما كتابة القرآن عليها : فيُشبه كتابة القرآن على الدرهم , والدينار , ولكن يمتاز هذا بأنها تُعاد إلى النار بعد الكتابة , وهذا كلُّه مكروه , فإنه يُفضي إلى ابتذال القرآن , وامتهانه , ووقوعه في المواضع التي يُنزَّه القرآن عنها
Hukum menuliskan al-Quran di lempeng perak sebagaimana hukum menuliskan al-Quran di mata uang dirham atau dinar, bedanya, tulisan di lempeng perak dibakar dulu setelah diukir. Dan ini semua dibenci, karena bisa menjadi sebab pelecehan al-Quran dan disikapi tidak terhormat, atau diletakkan di tempat yang tidak selayaknya.
Keterangan Ibnu Muflih (w. 762 H),
وقال أبو المعالي : يُكرهُ كتابَةُ القُرآنِ على الدَّراهمِ عندَ الضَّرْب
Abul Ma’ali mengatakan, dibenci menuliskan al-Quran pada mata uang ketika proses pembuatan. (al-Furu’, 1/126).
Keterangan al-Buhuti (w. 1051 H),
وتُكره كتابةُ القرآن على الدرهم , والدينار , والحياصة
“Dibenci menuliskan al-Quran di mata uang dirham atau dinar atau lembengan logam.” (Kasyaf al-Qana’, 3/272).

SYUBHAT JAMAAH DUA ORANG AGAK MUNDUR SEDIKIT




DALIL MEREKA :
قال أحمد في مسنده 3060 : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ أَبِي صَغِيرَةَ أَبُو يُونُسَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، أَنَّ كُرَيْبًا، أخْبَرَهُ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ، قَالَ:
 أَتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ، فَصَلَّيْتُ خَلْفَهُ، فَأَخَذَ بِيَدِي، فَجَرَّنِي، فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ ، فَلَمَّا أَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى صَلاتِهِ، خَنَسْتُ ، فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِي: " مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ ؟ "، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَيَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُصَلِّيَ حِذَاءَكَ، وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ الَّذِي أَعْطَاكَ اللهُ ؟ قَالَ: فَأَعْجَبْتُهُ، فَدَعَا اللهَ لِي أَنْ يَزِيدَنِي عِلْمًا وَفَهْمًا
"Ibnu Abbas bercerita, aku mendatangi Rasulullah -shalawat dan salam untuknya- di akhir malam. lalu aku shalat di belakangnya. Beliau mengambil tanganku dan menariknya dan membuatku berada di sisinya (maksudnya di sisi sebelah kanan beliau). Ketika beliau mulai masuk shalat, aku mundur. Lalu Rasulullah shalat. Usai shalat, beliau berkata kepadaku,
"Ada apa denganku. Aku posisikan kamu di sisi (setara) denganku lalu kamu mundur?"
Aku menjawab, "Wahai Rasulullah. Apakah layak bagi seseorang shalat sejajar denganmu sementara engkau adalah utusan Allah -subhanahu wa ta'alaa-, di mana Allah -subhanahu wa ta'alaa- telah memberimu
Ibnu Abbas berkata, "(jawaban)ku membuatnya senang (atau kagum). Lalu beliau berdoa kepada Allah -subhanahu wa ta'alaa- agar Dia menambahkan ilmu dan kepahaman kepadaku
JAWAB : HADITS INI SYADZ YAITU MENYELISIHI YANG LEBIH TSIQOH TERPERCAYA.INI TAMBAHAN DARI RIWAYAT PERAWI HATIM BIN ABI SHOGHIROH SAJA.dia tsiqoh
Sedangkan perawi yg  lain tanpa tambahan yaitu dari sufyan bin uyainah dia tsiqoh tsabat dan juga perawi dawud bin abdurrahman
Semua tanpa tambahan seperti dalam shohih bukhori :
قال البخاري في صحيحه 138 - حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو قَالَ أَخْبَرَنِي كُرَيْبٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ صَلَّى وَرُبَّمَا قَالَ اضْطَجَعَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى ثُمَّ حَدَّثَنَا بِهِ سُفْيَانُ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ لَيْلَةً فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَلَمَّا كَانَ فِي بَعْضِ اللَّيْلِ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَوَضَّأَ مِنْ شَنٍّ مُعَلَّقٍ وُضُوءًا خَفِيفًا يُخَفِّفُهُ عَمْرٌو وَيُقَلِّلُهُ وَقَامَ يُصَلِّي فَتَوَضَّأْتُ نَحْوًا مِمَّا تَوَضَّأَ ثُمَّ جِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ وَرُبَّمَا قَالَ سُفْيَانُ عَنْ شِمَالِهِ فَحَوَّلَنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ صَلَّى مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ اضْطَجَعَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ ثُمَّ أَتَاهُ الْمُنَادِي فَآذَنَهُ بِالصَّلَاةِ فَقَامَ مَعَهُ إِلَى الصَّلَاةِ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ قُلْنَا لِعَمْرٍو إِنَّ نَاسًا يَقُولُونَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ قَالَ عَمْرٌو سَمِعْتُ عُبَيْدَ بْنَ عُمَيْرٍ يَقُولُ رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ ثُمَّ قَرَأَ{إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ}

وقال البخاري 726 : حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى وَرَقَدَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

ورواه أيضاً غير عمرو عن كريب  بدون هذه الزيادة

قال مسلم في صحيحه 1741- [184-...] حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الأَيْلِيُّ ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ ، حَدَّثَنَا عَمْرٌو ، عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ ، عَنْ كُرَيْبٍ ، مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّهُ قَالَ : نِمْتُ عِنْدَ مَيْمُونَةَ ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ ، فَتَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَأَخَذَنِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، فَصَلَّى فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ، ثُمَّ نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَفَخَ ، وَكَانَ إِذَا نَامَ نَفَخَ ، ثُمَّ أَتَاهُ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ فَصَلَّى ، وَلَمْ يَتَوَضَّأْ.
قَالَ عَمْرٌو : فَحَدَّثْتُ بِهِ بُكَيْرَ بْنَ الأَشَجِّ ، فَقَالَ : حَدَّثَنِي كُرَيْبٌ بِذَلِكَ.

فهذان اثنان مخرمة وبكير

وقال البخاري في صحيحه 4569 : حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ فَلَمَّا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ قَعَدَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ { إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ } ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَنَّ فَصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ أَذَّنَ بِلَالٌ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ
Demikianlah diriwayatkan ad-dhiya’ dalam al muhtaroh (2/118/67) tanpa tambahan ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِي: " مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ ؟ "، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوَيَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُصَلِّيَ حِذَاءَكَ، وَأَنْتَ رَسُولُ اللهِ الَّذِي أَعْطَاكَ اللهُ ؟ قَالَ: فَأَعْجَبْتُهُ، فَدَعَا اللهَ لِي أَنْ يَزِيدَنِي عِلْمًا وَفَهْمًا
Dan hadits syadz termasuk hadits lemah.oleh karenanya imam nawawi menyatakan yang sesuai sunnah adalah sejajar sama persis
قال النووي رحمه الله في " المجموع (4/ 291) ففيه مسائل (احداها) السنة أن يقف المأموم الواحد عن يمين الامام رجلا كان أو صبيا قال اصحابنا ويستحب ان يتأخر عن مساواة الامام قليلا فان خالف ووقف عن يساره أو خلفه استحب له ان يتحول الي يمينه ويحترز عن افعال تبطل الصلاة فان لم يتحول استحب للامام ان يحوله لحديث ابن عباس فان استمر علي اليسار أو خلفه كره
وصحت صلاته عندنا بالاتفاق..... اهــ
Adapun mundur sedikit itu dari segi adab saja bukan dari segi sunnah
Demikian dijelaskan imam subkiy:
قال الإمام تقي الدين السبكي رحمه الله:
(ولا تضر مساواته) لما روى ابن عباس رضي الله عنهما قال: "بت عند خالتي ميمونة فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فقمت عن يساره فأخذ برأسي فأدارني عن يمينه" متفق عليه
واستنبط منه فوائد منها:
أنه لا يجوز تقدم المأمون على الإمام لأنه لو جاز ذلك لكانت إدارة ابن عباس من قدامه أسهل
والمنقول "أنه أداره من خلفه" وليس هذا الاستدلال بالقوي لأن المرور بين يدي المصلي مكروه فجاز أن يكون إدارته من خلفه لذلك
قال: (ويندب تخلفه قليلا) أدبا
قال في شرح المهذب: أنه يكره المساواة وهو بعيد.

{ الابتهاج في شرح المنهاج للسبكي }
kalaupun shohih itu bukan mendukung anggapan mereka karena :
petunjuk rosul tentu sangat lebih layak diikuti daripada pendapat pribadi selain beliau
doa itu bukanlah pensunnahan namun doa keberkahan bagi sahabat beliau hanya menunjukkan itu sah tidak perlu mengulangi
seperti riwayat lain
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ
أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُدْ

“Dari Abu Bakrah, bahwa dia masuk ke masjid dan saat itu Nabi  sedang ruku.lalu dia rukuk sebelum sampai shaf Lalu hal itu dia ceritakan kepada Nabi  Maka Beliau bersabda: “Semoga Allah menambah semangatmu, tetapi jangan diulangi lagi perbuatan tadi.” [HR. Bukhari No. 783]
bukan berarti rukuk sebelum shaf itu sunnah tapi hanya saja itu tetap sah

Minggu, 07 Februari 2016

YASIN BUKAN HATI/JANTUNG ALQUR'AN

 
إِنَّ لِكُلِّ شَئْ ٍقَلْبًا وَقَلْبُ اْلقُرْآنِ يَس وَمَنْ قَرَاَ يس كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ اْلقُرْآنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ

  "Artinya : Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al-Qur'an itu ialah surat Yasin. Siapa yang membacanya maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali".

Keterangan:Hadits ini Palsu.
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 3048) dan Ad-Darimi 2:456. Di dalamnya terdapat Muqatil bin Sulaiman. Ayah Ibnu Abi Hatim berkata : Aku mendapati hadits ini di awal kitab yang di susun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya. (Periksa : Silsilah Hadits Dha'if No. 169, hal. 202-203) Imam Waqi' berkata : Ia adalah tukang dusta. Kata Imam Nasa'i : Muqatil bin Sulaiman sering dusta. [Periksa : Mizanul I'tidal IV:173]

Imam Tirmidzi sendiri berkata hadis menyendiri dan kami tidak mengetahuinya kecuali  dari hadis  Humaid bin Abd rahman . Di kota Basrah , tiada orang yang  mengetahui hadis Qatadah kecuali dari jalur ini .  Perawi bernama Harun – Abu Muhammad adalah syaikh yang  tidak di kenal [ Sahih wa dhoif  Tirmidzi  387/6 Misykat al mashabih  486/1 ]
 
Dalam tafsir arrazi   keterangan tentang ayat  akhir surat Yasin , hadis palsu itu di cantumkan tanpa keterngan mursal , lemah , hasan , mungqathi` dll . Jadi pembaca mengiranya  sahih .apalagi  kebanyakan mereka norok bonthek – itu mengekor  saja  . Dan tidak ada  waktu untuk berpikir jernih atau mengkaji ulang hadis tsb.
Apalagi pengarangnya mencantumkan perkataan  Imam Ghozali  sbb:
Sesungguhnya hal itu , karen a iman itu di anggap benar bila mengakui adanya hari kebangkitan  yang telah di jelaskan dalam surat ini dengan berualng kali dan gamblang . karena itu di katakan  hati al Quran . Rupanya pengarang tafsir itu menganggap baik pernyataan  al ghozali itu , malah beliau mendoakan agar  ghozali mendapat rahmat karenanya . [Tafsir arrazi  99 / 13] Dalam tafsir annaisaburi  334/6 hadis palsu itu di cantumkan dalam keterangan penghujung surat Yasin  dan mirip  keterangan yang terdapat  dalam tafsir arrazi .
Hadis palsu  itu juga di cantumkan dalam kitab Bahrul ulum karya Samarqandi dalam rangka memberikan keterangan tentang  ayat penghujung surat Yasin [Bahrul ulum  483/3]