Minggu, 31 Desember 2017

Hadits bendera rosul dho'if/lemah?

Bendera dan panji perang Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-.

=====

1. Sahabat Ibnu 'Abbas -radhiallahu anhuma- mengatakan: "Dahulu raayah Rasulullah -shallallahu alahi wasallam- (warnanya) hitam, sedang liwaa' beliau (warnanya) putih". [HR. Attirmidzi: 1681, dan yang lainnya, dinilai hasan oleh Syeikh Albani].

2. Para ulama berbeda pendapat tentang maksud dari kata "Arraayah" dan "Alliwaa'", dalam hadits tersebut, kesimpulannya:

a. ada yg mengatakan keduanya adalah dua kata yg bermakna sama = bendera... tidak ada perbedaan sama sekali antara keduanya.

b. ada yg mengatakan bahwa keduanya bermakna bendera, namun Arraayah ukurannya lebih besar, sedang Alliwaa' ukurannya lebih kecil.

c. ada yg mengatakan sebaliknya, Alliwaa' lebih besar daripada Arraayah... Alliwa' = bendera besar yg menunjukkan tempat amir... sedang arraayah = bendera yg dibawa oleh pembawa bendera di medan perang.

d. ada yg mengatakan Arraayah bermakna bendera yg kainnya berkibar... sedangkan Alliwaa' adalah kain yg ujung satunya dililitkan di pucuk atas tombak dan ujung yg lain dililitkan di bawahnya, sehingga tidak berkibar seperti berkibarnya bendera... inilah pendapat yg dipilih oleh Ibnul Arabi -rahimahullah-.

[Silahkan merujuk ke kitab Fathul Bari (6/126), Umdatul Qaari (14/232), Tuhfatul Ahwadzi (5/266), dan yg lainnya]

3. Dari banyaknya pendapat di atas dan penjelasan lainnya, penulis lebih condong kepada pendapat yg mengatakan, bahwa kata "Arraayah" dan "Alliwaa'" bisa bermakna sama, bila keduanya disebutkan secara terpisah.

Apabila dua kata itu disandingkan dalam satu redaksi sebagaimana dalam hadits di atas, maka makna Arraayah dan Alliwaa' adalah sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Arobi -rahimahullah- di atas.

Karena pendapat inilah yg lebih dekat kepada asul-usul kata arrooyah (yg terlihat) dan kata alliwaa' (yg dililitkan) dalam bahasa arab... ini juga yg lebih dekat kepada julukan orang arab utk keduanya, arrooyah dijuluki sebagai "ummur harb" (puncak perang), sedang alliwaa' dijuluki sebagai "ummur rumh" (puncak tombak).

Dari kesimpulan ini, mungkin terjemahan yg paling mendekati hakekat keduanya adalah, bahwa Arrooyah itu bendera, sedang Alliwaa' itu panji. wallahu a'lam.

4. Tidak ada hadits yg shahih atau hasan tentang tulisan yg tertera dalam bendera perang Nabi -shallallahu alaihi wasallam- ini. Ada hadits yg menjelaskan khusus tentang itu, namun lemah, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran.

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Attabarani dalam Al-Mu'jamul Ausath 1/77, hadits no: 219. Hadits itu hanya datang dari Hayyan bin Ubaidillah, padahal beliau dinilai 'mudhtharib' (goncang) dalam meriwayatkan hadits ini.

Yg perlu ditekankan di sini, bahwa lemahnya hadits ini bukan berarti kita tidak boleh menulis kalimat tauhid atau syahadatain dalam bendera... itu boleh saja dilakukan, atau bahkan dianjurkan karena mulianya kata itu... hanya saja kita tidak bisa memastikan bahwa dahulu bendera perang Nabi bertulisakan seperti itu, wallahu a'lam.

Sebaliknya, kita juga boleh menuliskan kalimat lain di bendera, asalkan tidak bertentangan dg Islam, karena tidak adanya batasan dalam hal ini, sesuai hukum asalnya, wallahu a'lam.

5. Tidak benar, bahwa Arrayah adalah bendera perang, sedang Alliwa' itu tulisan yg ada dalam bendera itu... sehingga tidak benar orang yg menyimpulkan dari hadits pertama di atas dg kesimpulan bahwa bendera Nabi -shallallahu alaihi wasallam- itu berwarna dasar hitam, dan tulisannya berwarna putih.

Masalah bendera ini bukan masalah ibadah, sehingga pada asalnya dibolehkan, selama tidak ada dalil yg melarangnya.. oleh karenanya, sepanjang sejarah pun, kaum muslimin punya bendera yg berbeda-beda, begitu pula tulisan yg tertera dalam bendera tersebut, wallahu a'lam.

Silahkan dishare... Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar: