Selasa, 14 Januari 2014

kyai abangan vs albani



حدثنا أبو النعمان ثنا سعيد بن زيد ثنا عمرو بن مالك النكري حدثنا أبو الجوزاء أوس بن عبد الله قال : قحط أهل المدينة قحطا شديدا فشكوا إلى عائشة فقالت انظروا قبر النبي صلى الله عليه و سلم فاجعلوا منه كووا إلى السماء حتى لا يكون بينه وبين السماء سقف قال ففعلوا فمطرنا مطرا حتى نبت العشب وسمنت الإبل حتى تفتقت من الشحم فسمي عام الفتق. قال حسين سليم أسد : رجاله ثقات وهو موقوف على عائشة
“Telah bercerita kepada kami Abu al-Nu’man, telah bercerita kepada kami Sa’id bin Zaid, telah bercerita kepada kami Amr bin Malik al-Nukri, telah bercerita kepada kami Abul-Jauza’ Aus bin Abdullah, berkata: “Suatu ketika penduduk Madinah mengalami musim paceklik yang sangat parah. Mereka mengadu kepada Aisyah. Lalu Aisyah berkata: “Kalian lihat makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, buatkan lubang dari makam itu ke langit, sehingga antara makam dan langit tidak ada atap yang menghalanginya.” Mereka melakukannya. Setelah itu, hujan pun turun dengan lebat sekali, sehingga rerumputan tumbuh dengan subur dan unta-unta menjadi sangat gemuk.” (HR. al-Darimi [98]. Husain Salim Asad berkata: “Para perawinya dipercaya, dan hadits ini mauquf kepada Aisyah”).
Kyai abangan : panutan Anda, Syaikh al-Albani tidak jujur mengenai Sa’id bin Zaid. Ketika Sa’id bin Zaid meriwayatkan hadits mengenai tawasul dan tabaruk, sebelum dalam hadits di atas, al-Albani mendha’ifkannya. Tetapi ketika Sa’id bin Zaid meriwayatkan hadits yang tidak menyangkut tawasul dan tabaruk, al-Albani menilainya perawi yang haditsnya hasan. Kalau tidak percaya, coba Anda cek dalam kitab al-Albani, Irwa’ al-Ghalil juz 5 hal. 338. Jadi, dalam beragama, Anda jangan mengikuti orang yang tidak jujur seperti al-Albani. Ikuti saja Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan ahli hadits. Jangan ikut wahabi.”
Ahlu sunnah : anda yg terlalu berambisi merendahkan albani...bukan albani yg tidak jujur tapi anda yg menuduh albani mendho’ifkan,padahal kalau kita lihat teks aslinya yaitu albani berkata :
 أن سعيد بن زيد وهو أخو حماد بن يزيد فيه ضعف
Artinya : sesungguhnya sa’id ibn zaid,dia adalah saudara hamad ibn yazid padanya kelemahan(at-tawassul juz 1 hal 128),albani disini tidak mendhoifkan,Cuma menyatakan padanya ada kelemahan,tidak mengharuskan perowinya perawi dhoif.maksudnya ia seorang yang tetap kejujurannya, namun lemah dalam akurasi hapalannya. Seperti dikatakan Ibnu Hajar berkata : Jujur, namun mempunyai beberapa kekeliruan (shaduuq lahu auhaam)” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 378 no. 2325]. Riwayatnya tidak diterima jika bersendirian, namun baik untuk i’tibar.
Sebagai bukti albani tidak menyebutnya perawi dhoif adalah beliau berkata dalam kitab itu juga:
رواه أحمد وأبو داود عن سعيد بن زيد وإسناده صحيح
Artinya: hadits itu riwayat ahmad dan abu daud dari sa’id ibn zaid dan sanadnya shohih(at-tawassul juz 1 hal 79)

Tidak ada komentar: