Selasa, 13 Agustus 2019

IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL -KURSIY ADALAH ILMU-


Telah masyhur ayat kursi yang berbunyi :
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255).


Sebagian ahli bid’ah bergembira ketika menemukan takwil Ibnu Abbas radhiyallahu anhu terhadap makna Firman Allah subhanahu wa ta’aalaa “وَسِعَ كُرْسِيُّهُ”, dikatakan beliau menakwilnya dengan Ilmu Allah. Mereka menemukan takwil tersebut dalam kitab tafsir ulama, diantaranya tertera dalam Tafsir Imam ath-Thabari (5/397-398, cet. Muasasah ar-Risalah) beliau menulis :
حدثنا أبو كريب وسلم بن جنادة، قالا حدثنا ابن إدريس، عن مطرف، عن جعفر بن أبي المغيرة، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس:”وسع كرسيه” قال: كرسيه علمه.
حدثني يعقوب بن إبراهيم، قال: حدثنا هشيم، قال: أخبرنا مطرف، عن جعفر بن أبي المغيرة، عن سعيد بن جبير، عن ابن عباس، مثله. وزاد فيه: ألا ترى إلى قوله:”ولا يؤوده حفظهما”؟
Semuanya sanadnya bermuara kepada Ja’far bin Abil Mughiroh, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas beliau berkata : “kursi-Nya adalah Ilmu-Nya”.

Namun antum wahai mubtadi’ jangan gembira dulu, karena yang mempelopori pernyataan ini adalah kaum Jahmiyyah. Bisyir bin Ghiyaats al-Mariisiy (w. 218 H) dengan “pede” mengatakan :
فَمَعْنَى الْكُرْسِيِّ الْعِلْمُ، فَمَنْ ذَهَبَ إِلَى غَيْرِ الْعِلْمِ أَكْذَبَهُ كِتَابُ اللَّهِ تَعَالَى
“makna kursiy adalah ilmu, maka barangsiapa yang mengatakan selain ilmu, berarti ia telah mendustakan Kitabullah Ta’aalaa”.

Siapakah Bisyir al-Mariisiy ini?, Imam adz-Dzahabi dalam Mizaanul I’tidaal (1/322) berkata tentangnya :
مبتدع ضال، لا ينبغي أن يروى عنه ولا كرامة.
“ahlu bid’ah sesat, tidak selayaknya meriwayatkan darinya dan tidak ada kemulian baginya”.
Sedangkan Imam az-Zrekliy dalam “al-A’laam” (2/55) berkata tentangnya :
فقيه معتزلي عارف بالفلسفة، يرمى بالزندقة. وهو رأس الطائفة (المريسية) القائلة بالإرجاء، وإليه نسبتها. أخذ الفقه عن القاضي أبي يوسف، وقال برأي الجهمية،
“faqiih, mu’taziliy, jago filsafat, dituduh dengan zindik, dia adalah gembongnya sekte “al-Mariisiyyah” yang mengusung murji’ah, dan paham ini dinisbatkan kepadanya. Belajar fiqih kepada Qodhi Abu Yusuf, dan dikatakan dia menganut Jahmiyyah”.
Jadi dari penilaian Imam az-Zrekliy semua aliran kesesatan masuk dalam dirinya.

Perkataan Bisyir diatas, dinukil oleh Imam Utsman bin Sa’id ad-Daarimiy penulis kitab sunan yang dimasukkan sebagai Kutubut Tis’ah, dalam kitabnya yang memang ditulis untuk membantah Bisyir al-Mariisiy yang berjudul “Naqd Imam ad-Darimiy ‘alaa Bisyir al-Mariisiy” (1/411, cet. Maktabah ar-Rusydiy). Kemudian setelah menukil ucapan yang penuh percaya diri dari Bisyir diatas, Imam ad-Daarimiy berkata :
فَيُقَالُ لِهَذَا الْمَرِيسِيِّ: أَمَّا مَا رَوَيْتَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فَإِنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ جَعْفَرٍ الْأَحْمَرِ وَلَيْسَ جَعْفَرٌ مِمَّنْ يُعْتَمَدُ عَلَى رِوَايَتِهِ، إِذْ قَدْ خَالَفَتْهُ الرُّوَاةُ الثِّقَاتُ الْمُتْقِنُونَ. وَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ الْبَطِينُ، عَنْ سَعِيدِ بن جُبَير، عَن ابْنِ عَبَّاسٍ فِي الْكُرْسِيِّ خِلَافَ مَا ادَّعَيْتَ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ.
حَدثنَا يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، عَنْ وَكِيعٍ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِيِّ، عَنْ مُسْلِمٍ الْبَطِينِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: “الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، الْعَرْش لَا يُقَدِّرُ قَدْرَهُ إِلَّا اللَّهُ”
“maka dikatakan kepada al-Mariisiy : “adapun apa yang engkau riwayatkan dari Ibnu Abbas, maka itu berasal dari riwayat Ja’far al-Ahmar, bukan Ja’far yang dijadikan pegangan riwayatnya, yangmana dia telah menyelisihi para perowi tsiqoh lagi mutqiin. Muslim al-Bathiin telah meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas tentang penafsiran Kursiy yang berbeda dengan apa yang engkau klaim.
Telah menceritakan kepada kami Yahya dan Abu Bakar ibnu Abi Syaibah, dari Wakii’, dari Sufyan, dari ‘Ammaar ad-Duhniy, dari Muslim al-Bathiin, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa, beliau berkata : “Kursiy adalah tempat kedua telapak kaki Allah, sedangkan al-‘Arsy tidak ada yang tahu ukurannya kecuali Allah”.

Imam Al Albani dalam “ash-Shahihah” (1/226) berkata :
وما روي عن ابن عباس أنه العلم، فلا يصح إسناده إليه لأنه من رواية جعفر بن أبي المغيرة عن سعيد بن جبير عنه. رواه ابن جرير. قال ابن منده: ابن أبي المغيرة ليس بالقوي في ابن جبير.
“apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu, tidak shahih sanadnya, karena itu berasal dari riwayat Ja’far bin Abil Mughiiroh dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Ibnu Jariir. Imam Ibnu Mandah berkata : “ibnu Abil Mughiiroh, tidaklah kuat didalam riwayat Ibnu Jubair”.

Imam ibnu Abil Izzi telah mengisyaratkan kelemahan riwayat Ibnu Abbas bahwa Kursiy adalah ilmu, dan merajihkan bahwa Kursiy adalah tempat kedua Telapak Kaki, dalam kitabnya “Syarah Aqidah ath-Thahawiyyah” (hal. 280, cet. Daarus Salaam) :
وَقِيلَ: كُرْسِيُّهُ عِلْمُهُ، وَيُنْسَبُ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ وَالْمَحْفُوظُ عَنْهُ مَا رَوَاهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ، كَمَا تَقَدَّمَ
“dikatakan bahwa Kursi-Nya adalah Ilmu-Nya, dan dinisbatkan kepada Ibnu Abbas, namun yang mahfuudh (yang rajih) dari Ibnu Abbas adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah sebagaimana telah berlalu (yakni Kursiy adalah tempat kedua Telapak Kaki Allah-pent.)”.

Bagi yang menginginkan takhrij atsar Ibnu Abbas yang mentakwil Kursiy dengan Ilmu Allah, dapat merujuk di tautan berikut :
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=22720
Ada penjelasan yang sangat lengkap tentang kelemahan atsar tersebut.

Majalah al-Bukhuts al-Islamiyyah dibawah naungan dewan fatwa Saudi Arabia, juga menurunkan sebuah artikel dan didalamnya terdapat tulisan :
أما الرواية التي ذكر عن ابن عباس – رضي الله عنهما – من أن الكرسي هو العلم، فهي لا تصح عن ابن عباس لأنه لم يرد في اللغة العربية أن معنى الكرسي هو العلم .
قال ابن منظور : الكرسي: معروف واحد الكراسي، والكرسي في اللغة الشيء الذي يعتمد عليه ويجلس عليه ،
“adapun riwayat yang disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa Kusriy adalah ilmu, maka ini tidak benar dari Ibnu Abbas, karena tidak ada dalam bahasa arab makna kursiy adalah ilmu.
Ibnu Mandhuur berkata : “Kursiy adalah ma’ruf, bentuk tunggal dari al-Karoosiy. Kursi secara bahasa adalah sesuatu yang digunakan untuk bersandar atau duduk”.

Kemudian majalah juga menulis :
وفيه دليل على إثبات القدمين لله – عز وجل – وقد جاءت بذلك الأحاديث الصحيحة.
“didalamnya terdapat dalil penetapan kedua Telapak kaki bagi Allah Azza wa Jalla, telah datang hadits-hadits yang shahih berkaitan dengan hal tersebut…”.
Setelah disebutkan haditsnya, lalu mereka berkata :
ولا يلزم من إثبات القدمين لله – عز وجل – التجسيم، ولا التشبيه، فهو سبحانه ليس له شبيه ولا مثيل في أسمائه ولا في صفاته.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“tidak melazimkan penetapan kedua Telapak Kaki bagi Alllah adalah tajsiim dan juga tasybiih, karena Allah tidak ada yang serupa dan semisal dengan-Nya dalam Asmaa’ dan sifat-Nya. Firman-Nya : {tidak ada yang semisal dengan-Nya sedikit pun, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat}”.
Lihat selengkapnya di tautan berikut :
http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=11981&PageNo=1&BookID=2

Kesimpulannya, pihak yang pro takwil dengan mengklaim itu berasal dari salaf / sahabat, pada point ini mereka harus gigit jari dulu.Wallahul A’lam

Tidak ada komentar: